Hanya karena menikah dengan pria miskin, Vilia harus mendapatkan perlakuan tak adil dari ibunya yang hanya menyayangi kakaknya karena menikah dengan orang kaya. Tak hanya itu, dia juga mendapatkan perlakuan tak enak dari para tetangganya.
Sakit, namun Vilia tetap bersabar hingga akhirnya dia dapat menunjukkan pada semua orang bahwa dia tak salah pilih suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami pengertian
"Ini uangnya, Buk, kembaliannya ambil aja. Anggap ini rezeki buat Ibu." Fahri memberikan selembar uang lima puluh ribu untuk Lela pada harga minyak bensin yang hanya tiga puluh ribu.
"Alhamdulillah, kecipratan rezeki. Makasih, ya, Mas Fahri, semoga selalu murah rezeki," ucap Lela sambil tersenyum ramah.
"Makasih, Bu. Saya permisi dulu. Mari Bu Susi, Bu Dina."
Setelah menyapa mereka, Fahri pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Vilia cukup terkejut karena Fahri memberikan uang yang lumayan banyak.
"Mas, ini uang darimana?"
"Tadi Mas dapat rezeki dari pelanggan. Panjang ceritanya. Pokoknya halal. Kamu beli baju gih buat kamu dan Vira."
"Alhamdulillah. Enggak, ah, Mas. Mending beli baju Vira aja, terus sisanya ditabung buat sekolahnya nanti." Vilia kembali menghitung jumlah uang untuk mengetahui berapa uang yang harus dikeluarkannya untuk membeli pakaian baru Vira dan berapa untuk ditabung.
"Kamu ini, jadi istri kok baik banget, aku jadi makin cinta." Fahri mendekati Vilia hendak menciumnya.
"Eh, apaan sih, nanti dilihat Vira, lho, Mas," ucap Vilia sambil mendorong tubuh Fahri.
"Oh, karena di dapur, ya. Gimana kalau pindah ke kamar?" tanya Fahri sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Enggak, ah, aku lagi masak, Mas. Udah deh, sana dulu, ah." Vilia kembali mendorong Fahri yang hanya terkekeh melihat istrinya malu-malu kucing meong-meong.
"Aku bantuin kamu cuci piring, ya," ucap Fahri saat melihat tumpukan piring kotor di bak cuci piring.
"Nggak usah, Mas, kamu kan lagi capek. Biar aku aja," ucap Vilia sambil tersenyum.
"Aku nggak capek, kok, Sayang, justru aku malah capek kalo lihat kamu kerja sendirian. Lagian kan sebenarnya semua ini tugas suami."
"Masa sih, Mas?" Vilia mengernyitkan dahinya.
"Iya, Sayang, dalam beberapa hadis Rasulullah SAW disebutkan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab suami. Sederet kegiatan mulai dari mencuci baju, membersihkan rumah hingga menyiapkan makanan, semuanya termasuk dalam pekerjaan rumah tangga."
Vilia semakin kagum dengan sosok sang suami yang sangat paham agama. Di zaman sekarang, sangat susah mencari pria yang pemikirannya seperti Fahri. Maka tak heran jika Vilia hidup bahagia meski dengan keadaan pas-pasan.
"Hei, lagi ngapain? Eh, ada Mas Fahri." Tiba-tiba saja Siska datang dari arah belakang menuju ke dapur. Dia memang sering mendatangi Vilia ketika jam makan siang karena ingin berbagi atau meminta lauk.
"Masuk, Sis, baru pulang kerja?" tanya Fahri dengan ramah. Dia juga sama seperti Vilia, menganggap Siska seperti saudara sendiri.
"Iya, Mas, mumpung anak aku dibawa neneknya, jadi aku mau ke sini. Kamu udah selesai masak, belum, Vil?"
"Coba kamu tanya sama masakan aku di dalam wajan ini," ucap Vilia sambil menunjuk wajan yang berisi masakannya berupa opor ayam.
"Hehehe, belum, ya. Aku mau minta, dong. Ini aku bawain pepes, enak banget tadi aku beli." Siska meletakkan pepes di atas meja makan Vilia.
"Kamu tunggu aja, ya, bentar lagi kita makan bareng-bareng."
"Aku beserin meja makan, ya."
"Udah, kamu duduk aja."
"Nggak enak dong jadi berasa kayak nyonya."
"Lah, kamu kan memang nyonya. Nyonya Faisal, hahaha." Vilia tergelak diikuti tawa Siska yang membuat Fahri hanya geleng-geleng kepala.
"Mas Fahri, kok rajin banget, sih. Aku kan jadi iri." Siska memerhatikan Fahri yang sedang mencuci piring. Setiap dia ke sini dan Fahri ada di rumah, pasti suami temannya itu pasti sedang dalam keadaan melakukan pekerjaan rumah. Kadang menyapu, membantu melipat pakaian, atau mencuci piring seperti sekarang ini.