Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Siomay dari abi
Yusuf mengancingkan kembali bajunya lalu meraih tangan Laila dan menariknya.
” Abi mau kemana?”
” Ikut” tegas Yusuf dan Laila takut dia benar-benar dipulangkan oleh Yusuf saat ini.
” Abi Laila tidak mau pulang, Abi" Laila berpegangan erat dan tidak mau keluar dari rumah karena takut Yusuf mengantarkannya pulang, Yusuf mengernyit heran karena Laila berpikiran bahwa dia akan melepaskan Laila.
” Umi berpikir aku akan memulangkannya? enak saja" Yusuf bergumam.
Yusuf masuk kembali ke rumah dan menutup pintu. Laila mencari akal agar Yusuf tidak memulangkannya, dia buka cadarnya itu agar Yusuf tidak membawanya keluar dan membawanya pulang.
” Sok aja kalau Abi berani bawa Laila keluar” Laila menantang.
” Ayo" Yusuf tetap menarik-narik lengannya pura-pura dan Laila menahannya.
” Abi, Laila minta maaf. Laila tidak mau pulang Abi. Laila tidak akan mengatakan hal itu lagi, jangan pulangin Laila. Jangan Abi...”
Deg... Laila menutup matanya seketika, saat Yusuf mencium pipinya agar diam. Laila berbicara dengan merengek-rengek menggoyangkan tangan suaminya, suami mana yang tak gemas walaupun sedang kesal karena istrinya bicara yang tidak-tidak. Yusuf melepaskan kecupannya yang membuat dirinya sendiri juga bingung kenapa melakukannya, Yusuf mengelus dagu Laila dan Laila membuka matanya. Keduanya diam dan saling menatap lekat. Yusuf meraih meraih cadar dari tangan Laila dan ingin memakaikannya.
” Aku saja, Abi gak bakalan bisa” Laila menepis tangan suaminya dan memakainya sendiri, dia buru-buru menutupi wajah merah merona nya karena di cium suaminya itu, baru di pipi belum di yang lainnya.
” Ayo" Yusuf meraih tangan Laila dan menariknya, setelah keduanya memakai sandal. Laila menutup pintu sekenanya, tangannya di tarik dan Laila terus menatap punggung besar suaminya. Laila berlari kecil untuk mengimbangi langkah panjang suaminya. Yusuf membawa Laila ke rumah Maryam.
” Assalamualaikum” Yusuf mengucapkan salam dan masuk, pintu rumah terbuka lebar-lebar dan Laila menundukkan kepalanya saat melihat Jahro sedang bersama Maryam. Begitu dekat dan akrab.
” Aku jelek, kamu jelek Laila. Ibu Maryam saja benci sama kamu" Laila bergumam. Dia melangkah dan ingin pergi tapi Yusuf mengeratkan genggaman tangannya. Jahro dan Maryam melihat jelas saat Yusuf mengeratkan genggaman tangannya. Dan menahan Laila, Jahro memperhatikan Laila. Jahro sangat jarang berkeliaran di lingkungan pesantren dan baru kali ini dia melihat Yusuf dan Laila berendengan.
” Ibu, saya pamit” ucap Jahro karena sadar atas ketegangan yang terjadi saat ini.
” Duduk, supaya semuanya jelas sekarang juga" tegas Yusuf dan tidak mau Jahro mengharapkan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan. Jahro duduk kembali dan Maryam meraih tangannya lalu mengenggam nya. Laila duduk saat Yusuf duduk dan menarik tangannya. Keduanya duduk bersebelahan dan Yusuf tidak melepaskan genggaman tangannya.
” Ada apa Abi?” Maryam bertanya. Dan melirik Laila yang terus menundukkan kepalanya.
” Jahrotunnisa, saya jelaskan bahwa pernikahan antara saya dan kamu tidak akan pernah terjadi. Ibu Maryam yang menginginkannya bahkan sampai kamu ada disini.."
” Abi" Maryam menyela, padahal Yusuf belum selesai bicara. Jahro yang sudah merasa senang akan menikah walaupun menjadi yang ketiga merasa hancur mendengar ucapan Yusuf dengan suara tegas dan tanpa ragu untuk menolaknya.
” Tanggal khitbah sudah ditentukan Abi" lirih Maryam dan mengusap bahu Juhro.
” Sekarang, silahkan teh Jahro kembali pondok santriwati" titah Yusuf mengusir Jahro secara halus. Dan Jahro berdiri seraya melepaskan genggaman tangan Maryam.” Saya tegaskan sekali lagi, bahwa semuanya terencana diluar keinginan saya, dan saya harap teh Jahro tidak menceritakan apapun kepada santriwati yang lain, karena nantinya akan menimbulkan fitnah”
" Iya ustadz, saya pamit assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Jahro melangkah pergi meninggalkan rumah Maryam dan tertinggal lah Laila, Yusuf dan Maryam sekarang.
" Abi..” Suara Maryam begitu berat.
” Apa kita pernah membicarakannya? jika benar begitu, kenapa Laila tidak dilibatkan? apapun yang akan aku lakukan Laila juga berhak memberikan pendapatnya. Dia setuju atau tidak” Yusuf benar-benar kecewa kepada Maryam.
” Abi menyakiti Jahro” Maryam menatap kepergian Jahro dari balik kaca jendela.
" Ibu juga membuat kesalahpahaman antara aku dan Laila" timpal Yusuf cepat dan menatap Laila yang meliriknya. Dengan cepat Laila menundukkan kepalanya.” Laila menangis, istri mana yang bisa menerima suaminya menikah kembali. Hanya tahu akan menikah, tanpa dilibatkan dan diminta pendapatnya terlebih dahulu.
Maryam terdiam, dia menatap Laila lekat yang meneteskan air matanya terus-menerus. Maryam membuang nafas kasar, dia tidak tahu kenapa Yusuf tidak mau menikahi Jahro hanya karena Laila yang dibandingkan dengan Jahro tidak ada apa-apanya.
” Lalu dengan keluarga Jahro bagaimana? Maryam bingung, dia bahkan sempat bertemu dengan ibu Jahro saat ibunya Jahro menjenguk anaknya itu.
” Mangkanya, jangan mengambil keputusan sendiri. Aku ini seorang suami, tapi seperti tidak ada harga dirinya. Biar aku yang selesaikan dengan ustadz Badrun dan yang lain, mending ibu diam jangan mengatakan apapun sekalipun ada yang bertanya” tegas Yusuf dan Maryam mengangguk. Ketiganya diam dan Laila memainkan ujung hijabnya tapi Yusuf menyentil tangannya agar berhenti.
*****
Keesokan harinya, di pondok santriwati. Jahro menangis karena tidak jadi menikah dengan ustadz yang masih terbilang muda dan tampan itu.
” Jahro, jangan nangis. Laki-laki masih banyak, banyak yang lebih kasep dari aa” kata santriwati yang lain, yang tidur satu kamar dengan Jahro.
(Kasep/ganteng)
” Nya tetap saja gak ada yang bisa kayak ustadz Yusuf" jawab Jahro dan terus menangis, semalaman dia juga tidak bisa tidur dengan tenang dan terus terbangun.
Sementara di kamar santriwati lain, dan ada Laila disana sedang menghapal Al-Qur'an bersama teman-temannya, Aam,Wawat,Asila, Husna dan Nurul adalah teman satu kamar dan ada tiga orang lagi yang tidur bersama mereka. Lemari yang terbuat dari plastik berjajar, di tindih bantal dan selimut para santriwati di kamar tersebut. Laila baru pertama kali tahu bagaimana kabar dan susunan kamar santriwati setelah dia menikah dengan Yusuf dan sering datang ke rumah santriwati yang berlantai dua itu. Dan Laila ada di lantai dua.
” shadaqallahul adzim” seru Laila telah selesai menghapal untuk dia setorkan kepada ustadzah Yanti. Begitu juga dengan teman-temannya yang telah selesai, Laila menyimpan Al-Qur'an ke atas lemari kembali.
” Aku mau dipacar ah” kata Aam seraya menatap jemarinya.
( Dipacar/Dihena)
" Aku juga mau" kata Laila dan aam tersenyum.
” Biar aku yang ngolesin hena ke jarinya umi" kata Nurul dan Laila menggeleng kepala.
” Aku bisa sendiri” menolak.
” Emang umi bisa olesi kuku tangan kiri sendiri, umi kidal?” Husna menatap Laila.
” Enggak juga hehe, tapi gak enak ah"
” Biarin sini" Nurul menarik tangan Laila dan Laila diam.
Laila tersenyum dan menatap kuku-kuku jari tangan kanannya sudah tertutup hena, dan Nurul sedang mengolesi kuku kirinya saat ini.
” Nuhun” Laila tersenyum.
(Nuhun/makasih)
” Sami-sami" Nurul tersenyum lebar.
(Sami-sami/sama-sama)
Suara pintu berdenyit, dan seorang santriwati masuk ke kamar.
” Umi Laila di cariin ustadz Yusuf” katanya dan Laila gelagapan bangun dari duduknya.
” Aku pamit, Nurul makasih ya. Assalamualaikum” seru Laila.
” Waalaikumsalam” seru semuanya.
Laila berlari sembari menjinjing ujung rok nya dan menuruni tangga, raut wajahnya begitu senang karena Yusuf mencarinya.
” Umi” panggil Salamah dan Laila berhenti berlari.
” Iya teh?" Laila berhenti tersenyum.
” Aa nyariin, katanya umi Laila diminta pergi ke pacuan kuda sekarang” kata Salamah dan Laila mengangguk.
” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Laila kembali berlari dan Salamah menggeleng kepala.
” Lari-larian terus, apa gak capek ya?" Salamah menggeleng kepala berulang kali.
Laila berlari untuk pergi menemui suaminya, Laila berhenti berlari dan pura-pura tidak senang akan bertemu dengan suaminya karena Yusuf tak kunjung menjelaskan kenapa dia dianggap sebagai seorang adik. Yusuf yang sudah menunggu dengan berdiri di jalan yang sering dilewati Laila menuju kandang kuda menoleh. Dia lihat Laila yang melangkah pelan mendekatinya.
” Waalaikumsalam”
" Maaf, assalamualaikum” Laila tak kunjung mengangkat kepalanya. Dan terus menunduk.
” Ini untuk umi” Yusuf mengulurkan kantung plastik berisi satu bungkus siomay.” Katanya umi mau jajan, Abi keluar tadi sebentar. Ayo ambil” menggerakkan tangannya.
” Terima kasih" Laila menerimanya, Yusuf tersenyum dan mengusap-usap pucuk kepala istrinya lembut.
Laila tersenyum dan Yusuf melihatnya jelas walaupun terhalang tapi kedua mata Laila berseri-seri dan dia bisa melihat itu, hadiah sederhana untuk istrinya. Supaya tidak mendiamkan nya terus-menerus, nampaknya sedikit berhasil dan Laila juga merasa senang.
” Abi Romantis juga ternyata” gumam Laila dan terus mendongak menatap suaminya. Baru satu bungkus siomay, apalagi dihadiahi berlian. Gadis polos seperti Laila yang menerima suaminya apa adanya. Ada yang sering bertanya kenapa Laila mau menerima lamaran Yusuf, kesuciannya belum sempat direnggut. Pria yang lain pun masih bisa menerimanya, dengan semua kekurangan dan sedikit kelebihannya itu. Namun Laila selalu mengatakan..
” Aku bukan maksud menjadi seorang gadis pemilih, hanya saja untuk menuju surga aku butuh kapten yang paham akan jalurnya. Kapten, untuk memimpin ku.” - Laila
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘