Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Arah
Seruni Dendam Istri Pertama Bagian 16
Oleh Sept
Terminal Lebak Bulus
Aku sudah duduk di dalam sebuah bis antar provinsi. Setelah sampai terminal, sesaat yang lalu aku membeli kartu baru. Ponsel mas Erwin aku isi dengan nomer baru. Entah mengapa aku butuh ponsel ini. Aku harus menelpon bu Fatimah. Mengatakan apa yang sudah terjadi padaku selama ini.
Lucu sekali, aku juga mengambil diam-diam dompet mas Erwin. Beruntung uang di dalamnnya lebih dari cukup. Ku keluarkan semua kartu identitas mas Erwin. Ku masukkan ke dalam tong sampah sebelum aku naik ke dalam bis tadi. Sedangkan untuk kartu ATM serta credit card yang lain, tetap aku simpan.
Aku tidak berniat menggunakan itu semua, nanti malah mas Erwin bisa melacak keberadaanku. Aku akan menyimpannya, siapa tahu nanti aku membutuhkan benda-benda ini. Pikiranku terlalu sederhana, dan sayang kalau aku buang ke tong sampah. Sedangkan KTP suamiku serta SIM dan lainnya, dengan enteng sekali ku buang. Melihat fotonya, hanya membuatku sakit hati.
Ya, melihat sekilas wajahnya cukup membuatku ngilu meskipun itu hanya sebuah foto kecil di kartu identitas suamiku. Aku seakan kembali teringat dengan segala perbuatan yang sudah ia lakukan selama ini kepadaku. Rasanya aku masih trauma atas apa yang telah terjadi. Kekejaman mas Erwin bersama Riana, cukup membuat hatiku bergidik. Menghindar dari apapun mengenai mas Erwin sepertinya adalah jalan terbaik yang aku bisa lakukan untuk menyembuhkan luka hati ini.
Tidak terasa bis yang aku tumpangi akhirnya mulai berjalan, perlahan meninggalkan area terminal Lebak Bulus. Jakarta, sebuah kota besar yang menyisahkan kenangan pahit dalam hati ini. Ya, ibu kota menorehkan luka basah yang mungkin tidak akan pernah mengering. Hanya pada waktu, dan aku pikir hanya waktuh lah sebaik-baiknya obat untuk lukaku yang terlanjur mengakar dengan kuat.
"Mau ke mana?"
Aku tersadar dalam lamunan ketika seorang pria bertanya padaku. Sibuk dengan pikiranku sendiri, aku sampai tidak sadar dengan penumpang yang duduk di sebelahku.
"Jawa," jawabku singkat.
Pria itu mengangguk, dia masih muda. Tidak sengaja aku lihat ada cincin di jari manisnya.
"Mudik?" tanya dia lagi yang membuka pembicaraan, padahal aku sedang lelah. Aku hanya ingin diam, menenangkan diri ini.
Ku jawab saja dengan senyum, lalu ku tatap jendela. Kebetulan aku duduk di dekat jendela. Karena tidak ingin bicara dengan orang asing aku kemudian pura-pura mengantuk dan menutup mata.
Aku bisa merasakan, pria itu mengamatiku. Entah apa yang membuatnya tertarik, aku saat ini sangat lusuh, wajahku mungkin pucat, sayu, aku tadi sempat mengaca, penampilan ku sangat kacau. Aku seperti istri yang kabur dari rumah, padahal itu memang benar adanya.
Beberapa jam kemudian
Bis yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah makan besar di tepi jalan. Aku pun turun, pertama langsung ke kamar mandi. Selesai membasuh wajah karena sempat tertidur, aku pun menyalakan ponsel. Saat semua sibuk makan, aku memilih mengaduk makanan sambil telpon. Aku sudah hapal nomor bu Fatimah, dan karena hatiku sedikit tenang, aku pun ingin mengatakan sesuatu kebenaran pada bu Fatimah.
Tut Tut Tut
Lama sekali panggilku tidak diangkat. Aku gelisah, kemudian mencoba menghubungi berkali-kali sampai dijawab.
"Assalamu'alaikum."
Aku sangat lega saat bu Fatimah mengucap salam. Mendengar suaranya, seketika membuatku ingin segera pulang dan memeluknya. Sungguh, aku butuh seseorang untuk bersandar. Meksipun aku tahu, bu Fatimah juga memiliki beban masalah yang banyak. Hanya saja, saat ini aku ingin sekali mendengar suara beliau.
"Waalaikumsalam, Bu Fat ... Seruni ganti VCall ya?" ucapku.
"Pergi jauh dan jangan pernah ke panti," suara bu Fatimah terdengar tertekan.
"Bu ...!" Mataku langsung perih. Aku belum mengatakan apapun, tapi sepertinya bu Fatimah sudah tahu semuanya.
"Larilah yang jauh."
Aku mengusap pipiku yang sudah basah karena air mata yang berderai. Terus mengalir tanpa bisa aku bendung.
Tut Tut Tut
"Bu ... Bu ....!"
Tangisku pecah, hingga orang yang ada di dekatku langsung menatapku dengan khawatir.
"Mbak Kenapa?"
Aku hanya menangis, terisak karena sesak yang tiba-tiba mendera. Sudah pasti mas Erwin mencariku. Dia pasti sudah menghubungi bu Fatimah. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?
"Mari, Mbk." Seseorang menepuk pundakku yang duduk terdiam di salah satu kursi makan. Sepertinya bus mulai jalan. Aku pun beranjak, kemudian kembali naik ke dalam bus.
***
Sepanjang jalan aku tertidur, dengan mata sembab dan hati yang hancur. Sampai akhirnya pria di sampingku menepuk pundakku lembut.
"Mbk ... bis sudah berhenti."
Aku menatap sekeliling. Bis sudah kosong, hanya aku dan pria yang semula duduk di sebelahku. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah membangunkan aku, aku pun mengangguk terima kasih.
"Terima kasih."
Langit masih gelap, karena matahari belum muncul sempurna. Ditambah mendung gelap, sepertinya akan hujan. Aku pun ke salah satu kios yang ada di terminal untuk membeli minuman. Dan benar perkiraanku, hujan tiba-tiba turun dengan deras.
Aku lari menuju ke kursi tunggu di dalam terminal. Bajuku jadi basah, padahal aku tidak membawa apapun. Hanya pakaian ini saja yang aku miliki sekarang. Ku lihat banyak mata pria menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin karena baju basahku yang kini tembus pandang. Aku hanya bisa menggunakan tangan untuk memeluk tubuhku sendiri. Agar hangat sekaligus melindungi dari tatapan mata laki-laki jahat.
"Pakai ini!"
Aku menoleh, mendongak pada pemilik suara yang ada di belakangku, seorang pria tiba-tiba melepaskan jas miliknya.
BERSAMBUNG.
Klik profile Sept, ada 19 judul cerita yang sudah tersedia ya bestiana bestiani hehehhe...
IG Sept_September2020
FB Sept September
Like/Suka, Komen dan Vote.
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2