NovelToon NovelToon
Good Partner

Good Partner

Status: tamat
Genre:Romantis / Detektif / Pembunuhan / Kriminal / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / TKP / Tamat
Popularitas:462.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Chocollacious

TERSEDIA VERSI CETAK

Penny Patterson, sang detektif wanita berjuang menyelidiki kebenaran dibalik berbagai misteri dan kekacauan di kota asalnya, yaitu kota Magnolia, merupakan salah satu kota terdamai di dunia. Bersama rekan tim andalannya menyelidiki beberapa kasus dihadapinya penuh teka-teki.

Di tengah penyelidikannya, Penny selalu didukung, dibantu, dan dilindungi oleh Adrian Christopher, sang jaksa tampan dan cerdas sangat diandalkannya sejak pertama kali berhubungan sebagai partner kerja baik.

Dibalik suasana penuh ketegangan, Penny merasa partner kerjanya memperlakukannya bukan seperti sebatas partner kerja atau sahabat istimewa. Melainkan seperti menginginkan hubungannya lebih dari itu.

Apakah Penny, Adrian, dan rekan timnya berhasil memecahkan semua kasus mereka hadapi? Apakah Adrian sungguh memiliki perasaan istimewa terhadap partner kerjanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocollacious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16 - It's Not Over Yet

Setelah membaca surat ancaman itu, aku bergidik ngeri hingga semua barangku terjatuh. Ditambah suasana hujan mengguyur sangat deras disertai petir. Tanganku langsung gemetar dan keringat dingin karena aku teringat dengan kejadian setahun yang lalu saat aku menerima paket misterius berisi bangkai burung. Untung saja aku berdiri di teras rumah sehingga tubuhku tidak basah kuyup.

Dengan sigap aku berlari memasuki rumahku dan menaiki tangga menuju kamarku sambil membawa semua barangku. Aku menutup pintu kamar rapat sehingga ibu tidak akan mencurigai tindakanku barusan. Apalagi aku takut sekali dengan petir. Maka dari itu, aku menduduki ranjang bersandar lemas pada sandaran ranjang sambil menutupi diriku dengan selimut tebal dan menaruh ponselku di meja samping ranjangku.

Hingga sekarang aku masih merinding ketakutan dan terus menggigit bibir bawahku. Apalagi saat ini tidak ada seseorang yang menemaniku tepat di sisiku.

Pikiranku sangat kacau. Tapi ini tidak mungkin, Ray sudah ditangkap dan Darren sudah meninggal. Kenapa masih ada yang menerorku seperti ini?

drrt...drrt...

Sontak ponselku berdering di tengah suasana tegang begini. Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon dari Adrian.

"Penny, apakah kamu mendapat surat ancaman, lalu tidak ada nama pengirimnya?" Suara Adrian terdengar sedikit panik lewat telepon.

Aku membulatkan mata, sungguh di luar dugaan Adrian juga diteror seperti aku. "Kamu juga mendapatkan suratnya? Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah kasusnya sudah berakhir setahun yang lalu?"

"Aku juga tidak tahu. Besok pagi kita harus melaporkan ini. Pokoknya kita harus berwaspada mulai sekarang."

"Iya, kamu juga harus berwaspada. Sepertinya targetnya sekarang kita berdua. Aku tutup teleponnya, ya."

"Tunggu sebentar, Penny!" Suaranya membuat jempolku membeku.

"Ada apa, Adrian?"

"Dari tadi saat aku berbicara denganmu lewat telepon, kamu terdengar sangat ketakutan."

Aku menelan saliva gugup, ia peka juga terhadap suaraku. Tapi, mustahil aku berbicara terang-terangan persoalan rasa takut. "Oh itu aku takut karena surat ancamannya."

Sebenarnya aku sedikit malu di hadapannya karena aku juga takut dengan petir. Aku ingin Adrian berada tepat di sampingku dan menemaniku sepanjang malam, tapi aku tidak ingin merepotkannya lagi.

"Penny, kamu tidak perlu takut. Mari kita selesaikan kasus ini secepatnya supaya kamu tidak ketakutan lagi."

Mendengar suaranya sangat manis, lengkungan bibir akhirnya terbit di sudut bibirku. "Iya, kamu benar."

"Ini sudah malam. Sebaiknya aku tidak mengganggumu tidur. Aku tutup teleponnya dulu, ya. Selamat malam, Penny."

"Selamat malam, Adrian."

Keesokan pagi, aku berangkat lebih awal mendatangi kantor untuk melakukan rapat darurat dengan rekan timku. Setibanya di kantor, kebetulan Nathan dan Tania juga sudah tiba lebih awal. Maka dari itu, aku bergegas memanggil mereka berdua menuju ruang rapat.

Nathan dan Tania berjalan lesu memasuki ruang rapat sambil menatap wajahku tidak enak dilihat membuat tatapan mereka mulai cemas.

"Ada apa, Penny? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Tania bingung mengernyitkan alisnya.

"Kalian pasti masih mengingat kejadian aku diteror setahun yang lalu. Semalam aku menemukan kotak ini di depan rumahku dan ada surat ini." Aku memperlihatkan kotak itu beserta surat ancaman kepada mereka berdua.

Reaksi Nathan dan Tania tersentak. Terutama Tania membaca surat ancaman itu sambil gigit jari. "Bukankah kasus itu sudah selesai dari setahun yang lalu? Kenapa bisa ada kejadian mengerikan lagi?"

"Sepertinya Ray masih menyembunyikan sesuatu dariku. Pasti ada beberapa hal yang sangat penting dan bisa juga itu merupakan kunci utama dari kasus ini," lontarku mulai berpikir keras.

Nathan menggarukkan kepala kesal. "Tapi aku masih tidak mengerti. Kenapa targetnya selalu kamu, Penny? Apa yang diinginkan oleh pelaku yang sebenarnya sampai mengancanmu terus?"

Aku menundukkan kepala sambil memijit dahiku. "Kali ini targetnya bukan hanya aku, tapi Adrian juga sekarang targetnya. Semalam dia mendapatkan benda ini sama sepertiku."

Tatapan Nathan semakin melotot. "Adrian juga mendapatkannya? Ini aneh sekali, padahal sebelumnya targetnya itu kamu. Tapi kenapa sekarang targetnya kalian berdua?"

"Intinya kalian berdua harus berhati-hati mulai sekarang. Aku takut targetnya itu adalah orang-orang terdekatku. Jadi kalau kalian mendapatkan benda aneh seperti ini, kalian harus melaporkan kepadaku!" pintaku tegas kepada mereka.

"Baiklah, Penny." patuh Nathan dan Tania serentak.

Aku menatap arloji pemberian Adrian sambil membawa kotak aneh ini. "Aku akan mengunjungi tim forensik untuk memeriksa sidik jari kotak ini. Kalian jangan mengatakan hal ini kepada kepala detektif. Jika dia tahu maka dia bisa mencegah kita untuk menyelidiki ini."

Setibanya di tempat forensik, aku bertemu dengan Adrian yang sedang berdiskusi dengan salah satu tim forensik untuk mengecek sidik jari kotak itu. Lalu aku menghampiri mereka berdua.

"Apakah sidik jarinya ditemukan?" tanyaku kepada anggota tim forensik tersebut.

"Sidik jarinya tidak ditemukan sama sekali di kotak itu. Ini sama seperti setahun yang lalu, sepertinya pengirim kotak ini menggunakan sarung tangan dan membersihkan kotak ini sampai debu pun tidak terlihat," jawab anggota tim forensik itu.

"Baiklah, terima kasih atas kerja samanya. Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda lagi," ujarku ramah.

Tatapan mataku beralih pada Adrian memasang wajah serius. "Mari kita bicara sebentar di Kafe!"

Setibanya di Kafe, aku memesan minuman kesukaanku yaitu Matcha Latte agar aku terus berfokus dan tidak mengantuk saat sedang bekerja. Adrian juga memesan kopinya sama sepertiku.

"Seperti biasa kamu memesan Matcha Latte juga denganku," ucapku sambil menyesap kopi.

"Karena aku sama sepertimu suka menu kopi ini."

"Memang kopi ini salah satu terbaik bagiku di antara semua."

Kami berdua saling tertawa lepas dan melempar pandangan ceria. Selama bersahabat dengan Adrian, entah kebetulan atau tidak, hampir semua hal yang kusukai sama dengan seleranya juga.

"Omong-omong, kamu ingin membicarakan apa denganku?" tanya Adrian mengalihkan pembicaraannya.

Aku mulai berpikir keras sambil bertopang dagu. "Menurutmu bukankah ini aneh sekali, kenapa targetnya sekarang kita berdua dan juga kenapa pelakunya tahu alamat rumah kita?"

Adrian bertopang dagu sambil menyesap kopi pelan. "Sepertinya ada sesuatu yang melekat dengan kita yang selama ini kita tidak ketahui."

"Apa mungkin sebenarnya kita ada saling kaitan satu sama lain sejak dulu, seperti kita sebenarnya sudah pernah bertemu sejak dulu tapi entah kapan?"

"Tapi bukankah kita pertama kali bertemu saat di minimarket waktu itu. Lagi pula kalau kita sudah pernah bertemu pasti aku sudah menyimpan nomor kontakmu."

Sontak ada ide cemerlang terlintas pada pikiranku. Kenapa dari tadi aku tidak kepikiran hal ini. "Sepertinya Ray mengetahui masalah ini. Aku harus pergi mengunjungi Ray sebentar. Aku jadi teringat saat interogasi setahun lalu. Saat aku menanyakan mengenai kotak itu dia seperti tidak tahu apa-apa. Aku yakin sekali Ray menyembunyikan sesuatu penting dariku."

"Baiklah kalau ada sesuatu yang penting, jangan lupa kasih tahu aku."

"Kalau begitu aku pergi dulu," pamitku sambil menepuk pundaknya.

Di penjara, aku melihat wajah Ray terlihat sangat berantakan, rambutnya yang sudah lama tidak cukur dan memakai seragam tahanan seperti orang yang tidak memiliki harapan hidup.

"Kunjungan hanya boleh 10 menit," kata salah satu sipir.

"Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanyaku berbasa basi dengannya tersenyum ramah.

Ray memukuli meja sambil menunjuk wajahnya sendiri kusam. "Menurutmu setelah melihat penampilanku yang berantakan apakah aku baik-baik saja?"

"Aku masih tidak terbiasa melihat kamu memakai seragam itu," sahutku dengan nada sarkas.

"Bagaimana kabar ibuku? Apakah ibuku masih baik-baik saja? Lalu keadaan Ryder sekarang bagaimana?" tanya Ray yang masih memiliki hati nurani ingin mengetahui kabar keluarganya.

Untuk berbasa-basi sekaligus tidak memancing amarahnya, aku menceritakannya sekilas. "Walaupun kamu di penjara, tapi kamu masih memiliki hati nuraninya. Tenang saja, selama setahun ini aku selalu mengecek keadaan ibumu. Kondisinya sampai sekarang masih baik-baik saja. Lalu Ryder sekarang hidupnya mandiri, aku juga sesekali mengunjunginya ke kampus."

"Syukurlah, aku mengira mereka berdua tidak akan baik-baik saja tanpa kehadiranku. Omong-omong, kamu tumben mengunjungi setelah satu tahun. Ada apa memangnya?" tanya Ray menatapku curiga.

"Kamu masih ingat saat aku menginterogasimu setahun yang lalu mengenai kotak misterius itu?" tanyaku mulai fokus pada penyelidikan.

"Iya aku masih mengingatnya dengan baik sampai sekarang, memangnya ada apa lagi? Kenapa kamu mengungkit hal itu lagi?"

"Semalam saat aku pulang ke rumah, aku menemukan sebuah kotak misterius lagi dan isinya seperti berupa ancaman," ucapku dengan fokus.

Reaksi Ray seolah-olah tidak tahu apa pun menyandarkan punggungnya bermalasan pada sandaran kursi. "Lalu apa hubungannya denganku?"

"Apa kamu yang mengirim seseorang untuk menerorku lagi?" tanyaku semakin mencurigainya.

Ray langsung memelototiku. "Mana mungkin sih aku berbuat hal gituan lagi selama di penjara. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Setahun yang lalu itu bukan aku yang menerormu. Tapi orang lain pelakunya. Lalu kejadian semalam itu bukan aku juga pelakunya."

"Kalau bukan kamu pelakunya, lalu siapa lagi?"

"Kalau kamu ingin mendengar jawabannya dariku, kunjungi aku sesering mungkin bila ada waktu luang."

Aku memukul meja cukup kasar melampiaskan kekesalanku. "Aku tidak punya waktu main-main dengan kamu. Cepat katakan padaku! Siapa pelaku yang menerorku selama ini!"

"Maka dari itu, ceritanya sangat panjang. Jika ingin mendengar ceritanya, kau harus mengunjungiku terus. Itu adalah salah satu syaratnya."

Emosiku mulai meledak lagi gara-gara Ray mengatakan hal itu seperti sedang mempermainkanku. Rasanya aku ingin memukulinya dengan kejam sampai puas.

Daripada membuang waktu tidak berguna di sini, aku beranjak dari kursi. "Baiklah, aku pergi dari sini saja. Aku sudah muak denganmu karena kamu menjadikanku sebagai bonekamu. Pokoknya aku tidak mau dipermainkan lagi."

"Kamu pasti sampai sekarang tidak tahu bahwa ayahmu masih hidup sebenarnya. Sepertinya waktu kunjungan sudah selesai, bila kamu ada waktu luang, kamu harus mengunjungiku lagi untuk mendengar pecahan teka-teki itu," ucap Ray beranjak dari kursi kembali menuju ruang tahanan.

1
martina melati
kesempatan mumpung ada y
martina melati
hehehe... sekali mendayung 2 ato 3 pulau sanggup y /Facepalm/
martina melati
shrsny jangan terbuka beri info, walo pd jaksa sekalipun... cukup katakan, iy sedang bertugas.
martina melati
jangan2 bastian yg menusuk... hehehe, malah curiga y/CoolGuy/
martina melati
katany langsung kabur, melihat jauh koq bisa tahu 2x penusukan... gk cocok nih infony dg kondisi mayat yg dtemukn... luka gores memanjang dsekitar perut
martina melati
cari suami sikorban... berhutang pd sp?? kmungkinan suruhan x
martina melati
gt donk... hrs sergap, agar kasusny lekas terungkap beneran pembunuhan, bunuh diri ato kecelakaan
martina melati
knp bsk sih? bukanny hr ini aja, gercap donkkk
💗vanilla💗🎶
mampir ni thor 😁
Ka
kok saya curiga sama si ray
IG : Chocollacious: monggo kak, bawa sapu sekalian ngikutin ray diam diam dr belakang 🤣
total 1 replies
Daisy Hamra
Aku curiga sama si Ray.
IG : Chocollacious: monggo curiga kak, kalo perlu buntutin diam diam🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Sorry g respect sm km Darren, hbs sih kelakuanmu sblmnya itu sungguh menguras emosi
IG : Chocollacious: sama aku bodo amat🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Sumpah kl aku ada di sn, dah ku bunuh dr awal dtg. Greget bgt
IG : Chocollacious: sabar sabar kak😅
total 1 replies
KS_Hyde
plisss gpp tembak aja sumpah, ikhlas bgt aku. Kl aku jd penegak hukum, aku memihakmu, Adrian biar km g dpt sanski
IG : Chocollacious: mungkin aku bisa wakilin hrsnya🤭
total 1 replies
KS_Hyde
Ya Tuhan knp kisah nya begini semua, g ada happy² nya:)
IG : Chocollacious: karena authornya memang demen nyiksa pemeran utamanya🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Jinja??? Woahh tmpt begini idaman buat kepolisian
IG : Chocollacious: authornya pun jg mau kerja di sana🤣
total 1 replies
ZasNov
Keren banget nih Kak Choco, dua novelnya udah terbit cetak..😍👍
Semoga semakin sukses ya Kakak..🥰
IG : Chocollacious: amiin makasih kak🥰
total 1 replies
Neng Yuni (Ig @nona_ale04)
Aaaa, selamat yaaa, Kak Choco. gegara baca ini jadi semangat lanjutin remake anak emas aku juga 😍 Peny Adrian jaya jaya jaya 🔥🔥😍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): tau, tuh. padahal udah yakin banget 🤣 eh, tapi endingnya bener juga, kan
total 2 replies
Tia Supriyanto
Polisi atau apa sih mereka, rame2 bawa pistol lagi kok keok, sebenarnya yg goblok yg nulis apa yg baca ya
IG : Chocollacious: kak, terima kasih masukannya. tapi alangkah baiknya jika memberikan kritik dengan bahasa yang lebih halus. memang ini cerita pertamaku sejak di dunia literasi jadinya bakal banyak kesalahan. lalu, sampai sekarang aku masih belum sempat menyempatkan waktu untuk revisi. sebenarnya aku tau banyak amat kesalahannya sampai jariku rasanya gatal ingin revisi, tapi urusan di RL yang menghalangiku melakukannya.

mengenai polisi membawa pistol kok bisa keok? dari sepengalaman aku riset dr berbagai film yg pernah aku tonton, polisi sebenarnya tidak boleh sembarangan memakai senjata api kecuali hanya untuk menakuti musuhnya. mungkin penggambaran adegannya masih kurang tepat, jadinya aku memang pengen revisi sebenarnya
total 1 replies
Tia Supriyanto
Cerita pembodohan, katanya taekwondo ban item kok ada perlawanan sama sekali
IG : Chocollacious: ga pembodohan. emgnya haruskah detektif itu selalu sempurna di mata manusia? coba kakak baca novel atau nonton film, pasti ada sisi kelemahannya. mengenai sabuk hitam, itu karakter Penny memang sengaja dia agak mulut besar, meski dia cewek, mana mungkin bisa melawan pelaku pelecehan hanya seorang diri. semua cewek ketika berhadapan dengan pelaku pelecehan pasti akan trauma dan ketakutan dong.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!