NovelToon NovelToon
Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / Berubah manjadi cantik / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Na_Les

Belvania, gadis desa yang selalu di bully karena penampilannya yang udik. Tapi ketika dirinya sudah glowing, maka disitulah pembalasan pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# 16. Otot Bams Mengalihkan Dunia Belva

Tiga bulan kemudian.

Tak terasa sudah tiga bulan Belva menjadi sekretaris Bams. Dan selama tiga bulan itu, Bams melihat keakraban mama nya dan Belva lewat video call, karena Nyonya Kalina sudah kembali menemani Tuan Simeon perjalanan bisnis.

Tiap hari bersama, baik pergi bekerja, disaat bekerja dan pulang bekerja, membuat benih-benih cinta Bams mulai bertunas dalam hati. Tapi sayangnya Bams orang yang sangat menjunjung tinggi nilai kegengsian.

Pagi ini seperti pagi biasanya. Belva datang ke unit apartemen Bams untuk membangunkan Bams, menyiapkan pakaian kerja dan menyiapkan sarapan.

Dan setiap pagi juga tekanan darah Belva naik karena membangunkan Bams yang sangat susah di bangunkan.

"Kak Bams banguuuuuun!!!!" Teriak Belva dengan bantuan toa.

Karena Bams yang sangat susah di bangunkan, Belva pun berinisiatif membangunkan Bams memakai toa. Dan itu sangat efektif, buktinya Bams langsung bangun dan terduduk.

"Astaga Belva!!!!! Kamu mau bikin aku sakit jantung, hah?!" Bentak Bams.

"Makanya jangan susah di bangunin!!!" Balas Belva masih dengan memakai toa nya. Sepertinya pagi-pagi Belva sudah ngajak ribut.

"Belvaaaaa!!!" Teriak Bams geram. Bams pun turun dari ranjang dan hendak mengejar Belva. Tau Bams akan mengejarnya, Belva pun cepat-cepat kabur dan keluar dari kamar Bams dan turun ke dapur.

"Haish anak itu, makin lama makin berani saja!!" Dumel Bams. Ia tak melanjutkan mengejar Belva dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi.

Di dapur.

"Berguna juga ini toa!" Ucap Belva senang. Mulai sekarang tekanan darah Belva terjaga dengan baik. Tapi sayangnya, tekanan darah Bams lah yang akan naik setiap pagi karena ulah Belva.

Belva pun mulai menyiapkan sarapan untuk Bams dan untuknya, pikir Belva buat apa membuat sarapan di apartemennya toh di apartemen Bams, Belva juga akan membuat sarapan. Sarapan kali ini, Belva membuatkan nasi goreng kesukaan Bams.

Kini nasi goreng kesukaan Bams sudah selesai dan tinggal di hidangkan di meja makan.

"Bel... Belva..." teriak Bams dari lantai dua kamarnya.

"Apa?" Balas Belva tak kalah berteriak.

"Belvaaaaaa!!" Teriak Bams sekali lagi.

"Haish, apaan sih!!!" Geram Belva.

Belva pun meninggalkan nasi goreng yang belum sempat ia pindahkan ke piring dan berjalan keluar dari dapur lalu menapaki anak tangga untuk menuju kamar Bams.

"Apaan sih kak?!" Teriak Belva kesal sambil membuka pintu kamar Bams.

Mata Belva membulat sempurna saat membuka pintu kamar Bams. Karena saat ini Bams hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya dan sedang berdiri di depan cermin. Entah Belva harus bersyukur dengan penampakan Bams yang seperti itu atau malah harus mandi disinfektan agar virus-virus mesum tidak sampai menggerogoti pikirannya.

Belva memutar tubuhnya membelakangi Bams.

"Ada apa panggil-panggil?" Tanya Belva gugup.

"Pakaian kerja aku mana?" Tanya Bams.

"Astaga. Maaf, aku lupa." Jawab Belva.

Belva pun cepat-cepat berlari masuk ke dalam ruang ganti untuk menyiapkan pakaian kerja Bams.

Bams mengernyitkan keningnya bingung melihat tingkah Belva yang aneh. Tak lama Bams tersenyum licik karena ia tau apa yang membuat Belva bertingkah aneh seperti itu.

Bams pun berjalan menuju ruang ganti dan berdiri di depan pintu ruang ganti itu. Dengan satu tangan yang berpegangan di kusen pintu dan satu tangannya lagi ia letakkan di pinggang. Bams sengaja membuat gaya seperti model di majalah pria dewasa yang memamerkan otot lengan, otot dada dan otot perutnya agar Belva semakin grogi.

"Mana?" Tanya Bams dengan suara yang dia buat se eksotis mungkin.

Sontak Belva menoleh.

Baru beberapa detik menoleh, Belva langsung memutar tubuhnya dan membelakangi Bams.

Bams tersenyum senang, akhirnya pagi ini dirinya bisa juga membalas cara Belva yang membangunkannya dengan toa.

Bams berjalan mendekati Belva.

"Ekhem." Belva berdehem untuk menetralkan kegugupannya saat mendengar langkah kaki Bams yang mendekatinya.

Makin Bams mendekat ke arahnya, Belva semakin pura-pura sibuk memilah-milih kemeja yang akan dipakai Bams.

"Kayaknya aku pengen make yang ini deh." Ucap Bams tepat di belakang Belva dengan satu tangan yang memegang daun pintu dan tangan lainnya mengambil kemeja yang tergantung di dalam lemari.

Degup jantung Belva makin tak beraturan karena aroma maskulin yang menguar dari tubuh Bams begitu menusuk di indra penciumannya dan membuat indra perasanya makin bergelora.

Belva mendorong tubuh Bams agar bisa keluar dari lingkaran aroma maskulin yang menguar dari tubuh Bams.

"Kalau mau pilih sendiri, kenapa harus teriak-teriak manggil aku sih!!" Omel Belva dengan wajah ketus.

"Habisnya kamu lama." Jawab Bams.

"Cih...!!" Decih Belva sambil memutar bola matanya malas.

"Pilih aja sendiri pakaiannya kalau gitu!!!" Ucap Belva lagi, lalu berjalan keluar dari ruang ganti dengan terburu-buru.

BRAK. Belva menutup pintu kamar Bams kasar.

"Huh.. huh.. huh.." Belva mengatur nafasnya di depan pintu kamar Bams.

"Ayo jantung kembali normal, kembali normal." Ucap Belva lagi pada jantungnya yang berdegup tidak normal.

Sedangkan di dalam kamar, begitu mendengar Belva menutup pintu kamarnya kasar, Bams langsung tertawa terbahak-bahak sampai handuk yang melilit di pinggangnya melorot. Untung saja Belva sudah keluar dari ruang ganti itu, kalau tidak sudah di pastikan Belva akan merendam matanya dengan cairan disinfektan.

Puas tertawa sampai handuk melorot, Bams pun memakai pakaian kerjanya.

Setelah kemeja dan celana formal sudah menempel di tubuhnya, Bams pun memilih dasi dan jam tangan untuk dia pakai.

Saat sedang memilih jam tangan, tiba-tiba Bams teringat akan jam tangan yang Belva berikan padanya empat tahun lalu. Jam tangan yang tidak sempat ia kembalikan pada Belva karena waktu itu Belva langsung pergi meninggalkannya.

Bams berjalan keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju nakas yang ada disamping tempat tidurnya. Ia membuka laci nakas itu dan mengambil kotak jam tangan yang Belva berikan. Jam tangan beserta kotaknya masih terpita dengan rapih dan masih Bams simpan dengan baik. Dulu Bams terpaksa menyimpan jam tangan pemberian Belva karena Belva terlanjur pergi ke luar negri dan niatnya akan mengembalikan jam tangan itu jika ia bertemu lagi dengan Belva.

Tapi niat itu entah kemana perginya, sekarang malah Bams ingin mengenakan jam tangan pemberian Belva itu.

***

Setelah selesai memakai pakaian kerjanya, Bams pun keluar dari dalam kamarnya dan turun ke lantai bawah dan melangkahkan kakinya menuju ruang makan dimana Belva sudah menunggunya disana.

"Apa sarapan hari ini?" Tanya Bams.

"Nasi goreng." Jawab Belva datar.

"Cepat makan, nanti kita telat." Kata Belva lagi ketus.

"Cih..." decih Bams.

"Disini yang bos nya siapa, kenapa jadi kamu yang kasih perintah." Balas Bams.

"Kalau di kantor, anda bos saya, tapi kalau masih di apartemen, saya yang atur anda!!" Balas Belva tak mau kalah.

Bams memutar bola matanya malas.

Tak ingin berdebat karena nasi goreng buatan Belva sudah meronta-ronta minta di lahap, Bams pun menyendok kan sesendok nasi goreng yang sudah Belva sajikan di piring ke dalam mulutnya.

Mata Belva salah fokus saat melihat Bams menyendok kan nasi goreng ke dalam mulutnya.

"Jam tangan itu...." gumam Belva dalam hati.

"Kenapa, kok bengong? Tadi nyuruh cepet makan, sekarang malah kamu yang bengong." Tegur Bams.

Belva pun tersadar dari lamunannya saat Bams menegurnya. Ia pun memulai sarapannya dengan mata yang tak henti memperhatikan jam tangan yang Bams kenakan. Antara percaya tidak percaya dengan jam tangan yang Bams kenakan, apakah itu jam tangan pemberiannya dulu atau memang hanya mirip saja.

Bersambung...

1
@ni
👍👍
Firgi Septia
curiga si Celia bukan anak kandung om Tora dan Tante Monika tp anak kandung Monika dan selingkuhannya/Puke//Puke/ soalnya sifatnya sama2 jalang seperti ibu kandungnya
Lala Ripss
cerita nya konyol nga jelas, tokoh perempuan nya oon dah nga bisa bela diri
Imma Juhamzah
udah dari luar negeri 4 taon tapi gobloknya masih dipelihara
Wahyu Kasep: gwa juga heran
bodoh nya gak ilang "
total 1 replies
Imma Juhamzah
ngapain marah kalo ditolak udah jadi resiko tuh, bukannya bli skin care mlh bli hadia hadew
Asih Sulastri
Luar biasa
Asih Sulastri
Lumayan
Muji Erawati
seru
Een Nuraeni
ibu mertua datang yeeeeerees
banis
bagus
Sri Wahyuni
👍👍👍👍💪💪💪💪💐💐🌼🌼🌻🌷🌻💗
kimiatie
bodoh tak pandai habis...bawaan lahir Kali🤦🤦
Sinta anti
masa sih ka orng hamil operasi sesar bkl ngalamn skit punggung sma menggigil.emang sih sya dah 2 kli operasi sesar suka skit punggung n suka mengigil jga
Revi Ani
sekolah di mana sebulan sejuta mehong bener....😱😱😱😱
Rika Fitria
Luar biasa
Wulanda Ciiee Harahap
bagus
sherly
baju yg di apartemen yg di LN ngk dibw gt... Trus disana emang ngk ada beli baju ? bukannya dikasi kartu...
Wahyu Kasep: kan Belva bodohnya di luar prediksi BMKG
total 1 replies
sherly
ngk perlu juga, yg kamu perlu percaya diri, dan oon nya di buang ke laut bila perlu ke dasarnya... wih Belva kamu sarjana Lo tp kok kayak anak SMP lag
sherly
oon banget bahkan kebangetan... masa dah jauh merantau balik ke negara sendiri malah kembali ke titik awal lagi dibully dah gt ngk punya rasa pede lagi...
sherly
knp tinggal disana lg, hrs balik dr luar negri dan masuk kerja di perusahan Simone Trus tinggal di apartemen, sama aja ini mah dibully juga balik dr LN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!