Aku harap ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan semua yang terjadi. Aku juga berharap Alexander bisa membahagiakanku. Aku ingin melupakan masa lalu dan si pria berwajah muram itu. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Namun, apakah semua akan berjalan sesuai kehendak hati?
Lanjutan Fall in Love with Lover
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Go On
Aku segera membantu Alexander keluar dari ruangan dengan menggunakan kursi roda. Setelah ini kami akan menemui dokter ortopedi untuk menjalani terapi pengembalian posisi tulang. Semoga saja semuanya bisa cepat ke sediakala.
Aku sangat berharap bisa kembali bersama Alexander tanpa harus melihatnya kesakitan karena pergeseran tulang di punggungnya. Kuakui jika aku mulai menyayanginya, bahkan mungkin mendekati rasa cinta. Entahlah, kita lihat saja nanti.
"Lilia, terima kasih." Alexander mengecup tanganku saat aku membawanya keluar dari ruangan dokter dengan menggunakan kursi roda ini.
"Iya, Dear. Cepat sembuh, ya." Aku mendoakannya seraya tersenyum.
Dia mengangguk lalu mengecup tanganku kembali.
Alexander memang tiada henti-hentinya meminta hatiku. Perlahan tapi pasti dia meruntuhkan keegoanku yang tidak ingin berkomitmen lagi. Dia amat sabar menungguku memberi hati ini. Dan ya, mungkin saja sebentar lagi aku akan memberikan hatiku kepadanya.
Dear, tolong jangan kecewakan aku.
Aku hanya bisa berharap dia tidak seperti Jake yang mencampakkanku. Semoga saja cerita kami tidak lekas usai seperti yang dulu. Aku harap dia benar-benar tulus menyayangiku. Seperti aku yang mulai menyayanginya dengan sepenuh hatiku.
Menjelang petang...
Semburat merah mulai menghiasi langit sore. Dinginnya cuaca membuatku harus menaikkan resetling jaket ini. Kulihat awan-awan hitam juga berarak dari kejauhan. Sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Aku pun berharap bisa cepat sampai sebelum hujan datang.
Kami baru setengah perjalanan menuju rumah ibu Alexander di desa. Sehabis dari rumah sakit, kami segera menuju ke tempat praktik dokter ortopedi untuk melanjutkan pemeriksaan. Dan ternyata, hasilnya Alexander bisa melakukan terapi sendiri tanpa harus bolak-balik ke tempat terapi. Hanya saja kami memang diharuskan membeli alat bantu terapi agar bisa berlatih sendiri. Sehingga pergeseran tulang bisa cepat kembali ke sediakala.
Alat yang kami beli adalah sejenis alat olahraga untuk sit up dan kayang. Tapi walaupun bisa terapi sendiri, dokter juga meminta Alexander untuk datang setiap dua minggu sekali ke tempat praktiknya. Dia ingin memastikan jika hasil terapi yang Alexander lakukan maksimal.
Sementara waktu ini Alexander tidak diperkenankan melakukan aktivitas berat. Setidaknya untuk satu bulan ke depan. Itu berarti selama satu bulan ke depan dia membutuhkan bantuan dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Dan pastinya akulah yang akan ditunjuk untuk menemaninya. Siapa lagi?
Kini alat olahraga itu berada di dalam bagasi mobilku. Kami pun tidak sempat ke apartemen lagi karena Alexander ingin segera beristirahat di rumah ibunya. Dan sebagai wanita terdekatnya, mau tak mau aku memenuhi keinginannya. Ya, anggap saja membalas kebaikannya waktu itu. Karena waktu aku masuk rumah sakit, Alexander lah yang menjaga dan merawatku.
Aduh, mulai macet lagi.
Sebenarnya aku tidak percaya jika kami bisa sampai sedekat ini. Jika ingat awal perjumpaan, tidak ada tanda-tanda kami akan dekat. Saat itu aku hanya sebatas berterima kasih karena dia telah menolongku dari bandit-bandit jalanan yang berusaha mengganggu. Dan setelah itu aku bersikap biasa-biasa saja padanya. Tidak ada perasaan sama sekali. Mungkin juga karena saat itu aku masih menjalin hubungan dengan Jake sehingga tidak memedulikannya.
Waktu begitu cepat berlalu ya, Dear. Sekarang aku di sisimu. Menemanimu dan akan merawatmu. Andai ingat dulu, rasanya tak mungkin kita akan sedekat ini.
kapan update
ditunggu yaaqq