Berawal dari kebohongan yang Hana ciptakan dengan mengaku-ngaku jika Dika adalah kekasihnya, membuat hidup Dika yang awalnya datar berubah menjadi bewarna.
Kebohongan yang diciptakan Hana pun membuat seorang Dika yang terkenal dingin dan kaku terjebak dalam cinta Hana. Rasa cinta pun mengalir begitu saja di hati mereka dan membuat mereka menjalin hubungan hingga tiga tahun lamanya.
Namun akhirnya hubungan yang mereka jalin pun putus begitu saja setelah Hana membuat kebohongan yang baru dan hilang begitu saja.
Enam tahun kemudian Dika dan Hana pun kembali dipertemukan dalam status yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Hingga suatu insiden membuat mereka harus terjebak dalam pernikahan yang kembali mengikat cinta mereka yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan pagi itu
"Lagi pula kenapa kau berjalan mengendap-ngendap seperti seorang pencuri saja." Cibir Amel.
Mendengar ucapan Amel, Hana pun kembali teringat dengan niatnya yang ingin menguping pembicaraan dua orang di belakang pohon besar yang ada di depannya.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Amel, Hana pun kembali berjalan mendekat ke arah pohon. Namun nasib baik tidak berpihak kepadanya sebab ia tak lagi mendengarkan percakapan dua orang itu sebab mereka sudah pergi meninggalkan area parkiran.
Hana pun membalikkan tubuhnya dan menatap tajam pada Amel. "Ini semua karena kau! Jika saja kau tidak menghalangi jalanku, aku akan tahu siapa yang sedang berbicara di belakang pohon ini!" Amuk Hana memukul lengan Amel.
"Hana. Kau ini apa-apaan? Kenapa tiba-tiba saja menyalahkanku!" Amel yang merasa tak terima disalahkan dan dipukul pun membalas dengan mencubit lengan Hana.
"Amel!" Hana memekik kesakitan.
"Lagi pula kau itu sembarang saja memukul lenganku dan menyalahkanku tanpa sebab!" Gerutu Amel.
Hana mendengus. "Apa kau tahu jika tadi aku mau menguping pembicaraan seseorang di belakang pohon ini!" Tunjuk Hana kepada pohon besar di depannya.
Amel menggelengkan kepalanya. "Mana aku tahu. Lagi pula kau seperti tidak memiliki pekerjaan lain saja hingga repot-repot menguping pembicaraan orang lain." Balas Amel.
Lidah Hana berdecak. Rasanya ia sungguh malas menanggapi ucapan Amel dengan mengatakan jika tadi ia sempat mendengar suara pria yang tidak asing di telingannya.
"Sudahlah. Aku ingin mengambil dompetku." Ucap Hana lalu berjalan ke arah motornya.
"Hana... tunggu dulu..." Amel pun mengejar langkah Hana.
"Ada apa lagi, Amel? Kau ini sungguh membuatku naik darah, ya!" Gerutu Hana.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk mengambil kotak bekalku yang ada di dalam jok motormu." Ucap Amel.
"Kau hanya ingin mengatakan itu hingga repot-repot mengejarku ke parkiran?" Tanya Hana yang diangguki oleh Amel.
"Amel... Amel." Hana semakin dibuat kesal dengan karena niat tidak penting Amel membuatnya kehilangan jejak siapakah pria yang sedang berbicara di balik pohon besar tadi.
*
Suara alaram yang terdengar memekakkan telinga pagi itu berhasil membangunkan Hana dari tidurnya. "Huh, sudah jam berapa ini?" Gumam Hana sambil menatap jam di dinding kamarnya. Melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, Hana pun segera turun dari ranjang lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Mama dan Papa sering sekali menginap di rumah Nenek akhir-akhir ini. Untung saja aku sudah bisa bangun pagi karena alaram sehingga tidak terlambat." Ucap Hana sambil memoleskan bedak di wajahnya.
Pagi itu Hana pun berangkat menuju kampusnya dengan membawa motor lebih santai sebab ia berangkat lebih awal. Di tengah perjalan, Hana tiba-tibateringat dengan kejadian kemarin saat ia mendengar suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya.
"Aku rasa aku tidak salah dengar. Suara orang itu memang sangat mirip dengan suara Kak Hans." Ucap Hana dalam hati. "Tapi siapa wanita itu? Kenapa dia berbicara tidak terima diputuskan?" Hana pun larut dalam pemikirannya.
Beberapa menit berlalu, motor Hana pun telah sampai di parkiran kampus. Tanpa merasakan firasat buruk apa pun, Hana pun segera melangkah menuju ruangan kelasnya.
Baru saja selangkah kakinya masuk ke dalam kelas, wajah Hana pun sudah dihadiahi dengan siraman air hingga membuat bajunya turut basah.
"Oh, ternyata ini wanita yang sudah membuat Hans memutuskanku begitu saja!" Cecar seorang wanita yang telah menyiram air di wajah Hana sambil menunjuk wajah Hana dengan tatapan berang.
***
Lanjut?
Berikan dukungnnya dalam bentuk vote, komen dan likenya dulu yuk.