Catarina hamil.
Kenyataan itu adalah mimpi terburuk dari banyaknya mimpi buruk yang terjadi dalam hidupnya, Dan mimpi paling buruk dari yang terburuk adalah.. Ia mengandung benih majikannya sendiri! Sosok Leonard.
Leonard adalah sosok iblis yang bersembunyi dibalik kedok seorang 'pengusaha sukses' Bagaimana tidak? dibalik topeng menawannya, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Sementara Catarina terlalu polos dan naif untuk mengartikan siapa Leonard yang sesungguhnya.
Hingga satu kejadian terjadi, kejadian fatal dimana Leonard membuat Catarina menyerah dan memilih pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AIPARIDAH JAISAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
L-16 BUTUH KERJA
Seorang lelaki dengan suit licin itu membuka pintu apartemennya dengan sedikit semangat, lelah yang disebenarnya didapat mendadak hilang kala mengingat ada seseorang diapartemen miliknya.
Jika hari-hari biasa, sangat mustahil seorang Leonard datang ke apartemen kecil seperti ini. Ia palingan memesan hotel yang dekat dengan kantornya atau sekedar istirahat di penthouse.
Leonard melempar dasi dan jasnya sembarang arah kemudian melangkah gortai menuju kamar seseorang, kala sampai didepan pintu, sayup-sayup ia mendengar percakapan wanitanya dengan seseorang ditelepon.
"Iyaa, aku butuh banget kerja. Kamu tahukan kalo tabungan hasil ngejual rumah habis?"
Terdengar suara Catarina yang tampak frustasi disana, Leonard menajamkan telinganya.
"Iya, nanti aku coba tanyain sama papah aku ya." Ace terdengar menjawab ditelepon.
"Yeayy! makasih ya ace my love, pokoknya aku butuh banget sama kerjaan." Catarina terdengar menimpali dengan suara yang ceria, terdengar begitu akrab dengan si Ace-Ace itu.
Leonard nampak mengernyit tak suka, memangnya sedekat apa si ace dengan catarina ini sampai panggilan Catarina yang seperti itu?
"Nama pemuda itu Ace? kenapa tidak sekalian pendingin ruangan?" judes Leonard.
Lagipula ace ini cuma sahabatnya Catarina tapi sok akrab sekali, tapi tenang saja. Leonard tak akan mempersalahkan, lagipula Ace kalah telak dengan dirinya, memang Ace pernah memakai Catarina hingga kewanitaan perempuan itu robek? hmm, tentu saja hanya Leonard Seorang.
"Ace, makasih ya. Kamu memang kesaya--"
Brak!
Ucapan Catarina berhenti kala tersentak mendengar pintu kamarnya ditendang, spontan ia dapat melihat Leonard yang tengah menaikan alisnya.
Catarina kaget dan takut bersamaan, namun ia lebih takut kala melihat tatapan Leonard yang sangat sensi.
"Kau berbicara dengan pacarmu?" Leonard bertanya yang lebih mirip kalimat sarkas.
Catarina gelapan melihat itu, ia takut Ace mendengar suara Leonard.
"--Catarina, suara apa it–"
"Ace! mendadak aku ingin buang air besar, sudah dulu ya, byee!"
Tutt
Dengan cepat Catarina mematikan sambungan telepon dan memotong ucapan Ace.
Ia sembunyikan ponselnya pada punggung kemudian tersenyum kaku pada Leonard.
"L-leo, sudah pulang?" tanya Catarina, terkejut.
"Belum, aku masih dikantor." Dengus Leonard melangkah menuju catarina.
"Ha ha ha, tapi kau disini." Tawa catarina terdengar dipaksakan.
Leonard mendengus, lagipula untuk apa gadis itu bertanya yang sudah jelas-jelas sudah mengetahuinya.
"Pertanyaanmu tak berbobot, kau sudah melihatku disini tandanya aku sudah pulang."
Catarina semakin panik kala Leonard sudah berada dekat dihadapannya, pria itu menarik dagu Catarina.
Cup
Catarina meremas dress yang dikenakannya kala merasakan bibir Leonard yang menempel pada bibirnya, bukan ciuman melainkan hanya kecupan tipis.
Leonard tampak diam sejenak, "Kau sudah makan?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Leonard itu membuat Catarina membola kaget, seumur-umur ia tahu dengan Leonard, baru kali ini pria itu menanyakannya prihal makan.
Catarina mengangguk pelan, hal itu direspon jepitan pada bibir Catarina. Lalu tanpa izin, Leonard memeluk gadis itu dan berbisik.
"Kau makan sesuatu yang pedas." seringai Leonard menjilati bibirnya sendiri.
Catarina tersentak kala Leonard yang mengangkat tubuhnya menuju ranjang, membawanya hingga kaki Catarina memeluk pinggang Leonard. Takut jatuh.
Leonard langsung melempar Catarina begitu saja hingga gadis itu gemetar dengan tangan yang meremas sprei kasur. Catarina sudah memejamkan mata pasrah dengan apa yang akan dilakukan Leonard, Hingga..
Satu detik
Dua detik
Enam detik
Catarina sama sekali tak merasakan apapun yang dilakukan Leonard, hingga ia membuka mata dan terkejut kala wajah Leonard yang sudah dekat dengannya sembari menahan tawa.
"Kau mengharapkan aku melakukan sesuatu?"
Dengan cepat Catarina menggeleng ribut, "Tidak!"
Leonard menyeringai tipis, "Kau mengharapkannya."
Lalu tanpa basa-basi Leonard mencekik Catarina hingga gadis itu melotot, tidak sakit, hanya sedikit sulit bernafas dan itu membuatnya kaget.
"L-leonard," Catarina terbata, menahan airmatanya yang hendak keluar akibat dadanya yang sesak.
"Berhenti kumonohnn.." Catarina memohon dengan tubuh yang tersentak.
Leonard semakin tertawa, "Kau menyuruhku berhenti?"
Leonard kuatkan cekikannya, "kau wanita munafik."
Catarina semakin terengah dengan bibir yang sudah berdarah akibat ia gigit berlebihan, ia hanya bisa mengeratkan tangannya pada lengan Leonard.
Tampaknya Leonard menyadari jika Catarina sudah kewalahan hanya tertawa tanpa belas kasihan, "Ingin meregang nyawa, huh?" Ejeknya.
"Berhenti berkomunikasi dengan pria selain diriku." Akhir Leonard melepaskan tangannya.
Catarina hanya diam kala nafasnya sudah stabil, ia menahan lelehan air mata yang ingin keluar dari pelupuknya yang terasa panas.
Ia dilecehkan, lalu dihina, disiksa. Dan parahnya, ia lemah hingga tak bisa melakukan apapun.
"Kau membutuhkan pekerjaan?"
Pertanyaan itu membuat Catarina yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajah dan menatap Leonard, ia mengangguk pelan.
"Jawab pertanyaanku dengan benar, aku tak butuh anggukan." Dengus Leonard jengah.
"I-iya, aku ingin bekerja." Dengan mantap Catarina mengangguk yakin.
Leonard tak mengatakan apapun, ia malah merendahkan dirinya untuk menggapai pinggang gadis itu agar lebih dekat dengan dirinya.
Catarina nampak terkejut sebelum kemudian Leonard terkekeh, "Aku akan memberimu pekerjaan, tidak usah meminta teman bodohmu itu."
"Benarkah?" tanya Catarina sedikit ragu.
Leonard mengangguk, "Tapi tak gratis." Ucapnya tersenyum miring.