Aku tidak suka jalan cerita cintaku di samakan oleh fiksi-fiksi romantis atau film-film yang berujung bahagia. Nyatanya dalam kehidupan nyata tidak semua kisah cinta akan berujung bahagia. Kehidupan cintaku tidak seseru yang kalian bayangkan. Benci menjadi Cinta adalah hal lazim yang biasanya mencumbui hati manusia. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu. Karena aku masih dalam proses menuju ujung dari sebuah cerita. Sedih senangnya akhir dari sebuah cerita adalah hal yang selalu di nantikan, aku pun juga sedang menantikan bagaimana akhir ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Hey,"
"Apa kabar?"
"Ah iya, kenalin ini Fella."
Kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh Rafa saat ini masih mengisi relung di benakku. Dia Fella, gadis yang dulu selalu kulihat bersama dengan Rafa bernama Fella. Walaupun aku tidak tahu Fella siapanya Rafa aku yakin sepersekian persen bahwa di antara mereka ada apa-apa.
Dengan acuh nya setelah bertanya kabar dan basa-basi tidak penting. Ia lalu pergi bersama Fella dan meninggalkan aku yang masih terdiam di tempatku berdiri. Aku tidak tahu ada perasaan apa yang tengah menyelimutiku, lebih jelasnya adalah perasaanku saat melihat mereka berdua aku merasa setiap tarikan nafas yang kuambil terasa berat dan menyesakkan. Aku merasa ada sesuatu di dalam kediaman hatiku yang paling dalam merasakan ada sesuatu yang menggelitik.
Apakah—apakah ini yang di namakan cemburu?
Jika begitu, aku tidak sudi lagi mengalami perasaan semacam seperti ini. Tapi, kenapa bisa aku merasa cemburu? Jika aku cemburu itu tandanya aku menyukai Rafa?
Benarkah?
Secepat itukah?
Jika iya, sejak kapan aku menyukainya?
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rafa
Melihat namanya di antara beratus-ratus nama yang tertera di sebuah lembar kertas putih. Mataku langsung tertuju pada kedua kata itu. Nama yang unik dan aneh sebenarnya.
Caramel Aura.
Diantara ratusan orang saat masa-masa orientasi sekolah. Pertama kali aku melihatnya duduk di lapangan dan panas-panasan bersama teman wanitanya, Kika. Rambutnya di kuncir menjadi 3 bagian dan lehernya di kalungkan sebuah papan nama.
Caramel Tidak Enak.
Membuatku tersenyum geli melihatnya. Pada saat itu lah aku menyadari bahwa di dalam hatiku bukanlah berkembang hanya rasa tertarik akan namanya, begitu juga dengan si pemilik namanya. Setiap hari aku melihatnya pergi ke kantin bersama Kika dari lapangan sebelum aku bermain basket. Jelas saja hal itu tidak di ketahui siapa-siapa termasuk dirinya.
Aku tidak berani mendekatinya karena jujur aku adalah termasuk laki-laki yang sungkan apalagi blak-blak an mendekati wanita. Tidak perlu mendekati wanita juga wanitalah yang mendekatiku, dan aku tahu itu. Tepat pada hari senin Pak Darmawan memanggilku, melihat nilaiku yang terus menurun ia menyarankanku untuk belajar dengan Caramel.
Mendengar hal itu, mau tidak mau perasaanku menguak bahagia seketika. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot untuk mendekatinya. Kukira semua akan mulus seperti yang kubayangkan. Kenalan, berteman, pendekatan, dan jadian.
Ha, dan aku salah total akan hal itu. Caramel adalah orang yang bertempramental tinggi. Apalagi wajahnya yang selalu jutek jika melihatku. Alhasil, aku tidak bisa berbuat banyak selain hanya membuat diriku terlihat menyebalkan di matanya.
Terlihat menyebalkan di mata seseorang pasti akan selalu di ingat oleh seseorang itu. Dan aku ingin Caramel selalu mengingatku, walaupun mengingat dalam konteks yang berbeda. Tapi aku sudah cukup senang akan hal itu.
Betapa bahagianya saat mengetahui bahwa ia menjengukku saat berada di rumah sakit saat aku jatuh ketika pertandingan basket. Sejujurnya itu salahnya juga, bagaimana bisa ia berjalan santai ke kantin tanpa minat untuk melihatku bermain basket?
Walaupun ia tak menampakkan wajahnya, malah bingkisannya ia titipkan di salah satu suster. Aku bisa menebaknya berkat tulisan tangannya yang rapih terpampang jelas di sebuah kartu ucapan dalam bingkisan itu.
Get well fast ya
Kalimat sederhana namun membuatku senang bukan kepalang. Ditambah lagi waktu itu ia juga mencoba melihatku saat berada di UKS. Aku tahu ia ingin melihatku karena alasan yang sangat tidak jelas bilang ia ingin ke toilet. Padahal sudah jelas bahwa toilet dan UKS terletak berlawanan arah.
Dan aku tidak menyukai kebersamaannya dengan Arga. Entah ada hubungan apa di antara mereka berdua tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa di masa depan Caramel akan menjadi milikku. Persetan dengan sekarang ia bersama siapa. Aku mencoba menahan rasa di dadaku.
Puisinya yang mendapat nilai A+ dari Bu Irma yang diam-diam kubaca dengan seksama dan teliti. Aku tidak suka membaca puisi karena menurutku puisi itu berlebihan, tapi melihat kata pertama dalam puisinya. Detik itu juga aku jatuh cinta pada tulisannya. Sungguh indah.
Dan aku masih tidak tahu sampai sekarang maksud dari -1261816- yang ditulis di akhir pusinya. Dan sampai sekarang aku masih mencoba untuk mencari apa maknanya.
Hingga masa-masa hari terakhir Ujian Akhir Nasional, aku masih tidak dapat mengatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Ia menghampiriku di perpustakaan disaat aku tengah tertidur pulas. Suara buku terjatuh membuatku bangun.
Seragamnya sudah bagaikan kapal pecah, coret-coret an di sana sini. Tadinya aku tidak ingin mengikuti anak-anak yang lain dengan aksi tanda tangan di seragam. Sedetik kemudian aku mengurungkan niatku dan memilih untuk menandatanganinya juga.
Saat itu aku benar-benar ingin mengatakan perasaanku sampai ponselku berbunyi. Lagi-lagi Fella masuk rumah sakit karena asma nya yang kambuh. Ia memang sakit-sakit an dari kecil. Fella sudah kuanggap sebagai adik sendiri, ia anak dari adik mamaku. Aku pun meninggalkannya sendiri.
Di Bali-pun aku memaksanya untuk duduk bersamaku karena ingin melihat sunset bersamanya. Dari kecil aku suka sunset dan memang entah kenapa warna sunset kala itu berwarna Caramel. Dan aku bersyukur menikmati sunset berwarna Caramel itu dengan Caramel. Kemudian aku kelepasan mengatakan sebuah kalimat tersirat padanya, sampai akhirnya ia dipanggil oleh Kika. Dan aku tidak jadi melanjutkan kalimatku.
Pulang dari Bali aku sama sekali tidak berbicara padanya. Bahkan melihatnya pun tidak, karena kudengar ia langsung pulang karena telah di jemput oleh papa nya. Di acara graduation aku baru melihatnya kembali, dengan memakai kebaya merah marun rancangan mama dengan high heels nya. Aku tahu ia risih dengan segala yang di kenakannya, tapi aku hanya bisa mengangkat sudut bibirku melihatnya.
Aku ikut senang ia mendapat NEM tertinggi untuk tahun ini. Melihatnya berpidato adalah hal yang menarik selama hidupku. Bukannya pidato ia malah merangkai kata-kata menjadi sebuah bait. Walau aku tidak mengerti apa maknanya. Aku selalu suka akan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Seperti yang pernah ia bilang padaku, aku harus kuliah. Dan ya, aku mengikuti kata-kata nya untuk kuliah. Aku mengambil management di sebuah universitas negri di Jakarta. Walau aku harus rela mengambil IPC saat SNMPTN dan belajar tentang ilmu sosial.
Yang membuatku terkejut adalah saat tahu bahwa Caramel mengambil beasiswa kedokteran di Jerman. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari kearah mobil dan menuju rumahnya. Kudapati rumahnya kosong dan hanya pembantunya lah yang ada. Ia bilang majikannya sudah pergi ke bandara untuk mengantarkan putri satu-satunya.
Perasaanku campur aduk kala itu, antara ingin marah dan tidak rela melihatnya pergi begitu saja. Bahkan aku belum sempat mengatakan perasaanku padanya. Sesampainya di bandara aku langsung berlarian mencarinya, nafasku sudah tidak terkontrol lagi karena lamanya berlari.
Namun aku terlambat.
Bahkan pesawatnya sudah mengudara di angkasa.
Detik itu juga aku merasa menyesal.
--
--
--
--
--
--
6 Tahun Kemudian..
Pagi ini jadwal Fella untuk check-up ke rumah sakit. Akhir-akhir ini asmanya sering kambuh. Fella meminta izin untuk ke toilet sebentar dan aku menunggu di ruang tunggu pasien. Dari sudut mataku kulihat seorang dokter muda berjalan di lorong rumah sakit.
Sepertinya aku mengenalnya, tanpa pikir panjang aku berjalan mengikuti di belakangnya. Aku mengumpulkan keberanianku untuk menyapa dokter itu.
"Selamat pagi bu Dokter.."
Ia menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku, "Pag—Rafa?"
Rasanya seperti ada medan magnet yang menarikku keatas awan melihatnya berdiri di depanku. Setelah 6 tahun lamanya aku tak bertemu, dan inilah waktu dimana aku bisa melihatnya lagi. Aku ingin sekali langsung berjalan cepat kearahnya dan menangkupkan tubuhnya ke dalam dekapanku. Tapi kaki ini tak bisa di ajak berkompromi. Sampai sebuah tangan menyentuh bahuku dan kudapati Fella sudah kembali dari toilet.
"Hey," akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku.
"Hey," jawabnya.
"Apa kabar?"
"Baik, lo?"
"Baik juga."
Ada jeda diantara kami sampai Fella mengisyaratkanku untuk menganalkannya pada Caramel. Hanya Fella yang tahu akan perasaanku pada Caramel karena aku selalu bercerita padanya. Semua tentang Caramel, belum mengenal Caramel saja Fella seperti sudah mengenal lama Caramel.
"Ah iya, kenalin ini Fella."
Fella mengulurkan tangannya dan tersenyum hangat, "Fella."
"Caramel." balas Caramel.
Jam di pergelangan tanganku menunjukkan waktu 9 pagi dan itu artinya Fella harus masuk ke ruang dokter.
"Kita pergi dulu ya." kataku, diikuti dengan senyuman Fella.
Caramel hanya mengangguk dan tetap berdiri di tempatnya.
"Aku bisa sendiri kak, kakak mendingan sama kak Caramel aja gih."
"Udah diem aja anak kecil."
*