Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Menyerah
"Sekarang jawab pertanyaanku, kamu mau pergi bersamaku atau tetap tinggal?"
Mendengar pertanyaan tegas Ameer membuat hati Meizia bergetar, pria itu benar-benar menunjukkan keseriusannya dan itu membuat Meizia tak tak bisa lagi mengelak bahwa sebenarnya ia ingin pergi.
"Aku mau," jawab Meizia lirih. "Tapi aku mohon, apapun kata orang nanti jangan meninggalkan aku."
"Tidak akan," jawab Ameer dengan tegas. "Sekarang hubungi mama kamu dan kita bicara secepatnya, okay?"
Meizia mengangguk setuju, ia segera menghubungi ibunya tetapi saat panggilan itu belum terjawab, mobil sang ibu sudah datang.
"Itu Mama," kata Meizia sedikit gugup. "Ameer, tolong yakinkan Mama, ya? Dia keras kepala orangnya," ucap Meizia setengah berbisik. Wanita itu tampak sangat berharap ini akan berhasil.
"Kita akan berusaha bersama, Meizia," jawab Ameer sembari melempar senyum untuk menenangkan hati Meizia.
"Astagfirullah," gumam Kakek saat melihat Mami Lala keluar dari mobil. Pakaian yang sangat terbuka dan seksi, serta make up yang sangat tebal dan mencolok.
Sementara Mami Lala langsung mengernyit bingung melihat Ameer dan pria tua di rumahnya.
"Ada keperluan apa kalian ke sini?" Mami Lala bertanya dengan sangat ketus, membuat Meizia langsung merasa tak enak hati pada Ameer dan kakeknya.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Kakek dengan ramah. Namun, Mami Lala enggan menjawab salamnya.
"Ma, mereka datang mau berbicara sama Mama," cicit Meizia. "Sebentar saja, Ma."
"Mama tidak punya waktu, Mei," kata Mami Lala. "Mama ke sini mau jemput kamu."
"Tante," sela Ameer dengan cepat. "Sebentar saja, Tante, ini demi masa depan Meizia." Lanjutnya.
"Apa?" Mami Lala berkacak pinggang dan menatap Ameer dengan tajam seolah menantang pria itu.
"Aku datang untuk melamar Meizia," tukas Ameer memberanikan diri yang membuat Mami Lala terbelalak.
"Serius?" tanyanya tak percaya.
"Inysaallah, aku sangat serius, Tante," jawab Ameer yakin.
"Kenapa? Kamu tahu 'kan kalau Meizia itu seorang—"
"Itu hanya akan menjadi masa lalunya," sela Ameer yang tak ingin mendengarkan satu kata menyakitkan itu.
Mami Lala terdiam sejenak, tetapi kemudian ia tertawa nyaring yang membuat Ameer dan Kakek mengernyit bingung.
"Kamu yakin mau menikahi Meizia, huh? Masa lalu itu akan terus menghantui masa depan seorang pelacur," seru Mami Lala yang langsung membuat Ameer mengepalkan tangannya dengan kuat. Bahkan, Meizia hanya bisa membisu dengan mata yang sudah berkaca-kaca mendengar ucapan pahit ibunya itu.
"Meskipun kamu tobat, orang-orang tetap akan mengenal kamu sebagai seorang PSK!"
"Aku tidak pernah mau bekerja sebagai PSK!" tiba-tiba Meizia mendesis tajam pada sang Ibu "Aku tidak pernah mau bekerja seperti ini, tapi Mama yang menjualku seolah aku itu barang!"
"Oh, anak Mama sayang ...." Mami Lala menyentuh pipi Meizia tetapi wanita itu langsung menepisnya dengan kasar.
"Aku mohon, Ma," lirih Meizia. "Aku sudah lelah hidup seperti ini."
Kakek dan Ameer terlihat ikut sedih mendengar permohonan Meizia yang mengiba, wanita malang, pikir mereka.
"Tante pernah bilang kalau Meizia milik pria yang bersedia membayarnya dengan mahal," kata Ameer mengingat kata-kata wanita itu dulu.
"Benar, karena memang itu pekerjaannya," tukas Mami Lala santai.
"Kalau begitu katakan berapa yang Tante mau supaya aku bisa membawa Meizia pergi?" Ameer melontarkan pertanyaan itu dengan percaya diri dan penuh keyakinan.
Sementara Meizia hanya bisa tercengang, ia menatap Ameer penuh tanda tanya tetapi pria itu lagi-lagi tersenyum menenangkan.
"Aku tidak menjual putriku seperti budak seperti itu, aku hanya menjual jasanya selama beberapa jam," tukas Mami Lala dengan santainya.
"Astagfirullah," geram Ameer yang tampaknya mulai emosi menghadapi wanita itu. "Saya bisa melaporkan Tante ke polisi karena hal ini," ancam Ameer kemudian. Ia berpikir jika cara baik-baik tidak akan bisa membuat hati Mami Lala luluh, maka ia harus mencari cara yang lain.
Sementara Mami Lala kini berdecak kesal. "Berikan aku waktu untuk berpikir," pinta Mami Lala kemudian. "Sekarang pergilah dan temui aku besok lagi, okay?" tegasnya.
Ameer tampak ragu untuk memenuhi permintaan Mami Lala, tetapi tiba-tiba Meizia berkata, "Tidak apa-apa, Ameer. Aku juga akan berusaha meyakinkan Mama nanti."
Ameer menatap ibu dan anak itu secara bergantian sebelum akhirnya ia mengangguk setuju.
"Bagus, sekarang kalian boleh pulang dan aku janji besok kita akan bicara." Wanita paruh baya itu berbicara sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu kami permisi dulu," kata Kakek kemudian. "Besok siang kami akan ke sini, Bu."
"Aku tunggu."
Meizia hanya bisa tersenyum tipis pada Ameer dan kakek saat kedua pria itu meninggalkan rumahnya. Ameer masih menoleh beberapa kali, seolah ia merasa berat meninggalkan Meizia begitu saja.
"Sekarang kamu ikut Mama!" Mami Lala menarik Meizia ke dalam mobil setelah mobil Ameer pergi.
"Mau ke mana, Ma?" tanya Meizia tetapi ibunya itu enggan menjawab. Wanita paruh baya itu justru melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah bordil.
Saat Meizia tahu ia kembali dibawa ke tempat itu, Meizia terbelalak dan tampak cemas. "Ma, kenapa kita ke sini lagi?" cicit Meizia.
"Ada klien yang tadi telfon Mama, dia mau kamu dan ini akan menjadi klien terakhir kamu."
Kedua bola mata Meizia melotot sempurna mendengar ucapan sang ibu, ia menggeleng tegas sambil berkata, "Aku tidak mau, Ma!"
"Tidak usah membantah, Mei, cuma satu malam setelah itu Mama janji akan membiarkan kamu pergi bersama pacarmu itu," kata Mama Lala dengan santai.
"Aku tidak mau!" teriak Meizia marah. Hal itu membuat sang Ibu marah sehingga ia langsung menampar Meizia dengan cukup keras hingga wanita itu kembali menangis.
"Harus berapa kali Mama bilang, huh? Kalau ini memang sebagian dari takdir kamu."
Meizia bungkam, ia memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Namun, tentu tak seperih hatinya.
Mami Lala menyeret Meizia masuk ke sebuah kamar. "Jam 8 bantu dia akan menjemput kamu, jadi pastikan kamu sudah siap sebelum dia datang," tegas Mami Lala sebelum dia keluar dari kamar itu dan mengunci pintunya dari luar.
Seketika Meizia menjerit, marah, sedih, takut, semua bercampur satu.
Ia mencoba melarikan diri, tetapi tak bisa karena kamar itu bahkan tidak memiliki jendela.
Meizia mencari sesuatu di laci yang mungkin bisa menyelamatkannya, tetapi tidak ada apa-apa di sana selain make up.
"Ya Tuhan, aku tidak mau lagi," lirih Meizia pilu sambil menyeka air matanya.
Meizia terdiam saat melihat bekas sayatan di pergelangan tangannya. "Maafkan aku, Ameer."
Meizia masuk ke kamar mandi, dia meninju kaca kamar mandi berkali-kali hingga pecah dan tentu itu melukai punggung tangannya. Setelah kaca pecah, Meizia mengambil pecahan kaca itu kemudian dia menyalakan shower dan duduk bersender di bawah shower.
"Sekali saja, Tuhan ...." Meizia meringis saat pecahan kaca itu ia sayatkan ke pergelangan tangannya. "Berikan apa yang aku inginkan."
...🦋...