Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 16
"Sudah bangun, Jang, eh maksudnya, nak Aabid."
Harun datang setelah jam sudah menunjukkan pukul 9 setelah sejak pagi ia mondar-mandir melihat keadaan Aabid.
Namun, enggan membangunkan karena kasihan melihat Aabid begitu pulas. Sejak tadi ia ingin memastikan apakah Aabid sudah bangun karena waktu minum obat sudah berlalu.
Namun, sarapan pun terlihat belum terjamah. Dan akhirnya setelah kesekian kali ia bolak-balik, kali ini Aabid tampak mengerjapkan mata.
Harun pun bisa tersenyum lega.
"Pak Harun," sapa Aabid bangkit dari tempat tidur.
Menyandarkan punggung di bahu ranjang karena rasa malas masih menaunginya.
"Sarapan dulu. Kamu teh sudah telat minum obat pagi nya. Udah jam 9," kata Harun dengan logat Bandung yang begitu santun.
Aabid lalu melihat ke arah jam wekker di sampingnya.
"Kasurnya keras, ya? Jadi nggak bisa tidur semalam?" lanjut Harun dengan nada sungkan dan senyum yang terus melingkar di bibirnya.
"Astaghfirullah, Pak. Bukan. Saya cuma lagi banyak
pikiran," jawab Aabid tak enak hati.
"Lagi sakit mah jangan banyak pikiran atuh. Nanti nggak sembuh-sembuh."
"Saya juga berharap begitu. Tapi ...." Aabid menggantung ucapan.
"Kunaon atuh?" Pak Harun lalu bertanya.
"Pak, boleh saya meminjam ponsel untuk menghubungi temen saya. Saya takut dikira bawa kabur motornya."
Ide yang sudah ia rancang sedemikian rupa akhirnya mulai dijalankannya.
Harun tertawa.
"Ya boleh atuh. Kirain mau telepon pacar. Ini pake aja. Tapi baterainya sepertinya habis. Bapak isi dulu, ya." Setelah merogoh ponsel dari saku celana, Harun lantas menancapkan ponsel di charger milik Dito yang ada di laci nakas sebelah Aabid.
"Nak Aabid pake aja kalau sudah penuh," lanjutnya setelah daya mulai mengalir di ponsel yang kini dalam keadaan mati.
"Aduh, kok, diajak ngobrol terus. Bapak teh kumaha?" sela Asri memotong percakapan mereka.
Ia datang dengan sepiring nasi yang masih mengepul panas.
"Ini teh ibu ganti, makanannya sudah dingin," ucap Asri meletakkan piring yang baru ia bawa ke atas nakas.
"Nggak usah, Bu. Ini saja tidak apa-apa," tolak Aabid berusaha tidak terlalu merepotkan.
"Orang waras saja nggak enak makan kalau dingin, apa lagi cuma sama orek tempe gini. Ibu ganti nasi angetnya sama ditambah ayam ini."
"Beneran, Bu. Nggak apa-apa, ini aja." Begitu sungkannya Aabid langsung mengambil piring yang sudah disiapkan untuknya sejak pagi tadi.
"Jangan sungkan atuh, nak," Asri meraih makanan yang sudah dingin tersebut dari tangan Aabid.
Aabid ingin meraihnya kembali, tapi Asri buru-buru menjauhkannya dari jangkauan tangan Aabid.
"Udah, nak Aabid. Ibu bener. Bapak suapin, ya," Harun menimpali.
"Oh, nggak usah, Pak. Saya bisa. Sekalian latihan."
Semakin sungkan Aabid pun menjawab dengan cepat dan meraih piring yang hendak diambil Harun.
Ia berusaha menolak bantuan demi bantuan yang menurutnya benar-benar di luar dugaan.
Tak banyak orang di Jakarta sana yang memiliki jiwa seperti mereka. Meski keadaan tidak memungkinkan, tapi tetap berusaha menghidangkan makanan untuk tamu yang merepotkan.
"Ya sudah saya tinggal, ya. Jangan lupa obatnya diminum." Harun bangkit dari duduknya.
Aabid mengangguk seraya tersenyum.
Setelah kepergian Harun dan Asri.
Aabid menatap ke arah piring yang berisi orek tempe dan ayam goreng.
Matanya menyipit dan curiga, apakah mereka mulai mengistimewakannya? Aabid menghela napas. Kemudian perlahan memakannya.
Entah kelaparan atau memang keenakan namun yang pasti tak sampai lima menit makanan di piring sudah berpindah tempat di perut Aabid, tanpa sebutir nasi pun tersisa di piring kotornya.
Bahkan, ia sampai bersendawa saking puasnya. Cepat pula ia menutup mulut yang tidak sopan. Lalu menggelengkan kepala dan mengusap perut yang kekenyangan.
Beberapa saat kemudian Aabid meraih ponsel yang sudah terlihat terisi setengah. Namun, ia kembali meletakkan ponsel tersebut saat suara Asri terdengar memanggil.
"Nak Aabid, obatnya sudah diminum?" Asri datang dari balik pintu.
"Oh, sudah, Bu," jawab Aabid sopan.
"Ini ada satu lagi baru dibeli selina. Katanya disuruh minum biar lukanya cepat kering." Sembari berujar Asri mengulurkan sebuah obat.
Aabid terdiam, tak langsung menerima. Ia sedikit takut jika harus meminum obat di luar resep dokter. Namun sesaat kemudian, ia teringat akan selina yang mempunyai alat periksa tekanan darah dan mampu menggunakannya dengan piawai saat ia pura-pura belum sadar kemarin.
"Selina kerja atau sekolah kalau boleh tahu bu?" tanya Aabid meraih obat dari tangan Asri. Asri lalu tersenyum.
"Maunya sih gitu."
Mata Aabid menyipit. Kemudian meletakkan kembali obat yang sudah ia terima. Keraguan kembali menaunginya.
"Oh, saya kira dia kerja di bidang kesehatan. Soalnya dia bisa pake tensimeter dengan baik."
"selina memang sempat masuk perguruan tinggi. Jurusannya keperawatan. Cuma beberapa bulan yang lalu waktu masuk semester 5 dia memilih untuk berhenti dan mencari kerja."
"Berhenti maksudnya, cuti atau ...."
"Dia bilang teh keluar aja mau kerja. Bosen katanya."
"Bosen? Biaya kuliah keperawatan nggak murah setahu saya. Apa nggak sayang dan mubazir biaya yang udah dikeluarkan?"
"Enggak, saya teh nggak banyak keluar uang. Karena selina teh dapat beasiswa. Paling juga keluar untuk uang saku, fotocopy, dan apa ya, bensin dia nebeng ke bapaknya kadang kalau kuliah. Ia jarang minta sih soalnya."
"Lalu, sekarang mau kerja di mana?"
"Udah ngelamar tapi belum ada panggilan. Akhirnya selina memutuskan untuk menikah saja."
"selina?! Menikah?!" Aabid kaget bukan kepalang.
"E ... aya naon, jangan kaget gitu atuh. Iya, insyaallah kalau tidak ada halangan Minggu depan acaranya. Saya harap teh kamu sudah sehat Minggu depan, ya Supaya bisa lihat selina menikah. Kalau banyak tamu kan nggak kelihatan, bilang aja temennya bapak."
"O ... Oh, Alhamdulillah. Emang selina usianya berapa?" Meski masih sedikit tercengang dan gelagapan, Aabid tetap berusaha biasa saja.
Bukan apa-apa, tapi ini cukup aneh baginya. selina sepolos itu mau menikah?
"21 tahun."
Aabid mengangguk dan berpikir.
"Pasti calonnya mapan ya, sampai selina memutuskan untuk menikah di usia yang masih sangat muda, padahal masih pengen kerja. Mau jadi ibu rumah tangga dan menunggu suami pulang kerja seperti di sinetron-sinetron?" tanya Aabid dengan nada candaan, namun sejatinya terselip penasaran tentang pria seperti apa yang dipilih wanita sependiam selina.
Yang bahkan, tampak begitu lugu dan tidak tertarik sama sekali pada dirinya yang dikenal sebagai pria dengan sejuta pesona di Jakarta.
"Alhamdulillah. Dia manager di tempat bapaknya kerja." Seketika Aabid menelan ludah.
"Rupanya, memang bukan orang sembarangan. Pantas saja selina tidak tertarik pada diriku saat aku mengaku tak punya apa-apa. Bukankah dia wanita sama seperti Radina?" Aabid membatin dengan sinis saat menyebut nama sang mantan istri.
"Manager, ya? Memang Pak Harun kerja di mana kalau boleh tahu, Bu?"
"Hotel Seruni."
Aabid terperangah.
"Hotel Seruni?" batin Aabid kembali bergejolak dan bahkan tak mampu mengeluarkan kata-kata.
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
double up thor,,,🙏🙏🙏