NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan

Harley Dvaidson memasuki pekarangan MIU, kini langit telah merajuk, seolah ikut marah dengan hari ini yang tengah panas diperbincangkan. Aku melihat beberapa breaking news yang muncul di ponsel, semua sedang membicarakan perselingkuhan beserta kekerasan dalam rumah tangga pasangan artis terpopuler beberapa hari terakhir ini, aku menghembuskan nafas sangat berat.

“Dia benar-benar menggunakan cara ini, skenario lama yang mudah etrbaca”. Gumamku yang masih terfokus dengan benda pipih tersebut. Yah, berita trending topik itu adalah ulah ‘Si Pria Denpal’ beberapa hari yang lalau, sungguh menguntungkan kedua belah pihak. Disis artis untuk meningkatkan popularitas, disisi lain untuk menutupi kenyataan.

Aku melangkah menuju ruang musik sebab hari ini aku datang ke kampus unutuk meeting club invesment yang kudirikan.

“Semoga dia datang”. Doaku dalam hati paling dalam. Aku sangat berharap dia yang selalu memenuhi hatiku berkenan untuk datang, meski sebelumnya tanpa sengaja aku menyakitinya.

Setengah jam telah berlalu, semua anggota club sudah hadir dan untuk dia, tidak kelihatan sedikit pun.

“Ayo kita mulai”. Usai aku angkat bicara, pintu ruang musik terbuka menampakkan seseorang yang kutunggu.

“Maaf aku baru tahu”. Canggungnya.

“Tidak apa-apa, duduk saja cantik”. Pinta Kenny, sontak aku menatap tajam Kenny sebelum akhirnya Elisia duduk di kursi yang tersisa. Kedua tanganku meraih kertas yang diberikan Gavin, aku masih penasaran dengan nama panjangnya.

“Selamat datang Elisia Lavoisier Youther di club invesment”. Ucapku untuk formalitas semata, walaupun ada satu yang berputar di kepalaku. “Youther, this a familiar”. Btinku seraya menatap intens Elisia.

“Jangan dilihat terus anak orang”. Bisik Kenny, aku hanya meliriknya sinis.

***

“Meeeting selesai, kalian boleh kembali kecuali Elisia”. Ucapku diakhir meeting, semua anggota club invesment berhamburan untuk keluar dari ruang musik. Tersisa aku, Kenny, dan Elisia.

“Awas kamu aneh-aneh, dasar modus”. Bisik Kenny sebelum ia melenggang pergi. Meeting satu jam yang lalu terasa berbeda, sulit untukku mengontrol kefokusan dalam berbicara, aku tidak tahu pasti mengapa. Namun aku menyimpulkan ada hubungannya dengan kondisi perasaanku yang sedang kocar-kacir dan juga kehadiran Elisia.

“Kamu belum aku wawancara dan mana cv mu”. Ucapku tanpa menatapnya, takut aku berbicara yang tidak-tidak karena mengikuti apa kata otak. Kemudian ia beranjak berdiri usai merapikan barang-barangnya.

“Maaf kak, aku akan ada kelas”. Timpalnya, entah mengapa terasa sedikit kecewa dengan nada dingin yang ia gunakan.

“Kalau begitu nanti sepulang kuliah ke resto depan kampus”. Sahutku. “Aku sibuk”. Ia mengakhiri perkataan dan pergi meninggalkan diriku yang termangu.

Hujan mengguyur daerah kampus, sudah empat jam berlalau aku tidak kunjung melihat sosok Elisia, yah, aku sangat antusias menunggunya di depan kelasnya. Aku juga mengabaikan tatapan mahasiswa fakultas hukum, banyak yang menatapku heran mungkin karena aku jarang sekali datang ke fakultas hukum selain karena Kenny. Aku ini termasuk mahasiswa biasa saja yang terkenal dengan sebutan ‘Mahasiswa Emas’, aku sendiri tidak mengetahui dengan jelas mengapa aku dijuluki dengan sebutan ‘Mahasiswa Emas’.

Suara pintu terbuka mengalihkan atensiku, ternyata kelas Elisia sudah selesai, detik berikutnya kulihat Elisia keluar dari kelas.

“Elisia”. Panggilku, spontan wajahnya berubah malas, sorot matanya ada kekesalan. Elisia meresponku dengan mengangkat sebelah alisnya menandakan jika ia bertanya.

“Ayo ke resto depan kampus”. Ajakku.

“Untuk apa kak?”.

“Ini sesuatu yang penting, kamu harus tahu, lagipula sedang hujan deras”. Bujukku dengan berbagai alasan.

Akhirnya Elisia mau untuk mampir bersamaku di resto depan kampus, aku tidak bisa untuk menahan senyumku tatkala mengendarai Harley Davidson, untung saja aku membawa jas hujan lebih. “Motor keren, tapi malah hujan”. Btinku kesal. Sebenarnya jarak antara resto dan kampus sangat dekat hanya bersebrangan, akan tetapi karena kampus MIU sangat luas, hujan juga cukup deras mana mungkin aku memboncengnya dengan hujan seperti itu tanpa jas hujan.

Sesampainya disana, aku dengan segera menarik Elisia menuju tempat VIP yang tadi sudah kupesan

“Memangnya sepenting apa, sampai memesan tempat VIP”. Sergahnya sembari menepis tanganku.

“Duduklah”. Titahku yang diikuti olehnya, sesudahnya hanya tersisa keheningan , tidak ada obrolan dan tidak ada yang memulai.

“Kalau begini aku pulang saja”. Elisia akan beranjak berdiri tapi ia kutahan.

“Emm, aku ingin bertanya, apa kamu sudah memahami tentang trading dan investasi?”. Bohong, sebenarnya bukan itu yang ingin aku tanyakan, sangat sulit bagiku mengucapkannya serasa kalimat itu terhenti di kerongkongan. “Belum paham, jelaskan”. Timpal Elisia. Jujur aku malas untuk menjelaskan, tapi demi mencari topik pembicaraan dengannya. Akupun menjelaskannya sampai ia paham.

“Elisia”. Panggilku yang berusaha menetralkan diri, aku berkali-kali mengulum bibir bawah karena dia hanya berdehem.

“Aku ingin bertanya lagi, bolehkah”.

“Apa kamu suka pria romantis?”. Sontak Elisia berhenti dari aktivitasnya, dia terdiam seribu bahasa, disini jelas sekali pertanyaanya aku hanya bisa mengumpati diri sendiri dalam hati.

“Maksudnya...”. Kuurungkan ucapanku.

“Kak”. Panggilnya yang mampu membuatku berpikir negatif, dipikiranku pasti dia marah dan masih banyak lagi.

“Kakak tau kesalahan terbesar manusia...”. Ia menggantungkan ucapannya, aku menggeleng pelan seraya menunduk.

“Kesalahannya bukan karena salah memilih, tapi karena tidak mau memilih”. Satu kalimat yang mampu merasuki diriku. Kutarik napas dalam-dalam, kemudian kuhembuskan secara perlahan.

“Oke, aku akan jujur, aku bukan pria romantis ataupun puitis, aku juga bukan pria yang paham akan asmara. Aku dulu sangat mati rasa dalam urusan percintaan, tapi entah kenapa kamu berhasil membuatku diombang-ambing oleh perasaan”. Ucapku panjang.

“Mungkin sejauh ini kamu sudah paham”. Diam, saling menatap dan berkutat pada pikiran masing-masing, hingga Elisia mengatakan sesuatu yang sedikit buatku kecewa.

“Anggap saja kakak tidak pernah melakukan itu”. Tukasnya.

Ingin marah, tapi aku sadar aku siapa?, ingin menangis, janganlah aku ini seorang pria. Serasa tidak adil hanya aku yang gila karena perasaan, dalam hatiku yang terdalam aku berharap dia sama sepertiku, dan untuk ungkapannya akan kuusahakan aku tidak salah memilih dan mau untuk memilih.

“Karena hujannya sudah berhenti, aku izin pulang terlebih dahulu”. Elisia beranjak dari duduknya, detik berikutnya aku mencengkal pergelangan tangannya.

“Aku antar, dimana rumahmu?”. Sergahku. Elisia terdiam, sorot matanya terlihat sayu, lagaknya ada yang dia sembunyikan, kami terdiam dalam posisi itu cukup lama.

“Tidak perlu, aku sudah pesan taxi”. Celetuknya sembari menarik tangannya yang kucengkal.

Aku merasa semakin jauh darinya, berkali-kali aku hanya menatap punggungnya, sejak hari itu dimana aku awal bertemu dengannya, aku merasa tertarik yang saat ini berakhir pada perasaan. Aku tidak tahu menahu soal asmara, sungguh sangat awam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!