21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, alkohol, kata-kata kasar, dan gaya hidup bebas]
Sebuah cinta segitiga yang menghadapkan Kenny Charlotte Cullen pada sebuah kisah yang penuh amarah, nafsu, cinta, tawa, dan tangis dengan dua pria yang benar-benar mencintainya dengan cara yang berbeda.
-Kau adalah kelemahanku-
~Scout Damian Sharp
-Aku bertahan karena tanpamu aku tidak tau bagaimana caranya hidup-
~Harry Julio Smith
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubah Pertama
Happy Reading
****
Kenny POV
Mereka berdua kembali, aku tersenyum canggung. Lolita duduk kembali, tetapi tidak dengan Harry. Suasana benar-benar canggung saudara-saudari. Apakah kedatanganku ke sini benar-benar ide yang baik?
"Maaf, membuatmu menunggu, Ken." ujar Harry ramah dengan senyum manisnya. Oh betapa dulu aku dan gadis-gadis lain sangat tergila-gila padanya.
"Tidak masalah, ini kesesalahanku mengunjungimu secara mendadak...." ujarku dengan senyum bodohku, aku tidak tahan untuk tidak tersenyum lebar saat Lolita tersenyum bodoh juga. "Harry, sweatermu terbalik..." ucapku menyadari pakaian Harry terbalik.
"Aih... Harry, sudah kukatan pakai bajumu bagus tadi... Kau ini..." Tadi? Well... Lolita sekarang dengan senyum kemenangannya. Nah...Dia menunjukkan jati dirinya sebagai rubah sekarang.
Harry buru-buru menggantinya di depan kami, menunjukkan bekas-bekas membiru itu. Dari sudut mataku, aku bisa melihat rubah itu menyeringai. Sialan. Gadis kecil dalam diriku tengah duduk di singgasananya, memegang tongkat baseball dan siap-siap memukul kepalanya.
"Well... Kalian mau apa? Kalian sudah makan siang?" tanya Harry.
"Oh..." tiba-tiba Lolita menepuk tangannya. "Sebelum ke sini, aku ke rumahmu terlebih dahulu. Dan ibumu menitipkan makanan padaku untuk makan siang kita berdua." Dia sengaja memberi penekanan pada kata berdua. Gadis dalam diriku benar-benar marah sekarang.
"Lalu di mana bekalnya?" tanya Harry.
"Aku meninggalkannya di mobil. Aku lupa." dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kami sebelum akhirnya dia membalikkan tubuhnya pada kami. "Oh yeah, aku akan cepat mengambilnya jadi jangan bersenang-senang tanpaku..." lalu secepat kilat dia berlari. Meninggalkan kami berdua. Aku saling bertatapan dengan Harry.
"Well.. Dia memang agak...." Harry memutar jari telunjuk tangan kanannya di kepala.
"Tak apa, ayo kita ke dapur." aku tersenyum dan mengerti maksud perkataannya.
Kami berjalan ke dapur dalam hening, lalu duduk di bar kecil milik Harry. Kami duduk berhadapan.
"Well.. Maaf atas kejadian hari ini.." Harry menggaruk tengkuknya.
"Tidak masalah. Ini salahku berkunjung secara tiba-tiba..."
"Tidak.. Aku jus-....."
"Hey guys...." Lolita sudah muncul dengan nafas terengah-engah, tangan kirinya memegang kantung bekal, dan tangan kanannya memegang dada.
Gila.... Aku melihat sepatu heelsnya... Dia berlari? Dengan sepatu itu? Dia menaruh bekal itu di meja. Lalu melepas heelsnya. Lalu duduk dengan hikmat di samping Harry. Segera wajah lelahnya hilang.
"Kau ikut makan juga?" tanya Lolita.
"Kalau kalian tidak keberatan." ucapku dengan senyum terpaksaku.
"Kau harus ikut makan.." Thank you, Harry
Begitulah, Harry menyiapkan makanan itu pada piring. Aku memakan makananku. Seharusnya ini enak, tapi karena Lolita ini menjadi tidak berasa.
"Ibumu dari dulu benar-benar pintar memasak, Harry. Rasanya tidak berubah." komentar basa basiku membuat Lolita memincingkan matanya padaku.
"Benarkah? Baguslah jika kamu suka"
"Umm... Kenny, kupikir kita pernah bertemu, kau tampak familiar." Lolita menunjuk santai padaku dengan garpunya.
"Yeah.. Ingat kecelakaan beberapa pekan lalu?"
Lalu Lolita menepuk tangannya, mengejutkanku dan Harry. Dia rubah yang tidak terduga.
"Aih.. Harry, ingat rencana kencan kita yang gagal itu? Karena ini aku batal datang." ucapnya seraya mengangguk-anggukkan kepala secara menjengkelkan. Dia tersenyum lebar padaku. Hah... Entah mengapa di balik perkataannya adalah 'Harry, si sialan ini yang membuat kencan kita batal'
"Tapi malah membuat kami makan siang bersama." Aku benar-benar wanita sialan sekarang dengan mengatakan itu. Harry terbatuk dan Lolita menatapku tak percaya. Satu poin untukku nona manis.
"Well. Ternyata benar, setelah musibah akan kesenangan..... Tapi bumi benar-benar sempit yah. Kita bisa bertemu lagi..." ucap Lolita dengan nada penuh kepercayaan dirinya.
"Begitulah...."
"Kegiatan apa yang kau lakukan sekarang, Kenny?" aku berhenti membeku saat ditanya oleh Lolita. Kegiatan? Apa pekerjaanku? Ibu rumah tangga? Kegiatan yang berhubungan dengan rumah tangga pun tak pernah kulakukan. Dulu aku pemusik. Tapi itu dulu sekali, sebelum Scout datang.
Harry segera berdehem keras.
"Kau tak perlu bertanya hal yang tidak perlu pada orang pertama kali kau kenal." ucap Harry.
"Hey... Di negara mana melarang apa kegiatanmu sekarang,hah? Lagi pula itukan hanya basa-basi."
"Well....Aku dulu pemusik dan penulis lepas. Dulu, sekarang tidak lagi setelah...." aku diam lagi.Aku menelan makananku dengan berat "....Menikah.. Begitulah...Haha.." aku tertawa canggung. Sial. Kenapa aku mengatakan pernikahan dengan sedih, harusnya senang.
"Benarkah?Aku tidak menyangka kau sudah menikah. Kupikir karena kau datang ke apartemen pria lajang, kau itu single.." Dia menang dua poin dariku.
"Aku hanya punya sedikit teman, salah satunya Harry, jadi berkunjung sesekali tidak akan menimbulkan masalah..."
Dia mengangguk-angguk paham.
"Aku suka musik, tapi tidak bisa memainkannya. Alat musik apa yang bisa kau mainkan?"
"Cello, piano, guitar, harpa, dan beberapa lainnya. Tapi aku lebih paham harpa dan piano."
"Wah... Kau hebat sekali. Kenapa tidak main musik lagi?" Dia benar-benar penuh omong kosong. Aku curiga dia sudah tau latar belakangku. Dan sengaja menekanku sekarang.
"Lolita, jangan terlalu mengorek. Kau membuatnya tidak nyaman." sela Harry dengan suara kesal yang tidak di tutup-tutupi.
"Kau kenapa, hah? Aku bertanya padanya dan lagian dia tidak bilang dia kesal.. Benarkan, Kenny?"
"Umm... Yeah..." aku merasa panas tiba-tiba. Keringat membasahi punggungku. Aku mengipasi wajahku dengan tangan. Inikan musim dingin. Apa penghangat ruangan Harry tinggi?
"Ken.. Wajahmu memerah" ucap Harry
"Oh... Benarkah?" kenapa ini?
"Oh.. bibirmu bengkak..." lanjut Lolita. Lalu mereka berdua nampak berbayang padaku. Aneh.... Seketika aku sadar saat melihat piringku. Aku membaui piringku. Kacang.
"Kacang!!" Harry meneriakkan pikiranku.
"Apa? Kenapa?" Lolita ikut berteriak
"Kita harus ke rumah sakit...."
Dadaku sesak dan gelap melingkupiku.
****
Saat aku membuka mata, aku melihat atap yang putih, aku berbaring di tempat tidur yang di dorong oleh beberapa orang. Aku tidak bisa mendengar apa pun walau aku yakin mereka meneriakiku. Aku linglung.
Aku menoleh ke sebelah kiri, sesaat aku melihat bayangan Scout. Hanya sesaat, tapi aku yakin itu dia. Setelahnya,semua kembali gelap.
****
Scout POV
Aku keluar dari kamar Jenn. Dan pergi ke meja resepsionis untuk mengurus biaya perawatan Jenn. Hari ini aku akan pulang. Terutama mengingat kejadian kemarin, aku meninggalkan Kenny. Padahal saat itu dia memakai cincin itu.
Sial, tidak seharusnya aku bertindak seperti itu dan seharusnya aku mengabari dia. Tapi keadaan kemarin begitu genting. Setelah mengurus ini, aku akan pulang.
"Semua biayanya $35.000, Sir." ucap perawat padaku dan lalu aku memberi kartu kreditku. Aku merasakan getaran di kantong. Sarah. Aku menerima panggilan seraya membelakangi resepsionist.
"Mr.Scout... Mrs. Kenny mengalami sedikit kecelakaan" detik di mana Sarah mengatakannya dan bersamaan itu pula mataku bertemu dengan Kenny.
****
MrsFox