NovelToon NovelToon
Mama

Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arina rizqin

"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"

Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.

Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.

"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.

"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.

"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.

Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Mama 16

Bara mengendarai mobilnya dengan santai, senyumnya mengembang dengan lebar. Tangannya mengusap kepala Rara dengan lembut.

Rara tertidur setelah mereka makan di restoran ramen. Mengingat bagaimana cara dia meninggalkan Nadia di restoran tadi, membuatnya ingin tertawa sekencang kencangnya.

Ia tau kalau Nadia tidak membawa uang ataupun ATM, karena tas milik Nadia tertinggal di dalam mobil miliknya.

Tin ... tin ... tin ....

Bara memencet klakson mobilnya setelah berada di depan gerbang rumahnya, dua kali pencetan baru terdengar bunyi roda gerbang bergesekan besi.

Krietttt ....

Pak Dadang menggeser gerbang hingga muat untuk mobil Bara memasuki pekarangan rumah.

"Makasih, Pak," ucap Bara.

"Sama-sama, Tuan," balas Pak Dadang.

Gerbang pun tertutup kembali setelah mobilnya masuk dan terparkir di garasi.

Bara menggendong tubuh mungil gadis kecilnya, dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Rara ke dalam pelukannya agar Rara tidak terganggu tidurnya.

Bi Iyem membukakan pintu rumah setelah mendengar deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah.

Bara langsung masuk menuju kamar sang anak untuk membaringkannya. Usai menyelimuti Rara, ia melangkah keluar menuju kamarnya.

Saat ingin membuka pintu kamarnya, gerakan tangannya tiba-tiba terhenti. Ia membalikkan tubuhnya menghadap kamar yang berhadapan dengan kamarnya, kamar Nadia.

Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Memastikan ketika ia masuk ke kamar Nadia, si empunya belum pulang.

Cklek ....

Bau pengharum ruangan langsung memasuki indra penciumannya, barang-barang tertata rapih ditempatnya, ada foto Nadia dan mamanya yang menggantung di dinding dekat ranjang.

Tidak ada yang spesial dari kamar Nadia. Bara semakin melangkah masuk ke dalam, tidak banyak yang diubah dari kamar ini sejak awal.

Entah kenapa, tiba-tiba ia penasaran dengan isi kamar seseorang yang menumpang di rumahnya. Demi keberlangsungan bersama, kata Sari. Membuat Bara mau tak mau menyetujuinya, padahal apanya yang keberlangsungan bersama?

Ia terdiam sejenak di tengah-tengah kamar, matanya menelisik ke sana kemari. Tidak ada apa-apa. Tunggu!

Matanya melihat sesuatu yang mencurigakan terjulur dari lemari pakaian bawah, sesuatu yang berwarna putih keabuan.

Ia berjalan ke arah lemari, langkahnya penuh dengan kehati-hatian. Sedia payung sebelum hujan. Ia takut tiba-tiba ada sesuatu yang membahayakan keluar dari dalam lemari.

Tangannya sudah meraih gagang pintu lemari besar itu. Sedikit lagi untuk membuka lemari itu, suara deru mobil berhenti di depan rumah terdengar.

Lalu, suara roda gerbang bergesekan dengan besi juga turut terdengar. Ia berlari keluar dari kamar Nadia dengan cepat, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.

***

Aku sedang duduk di balkon kamar, saat handphone milikku bergetar di atas meja sampingku.

Manajer Sin ❤

Manajer Sin : Rei!

Aku menghela napas kasar. Pasti Ka Sin akan mempertanyakan aku yang sudah lama tidak pemotretan, aku harus jawab apa?

Me : Hehehehe, Ka Sin. Ada apa, Ka?

Manajer Sin : Kau masih bertanya ada apa!? Ke mana saja kau selama beberapa minggu ini? Lama sekali tidak pemotretan. Kau mau berhenti jadi model?

Me : Tidak! Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu? 😕

Manajer Sin : Sudah beberapa minggu kau tidak ikut pemotretan? Aku sudah mentolerir dengan mengganti model lain. Untung saja mereka tidak banyak protes. Minggu depan kau harus pemotretan kalau tidak ingin kuberhentikan jadi model. Lokasinya di Bogor, selebihnya nanti kukabari lagi.

Manajer Sin : Ini peringatan dariku untuk yang pertama dan terakhir kalinya!

Me : Baiklah, Ka Sin sayang.

Huh, sepertinya Ka Sin benar-benar kesal atas ketidak hadiran diriku. Sial! Semua gara-gara masalah yang terus berdatangan akhir-akhir ini. Hingga membuatku melupakan tugasku sebagai model.

Aku jadi kepikiran Nanda. Ke mana ia? Apakah masih marah karena perkataanku tempo lalu? Aku sungguh menyesali perkataanku yang terlontar tanpa filter itu.

Kepalaku rasanya benar-benar ingin pecah. Belum selesai satu masalah, datang lagi masalah yang seolah-olah menjadi bagian dari napasku.

Ting ....

Nada dering panggilan terdengar dari handphone-ku. Membuatku kembali menggerutu kesal. Semoga bukan panggilan yang dapat menghancurkan mood-ku.

Paman Arjen : Hallo, Rei ku sayang.

Me : Hay, Pamanku sayang!

Paman Arjen : Kau tidak pernah berubah, hahahaha.

Me : Paman pun.

Paman Arjen : Kenapa kau tidak membuka pesan dari ayahmu?

Me : Ayah? Bukannya sudah meninggal?

Paman Arjen : Selera humormu anjlok, Rei! Tapi, Paman sedang serius sekarang.

Me : Tidak ada yang bercanda, Paman!

Paman Arjen : Yang benar saja membicarakan kematian ayahmu? Kau ingin dia tiada?

Me : Kenapa aku jadi bingung sendiri?

Paman Arjen : Hmmm, sepertinya ada salah paham di sini. Coba jelaskan mengapa kamu berbicara seperti itu tentang ayahmu?

Aku terdiam sesaat. Aku yakin kalau waktu itu Nanda bilang bahwa ayahku telah tiada. Lalu, itu juga hari terakhir aku berbicara dengannya.

Paman Arjen : Rei?

Panggilan paman Arjen membuatku tersadar jika panggilan masih tersambung. Aku menggeleng sesaat untuk menghempaskan pikiran buruk ku.

Me : Iya, Paman

Paman Arjen : Ayo, coba jelaskan.

Aku menarik napas sebentar, sebelum akhirnya mengalir lah ceritaku tentang Nanda yang memberitahukan kematian ayah serta melarangku untuk ke tempat ayah.

Paman Arjen benar-benar terkejut mendengar ceritaku. Beberapa pertemuan dengan Nanda membuat ia sedikit tahu tentang Nanda.

Paman Arjen : Paman tidak yakin dia berkata seperti itu.

Me : Paman saja tidak percaya. Apalagi aku?

Paman Arjen : Baiklah, sebentar lagi Paman akan rapat. Kau ceritakan semua yang mengganggumu akhir-akhir ini. Akan Paman baca usai rapat.

Paman Arjen : Good bye, sayang.

Me : Too. Paman.

***

"Kapan kau akan menjalankan rencananya? Kau sudah terlalu lama menunda, aku tidak sabar melihat reaksinya suatu saat ketika dia tahu tentang kebusukanmu."

"Heh! Ini tidak sepenuhnya salahku. Jika dia berpikir tentangku barang sebentar saja, aku juga tidak akan tega menyakitinya."

"Hahahah." Tawa Sari menggelegar di dalam ruangan yang sudah lama tidak di gunakan.

"Baiklah. Perbaiki mentalmu. Lalu, jalankan rencana semulus mungkin. Jangan sampai muncul kecurigaan. Perlahan, sakit hatiku akan terbalaskan pada tujuh turunan mantan kekasihku. " Sari melangkah keluar ruangan yang mereka jadikan tempat perkumpulan itu.

"Jangan lupa. Aku tidak ingin mendapatkan kabar tak menyenangkan. Dan aku tidak mentolerir pengkhianatan sedikitpun." Pintu ruangan yang ditutup pun terfengar.

"Apakah ini sudah benar?" Lelaki itu bertanya pada dirinya sendiri.

Lelaki berwajah tampan dan rupawan tersebut melangkah keluar dari ruangan itu. Sampai di luar ruangan ia bertemu dengan wanita muda yang ia kenali.

"Senang melihatmu bergabung dengan kami, kawan," ucap gadis tersebut yang langsung mendapatkan tatapan maut dari si lelaki.

"Kita bukan kawan. Jadi selama aku masih bersabar, tutup mulutmu." Si perempuan pun dibuat terdiam setelah mendengar perkataan si lelaki.

1
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
belum jd istri sah uda berlagak. kujambak nanti kau ya nadia
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
semoga saja berhasil biar terbongkar tuh kebusukan Nadia.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
ayo Rida ungkap sampai tuntas
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
hilih, kesal sama Nadia. tega banget ngefitnah orang...
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
katanya ga selingkuh tapi sauang2an. apa sih ini orang? ngajak ribut??
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
suami istri sibuk dgn dunia masing-masing sehingga anaklah yg terbengkalai.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
aku kok ya kasian sama bayinya.
Yusniar Zebua
lanjut
Wani Ikhwani
GWS mbak
ditunggu lanjutannya
A2NNALUP: Terima kasih, Ka. 💚
total 1 replies
Sh❤️≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ
jejak like dlu
Rahmalia Maricar
udah mampir ya like komen rate bintang 5 💞
ʀ𝖍𝒚𝖓𝖆
makin penasaran aku
Yusniar Zebua
lanjut
Eka
nyimak
Elfrina Tinambunan
up nya jangan dikit2 dan lama thor.. suka ceritanya
Herlin Herlina Herlin Her
lanjut thor,
Yusniar Zebua
lanjut
Rizqi
tetap semangat ya...
HIATUS
mampir sayang semangat
A2NNALUP: Makasih, Ka Dhe. 💜
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!