Cantik namun sifatnya sangat liar!
Elleandra Caroline, seorang gadis yang dijuluki sebagai Rebellious Aphrodite! Gadis yang mempunyai segudang catatan kenakalan itu tiba-tiba mengalami sebuah kecelakaan saat melakukan balap liar.
Lalu, saat tersadar, dia telah berada dalam dunia novel yang berjudul All I Want is You. Novel yang menceritakan kisah antara dua karakter villain; Aiden Drake O'Reagan dan Cassiera Romano.
Namun, alih-alih menjadi tokoh utama yang kuat, Elleandra justru terbangun di dalam tubuh figuran bernama Elleanor Sezadly, putri bungsu keluarga Sezadly yang lemah, bodoh dan sering ditindas oleh tokoh utama wanita. Ditambah lagi, Elleanor juga dibenci oleh Louisa, adiknya sendiri, karena telah lancang mencintai seorang Aiden!
Elleandra yang tidak terima terlahir kembali sebagai tokoh yang lemah, dia dengan penuh tekad ingin mengubah takdir hidup Elleanor dan menjadi bintang utama dalam novel tersebut!
🌹pjg/bab ±1500 kt
🌹FOLLOW AUTHOR AGAR TDK KETINGGALAN UP
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adora belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[RA] 06 : Mencari Bukti
Elleandra memutuskan untuk membolos.
Gadis itu tidak jadi pergi ke kelasnya dan memilih untuk duduk di kursi taman sambil menikmati udara pagi di taman belakang sekolah. Dia perlu menjernihkan pikiran dan emosinya.
Elleandra memejamkan mata begitu semilir angin menerpa wajahnya. Rambutnya yang halus terbang dengan lembut ke belakang. Dia membuka matanya untuk melihat gumpalan awan putih dan biru.
Ah, Elleandra begitu menyukai udara yang bersih ini.
Hal itu membuat segala perasaan menyesakkan di hatinya mulai menghilang. Dia terlalu malas untuk berinteraksi dengan orang-orang yang selalu menutup mata dengan apa yang menimpa Elleanor.
Bagaimana mungkin, seorang guru pun tidak mempunyai kuasa untuk menghukum Cassiera atas tindakan yang dilakukannya?
Benar-benar memuakkan.
"Sedang apa kau di sini?"
Suara bariton itu membuat Elleandra menoleh. Netra hazelnya mendapati Kavin yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduknya.
Elleandra mengernyitkan alis dengan ekspresi tidak suka. Apa yang dilakukan lelaki itu di sini?
"Dasar penganggu," lirih Elleandra.
"Kau pikir aku tidak bisa mendengarmu?" Kavin mendekus. "Kenapa tidak masuk kelas?"
"Apa pedulimu?"
Kavin berdecak.
"Kau membolos?" Kavin bertanya dengan retoris.
Elleandra tidak menjawab. Jelas lelaki itu sudah tau jika dirinya membolos, masih saja bertanya. Dia tidak suka berbasa-basi seperti ini. Apa maunya lelaki itu?
Elleandra berdecak malas.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau ada di sini? Apa anak rajin seperti kau juga bisa membolos?"
"Aku tidak membolos. Kau pikir aku sama sepertimu?" Kavin menjawab disertai selipan ejekan.
"Kalau begitu enyahlah jika kau tidak ada urusan di sini. Kau membuat udara di sini berubah menjadi pengap," kata Elleandra dengan santai namun penuh sarkasme.
Kavin menatap Elleandra dengan kesal.
Sebenarnya, sebelum Kavin menghampiri Elleandra, tadi dia tidak sengaja melihat Elleandra berda di taman padahal bel sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.
Kavin juga tidak tau kenapa sekarang dia justru berjalan menghampiri adiknya itu padahal tadinya dia ingin pergi ke perpustakaan untuk mengambil buku referensi tugas sekolahnya.
Apa ini karena kejadian di ruang makan waktu itu Kavin jadi sedikit melembutkan hatinya dan tidak berlaku sinis pada Elleandra?
Kavin juga tidak mengerti kenapa dia justru mendekati gadis itu. Bukankah seharusnya dia menjaga jarak dengan adiknya?
"Masuk ke kelas sekarang juga, Elle." Kavin masih dengan nada sabar mencoba membujuk Elleandra.
"Tidak mau."
"Kau ingin menjadi tambah bodoh? Setidaknya, buktikan usahamu untuk tidak membuat Ayah dan Ibu malu."
Elleandra tertawa. Gadis itu tiba-tiba membuka jas seragamnya, memperlihatkan beberapa memar keunguan di lengannya pada Kavian.
"Kau lihat ini? Apa kau masih juga tidak mengerti betapa muaknya aku pada kalian?"
Kavian terpaku. Suaranya tercekat entah kenapa.
"Kalian tidak sedikitpun peduli pada keadaanku. Bagaimana ini, aku sudah terlanjur benci pada kalian," ucap Elleandra.
"Bukan kah sudah kubilang jika itu semua karena salahmu sendiri. Karena kau menjebak Louisa di kelab malam." Kavin lagi-lagi memberi penjelasan yang sama.
Elleandra menatap Kavin tanpa ekspresi yang berarti.
"Aku tidak melakukannya."
"Demi Tuhan, Elle. Louisa bahkan masih 16 tahun."
"Lihat? Kau bahkan langsung menyalahkanku lagi dan lagi tanpa mencoba percaya kepadaku lebih dulu. Itu karena kau memang tidak ingin mempercayaiku, kan, Kavin? Tapi kenapa?" Elleandra bertanya dengan pelan. Gadis itu kembali memakai jas seragamnya.
Kavin mengunci mulutnya. Lelaki itu menyorot Elleandra dengan pandangan yang sukar diartikan.
"Kenapa kau diam saja? Apa logikamu sedang berjalan sekarang? Kau memikirkan kenapa kau tidak mencari bukti terlebih dulu dan mencoba memberi adikmu ini kepercayaan? Itukah yang ada dipikiranmu?"
"Elle,"
Elleandra menoleh ke arah Kavin. Mata hazel gadis itu menyorot dingin.
"Kami sudah melihat buktinya."
Apa?
Air muka Elleandra berubah. Apa yang baru saja Kavin bilang?
Lelaki itu sudah melihat buktinya?
"Bohong!" Elleandra menyentak.
Karena jika mereka telah melihat buktinya, bukankah seharusnya keadaanya tidak seperti ini? Mereka justru akan membenci Louisa dan mengasihani putri pertama mereka! Jadi, Elleandra menganggap Kavin hanya menipunya.
"Apa maksudmu?"
"Karena jika kau sudah melihat bukti rekaman CCTV-nya, seharusnya keadaan antara aku dan Louisa tidak seperti ini dan justru sebaliknya! Jangan menipuku, Kavin! Katakan saja jika kalian memang mencintai Louisa sedalam itu dan tutup mata mengenai apa yang sebenarnya terjadi!" Elleandra menyahut dengan raut dingin.
Kavin mengerutkan dahi samar. Dia sedang mencoba memahami maksud perkataan adiknya.
"Apa maksudmu? Bukankah kau hilang ingatan, Elle? Kau membela dirimu berdasarkan apa? Kami jelas punya buktinya," kata Kavin.
Elleandra membeku.
"Bagaimana bisa kami membenci Louisa jika bukti itu menunjukkan keadaan yang sama seperti apa yang Louisa katakan, Elle. Jangan mengelak dengan omong kosong," kata Kavin.
"A-Apa?!" Elleandra tercekat.
Apa maksud ucapan Kavin?!
Bukan kah itu mustahil?!
"Kau ingin melihatnya? Aku bisa menunjukannya padamu lalu kau bisa mengerti kenapa Ayah, Ibu dan aku bisa memperlakukanmu seperti itu."
Kavin mengambil ponselnya dan membuka file berisi rekaman kejadian yang terjadi waktu itu kemudian lelaki itu menyerahkan ponselnya pada Elleandra.
"Putarlah."
Elleandra memutar rekaman itu dengan tangan bergetar.
Di dalam rekaman berdurasi 1 menit 13 detik itu terlihat Louisa yang dibawa paksa menuju ke sebuah kamar. Gadis itu menggunakan baju yang sama seperti gambaran ingatan yang Elleanor perlihatkan padanya tempo hari.
Louisa terlihat memberontak. Lalu, yang terjadi berikutnya adalah Louisa yang menyebut nama Elleanor. Namun, yang dikatakan Louisa berhasil membuat Elleandra menutup mulutnya dengan netra yang berkaca-kaca.
'Kak Elle, jangan tinggalkan Louisa. Kenapa Kakak tega melakukan hal ini padaku?'
'Argh! Lepas!'
'Kak Elle! Aku tau Kakak berdiri di luar! Kakak mendengarku, kan? Aku berjanji akan mengalah dan membiarkan Kakak mendekati Aiden!'
'Aku akan mengalah pada Kakak, aku janji, Kak! Jadi, kumohon hentikan mereka!'
'Hiks! Lepaskan!'
'Kak Elle, Louisa mohon ampun!'
'Kak—'
Lalu rekaman berhenti di situ.
Elleandra menyugar rambutnya ke belakang dengan perasaan campur aduk. Dia mengingat lagi gambaran ingatan yang waktu itu Elleanor perlihatkan padanya.
Lalu, kenapa ada video seperti yang baru saja dia lihat? Video yang menunjukkan bahwa Elleanor memang bersalah dan menjadi dalang dari kejadian di kelab waktu itu.
Elleandra memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Netra hazelnya mulai berkaca-kaca dan wajahnya berubah pucat.
Tidak! Perasaan ini pasti milik Ellanor!
Elleanor seakan-akan memberitahu Elleandra jika apa yang ada di video itu bukan kejadian yang sebenarnya, dalam artian, video itu palsu.
Seseorang pasti merekayasa video itu!
Iya, kan?
"Kau lihat sendiri, kan? Sekarang seharusnya kau paham kenapa kami bersikap seperti ini padamu." Kavin menatap Elleandra yang terlihat begitu terkejut.
"Kavin, apa kau sudah memastikan kebenaran video itu?" Elleandra menoleh ke arah Kavin dengan raut getir. "Apa kau akan percaya padaku jika aku mengatakan bahwa video ini palsu?"
Kavin tertawa remeh. "Kau ingin berkelit seperti apa lagi, Elle?"
"Apa kau percaya jika aku berkata bahwa aku sudah mulai mengingat kejadian waktu itu?" Tanya Elleandra.
"Apa kau mendapatkan kepingan ingatan kejadian waktu itu?" Kavin mengambil ponselnya yang tergeletak di paha Elleandra. "Tapi, video ini sudah cukup untuk membuktikannya."
Kavin boleh saja mempercayai video itu, namun, jelas Elleandra akan lebih mempercayai gambaran yang diperlihatkan oleh Elleanor.
Elleandra lebih mempercayai Elleanor karena Elleanor tidak mungkin berbohong dengan apa yang diperlihatkannya waktu itu!
"Cukup membuktikannya katamu?" Elleandra tertawa dengan cukup nyaring. Merasa lucu dengan kalimat yang baru saja dia dengar.
Ternyata, Kavin juga memiliki sisi naif seperti itu, ya?
Elleandra lantas berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekat tepat selangkah di depan Kavin.
"Kau mencoba mengesampingkan beberapa kemungkinan yang barangkali terjadi seperti ..."
Elleandra menjeda perkataannya lalu mendekat ke arah telinga Kavin.
"Bagaimana jika video itu di manipulasi?"
pdahal lbh bagus tokoh dingin kek dia gini ga banyak omong lgsg dgn tindakan.
kalo pun mau memaki2 atau apala ya sekali2 ini hampir tiap ketemu ngandelin bacot.