NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 28: "Dakwah Cinta dan Sandaran di Balik Perjuangan"

​Sepertiga malam telah berlalu, menyisakan keheningan yang syahdu di kompleks pesantren. Setelah melaksanakan salat tahajud berjamaah, Zain dan Shania tidak langsung beranjak. Mereka masih bersila di atas sajadah yang terbentang di kamar mereka. Zain dengan sarung tenun dan koko putihnya, tampak begitu tenang, sementara Shania masih mengenakan mukena berwarna moka yang membingkai wajahnya dengan lembut.

​Shania menggeser duduknya, mendekat ke arah Zain hingga bahu mereka bersentuhan. Ia meraih tangan suaminya, memainkan jemari panjang Zain yang biasanya lincah membolak-balik kitab suci.

​"Mas," panggil Shania lembut.

"Cerita semalam tentang Sayyidah Khadijah masih terngiang-ngiang di kepalaku. Rasanya... aku ingin tahu lebih banyak. Setelah beliau diangkat jadi Rasul, bagaimana cara beliau menyebarkan Islam? Pasti sangat berat, ya?"

​Zain menoleh, menatap binar rasa ingin tahu di mata istrinya. Ia membetulkan posisi duduknya agar bisa merangkul pundak Shania, membawa wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.

​"Sangat berat, Sayang. Bahkan kata 'berat' mungkin tidak cukup untuk menggambarkan luka dan peluh yang beliau tumpahkan."

Zain memulai, suaranya mengalun rendah, berpadu dengan suara jangkrik yang sesekali terdengar dari luar jendela.

"​Perjuangan di Balik Sembunyi-Sembunyi"

​"Awalnya, dakwah itu dilakukan secara sirriyyah, atau sembunyi-sembunyi," lanjut Zain. "Beliau, memulai dari orang-orang terdekat. Kamu, tahu kenapa? Karena rumah adalah madrasah pertama. Beliau, ingin memastikan fondasi di dalam rumah tangganya dan lingkaran sahabatnya sekuat baja."

​Zain mengusap telapak tangan Shania, memberikan kehangatan di tengah udara subuh yang menggigit.

"Selama tiga tahun, beliau berdakwah secara diam-diam di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Shania, bayangkan ketegangan setiap harinya. Setiap kali beliau keluar rumah, ada nyawa yang dipertaruhkan. Namun, setiap kali beliau pulang dengan wajah lelah dan debu yang menempel di jubahnya, ada Khadijah yang menyambut dengan air hangat dan kata-kata yang menyejukkan jiwa."

​Shania menyandarkan kepalanya di dada Zain, mendengarkan detak jantung suaminya yang seolah menjadi detak waktu dalam cerita itu.

"Lalu, kapan beliau mulai bicara di depan umum, Mas?"

​"Saat turun perintah Allah untuk berdakwah secara terang-terangan. Beliau berdiri di atas Bukit Shafa, memanggil seluruh kaum Quraisy. Beliau bertanya, 'Jika aku katakan ada pasukan kuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian, apakah kalian percaya?'. Mereka menjawab, 'Percaya! Karena kami tidak pernah melihatmu berdusta'.

Namun, saat beliau mulai mengajak mereka menyembah Allah yang Esa, seketika itu juga cacian dan hinaan datang dari orang-orang yang sebelumnya memujinya."

"​Luka di Tha'if dan Ketabahan yang Agung"

​Zain menghela napas panjang, ada nada getir dalam suaranya saat melanjutkan bagian ini.

"Puncaknya adalah saat 'Tahun Kesedihan', atau Amul Huzni. Beliau kehilangan dua pelindung utamanya: Paman beliau, Abu Thalib, dan cinta sejatinya, Khadijah. Dalam kondisi rapuh itu, beliau mencoba pergi ke kota Tha'if, berharap mendapatkan perlindungan."

​"Tapi apa yang beliau dapatkan, Shania? Beliau, justru dilempari batu oleh anak-anak kecil dan penduduk sana hingga sandal beliau basah oleh darah yang mengalir dari kakinya. Malaikat Jibril sampai gemas dan menawarkan diri untuk menghimpit kota Tha'if dengan dua gunung di sekitarnya. Tapi apa jawaban Sang Nabi?"

​Shania mendongak, matanya berkaca-kaca.

"Beliau menolak, kan, Mas?"

​"Benar. Beliau justru berdoa, 'Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui'. Beliau tidak membalas luka dengan dendam, tapi dengan doa agar anak cucu mereka kelak menjadi pembela Islam. Itulah romantisnya seorang pemimpin, Sayang. Mencintai bahkan mereka yang menyakiti."

​Zain menunduk, mencium kening Shania lama sekali.

"Melihat perjuangan beliau, saya sering merasa malu, Shania. Saya, hanya mengajar di pesantren yang tenang, tapi kadang masih sering mengeluh kalau lelah. Padahal, kaki Rasulullah berdarah demi kita bisa mengenal sujud hari ini."

"​Sandaran di Balik Meja Dakwah"

​Shania memeluk pinggang Zain erat.

"Mas, tidak perlu merasa malu. Setiap orang punya medan juangnya masing-masing. Dan Mas adalah mujahid di mataku."

​Zain tersenyum, jahilnya mulai kembali muncul ke permukaan meski suasananya sedang syahdu. Ia mengangkat dagu Shania agar mata mereka bertemu.

​"Kalau saya mujahid, berarti kamu adalah 'benteng' saya. Kamu, tahu tidak, apa yang membuat Rasulullah tetap tegak berdiri meski dihina? Selain karena pertolongan Allah, itu karena beliau punya tempat untuk bersandar. Tempat untuk melepas lelah."

​Zain mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan.

"Seperti saya sekarang. Selelah apa pun saya mengurus santri atau berdiskusi kitab yang berat dengan Abah, begitu melihat kamu di depan pintu rumah dengan cadarmu dan mata yang tersenyum itu... rasa lelah saya menguap seperti embun terkena matahari."

​"Masa, sih? Bukannya malah jadi 'tertantang' buat bikin kuis mendadak?" goda Shania, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

​Zain tertawa rendah, suara yang selalu membuat perut Shania terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan.

"Itu namanya manajemen stres, Sayang. Mengalihkan beban pikiran menjadi... beban fisik yang menyenangkan."

"​Cahaya dalam Keheningan"

​Zain kemudian membimbing Shania untuk berdiri. Ia merapikan sajadah mereka, lalu mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia mengajak Shania duduk di kursi kayu panjang di sudut kamar, menghadap ke arah jendela yang menampakkan sedikit cahaya fajar.

​"Dakwah itu bukan hanya soal bicara di atas mimbar, Shania," bisik Zain sambil memeluk Shania dari belakang.

"Mencintaimu dengan sabar, membimbingmu dengan lembut, dan menjagamu dari hal-hal yang tidak baik, itu juga bagian dari dakwah, saya. Saya, ingin saat orang melihat rumah tangga kita, mereka melihat betapa indahnya Islam mengatur hubungan suami istri."

​Shania menggenggam tangan kekar Zain yang melingkar di perutnya.

"Aku, juga ingin belajar jadi istri yang bisa jadi 'selimut' seperti Sayyidah Khadijah, Mas. Meskipun aku masih jauh dari kata sempurna."

​"Tidak ada yang meminta kesempurnaan, Shania. Yang diminta adalah proses. Seperti Rasulullah yang tidak menyerah saat ditolak di Tha'if, saya juga tidak akan menyerah membimbingmu... termasuk membimbingmu untuk lebih berani di kuis bab selanjutnya."

​Shania berbalik, menatap suaminya dengan gemas.

"Mas! Baru saja bahas sejarah yang haru, kok beloknya ke sana lagi!"

​Zain terkekeh, ia menggendong Shania dengan sigap menuju ranjang, membuat istrinya memekik pelan karena terkejut.

"Rasulullah, juga mengajarkan untuk selalu lincah dan bersemangat, kan? Nah, subuh masih sedikit lagi, dan saya rasa... kita punya waktu untuk 'diskusi intensif' tentang bagaimana cara meningkatkan populasi umat Islam."

​"Mas Zain!!!"

​Di bawah temaram lampu dan sisa-sisa aroma doa sepertiga malam, Shania menyadari bahwa dakwah cinta suaminya adalah cara yang paling indah untuk mendekatkannya pada Sang Pencipta. Bahwa di balik sosok ustadz yang kaku di depan umum, tersimpan seorang pria yang tahu benar bagaimana cara memperlakukan wanitanya sebagai ratu.

​Malam itu berakhir dengan bisikan doa dan kehangatan yang meluruhkan dinginnya Kediri. Shania belajar bahwa dalam Islam, romantis bukan hanya tentang bunga, tapi tentang bagaimana seorang pria membawa wanitanya menuju rida-Nya dengan penuh cinta dan sedikit... godaan yang tak pernah absen.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!