Pernikahan di atas penderitaan terjadi karena perjodohan yang sangat tidak kamu inginkan, namun karena kedua orang tua hanya bisa menerima takdir.
Perjodohan tidak selalu dalam masalah, terkadang salah satu di antara kedua pasangan memiliki perasaan dan simpati yang tidak bisa ia katakan, yang mana bisa membuat dirinya merasa dibakar api cemburu saat melihat pasangannya bertemu dengan teman yang tidak sejenis.
Rasa cemburu membuat seseorang melakukan hal yang tidak di inginkan pasangannya, walaupun dirinya sendiri tidak menginginkannya, namun karena api cemburu yang membakar akal sehatnya membuatnya melakukan hal yang harusnya ia tidak lakukan.
Wanita mana yang tidak sakit hati apabila anak di kandungannya tidak di akui oleh ayahnya sendiri.
"Dia bukan anakku, dia anak lelaki simpanan mu itu,!" teriaknya marah didepan ibu mertuanya.
Kecelakaan terjadi begitu saja karena kelalaian diri sendiri, koma selama beberapa tahun. hingga pada saat sadar semuanya seakan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thalib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual
Keisya pulang ke rumah dengan beberapa belanjanya, perutnya seketika terasa campur aduk, rasa mual tiba-tiba terasa, Keisya meletakkan belanjaannya di sofa dan berlari ke arah westafel, Bu Adriana yang melihatnya menatap bingung ke arah Keisya namun ia mengikutinya dengan penuh keheranan.
HUEKKK
HUEKK
Keisya sangat mual dan kepalanya sudah terasa pusing, Bu Adriana segera menopang tubuh Keisya saat melihat Keisya hampir jatuh.
“Kamu kenapa Nak,?” tanya Bu Adriana panik.
“Bibi, BIBIIIII....!” teriak Bu Adriana memanggil pembantunya.
“Tolong bantu saya bawa mantu saya ke Kekamarnya,” ucap Bu Adriana dengan wajah sangat panik.
Keisya berbaring dengan wajah pucat, Bu Adriana semakin panik di buat oleh kondisi Keisya saat ini. Keisya sebelumnya pingsan beberapa saat, namun sekarang Keisya sudah sadar. Bu Adriana menelfon dokter keluarganya. Dan secara kebetulan Ibunya Keisya menelfon, Bu Adriana segera memberitahukan semua apa yang terjadi pada Keisya, membuat Ibunya segera datang dengan wajah paniknya.
“Nak, kamu kenapa,?” tanya Ibunya panik.
“Cuma pusing,” saut Keisya dengan suara lemas.
“Bu, Dokter sudah datang,” ucap pelayan dengan dokter dibelakangnya.
“Dok, tolong periksa kondisi anak saya,” ucap Bu Adriana.
Seseorang membuka pintu dan bingung menatap kamarnya yang sangat ramai, Dokter tersebut nampak menarik tangannya saat melihat kedatangan Satya.
“Lanjutkan saja Dok,” ucap Bu Adriana.
“Istrimu sakit Nak,” ucap Bu Adriana menjelaskan.
Satya yang tadinya pulang dengan wajah penuh amarah, kini pudar seketika menjadi kekhawatiran, Satya melangkah dan melihat Istrinya yang pucat.
Setelah beberapa saat Dokter memeriksa, nampak Dokter tersebut mengerutkan keningnya menatap Satya.
“Kenapa menatapku,?” Tanya Satya.
“Selamat Pak, istri anda sedang hamil, kandungan istri anda sudah 2 bulan,” ucap Dokter tersebut membuat semua orang terkejut, Satya nampak diam mematung.
“Saya permisi dulu,” ucap Dokter tersebut mendukkan kepalanya sebelum pergi.
Keheningan terjadi, semua mata menatap Satya, Keisya yang mendengarnya pun jadi membeku tak bisa berkata-kata.
“Kamu hamil Nak,?” ucap Bu Adriana menatap Keisya dan memeluknya dengan berlinang air mata, begitupun dengan Ibunya.
“Itu bukan anakku, itu anak lelaki itu,” gumam Satya tak percaya.
“Satya, peluklah istrimu,” ucap Bu Adriana yang beberapa kali mencium pipi Keisya.
“Bukan anakku, itu anak lelaki itu,” ucap Satya membuat semua orang terkejut, Keisya yang mendengarnya pun tak kalah terkejutnya. Dia menatap Satya dengan air mata yang mengalir deras.
“SATYAAAA....PLAKKKK....” Teriak Ibunya dan menampar Satya.
“Dia selama ini berhubungan dengan lelaki lain, apa aku bisa mempercayai jika itu anakku? Dia setiap hari membohongiku, dia jalan dengan lelaki lain dan mengatakan jika dia hanya di rumah. Aku tidak percaya itu anakku, itu bukan anakku,” ucap Satya berlari keluar.
Bu Adriana duduk dengan air mata yang mengalir deras, Ibu Keisya memeluk anaknya dengan erat, jujur saja sebagai seorang Ibu dirinya juga sakit mendengar perkataan Satya, bahkan sangat sakit mendengar ucapan Satya pada anak kandungnya.
“Bu, hiks.....” Ucap Keisya dengan air mata yang semakin mengalir deras.
“Ibu percaya Nak,” ucap Ibunya menenangkan Keisya.
“Keisya, jangan dengarkan dia Nak, dia hanya kaget mendengarnya,” ucap Bu Adriana memeluk Keisya.
“Bu, aku ingin pulang,” ucap Keisya berusaha menahan air matanya, menahan rasa sakit di dadanya yang teramat pedih.
“Maafkan anak Ibu Nak hiks..” ucap Bu Adriana.
“Jangan menangis Bu, terimakasih telah perhatian selama ini sama Keisya,” ucap Keisya memeluk erat Bu Adriana.