Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maira Pulang, Kegundahan Datang
...☕🍜Betapa banyak orang yang ingin dihargai. Tapi, dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghargai. Betapa banyak orang yang ingin didengarkan. Tapi, dia sendiri tidak pernah mau mendengarkan. Ciri ini adalah milik orang egois 🍜☕...
Matahari mulai menunduk. Kota Metropolitan bermandikan cahaya senja. Jalanan calon mantan Ibukota mulai padat. Berbagai kendaraan berlalu-lalang. Suara klakson bersahutan, memekik tak sabaran. Termasuk seorang gadis berseragam coklat yang dilapisi jaket berwarna hitam. Ia mengendarai sepeda motornya dengan perasaan gusar.
Berkali-kali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul 16.25 WIB. Ia tahu sahabatnya pasti sudah di terminal.
Salwa sudah berniat langsung menyusul ke sana. Masih ada waktu 35 menit sebelum jam keberangkatan tiba. Dia ingin menemani Maira sebelum pulang kampung.
Jalanan Kalimalang semakin padat merayap. Salwa berusaha menembus jalanan bersama para pengemudi roda dua yang lain.
Dia tidak memedulikan lagi waktu yang terus berdetak di pergelangan tangannya. Salwa berusaha fokus melaju menuju terminal.
Terminal sudah tampak di depan mata. Sayangnya tidak bisa menerobos. Sebab, letaknya ada di seberang. Sayang sekali lampu merah menyala tepat di perempatan sebelum putar balik.
Bus besar sudah ada di sana. Berwarna biru muda. Salwa memperhatikan para penumpang mulai menaiki bus itu. Ia melihat-lihat apakah Maira masih ada di luar atau sudah masuk bersama gerombolan penumpang yang lain.
Ingin sekali Salwa menembus lampu merah terkutuk itu. Tapi, mengingat dirinya adalah seorang polisi, maka bukan teladan yang baik apabila dia melakukannya. Dengan berat hati, Salwa menunggu.
Di terminal, Maira masih di luar. Bus berwarna biru muda itu benar bus yang akan di tumpangi oleh Maira. Ia masih menunggu kedatangan Salwa. Maira cemas, sebab pemilik agent sudah ngomel menyuruh Maira naik.
"Sebentar ya, Bu. Teman saya bentar lagi sampai, kok." Maira memohon pada Ibu pemilik agent. Wanita berusia kepala 3 itu berdecak. Ia paling kesal jika ada penumpang yang seperti ini.
Detik lampu merah berjalan mundur menuju detik ke-nol … sudah berubah kuning … tak lama kemudian sudah berganti hijau.
Kendaraan saling berserobot tak sabaran. Maira berdiri di tepi jalan. Setelah putar balik, Salwa langsung melihat Maira sedang berdiri menunggunya. "Mai!" pekiknya, senang.
"Sal!" Maira juga senang. Melambai menyambut Salwa.
"Busku sudah datang, dan Ibu pemilik agent mengomel padaku. Ha-ha-ha."
"Yah … nggak bisa lama, dong." Salwa mengeluh.
"Nggak usah sedih. Aku usahain cepat balik, kok." Maira mencoba menghibur Salwa.
"Woy, Mbak! Mau naik apa ditinggal?!" seru Ibu pemilik agent. Matanya mendelik.
Puk!
Maira menepuk bahu Salwa.
"Sudah, yaa. Lihatlah mata Ibu itu hampir keluar dari tempatnya." Maira setengah berbisik. Salwa menyeringai. Kesedihan sudah mulai bergelayut di wajahnya.
Maira setengah berlari. Barang bawaannya sudah masuk bagasi. Gadis itu segera naik ke bus. Para penumpang menatapnya sebal. Tapi, Maira tak peduli.
Semua penumpang sudah siap. Bus besar antar provinsi berwarna biru muda itu siap melaju.
Salwa menatap kepergian bus itu. Ia terdiam di atas sepeda motornya. Menelan ludah, berharap kesedihan ikut tertelan juga.
Matanya basah. Dia menangis di balik kaca helm yang ia kenakan. Tidak ada yang tahu jika ia sedang menangis.
***
Salwa langsung pulang, menuju kontrakan yang sudah dipastikan nanti malam akan sepi. Satu sahabatnya pulang. Ia sendiri menyaksikan kepulangannya.
Ia tampak lemas. Tiba di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang.
Ceklek!
Salwa terkejut, pintunya tidak dikunci. Kemudian ia mengembuskan napas kesal. Ia tahu siapa yang ada di dalam.
"Macet banget?!" Wanita paruh baya, bertubuh gempal. Melipat tangan di dada, matanya melotot. Sambutan yang tak pernah Salwa inginkan.
"Keliling Jakarta dulu? Bekasi ke Jakarta Timur dua jam, hah!" Suaranya naik satu oktaf.
Salwa enggan menanggapi. Dia sudah terbiasa dengan sikap Mamanya yang demikian.
"Hey! Perhatikan Mama sedang bicara!"
Salwa malas ribut. Ia duduk di kursi. Siap mendengarkan ceramah Mamanya.
Wanita bertubuh gempal itu menarik napas berat. Ingin sekali memaki putri semata wayangnya. Tapi, ia masih sadar diri. Saat ini posisi sedang di kontrakan, ia khawatir kalau para penghuni kontrakan mendengar dirinya marah-marah.
Irma namanya—Mama Salwa—si juragan kontrakan. Akrab disapa Ibu Irma. Tapi, khusus Rizky dan Maira harus memanggil Mama, wanita itu sendiri yang memintanya.
"Baru saja ditinggal Maira pulang kampung, sudah berani pulang terlambat." Irma tidak tahu jika putrinya hampir setiap hari pulang terlambat. Tapi, semua terjaga dengan aman oleh Maira dan Rizky.
Sebelum Maira pulang kampung, ia sempat berpamitan pada Irma yang kebetulan datang ke kontrakan. Mungkin hendak mengecek putrinya, kalau untuk menarik uang kontrakan tidak mungkin. Sebab, baru pertengahan bulan.
Irma urung mengomel. Tapi, matanya masih melototi Salwa yang kepalanya masih dibungkus helm. Salwa tak berselera memberi alasan. Beribu-ribu alasan pun, ia tahu betul Mamanya tak akan percaya. Hanya satu yang selalu dia lakukan ketika orangtuanya marah. Yaitu, diam.
Sejak kecil Salwa dituntut untuk selalu mengikuti apa kemauan orangtuanya. Dengan siapa dia boleh berteman, sekolah di mana, kuliah jurusan apa, hingga profesinya yang saat ini ia sandang adalah tidak lain keinginan orangtuanya.
Faktanya, menjadi orang kaya tidak selalu menyenangkan. Apalagi bagi Salwa, yang adalah anak satu-satunya. Dia tak punya saudara untuk berbagi. Sebab itu, adanya Maira dan Rizky adalah hal yang sangat ia syukuri. Itulah alasannya mengapa Salwa bersedih ketika Maira pulang kampung.
Salwa masih menunduk. Diam seribu bahasa.
"Malam minggu nanti, datang ke rumah. Ada acara makan bersama. Dan pakailah baju ini." Irma menunjuk paper bag yang ia letakkan di kursi. Salwa melirik paper bag bertuliskan ZORO (sorry dorry strawberry disensor, penulis tidak diendorse).
Irma berlalu setelah menyampaikan maksud kedatangannya. Salwa memutar bola mata, jengah.
Salwa menutup pintu. Melepas helm yang sedari tadi masih membungkus kepala. Menyibakkan rambutnya yang sebahu.
Ia ingat tadi saat Mamanya sedang mengomel, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, dari Maira.
Maira: "Sal, tadi ada mama kamu. Gara-gara si ibu agent itu, aku jadi tak sempat bilang ini padamu. Ha-ha. Kamu baik-baik saja?"
Salwa tersenyum masam. Setengah hati dia merasa senang karena diperhatikan. Tapi setengah hati, ia sedang tidak baik-baik saja. Mamanya telah menambah buruk suasana hatinya.
Me: "Aman! Kabari, ya, kalau sudah sampai. Jangan lupa kembali lagi ke Jakarta … banyak job menunggumu 😛"
Sent!
"Anggap saja tidak terjadi apa-apa."
Duuu ... duuu ... duuu ... duuu ....
Gadis berambut sebahu itu mencoba menghibur diri. Ia menyambar handuk yang menggantung di balik pintu kamar. Ia hendak mandi. Membersihkan diri dari segala sedih dan virus amarah Mamanya.
Salwa selalu punya cara sendiri mengatasi galaunya, yaitu, dengan cara pergi mandi. Katanya, saat hati sedang gundah solusinya adalah mandi. Agar segala yang membuat gundah itu ikut terhempas bersama air.
Meski rumah yang Salwa huni adalah rumah kontrakan, tentu sudah didesain yang berbeda dari ruangan kontrakan yang lain. Khusus untuk putri semata wayangnya Ibu Irma. Ruangan yang masing-masing berpintu, terdiri dari tiga petak. Ruang tamu lengkap dengan meja kursi. Dapur berisi kompor dua tungku, beberapa alat makan dan alat masak sederhana, dan juga kulkas. Letak kamar mandi bersisian dengan dapur.
Siapa pun pasti merasa nyaman tinggal di kontrakan yang didesain khusus untuk Salwa. Tapi, sayangnya, gadis itu jarang sekali memakainya. Mengingat ia bekerja dan dia juga gadis yang pemalas untuk urusan rumah.
Maklum, dia sudah pernah mengakui pada dua sahabatnya. Bahwa, cita-citanya adalah menjadi gadis pengangguran. Katanya, sudah lelah mengikuti kemauan orangtuanya. Ingin menikmati hidup dengan cara menganggur. Tapi, nyatanya, itu hanyalah khayalan semata. Sampai saat ini, Salwa tak pernah lolos dari kemauan orangtuanya.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗