Ardian Herlambang duda tampan yang tak memiliki keinginan untuk menikah lagi setelah sang istri meninggal harus berurusan dengan gadis yang selama ini selalu dihindarinya.
Kinanti Maheswari, dokter cantik yang selama ini selalu menatap satu pria di dalam hidupnya. Rasa cintanya yang besar membuatnya tak bisa berpaling dari Ardi, walaupun berkali-kali lelaki itu mematahkan hatinya.
Hingga akhirnya sebuah kesalahpahaman membuat Ardi terang-terangan membenci Kinanti dan mengucapkan kata-kata yang sangat menyakiti hati gadis itu. Hingga akhirnya Kinan memutuskan untuk benar-benar pergi.
"Jangan pernah menghubungiku hanya karena merasa bersalah, semua yang kamu ucapkan benar. Aku bukan siapa-siapa, hanya parasit yang menumpang hidup di tengah-tengah keluarga kalian." ucap Kinan pada Ardi sebelum berlalu menuju calon suami yang sudah menunggunya.
Akankah Ardi menyadari perasaannya setelah kehilangan Kinanti? Bagaimana kehidupan Kinanti bersama lelaki yang tak pernah bisa dicintainya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naira_W, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spek Bidadari
"Pagi, Bu dokter. Hari ini cerah banget ya. Kayaknya makan malamnya sukses ya?" tanya suster Nadia penasaran.
"Ya, bisa dibilang sukses bisa juga nggak." kata Kinan sambil meletakkan tas ke atas mejanya.
Dia pun mengambil jas kebanggaannya dan memakainya. Kemudian mengambil stetoskop dari dalam tasnya.
"Apa jadwal saya hari ini, Nad?" tanya Kinan.
"Seperti biasa, dok. Kita visit dulu ke pasien rawat inap setelah biru itu praktek di poli seperti biasa." kata Nadia mengecek kertas yang berisikan daftar pasien yang sudah mendaftar pagi ini.
"Kalau begitu, ayo kita mulai berkeliling. Kamu udah sarapan?" tanya Kinan
"Sudah, dok." jawab Nadia.
"Bagus, kalau begitu saya gak akan khawatir kalau kamu bakalan pingsan karena perut kamu kosong." kata Kinan.
Nadia pun terkekeh saat mendengar ucapan Kinan yang mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Dimana Nadia pingsan saat menemani Kinan visit karena belum makan.
Kinan memang selalu ramah dan baik pada orang lain. Dia tak pernah memandang sebelah mata pada orang-orang yang berada di bawahnya.
Karena itulah, Kinan begitu disukai oleh rekan kerja juga atasannya, bahkan pasiennya.
Hanya saja Ardi tak pernah menyukai Kinan. Lelaki itu selalu menghindari Kinan seolah-olah dia adalah wabah penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kematian.
Namun, sejak tadi malam ada yang berbeda dari Ardi. Laki-laki itu bahkan menjemputnya tadi pagi dan mengajaknya sarapan nasi uduk di dekat rumah sakit tempatnya bekerja.
'Fokus Kinan, ayo fokus sekarang.' kata Kinan pada dirinya sendiri.
Tangannya menepuk-nepuk kedua pipinya yang terlihat memerah karena mengingat kejadian tadi pagi saat Ardi membantu melepaskan helmnya.
"Wah, kayaknya dokter udah terjangkit wabah virus ini." kata Nadia sambil tersenyum.
"Hah? Virus apa?" tanya Kinan bingung
"Virus cinta. Kayaknya gak lama lagi dokter Kinan sama dokter Leni bakalan jadi ipar." kata Nadia yang salah paham.
"Hah? Bian maksudnya. Bukan, aku sama Bian cuma temenan saja. Dia lebih asyik dijadikan teman daripada pacar." kata Kinan sambil melihat catatan di tangannya.
"Biasanya gitu dok, dari temen bisa jadi demen." kata Nadia lalu tertawa melihat ekspresi wajah Kinan yang cengo.
'Kapan lagi bisa ngeledek dokter cantik.' batin Nadia.
Kabar kedekatan Kinan dengan seorang pria yang merupakan sepupu suami dokter Leni memang sudah tersebar luas di rumah sakit ini.
Kinan sudah tau siapa yang menyebarkan kabar itu, tentu saja si dokter kandungan itu. Leni mengatakan jika tak begitu, Kinan hanya akan memikirkan Ardi, Ardi dan Ardi.
Dia sendiri tak begitu ingin mengklarifikasi tentang kedekatannya dengan Bian. Toh, dia tak punya banyak tenaga dan waktu untuk menanggapi gosip itu.
Apalagi Bian sudah sering datang menjemputnya di rumah sakit. Jika mau membantah pun dia tak bisa merubah pemikiran orang lain.
Seperti biasa, Kinan berkeliling untuk visit dan dilanjutkan praktek di poli anak. Kinan memang menyukai anak kecil maka dari itu dia memilih menjadi dokter anak saat sang ayah menawarkannya untuk melanjutkan spesialis.
Kinan adalah gadis yang sangat cerdas, saat SMA dia bahkan mendapat program akselerasi. Hingga bisa lulus lebih cepat dibandingkan teman seangkatannya. Tujuan awalnya dia ingin segera selesai sekolah dan Ardi bisa melihatnya sebagai wanita dewasa bukan anak kecil.
Saat kuliah di Jepang pun dia menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan nilai yang terbaik. Kinan selalu mengalihkan pikirannya dari Ardi dengan belajar dan bekerja.
Dan hal itu berdampak positif baginya, pihak kampusnya ingin menjadikan Kinan dosen di kampusnya. Bahkan beberapa rumah sakit di Jepang sudah menawarkan pekerjaan dan gaji yang besar untuk Kinan.
Namun, semua Kinan buang saat mendengar Ardi sudah berstatus duda karena ditinggal mati oleh Andini.
Kinan memohon pada papanya untuk menyelesaikan pembatalan kontrak kerja. Untuk pertama kalinya Kinan merengek pada orang tuanya setelah mengetahui jika dia bukan anak mama Putri.
"Dokter, pasien terakhir." suara Nadia menyadarkan Kinan dari lamunannya.
"Oh iya, Nad." kata Kinan.
Pintu ruangannya terbuka, mata Kinan seorang anak kecil yang berada dalam gendongan seorang wanita yang diperkirakan berusia sekitar awal empat puluh tahunan.
"Anaknya dibaringkan di sini ya, Bu." kata Nadia dengan ramah.
Kinan bangkit dari kursinya dan menuju tempat tidur periksa itu.
Anak laki-laki itu terlihat sangat kurus dan lemah namun perut anak tersebut terlihat besar karena membengkak.
"Farhan, usianya tujuh tahun lima bulan." kata Nadia pada Kinan lalu menyerahkan clipboard yang berisi catatan pasien.
Kinan mengambil lalu membacanya, mata hitam Kinan membaca dengan teliti dan fokus.
"Gejalanya sudah lama Bu, kenapa baru dibawa ke rumah sakit sekarang?" tanya Kinan dengan rasa sedikit kesal pada sang ibu yang melalaikan kesehatan sang anak.
"Saya nggak punya biaya, dok. BP*S anak saya tak bisa dipakai karena belum dibayar." katanya.
"Anak ibu didiagnosis mengalami usus buntu. Dan harus segera dioperasi, kalau tidak ini bisa membahayakan nyawa anak ibu." kata Kinan dengan serius.
Wajah ibu itu mendadak pias, kedua netranya terlihat sedang menahan air matanya. Tangan kurusnya mengelus rambut sang anak yang terlihat sedang menahan sakit.
"Nggak ada cara lain, dok? Saya... untuk operasi, saya tak mungkin sanggup." katanya lirih.
Kinan menatap prihatin, dia hendak membalikkan badannya untuk menghapus air matanya yang sempat menggenang. Namun matanya menatap ke arah pintu ruangannya yang sedikit terbuka.
Kinan menghampiri pintu tersebut dan melihat melihat ada orang lain yang berdiri di sana, seorang anak perempuan yang berusia sekitar belasan tahun.
"Maaf." kata gadis kecil itu.
"Itu adikmu?" tanya Kinan.
Gadis kecil itu mengangguk lalu menunduk menatap sandal jepit yang sudah usang.
"Masuklah, jangan mengintip. Itu perbuatan yang tak baik." kata Kinan.
"Boleh?" tanya gadis kecil itu sambil menatap sandalnya lagi.
Kinan tersenyum lalu mengangguk. Gadis itu pun segera menghampiri ibu dan adiknya.
"Kalau boleh tau, apa kendala ibu sehingga baru sekarang membawa ananda Farhan berobat?" tanya Kinan saat dia selesai memeriksa keadaan Farhan dan kini hendak menuliskan rujukan rawat inap.
"Saya tidak punya biaya, dok." katanya.
Kinan hanya mengangkat kepalanya lalu menatap wanita itu seolah-olah minta penjelasan.
"Saya bercerai dengan suami saya tiga tahun yang lalu. Mantan suami saya tak pernah membiayai anak-anak saya dan kami harus bekerja keras untuk menyambung hidup." kata wanita dengan nama Anisa di formulir pendaftarannya.
"Sekarang ibu bekerja dimana?" tanya Kinan karena di data itu tak ada keterangan pekerjaan.
"Saya kerja serabutan, pagi saya bekerja buruh cuci di beberapa rumah para tetangga. Malamnya saya jualan kopi keliling di taman Anyelir." kata bu Anisa.
Kinan tau taman itu, taman yang sering dijadikan tempat nongkrong pasangan kekasih yang tak memiliki uang untuk pacaran di mal ataupun bioskop.
Bahkan tak jarang taman itu sering dirazia karena ada transaksi prostitusi terselubung di sana.
"Lalu si kakak dan adek?"tanya Kinan.
"Kadang ikut saya jualan kadang juga di rumah saja kalau Farhan sedang kambuh sakitnya." kata Bu Anisa.
Kinan menghela nafasnya, lalu menatap si kakak yang terlihat menenangkan sang adik yang tengah kesakitan di atas ranjang.
Kinan menuliskan sesuatu di sebuah kertas dengan nama beserta gelar dan jabatannya di bagian atas kertas itu.
"Ini surat rujukan buat Farhan, hari ini juga Farhan harus rawat inap." kata Kinan sambil menyodorkan sebuah kertas pada Bu Anisa.
Tangan wanita itu terlihat bergetar saat mengambil kertas dari tangan Kinan.
"Suster Nadia akan mengurus semuanya, ibu jangan khawatir. Saya juga akan mengusahakan agar Farhan bisa segera dioperasi." kata Kinan.
Bu Anisa mendongakkan kepalanya, menatap wajah cantik Kinan yang sedang tersenyum.
"Jangan khawatirkan hal lainnya, yang terpenting sekarang anak ibu bisa segera sembuh." kata Kinan.
"Terima kasih, dokter." kata Bu Anisa sambil mengusap pipinya yang terlihat basah.
"Sama-sama, ibu. Setelah Farhan dioperasi tolong perhatikan gizi dan kesehatannya." kata Kinan lalu memberikan kode pada Nadia yang sedari tadi menatap kagum pada dokter muda itu.
Nadia yang paham pun, segera mengerjakan tugas khususnya itu.
"Beruntung banget yang jadi suami dokter Kinan. Udah cantik, pintar baik hati. Bener-bener spek bidadari." suster Nadia berbicara sendiri saat dia berjalan menuju bagian administrasi.
😀😀😚😍😙😗
alfian bawa kabur aja Era..
biar Rukmini keoanasan..
❤❤❤😘😍😙😙
❤❤❤😘😍😙😙😙
kasihan pak prabu...
❤❤❤😘😍😙😙
❤❤❤❤❤
gmna kabar Rukmini yaa..
apakah masih kenceng mukanya..
decara si tuan golek kan dibuang gak dikasih makan lagi..
❤❤❤❤😀😀😘😍😍😙
❤❤❤❤😀😀😀😘😙😙
❤❤❤❤❤
❤❤❤❤
nana syok tuhhh..
😀😀❤❤❤❤
laki2 tau dori dan baik hati..
❤❤❤❤❤