Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Ruang Hukuman
Jam menunjukkan pukul 02:47. Alea tahu karena sejak tiga malam lalu, ia tidak pernah benar-benar tidur. Matanya terbuka lebar di atas ranjang sutra yang terlalu empuk, menatap langit-langit kamar yang dipenuhi ukiran rumit—seperti jaring laba-laba marmer yang siap menjerat.
Damian Kecil bilang ruang hukuman ada di basement. Di balik pintu besi. Dengan gembok tiga angka.
Ia mengulang-ulang informasi itu dalam kepala, seperti mantra yang harus dihafal mati-matian. Bocah itu memberitahunya semalam, dengan suara berbisik dan mata yang terus menoleh ke belakang, seolah takut Damian dewasa mendengar.
“Kak, di sana aku mati. Tapi aku masih di sana. Tolong lihat.”
Alea menghela napas. Kepala psikiater forensik dalam dirinya berteriak bahwa ini gila. Bahwa ia sedang diiming-imingi delusi oleh kepribadian disosiatif seorang psikopat. Bahwa mungkin Damian Kecil hanyalah jebakan untuk membuatnya lengah.
Tapi tangannya—tangannya yang sejak usia empat belas tahun selalu tahu—bergetar setiap kali memikirkan pintu itu.
Ada sesuatu di basement. Sesuatu yang nyata. Bukan sekadar trauma.
Ia duduk. Kaki telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin. Dinginnya menusuk hingga tulang kering, tapi Alea justru menyukainya. Rasa sakit kecil yang membuktikan ia masih sadar. Masih hidup.
Bukan seperti Damian Kecil yang katanya sudah mati.
---
Kamar Alea tidak memiliki jendela, tapi ia sudah menghafal setiap inci ruangan itu. Di sudut kanan, lemari pakaian berukir kayu jati. Di atas meja rias, ada vas bunga yang setiap pagi diganti dengan mawar merah segar—meski Alea tidak pernah melihat siapa yang menggantinya. Di balik tirai beludru ungu, ada pintu kecil menuju kamar mandi dengan bak mandi pualam yang cukup untuk dua orang.
Dan di balik lemari pakaian itu—tepat di sisi kiri yang tersembunyi bayangan lampu—ada lorong.
Alea menemukannya tiga hari lalu, saat Damian Kecil pertama kali menariknya ke sana.
Sekarang, ia berjalan ke arah lemari. Kaki telanjangnya meluncur di karpet Persia tebal tanpa suara. Ia sudah mematikan semua lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur berbentuk bintang yang Damian dewasa berikan seminggu lalu.
Lampu itu hadiah. Tapi dari siapa? Damian dewasa atau Damian Kecil?
Alea tidak tahu. Dan untuk saat ini, ia tidak peduli.
Tangannya menyentuh gagang lemari. Kuningan dingin. Ia menarik pelan—dan lemari itu terbuka tanpa bunyi. Bukan karena engselnya baru, tapi karena seseorang sudah melumasinya. Sering.
Seseorang sering membuka lemari ini di malam hari.
Alea merinding. Bukan karena takut, tapi karena ia membayangkan sosok Damian Kecil dengan piyama kebesaran, membuka lemari itu sendiri, lalu menghilang ke dalam lorong gelap.
Sendirian. Setiap malam. Selama bertahun-tahun.
Ia melangkah masuk ke dalam lemari. Di balik deretan jas dan gaun yang menggantung rapi, ada papan kayu yang longgar. Alea mendorongnya—dan papan itu bergeser dengan bunyi gesekan pelan.
Lorong di baliknya gelap. Benar-benar gelap. Seperti mulut raksasa yang menganga.
Alea mengambil ponsel dari saku jubah mandi sutranya. Layar ponsel menyala, menerangi lorong sempit dengan dinding bata ekspos. Di ujung lorong, sekitar dua puluh meter ke depan, ada sesuatu yang berkilat.
Logam.
Pintu besi.
---
Napas Alea memendek. Ia melangkah masuk. Setiap langkah kakinya terasa berat, seperti berjalan di bawah air. Udara di lorong ini berbeda—lebih lembap, lebih berat, dan ada bau yang tidak bisa ia kenali. Bukan bau busuk. Bukan bau anyir. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang menempel di dinding dan meresap ke dalam paru-paru.
Bau ketakutan.
Alea pernah membaca tentang itu. Dalam keadaan tertentu, tubuh manusia mengeluarkan senyawa kimia yang bisa dideteksi oleh orang lain secara bawah sadar. Dan di lorong ini, seolah-olah ketakutan telah mengkristal menjadi partikel yang bisa dihirup.
Berapa lama anak itu di sini?
Berapa lama Damian kecil dikurung?
Ia terus berjalan. Ponselnya mengguncang di tangan karena jari-jarinya gemetar. Bukan karena dingin—meskipun dingin di sini menusuk hingga ke sumsum.
Tiga meter lagi. Dua meter. Satu.
Pintu besi itu berdiri tegak, tanpa gagang dari sisi luar. Hanya lubang kecil seukuran kepalan tangan anak-anak di bagian bawah—mungkin untuk mengirim makanan. Atau untuk memasukkan sesuatu.
Atau untuk mengintip.
Gembok di pintu itu besar. Bukan gembok biasa—seperti yang digunakan di gudang senjata atau penjara. Di atasnya, ada tiga roda angka yang berputar.
Gembok tiga angka.
Alea ingat kata Damian Kecil.
“Kak, angkanya 1-9-8-9. Tahun aku lahir.”
Ia meraih gembok itu. Tangannya menyentuh logam dingin—dan seketika, visi itu datang.
---
Visi:
Seorang wanita muda dengan gaun putih berdiri di tengah ruangan. Wajahnya tidak terlihat karena cahaya dari atas menyorot tepat di kepalanya, menciptakan bayangan yang menutupi fitur wajah. Tapi Alea tahu wanita itu cantik. Cantik dalam cara yang sakit.
Wanita itu memegang tangan seorang bocah laki-laki. Bocah itu—Damian Kecil—menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras, tapi mulutnya terkunci rapat.
“Kamu harus kuat,” suara wanita itu lembut. Lembut seperti belati. “Kamu harus jadi Damian yang baru. Damian yang tidak takut. Damian yang tidak menangis. Damian yang bisa membunuh.”
Bocah itu menggeleng. Ia meremas tangan wanita itu, tapi wanita itu melepaskannya dengan gerakan lambat, seperti menguliti mangsa.
“Kalau kamu tidak bisa, aku akan kurung kamu di sini. Lagi. Sampai kamu bisa.”
Pintu besi tertutup. Bunyi gembok berputar. Dan di dalam kegelapan, bocah itu mulai menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Ia menghitung sampai seribu. Lalu mulai lagi.
Di luar, wanita itu tersenyum. Wajahnya—untuk pertama kalinya—terlihat jelas di bawah lampu lorong.
Alea tersentak.
Wanita itu adalah dirinya sendiri.
---
Alea membuka mata. Napasnya tersengal-sengal. Ia jatuh berlutut di depan pintu besi, keringat dingin membasahi punggungnya.
Bukan. Bukan aku. Bukan.
Ia tahu itu bukan dirinya. Itu adalah visi—gambaran masa lalu yang dibungkus dengan simbol-simbol otaknya sendiri. Kemampuannya selalu seperti itu: ia tidak melihat masa lalu secara persis, tapi otaknya menerjemahkan trauma orang lain ke dalam gambar yang bisa ia pahami.
Dan otaknya memilih wajahnya sendiri untuk wanita itu.
Mengapa?
Ia tidak punya waktu untuk menjawab. Tangannya sudah bergerak—memutar gembok. Angka pertama: 1. Kedua: 9. Ketiga: 8. Terakhir: 9.
Klik.
Gembok terbuka dengan bunyi yang terlalu keras di lorong sunyi itu. Alea menariknya. Rantai besi bergeser, jatuh ke lantai dengan bunyi bergemuruh yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Pintu besi itu tidak terbuka dengan sendirinya. Alea harus menekan dengan seluruh berat tubuhnya. Besi itu berkarat di bagian bawah, bergesekan dengan lantai semen dengan bunyi memekik seperti jeritan.
Lalu pintu terbuka.
Dan bau itu—bau yang ia coba identifikasi sejak tadi—akhirnya ia kenali.
Formalin.
Bau yang ia kenal dari kamar mayat di kampus kedokteran dulu. Bau yang ia hirup setiap kali ada jenazah yang diautopsi.
Ruang di balik pintu itu gelap. Lebih gelap dari lorong. Ponsel Alea hanya mampu menerangi satu meter di depannya. Tapi cukup. Cukup untuk melihat—
Dinding. Coretan kapur. Beratus-ratus coretan kapur.
Aku masih di sini.
Tolong.
Ibu, aku takut.
Damian jahat.
Damian aku.
Siapa aku?
Aku Damian.
Bukan.
Aku.
Siapa?
Coretan-coretan itu memenuhi dinding, dari lantai hingga langit-langit. Beberapa ditulis dengan kapur putih, beberapa dengan sesuatu yang merah—mungkin cat, mungkin bukan.
Dan di tengah ruangan, ada kasur busa tipis. Kusut. Dengan bantal kecil yang sudah lusuh.
Dan di atas kasur itu—ada boneka beruang.
Boneka beruang cokelat dengan satu mata hilang. Mata yang tersisa menatap kosong ke arah pintu, seolah menunggu.
Tunggu siapa?
Alea melangkah masuk. Kakinya menyentuh sesuatu—kertas. Ia menunduk, menyorotkan ponsel ke lantai.
Buku harian.
Sampulnya biru muda, dengan gambar kelinci di depannya. Buku harian anak-anak.
Alea memungutnya. Tangannya gemetar hebat saat membuka halaman pertama.
Tanggal 12 Maret 1994.
Nama aku Damian. Umur 8 tahun. Ibu bilang aku harus nulis semua yang aku rasa biar aku bisa jadi Damian yang kuat. Tapi aku nggak mau jadi Damian yang kuat. Aku mau jadi Damian yang main bola sama teman-teman. Tapi ibu bilang teman-teman cuma bikin aku lemah.
Alea membalik halaman. Tangannya tidak bisa berhenti.
Tanggal 3 April 1994.
Ibu kurung aku lagi. Katanya aku masih nangis. Padahal aku udah usaha nggak nangis. Tapi pas lihat foto Papa, aku nggak tahan. Aku kangen Papa. Ibu bilang Papa jahat. Tapi Papa nggak jahat. Papa cuma pergi.
Ibu bilang kalau aku nangis lagi, aku harus bunuh Damian yang lemah. Aku harus jadi Damian yang baru. Tapi kalau aku bunuh Damian yang lemah, aku jadi siapa?
Alea membalik halaman lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap halaman mencatat hari-hari yang sama. Dikurung. Dihukum. Dipaksa untuk tidak menangis. Dipaksa untuk menjadi "Damian baru".
Sampai di halaman terakhir.
Tanggal 19 Juli 1994.
Hari ini Damian yang lemah mati. Aku bunuh dia. Ibu senang. Ibu bilang sekarang aku Damian yang baru. Damian yang kuat. Damian yang nggak takut apa-apa.
Tapi kenapa aku masih nggak bisa keluar dari sini?
Kenapa pintunya masih terkunci?
Ibu? Ibu?
Ibu, aku udah jadi Damian yang baru. Ibu?
Ibu, tolong buka pintunya.
Ibu?
Ibu, di luar gelap.
Ibu, aku takut.
Ibu?
Tolong.
Ibu.
Tolong buka.
Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu—
Tulisan di halaman terakhir itu tidak lagi rapi. Hurufnya membesar, goyah, tinta biru luntur oleh air mata. Dan di paling bawah, ada satu kalimat yang ditulis dengan tekanan sangat keras sampai tembus ke halaman berikutnya:
Ibu, aku mati.
---
Alea tidak sadar bahwa ia menangis sampai tetesan air mata jatuh ke halaman buku itu, membuat tinta biru luntur semakin kabur.
Ia menutup buku. Dadanya sesak. Ada sesuatu yang ingin keluar dari tenggorokannya—teriakan, isak, sumpah serapah—tapi semuanya tertahan di sana, membeku.
Ini bukan sekadar trauma.
Ini pembunuhan.
Seorang anak dibunuh di ruangan ini. Bukan secara fisik. Tapi perlahan, setiap hari, sampai yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang disebut Damian dewasa.
Alea ingin pergi. Kakinya sudah setengah langkah ke pintu, tapi sesuatu menahannya.
Boneka beruang itu.
Boneka dengan satu mata itu masih menatapnya. Dan Alea sadar—di tangan boneka itu, ada sesuatu yang terselip.
Kertas foto.
Ia kembali, berlutut di samping kasur, mengambil foto itu dengan hati-hati. Foto usang, pinggirannya sudah kecokelatan.
Di foto itu, seorang wanita cantik menggendong bocah laki-laki. Bocah itu tersenyum lebar, memegang boneka beruang yang sama persis dengan yang ada di kasur.
Wanita itu—Alea mengenali senyumnya. Senyum yang sama dengan yang ia lihat di visi tadi. Senyum yang lembut tapi mematikan.
Ibu Damian.
Di balik foto, ada tulisan tangan halus:
Damian kecilku. Maafkan Ibu. Ibu hanya ingin kau kuat.
Alea membalik foto itu lagi. Menatap wajah wanita itu.
Dan dalam sekejap, kemampuannya aktif tanpa ia sentuh.
---
Visi:
Wanita itu berdiri di lorong yang sama, tepat di depan pintu besi. Di tangannya, sebuah jarum suntik berisi cairan bening.
“Ini akan membantumu,” katanya. “Setelah ini, kamu tidak akan ingat apa pun tentang Damian yang lemah. Kamu akan menjadi Damian yang baru selamanya.”
Damian Kecil—bocah dengan mata bengkak karena menangis—menggeleng. “Aku nggak mau lupa, Bu. Aku nggak mau jadi orang lain.”
Wanita itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Mematikan.
“Kamu tidak punya pilihan, Sayang.”
Ia menusukkan jarum ke leher bocah itu.
Damian Kecil jatuh. Tubuhnya kejang-kejang di lantai. Dan dari mulutnya, keluar suara yang bukan suara anak kecil. Suara parau, dalam, seperti orang dewasa yang terbangun dari tidur panjang.
“Bu...?”
Wanita itu menangis. Tapi matanya—matanya dingin.
“Selamat datang, Damian baru.”
---
Alea menjerit. Foto itu jatuh dari tangannya. Ia merangkak ke pintu, dadanya terasa seperti dibakar, kepalanya berdenyut hebat.
Suntik.
Damian Kecil dilumpuhkan dengan obat. Dipaksa menjadi kepribadian lain.
Ini bukan disosiasi alami. Ini buatan. Rekayasa.
Damian dewasa adalah monster yang diciptakan. Diprogram. Dipaksa.
Ia hampir mencapai pintu ketika—
“Kak.”
Suara itu. Lembut. Kecil. Dari belakangnya.
Alea membeku.
Ia menoleh.
Damian Kecil berdiri di tengah ruangan, tepat di samping kasur. Piayama biru kebesaran, rambut acak-acakan, mata hitam pekat yang terlalu dewasa untuk wajah bocah.
Ia tersenyum.
Tapi senyumnya tidak seperti biasanya. Tidak polos. Tidak lugu.
Senyum itu... senyum yang sama dengan senyum wanita di foto.
“Kak, aku senang kamu datang.”
Alea ingin berlari. Tapi kakinya tidak bergerak. Ia hanya bisa menatap bocah itu—yang perlahan-lahan mengangkat tangan, menunjuk ke arah Alea.
“Sekarang kamu tahu,” kata Damian Kecil. Suaranya bergema di ruangan sempit itu. “Aku tidak mati. Aku dibunuh. Berkali-kali. Setiap hari.”
Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
“Tapi aku bangkit. Lagi. Dan lagi. Karena di sini—” ia menunjuk kepalanya sendiri, “—aku lebih kuat dari Damian dewasa. Aku yang sebenarnya.”
Alea membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Damian Kecil berhenti tepat di depannya. Bocah itu mendongak, menatap Alea dengan mata yang—Alea baru sadar sekarang—tidak pernah berkedip.
“Kak, jangan takut. Aku nggak akan sakiti kamu.”
Ia meraih tangan Alea. Tangannya kecil. Dingin. Sangat dingin.
“Aku cuma mau minta tolong.”
“Tolong... apa?” Suara Alea serak, nyaris bisikan.
Damian Kecil tersenyum lagi. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Bunuh Damian dewasa.”
Alea tersentak. Ia menarik tangannya, tapi cengkeraman bocah itu terlalu kuat. Terlalu kuat untuk anak seusianya.
“Aku nggak bisa—” Alea tergagap. “Aku bukan pembunuh.”
“Tapi kamu bisa lihat masa depan.” Damian Kecil menggeleng pelan. “Kamu sudah lihat, kan? Damian dewasa mati di tangan istrinya. Itu kamu.”
Alea terdiam. Visi itu—visi yang ia lihat di mobil pertama kali—berputar di kepalanya. Damian tertembak di pelipis. Wanita dengan gaun pengantin. Dirinya sendiri.
“Itu belum tentu terjadi,” bisik Alea.
“Itu pasti terjadi.” Damian Kecil melepaskan tangannya. Ia mundur selangkah, kembali ke tengah ruangan. “Karena kalau tidak, aku tidak akan bisa hidup.”
“Apa maksudmu?”
Damian Kecil menunduk. Ia memeluk boneka beruang satu mata itu erat-erat.
“Selama Damian dewasa hidup, aku terperangkap di sini.” Ia menunjuk ke sekeliling ruangan. “Di ruang ini. Selamanya. Aku nggak bisa keluar. Aku nggak bisa tumbuh. Aku cuma bisa lihat dunia lewat matanya, tapi nggak bisa merasakan apa-apa.”
Ia mendongak lagi. Air matanya mengalir. Tapi kali ini, air matanya tidak jernih. Ada warna merah samar di ujung matanya.
“Kak, aku cuma ingin hidup. Seperti anak kecil lainnya. Main. Sekolah. Punya teman. Nanti besar, punya pacar. Menikah. Bahagia.”
Ia tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang mematahkan hati.
“Tapi selama dia ada, aku nggak bisa.”
Alea menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Antara ingin memeluk bocah itu atau berlari sekencang-kencangnya.
“Damian,” katanya pelan. “Aku akan bantu kamu. Tapi bukan dengan membunuh.”
Mata Damian Kecil berubah. Dari polos menjadi tajam dalam sekejap.
“Kalau bukan dengan membunuh, bagaimana?”
“Ada cara lain.” Alea menekan dadanya yang berdebar. “Aku psikiater. Aku bisa bantu integrasi. Menggabungkan kamu dan Damian dewasa menjadi satu utuh.”
Damian Kecil terdiam. Lama.
Lalu ia tertawa.
Tawa itu—bukan tawa anak kecil. Tawa itu dalam, parau, memilukan.
“Integrasi?” ulangnya. “Kak, aku udah coba. Bertahun-tahun. Tapi dia nggak mau. Dia lebih suka aku mati.”
Ia melempar boneka beruang ke lantai. Boneka itu jatuh dengan bunyi kecil yang teredam.
“Kamu pilih dia, ya?” Suara Damian Kecil berubah. Lebih rendah. Lebih berat. “Kamu pilih monster yang bunuh aku.”
“Dia bukan monster—” Alea mencoba, tapi suaranya terputus.
“DIA MEMBUNUHKU!” Damian Kecil berteriak. Suaranya memantul di dinding ruangan, bergema berkali-kali. “SETIAP HARI! SETIAP DIA TERSENYUM, AKU MATI! SETIAP DIA MERASA BAHAGIA, AKU HILANG! KAMU PIKIR AKU SUKA DI SINI? DI RUANGAN INI? SELAMA DUA PULUH TAHUN?”
Ia menangis. Bukan menangis seperti anak kecil yang merengek. Tapi menangis seperti orang dewasa yang terlalu lama menahan semuanya. Bahunya tersedu-sedu, tubuh kecilnya bergetar.
Alea tidak tahan.
Ia berlari ke arah Damian Kecil, meraih bocah itu, dan memeluknya erat. Tubuh Damian Kecil terasa dingin. Sangat dingin. Seperti memeluk udara.
“Maaf,” bisik Alea. “Maaf. Aku nggak tahu. Aku nggak tahu selama ini kamu sesakit ini.”
Damian Kecil terdiam. Tangisnya mereda. Ia hanya membiarkan Alea memeluknya, tanpa balas memeluk.
“Kak,” suaranya lirih. “Kalau kamu nggak mau bunuh dia, setidaknya... jangan tinggalkan aku. Jangan lupa aku ada di sini.”
Alea mengangguk. Matanya basah.
“Aku janji.”
Mereka berdua diam di tengah ruangan yang dipenuhi coretan kapur, dikelilingi bau formalin dan kenangan buruk yang mengkristal di dinding.
Hingga—
Klik.
Bukan dari gembok. Tapi dari pintu.
Alea menoleh.
Pintu besi itu terbuka.
Dan di ambang pintu, berdiri Damian dewasa.
Pria itu tidak mengenakan jas seperti biasanya. Hanya kaus hitam longgar dan celana panjang abu-abu. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, seperti baru bangun tidur—atau seperti baru saja menangis.
Ia menatap Alea. Lalu menatap Damian Kecil yang masih dalam pelukan Alea.
Tidak ada yang bicara.
Damian dewasa melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti tepat di depan mereka.
“Pergi,” suaranya parau. “Kamu harus pergi dari sini.”
Alea menggeleng. “Damian, aku—”
“PERGI!” Damian dewasa membentak. Tangannya mengepal. Seluruh tubuhnya gemetar.
Tapi Alea tidak bergerak. Ia masih memeluk Damian Kecil.
Damian dewasa menatap Damian Kecil. Matanya—untuk pertama kalinya—terlihat rapuh.
“Aku bilang, pergilah sebelum aku—” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Damian Kecil mendongak dari pelukan Alea. Bocah itu tersenyum. Senyum yang sama seperti di foto usang itu.
“Halo, Damian,” sapa Damian Kecil. “Lama nggak ketemu.”
Damian dewasa tidak menjawab. Ia hanya menatap bocah itu dengan ekspresi yang tidak bisa Alea baca. Marah? Takut? Sedih?
Mungkin semuanya.
“Kau tahu,” Damian Kecil melanjutkan, suaranya semakin pelan, “Aku kira aku benci kamu. Tapi ternyata nggak. Aku cuma capek.”
Ia melepaskan pelukan Alea, berjalan perlahan menuju Damian dewasa. Satu langkah. Dua langkah. Hingga ia berdiri tepat di depan pria yang lebih besar darinya.
“Aku capek jadi kamu,” bisik Damian Kecil. “Aku capek jadi orang yang kamu bunuh setiap hari.”
Damian dewasa berlutut. Pria yang kemarin membunuh tiga puluh orang sendirian itu kini berlutut di depan seorang bocah, dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara.
“Aku nggak mau,” suara Damian dewasa tersendat. “Aku nggak mau bunuh kamu. Tapi aku nggak bisa... aku nggak bisa kendalikan...”
Damian Kecil mengangkat tangan mungilnya, menyentuh pipi Damian dewasa.
“Aku tahu,” katanya. “Aku juga nggak mau bunuh kamu. Tapi kita nggak bisa terus begini.”
Damian dewasa mengangguk pelan. Ia menutup mata.
“Apa yang harus kita lakukan?”
Damian Kecil menoleh ke Alea. Bocah itu tersenyum—senyum paling tulus yang Alea lihat malam ini.
“Tanya Kak Alea. Dia psikiater. Katanya dia bisa bantu kita.”
Damian dewasa membuka mata. Ia menatap Alea dengan sorot yang berbeda dari biasanya. Tidak dingin. Tidak tajam.
Hanya... lelah.
“Kau mau bantu kami?” tanyanya.
Alea menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia berdiri, berjalan mendekati dua Damian yang berlutut di lantai dingin ruang hukuman itu.
“Aku akan coba,” katanya. “Tapi kalian harus janji satu hal.”
“Apa?” tanya Damian Kecil.
Alea menatap Damian dewasa. Lalu Damian Kecil.
“Kalian berdua harus berhenti saling bunuh. Mulai sekarang, kalian satu tim.”
Damian dewasa dan Damian Kecil saling memandang. Lalu, perlahan, mereka berdua mengangguk.
Damian Kecil meraih tangan Damian dewasa. Damian dewasa menggenggam balik.
Dan di tengah ruangan yang penuh coretan kapur dan bau formalin, dua kepribadian dalam satu tubuh itu berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Alea menatap mereka. Dadanya sesak, tapi kali ini bukan karena takut.
Kali ini, ia tahu ia telah memulai sesuatu yang tidak bisa ia batalkan. Sesuatu yang akan mengubah hidup mereka bertiga selamanya.
---
Cliffhanger:
Alea baru saja menghela napas lega ketika ponselnya bergetar.
Ia mengeluarkannya dari saku jubah mandi. Layar menyala.
1 pesan baru dari: RANIA
Alea membuka pesan itu.
“Nona Alea, saya tahu Anda di basement. Saya juga tahu apa yang Anda lakukan dengan Damian selama ini. Saya akan memberi Anda waktu sampai besok pagi untuk menjelaskan semuanya. Jika tidak, Tuan Haydar akan tahu bahwa istri Damian adalah mata-mata. Pilih: selamatkan Damian, atau selamatkan diri Anda sendiri.”
Alea membaca pesan itu dua kali.
Lalu ia menatap Damian dewasa yang masih berlutut di samping Damian Kecil.
Rania tahu.
Rania tahu segalanya.
Dan Rania kenal Haydar.
Siapa sebenarnya Rania?
---
BERSAMBUNG...
---
Akhir Bab 16
Jangan lewatkan Bab 17: “Pilihan Fatal” — Alea harus memutuskan antara melindungi Damian atau menyelamatkan dirinya sendiri, sementara Rania mengungkap jati diri aslinya.
---
Catatan Penulis:
Halo Raiders! Bab 16 ini adalah titik balik penting dalam cerita. Alea akhirnya tahu rahasia kelam di balik kepribadian Damian. Tapi konflik baru justru muncul—Rania yang selama ini tampak membantu ternyata menyimpan agenda sendiri. Menurut kalian, apa yang akan Alea lakukan? Dukung terus cerita ini dengan like, komen, dan share ya! Target kita 100 juta pembaca! 💪🔥
#TheDevilsWife #MafiaRomance #HorrorPsikologi #BalasDendam #NikahPaksa