Area 21, bijaklah dalam memilih bacaan !!!
Pikiran liarku, sering membayangkan jika aku berhubungan dengan pelayan baru kami, Melani. bahkan aku selalu mencuri-curi pandang ke bokongnya yang terlihat sangat montok menggairahkan, buah dadanya yang besar, membuat aku sering berfantasi liar, jika menikmati kedua benda itu, yang selama ini tidak aku dapati pada istri ku Sinta.
Aku langsung menuju kantor untuk bekerja, namun aku sama sekali tidak bisa fokus bekerja. malah aku berfikir "Jika aku kembali pulang dan meminta Melani untuk memuaskan aku diranjang, dia bakal nolak ngak ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian ku dengan Lani
“Aku harus kuat, sampai benar-benar menemukan bukti tentang kecurigaan ku ini, pantang bagiku untuk mengeluarkan air mata. apalagi intuk penghianat seperti mu mas.” Gumam ku dan kembali berwudhu mengadu pada yang di atas agar aku selalu diberi petunjuk dan perlindungan dari orang-orang yang sudah mendzalimi diriku.
“Ya Allah, ampuni hamba. Jika kecurigaan ini tidak beralasan, tapi jika benar tolong lindungi aku dari mereka.” Gumam Sinta.
Selesai sholat, aku berjalan mendekati mas Dani, dia tidur sangat pulas, kupandangi wajah laki-laki yang sudah beberapa tahun ini menemaniku, nampak dia begitu kelelahan. sehingga dia tidak perduli dan mengetahui jika aku diam-diam mengambil ponselnya.
"Astaghfirullah, mas Dani sekarang sudah mengunci HP nya. padahal selama ini dia tidak pernah seperti ini. dia selalu terbuka, bahkan tidak mempermasalahkan sama sekali jika aku membuka hpnya, begutu juga sebalik nya. tapi sekarang pelan namun pasti, semakin hari aku merasa perubahan mas Dani terlihat, dan kecurigaan ini pun terus membuatku resah."
Siang ini, Sinta mulai gerah melihat gaya berpakaian Lani, celana yang begitu ketat bahkan sangat terlihat jelas belahan pahanya. dia tidak mempunyai malu memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.
“Bi jah, aku mulai kesal dan ngak suka sama Lani, padahal awal dia bekerja dulu, aku sangat menyayanginya. tapi semakim lama sikapnya mulai ngelunjak, bahkan Dia tidak mau mendengarkan apapun perkataan dan nasehat dariku, sekarang aku mulai tidak menyukai nya sama sekali. ditambah lagi sikap suamiku yang membela pelayan yang seperti kacang lupa kulitnya itu.” Ucap ku pada Bi jah juru masak dirumah ku, sedangkan untuk bersih-bersih bagian Lani.
“Iya, sok kecantikan juga. Bibi juga mukai benci sama dia.”
“Aku seperti nya harus bertindak tegas, sebelum perbuatan nya menjadi-jadi. bahkan pekerjaan Lani dirumah ini tidak ada satupun yang beres, dia sekarang lebih sering bersantai dan mendadani wajahnya."
"Iya Bu, berlagak seperti Tuan Putri lagi, padahal nyonya saja tidak pernah seperti ini."
Aku yang semakin kesal, langsung memangil Lani, mungkin sudah saatnya bagiku untuk bertindak tegas.
“Lani sini kamu.”
“Ada apa sih Bu.”
Dengan nada ketus Lani berjalan mendekati ku, seolah-olah aku ini adalah pelayan nya.
“Lani, kamu niat kerja Ngak sih dirumah ini!”
“Maksud ibu,” jawabnya sinis sambil memperhatikan kuku jarinya.
“Sudah berapa kali aku ingatkan cara berpakaian mu, tapi kamu malah menjadi-jadi, sekarang pekerjaan mu saja berantakan. Baju-baju belum dicuci, termasuk setrikaan mu yang sudah menumpuk.” aku mulai meninggi kan volme nada suaraku.
“Aku capek bu, dan belum sempat mengerjakan nya. lagian ibu juga ngak ada kerjaan, apa susahnya sih bantu-bantu aku ngerjain nya." balasnya.
"Apa kamu sadar dengan statusmu, dan apa yang kamu ucapkan barusan, hey ingat. dirumahku ini status kamu hanya pembantu tidak kebih, dan aku majikan mu."
"Aku tahu, tapi aku sudah bilang aku capek dan belum sempat. ibu masih saja ngeyel."
“Itu bukan alasan, karena disini kamu bekerja untuk itu, “ aku mulai naik darah melihat sikap Lani yang sengaja memancing emosiku.
“Ya...ya...ntar aku kerjain.”
“Satu lagi, jika kamu masih mau bekerja, tolong pakaian mu yang kekurangan bahan itu dibuang semuanya.”
“Tidak bisa, Bu. Aku membelinya dengan uangku sendiri, jadi ibu tidak bisa seenaknya saja memintaku untuk membuangnya. Dan lagian ini pakaian mode zaman sekarang. Tidak seperti pakaian ini yang seperti emak-emak.”
“Apa, berani sekali kamu melawan ku.”
Tanpa sadar kemarahan ku yang sudah memuncak, langsung aku tarik rambut Lani, tubuhnya ambruk. aku naik memukul kedua pipinya dengan kasar, meluapkan kemarahan dan kekesalan ku, Lani juga tidak tinggal diam, dia berhasil menarik kuat rambutku. Bi jah dan suaminya langsung datang dan melerai kami.
“Ha...ha...jika takut suaminya tergoda wanita lain, makanya jangan norak dan sok alim.” Ledek Lani kearah ku, meskipun penampilannya sekarang sudah seperti suster ngesot kehilangan sisir.
"Aku tidak takut, tapi aku gerah melihat sikap mu. yang sengaja memancing birahi laki-laki itu."
Kemaranku yang belum reda, kembali aku tarik dan dorong tubuhnya, tendangan keras ku layangkan ketubuhnya, meskipun dia melawan namun tenaganya kalah banyak dari ku.
“Sudah Bu Sinta, Lani bisa celaka, dan ibu dipenjara. kasihan kedua orang tua ibu yang masih sangat membutuhkan ibu."
Perlahan tarikan ku terlepas, tubuhku langsung dipegang Bi jah, sedangkan suaminya langsung menghubungi suamiku mas Dani.
Dani yang sedang bersemangat bekerja, ibarat baterai yang sudah terisi penuh. Menghentikan pekerjaannya ketika ponselnya berdering dari telpon rumahnya.
“Hallo Tuan, ini aku mang Ujang.”
“Ya ada apa?”
apa nti ada season 2 kah ??
Lanjuut tor,, semangaatt..