NOVEL SEDANG DIREVISI
Karena keterpaksaan mertua, Siska harus menjalani tekanan batin yang luar biasa,
namanya Fransiska Damayanti usia 33 tahun sementara suaminya bernama Arya Praptama berusia 35 tahun.
Selama 10 tahun Siska menjalani rumah tangganya bersama suaminya, namun belum dikaruniai anak, hingga akhirnya Siska memutuskan untuk menikahkan suaminya bersama gadis belia berusia 17 tahun yang bernama Dinda Kinara. Dinda adalah gadis yatim piatu yang tinggal disebuah desa terpencil, keterbatasan ekonomi mengharuskan Dinda menjadi tulang punggung keluarga, hingga akhirnya ia mendapatkan tawaran dari Siska untuk menjadi istri kontrak selama satu tahun sampai ia memiliki anak.
Yang penasaran bisa ikuti cerita ini langsung dibawah ini yah, sebelum membaca saya berharap kepada teman readers agar bersabar dan berlapang dada dalam membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Putri Tarimakase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selesai Kontrak #TAMAT
Tiga bulan kemudian pasca Dinda melahirkan, Dinda melihat kalender yang ia coret dari awal pertama kontrak sampai akhirnya hari ini adalah hari terakhir masa kontraknya, dengan hati yang sedih Dinda harus menerima kenyataan bahwa hari ini ia harus pergi dari kehidupan anaknya bersama Arya.
"Maafkan aku Tuan, aku harus pergi dari sini, sudah waktunya aku pulang, lagian aku juga kangen sama mbah dan Dandi, karena sudah satu tahun aku tidak pernah melihatnya hiks hiks" gumam Dinda sambil mengusap air matanya.
Perlahan Dinda mengambil koper yang terletak diatas lemari, lalu ia meletakkan semua pakaiannya didalam koper sambil menangis, mengingat Ardika anak kesayangannya, semakin membuat Dinda terpukul, Dinda menatap figura fotonya bersama Ardika,
"Maafkan ibu Ardika, ibu harus pergi, semoga kamu jadi anak yang sholeh dan berbakti kepada papa Arya dan mama Siska."
Dinda meletakkan semua barang-barang kenangan bersama Ardika. Selesai Dinda mengemasi barangnya, ia mulai memesan taksi online diaplikasi yang berada didalam ponselnya, untunglah selama satu tahun bersama Arya dan Siska, ia selalu diajarkan menjadi wanita modern hingga ia bisa mengetahui sedikit tentang dunia internet.
Setelah Dinda memesan taksi online, Dinda mulai membawa kopernya, namun sebelum ia meninggalkan kamarnya, Dinda masih sempat memandang seluruh ruang kamarnya itu yang begitu banyak kenangan bersama Arya suaminya. Dengan pelan Dinda mulai menutup pintu kamarnya lalu berjalan menuju lantai bawah. Saat Dinda menuruni tangga, Arya yang duduk bersama Siska sedang bermain-main dengan Ardika tiba-tiba terkejut melihat Dinda menuruni tangga sambil membawa koper. Seketika Arya dan Siska saling menatap lalu terlonjak dari duduk mereka.
Sampai dilantai bawah, Dinda menghampiri Siska dan Arya untuk berpamitan.
"Tuan, Nyonya aku pamit pulang dulu yah"
"Kenapa kamu mau pulang Dinda?" tanya Siska terkejut
"Maafkan aku nyonya, sesuai perjanjian hari ini adalah terakhir kontrakku nyonya, jadi aku ingin kembali ke kampung"
"Dinda seharusnya kamu tidak usah memikirkan kontrak itu, aku kan sudah membatalkannya"
"Tidak bisa nyonya, sesuai prinsipku, yang namanya janji tetap harus ditepati, dan aku sudah menepati janjiku untuk memberikan Tuan dan nyonya anak, dan aku sudah satu tahun menjalani kontrak itu, didalam perjanjian itu kan aku dibolehkan pulang kalau kontrak selesai, jadi aku tetap akan pulang nyonya,"
Arya hanya terdiam menatap Dinda, mulutnya terbungkam tidak bisa berkata-kata lagi, rasa ngilu didadanya bagai teriris pisau tajam saat tahu Dinda akan pulang.
"Dinda bagaimana dengan Ardika?" tanya Siska.
"Kan Ardika sudah punya Tuan dan Nyonya sebagai orang tuanya, aku titip Ardika yah nyonya, jadikan Ardika anak yang sholeh yah, oh ya nyonya bisakah aku memeluk Ardika untuk terakhir kalinya?"
"Iya bisa Dinda, ambillah" Siska menyerahkan Ardika kepada Dinda.
Dinda menatap wajah Ardika untuk terakhir kalinya, Dinda langsung memeluk dan mencium Ardika dengan lembut.
"Ardika sayang, kamu dengar-dengaran yah sama mama papamu, jangan jadi anak yang nakal tapi jadilah anak yang sholeh, semoga suatu saat ibu punya waktu bisa datang kesini melihatmu yah nak" kata Dinda berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah,
Selesai berpamitan dengan Ardika dan Siska, Dinda menyerahkan kembali Ardika kepada Siska. Kemudian Dinda menatap wajah Arya yang berada disamping Siska.
"Tuan, maafkan aku jika selama ini aku banyak salah sama Tuan, maafkan aku jika selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Tuan, terima kasih atas kasih sayang yang Tuan berikan kepadaku selama ini, aku senang bisa bersama Tuan walaupun itu cuma satu tahun" perlahan Dinda meraih tangan Arya, lalu menciumnya dengan lama.
Saat Dinda mencium tangan Arya, ia masih ingat waktu pertama kali mencium tangan Arya. Seketika membuat tangis Dinda pecah.
Setelah Dinda melepas tangan Arya, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil didepan rumah.
"Tuan, Nyonya mobilnya sudah ada, aku pamit dulu yah"
"Iya Dinda, hati-hati dijalan" Siska memeluk erat Dinda.
Perlahan Siska dan Dinda berjalan sampai diluar, sementara Arya masih terdiam, tak percaya Dinda akan meninggalkannya, dan saat mendengar suara klakson mobil pertanda mulai jalan, tiba-tiba Arya tersadar ia langsung berlari keluar rumah dan melihat mobil Dinda sudah berjalan.
"Dindaaaaaaa" teriak Arya langsung mengejar mobil yang dipakai Dinda.
"Dindaaaa jangan pergi" Arya terus berlari mengejar mobil itu.
Sementara Dinda langsung menangis histeris didalam mobil tak bisa menahan rasa sedihnya meninggalkan Arya. Namun dalam perjalanan tiba-tiba Dinda terkejut saat mendengar suara ketukan mobil, ia langsung melihat ke arah jendela mobil dan melihat Arya sedang mengejarnya.
"Haa Tuan, eh Pak stop dulu" Seketika Dinda langsung menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya.
Setelah mobil berhenti, Dinda langsung keluar dari mobil lalu menghampiri Arya yang berada ditengah jalan.
"Tuaaan"
"Dindaaa"
Merekapun sama-sama berlari lalu berpelukan sambil menumpahkan air mata mereka,
"Dinda, kenapa kamu tega meninggalkan aku?"
"Maafkan aku Tuan, aku terpaksa melakukannya, karena aku tidak ingin menyakiti hati nyonya, aku ingin Tuan bahagia bersama nyonya, bersama Ardika,"
"Tapi aku tak bisa berpisah denganmu Dinda,"
"Akupun sama Tuan, tapi kita tidak bisa bersama Tuan, aku minta maaf hiks hiks" ucap Dinda sengan bahu yang terguncang karena terisak.
Perlahan Dinda melepaskan pelukannya dari Arya, lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Arya, sambil menggenggam tangan Arya dengan erat.
"Cinta itu tak harus memiliki Tuan, jika memang Tuan adalah jodohku, pasti kita akan bertemu kembali, kalau Tuan rindu bisa datang ke rumahku, pintu rumahku akan selalu terbuka untuk Tuan"
"Dinda, aku mencintaimu, aku pasti akan merindukanmu" Arya memegang pipi Dinda.
"Aku juga mencintai Tuan, aku juga akan merindukan Tuan, Nyonya dan Ardika."
Saat suasana haru menyelimuti cinta mereka, suara klakson mobil tiba-tiba berbunyi.
"Tuan, maaf aku harus pergi," ucap Dinda sambil mengusap air matanya.
"Dinda jangan tinggalkan aku,".
"Tidak bisa Tuan, aku tetap harus pergi, oh ya Tuan, bisakah aku meminta kaos yang Tuan pakai untuk kenanganku" pinta Dinda.
Mendengar permintaan Dinda, Arya langsung melepas kaosnya lalu memberikannya kepada Dinda.
"Terima kasih Tuan" ucap Dinda kemudian melepaskan selendang yang terlilit dilehernya lalu memberikannya kepada Arya.
"Maafkan aku tidak bisa kasih apa-apa kepada Tuan, hanya selendang ini saja yang bisa aku berikan kepada Tuan hiks hiks" ucap Dinda terisak.
Setelah memberikan selendang itu Dinda langsung berjalan pergi meninggalkan Arya dan kembali masuk ke dalam mobil taxi.
Arya melihat selendang Dinda yang berada ditangannya, ia langsung teringat selendang itu yang mengikat tangannya bersama Dinda waktu mati lampu. Seketika tangis Arya pecah dan berteriak memanggil Dinda.
"Dindaaaaaaa"
Saat mobil mulai berjalan Dinda membuka jendela mobilnya Lalu mengeluarkan kepalanya sedikit sambil melambaikan tangan untuk terakhir kepada Arya sebagai perpisahan terakhir.
"Tuan selamat tinggal" teriak Dinda.
Setelah Dinda menghilang dari pandangan Arya, Arya kembali ke rumah dengan keadaan lemas, sampai dirumah Arya langsung berlari masuk langsung naik ke lantai atas,
Sementara Siska hanya bisa melihat Arya yang berlari menaiki tangga, ia tahu Arya saat ini sangat terpukul dengan kepergian Dinda.
***
Sampai dikamar Dinda, Arya memandangi seluruh ruangan kamar itu yang dipenuhi kenangan bersama Dinda, ia membuka lemari milik Dinda yang sudah kosong itu, ia teringat saat malam pertama itu, Arya pergi ke kamar mandi melihat bayangan Dinda saat mereka mandi bersama, Arya langsung mengusap wajahnya. Membayangkan semuanya.
Seketika tubuh Arya terkulai lemas duduk ditepi ranjang milik Dinda sambil meremas selendang milik Dinda.
"Dindaaaaa, " teriak Arya sambil menangis.
Siska yang berada dibalik pintu melihat suaminya didalam kamar, begitu sedih ditinggalkan oleh Dinda membuat Siska merasa sedih dan bersalah.
"Maafkan aku mas, gara-gara kontrak itu akhirnya kamu harus mengalami hal seperti ini,"
Siskapun meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih yang mendalam melihat suaminya tercinta kehilangan Dinda (madunya).
❤ TAMAT ❤