Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Setelah Liam pergi, Raja Reynold kembali mengambil gelang itu.
Jemarinya memutarnya perlahan, lalu berhenti.
Untuk sesaat, ia terdiam.
Jika Aurelia hanya ingin menenangkan diri,
mengapa ia tidak ingin dilacak?
----------
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, bahkan ketika malam berganti dan fajar perlahan mulai menyentuh istana.
Keputusan untuk menghentikan pencarian Ratu Aurelia tidak ia ambil dalam satu malam.
Namun ketika pagi hari datang dan istana kembali beraktivitas seperti biasa, ada satu hal yang telah berubah yaitu pencarian terhadap Ratu Aurelia benar-benar telah dihentikan.
-----------
Istana Zorvath
Raja Reynold berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap halaman istana yang mulai ramai oleh pelayan dan penjaga yang berlalu lalang.
“Bagaimana kondisi Akademi Howard?” ucap Raja Reynold tiba-tiba.
Liam yang sedari tadi berdiri di belakang Raja Reynold menarik napas dalam. “Penyakit belum terkendali sepenuhnya. Beberapa siswa sudah dipulangkan. Yang terinfeksi sudah diisolasi. Sementara untuk obat, saat ini hanya kerajaan Averdom yang tahu , sedangkan kita hanya bisa menjaga kondisi mereka agar tidak semakin parah”
" Apakah ada tanggapan dari Averdom setelah kita meminta bantuan?" tanya Raja Reynold.
" Sudah yang mulia, mereka akan mengirimkan bantuan secepatnya, tapi mereka tidak membahas hal lain"
Raja Reynold membuka matanya kembali.
Tidak biasanya Averdom memberi bantuan tanpa syarat, batin Raja Reynold.
"Biarkan saja sekarang, yang terpenting mereka mau mengobatinya dulu " ujar Raja Reynold.
" Baik yang mulia" ujar Liam.
" Hamba mohon izin undur diri dulu" lanjut Liam keluar dari ruang kerja Raja Reynold.
Setelah Liam pergi, Raja Reynold berjalan ke meja kerjanya, membuka laci paling bawah—tempat ia menyimpan foto Ratu Aurelia.
“Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, tidak biasanya kamu lari dari masalah seperti ini. Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan lagi selain ini?” gumamnya dengan menatap rumit foto Ratu Aurelia
------------
Kerajaan Averdom
Istana Averdom tidak pernah berubah.
Kabut tipis masih menyelimuti menara-menara di istana, seolah negeri itu sengaja menutup dirinya dari dunia luar. Gerbang besi berdiri kokoh, dijaga para pengawal yang berdiri tanpa ekspresi.
Di ruang pertemuan utama istana Averdom, suasana jauh dari tenang, serta tidak ada bendera kerajaan lain yang berkibar sembarangan di dalam ruangan.
Beberapa bangsawan senior duduk melingkar. Wajah mereka serius, suara mereka ditahan rendah. Di ujung meja panjang duduk Raja Averdom—Caelan Valemont Averdom—dengan punggung tegak, masih muda untuk seorang raja. Namun sorot matanya tidak naif.
Di depannya terbuka satu laporan.
Kerajaan Zorvath.
Akademi Howard.
“Sesuai perintah yang mulia, hamba telah menerima permintaan tolong kerajaan zorvath, sebaiknya siapa yang harus kita utus kesana.” ujar seorang bangsawan dengan suara hati-hati.
Raja Caelan mengangkat pandangan dari laporan di hadapannya.
“Kalian masih mempertanyakan siapa yang harus kita kirim,” ucapnya datar.
Ruangan menjadi lebih hening.
“Coba kalian berpikir,” lanjutnya pelan, “sudah berapa lama kita mencoba menghubungi Aurelia—dan apa hasilnya.”
Seorang bangsawan menunduk sedikit.
“Tidak ada, Yang Mulia.”
“Nihil,” ulang Caelan singkat.
Ia terdiam sejenak.
“Elara Ardelia Valemont Oxford,” gumamnya pelan—cukup jelas untuk didengar semua bangsawan di ruangan itu.
Setelah Raja Caelan menyebut nama itu, tidak ada yang berani membantah.
---------------
Laboratorium Medis Averdom
Elara Ardelia Valemont Oxford dikenal sebagai salah satu tenaga medis muda di Kerajaan Averdom.
Usianya belum genap dua puluh tahun, namun kemampuannya kerap membuat banyak orang terdiam kagum.
Ia tenang, cerdas, dan selalu memperlakukan siapa pun dengan sikap yang sama—tanpa memandang jabatan atau kedudukan. Tidak banyak yang menyadari bahwa di balik kesederhanaannya, Elara berasal dari keluarga bangsawan tinggi Averdom.
Yang lebih sedikit lagi mengetahuinya adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Elara adalah putri Ratu Aurelia Elyse Valemont Oxford—yang kini dikenal dunia sebagai Ratu Aurelia Zorvath—dan Raja Reynold Arcturus Zorvath.
Namun identitas itu disembunyikan dengan sangat rapi oleh Kerajaan Averdom.
Elara berdiri di depan meja kerja, meneliti hasil uji terakhir pada layar kaca kecil di sampingnya. Cairan bening di dalam tabung reaksi perlahan berubah warna, sesuai prediksi.
Proyek obat regeneratif—formula yang berpotensi mempercepat pemulihan jaringan tubuh dan telah ia kembangkan selama berbulan-bulan.
“Elara.”
Sebuah suara memanggil dari belakang.
Ia tidak langsung menoleh.
“Tunggu sebentar,” ucapnya tenang. “Reaksinya belum stabil.”
“Sampai kapan?” sahut Valencia, sahabat Elara. “Aku sudah nunggu kamu satu jam.”
“Sedikit lagi,” jawab Elara singkat.
Valencia mendengus.
“Dari tadi ‘sedikit lagi’ terus. Kayaknya kalau kita ke kantin sekarang, yang tersisa cuma tulang sama piring kotor.”
Elara yang mendengar perkataan Valencia hanya tersenyum tipis. Pekerjaannya sebenarnya sudah selesai, namun membuat Valencia sedikit sebal justru menjadi hiburan tersendiri baginya.
“Oke,” ujar elara akhirnya, sambil merapikan alat-alat yang berserakan di atas meja.
“Lagi pula, aku sudah lapar dari tadi.”
Ia segera mengajak Valencia keluar dari laboratorium menuju kantin, sebelum sahabatnya itu semakin cerewet karena lapar.
--------------
“Kamu nanti pulang ?” tanya Valencia sambil menusuk makanannya.
“Nggak tahu,” sahut Elara santai. “Tergantung kondisi.”
Valencia mendecak. “Kamu itu masih muda, kencan lah. Jangan kencan mulu sama tabung-tabung itu.”
“Setidaknya tabung-tabung itu bikin tabunganku gendut. Daripada tabunganmu melayang-layang.” ujar Elara sedikit menyindir Valencia karena habis di poroti mantan pacarnya hingga tabungannya habis.
" Sama yang lebih tua it..."
" Iya . . . Iya orang tua "
Plak
Valencia memukul tangan Elara, kesal. Padahal usia mereka hanya terpaut dua tahun.
“Oh ya,” kata Valencia kemudian, nadanya berubah sedikit serius. “Tadi katanya ada pihak kerajaan yang datang ke sini.”
Elara berhenti mengunyah. “Kerajaan?”
“Katanya sih begitu. Masih katanya,” jawab Valencia. “Tapi memang agak aneh.”
“Aneh gimana?” Elara mulai tidak sabar.
Valencia menurunkan suaranya. “Kamu tahu kan, Averdom itu kerajaan tertutup.”
" Ya " sahut Elara.
“Beberapa tenaga medis di rumah sakit ini diminta ke Zorvath,” lanjut Valencia santai. “Katanya ada wabah yang nggak bisa mereka tangani.”
Gerakan Elara terhenti.
“Aneh, kan?” tambah Valencia.
🫣
Maaf kalau masih banyak typo
Terima kasih yang sudah mau mampir sampai bab ini 🙏🙏🙏
14 Januari 2026
Berarti ini udaa beberapa tahun kemudian begitu kah🙈