Spin off Kawin Lari & Langit Jingga
Kegagalannya dalam menjalin hubungan dengan seorang gadis, membawanya ke dalam keterpurukan yang terasa menyakitkan.
Demi ambisi dan egonya dalam meneruskan perusahaan keluarga yang sedang berkembang pesat, dia menyia-nyiakan cinta seorang gadis yang selama dua tahun selalu menunggunya kembali. Dan pada akhirnya dia benar-benar harus melepaskan cintanya pergi.
Pertemuannya dengan gadis lain yang merupakan anak dari teman bisnis orang tuanya, membawanya kembali terhanyut akan ambisi nya yang sempat tertunda.
Hingga perjanjian itu pun muncul di kepalanya dan di setujui oleh gadis bermata indah itu, demi keuntungan kedua belah pihak.
Akankah perjanjian itu berubah menjadi cerita indah antara mereka berdua? Ikuti kisahnya di karya ke enam Chida.
Enjoy reading 😘
update santai ya, kalo khilaf bisa sampe 1 minggu full up🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bromo Pagi Itu
"Kalian darimana?" tanya Bima yang baru saja keluar dari toilet, tanpa sengaja bertemu dengan Raka dan Azzura.
"Itu ... dari—" Azzura tergagap.
"Makan," jawab Raka santai lalu perlahan melepaskan tangan Azzura yang berada di belakangnya. "Azzura lapar, jadi kita ke restorasi karena pramuniaga nya udah nggak lewat lagi," jelas Raka.
"Oh ... kenapa nggak bangunin aku?"
"Kamu di bangunin nggak gerak-gerak," seloroh Azzura lalu pergi dari tempat mereka berdiri.
Raka hanya mengangkat kedua bahunya, lalu ikut pergi meninggalkan Bima yang berdiri terpaku di ambang pintu masuk gerbong.
Raka kembali memasang handsfree nya, melirik sekilas ke arah Azzura yang sudah menutup wajahnya dengan sehelai scarf bermotif abstrak. Raka hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.
Perjalanan dengan waktu tempuh kurang lebih 15 jam itu pun akhirnya berhenti di tempat tujuan. Tepat pukul setengah delapan pagi mereka tiba di Malang. Mengendarai mobil yang Raka pinjam dari seorang teman, mereka menuju hotel.
"Sayang, kamu sibuk banget daritadi balesin chat," ujar Azzura pada Bima yang duduk menemani Raka di kursi kemudi.
"Ada kerjaan, Sayang."
"Kan kita mau liburan, bisa kali di pending dulu," kata Azzura kesal, menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Iya, sebentar ya," ucap Bima lembut. "Ka, kita nginep di hotel mana?" tanyanya pada Raka.
"Ada salah satu rekomendasi hotel yang pernah aku kunjungi."
"Oh, sering dong ke Bromo?"
"Beberapa kali aja," jawab Raka.
"Raka itu suka fotografi juga, jadi sering cari spot foto," ujar Azzura.
"Dulu, tapi dua tahun belakangan sudah nggak pernah," ujar Raka.
"Sibuk sih, sampe pacarnya di lupain." Azzura terkekeh.
"Kok tau?" tanya Raka
Raka sekilas menatap Azzura dari kaca spion. Gadis yang tadinya tertawa itu mendadak diam dan membalas tatapan mata Raka.
"Kamu pernah ke sini?" tanya Raka pada Bima.
"Hah? siapa? aku?" Bima tergagap. "E— nggak, baru kali ini," jawab Bima lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Oh, aku kira sudah pernah ... biasanya, cowok-cowok ibukota suka hangout bareng temen-temen, nyari tempat yang asik meskipun nggak harus mendaki gunung kayak yang bakal kita lakuin besok," ujar Raka.
"Ini serius?"
"Iya lah, kita bakal naik ... aku mau hasil jepretan aku kali ini maksimal, rencananya malah aku mau camping," seloroh Azzura.
"Camping?"
"Iya, Bim ... lebih asik kalo camping kata Raka, jadi kita nggak bakal telat liat sunrise, ya kan Ka?" Raka menjawab dengan anggukan perlahan.
Setibanya di hotel, Azzura memesan kamar untuk mereka, Raka mendekati Azzura.
"Pesan dua kamar, Ra ... satu kamar twin bed untuk aku dan Bima," ujar Raka melirik Bima yang berdiri di sebelah Azzura.
"Dua? bukan tiga?" tanya Azzura bingung.
"Dua aja," ujar Raka.
Raka harus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Memegang teguh janjinya pada Langit Kelana, ayah Azzura.
"Ini." Azzura menyodorkan kartu akses pintu masuk ke kamar mereka.
"Ok ... istirahat yang banyak, pagi buta kita bakal ke Bromo biar nggak melewatkan momen matahari terbit, " kata Raka.
"Tengah malam?" tanya Bima.
"Iya, jam setengah tiga, sudah harus siap, karena Jeep yang membawa kita ke Bromo sudah standby," ujar Raka meraih kembali ranselnya lalu berjalan menuju lift.
"Sayang," panggil Bima yang berlari kecil menyamai langkah kaki Azzura. " Kamu serius kita jam setengah tiga pagi pergi naik Jeep?"
"Serius dong, kenapa? kamu pulang clubbing sampe jam empat subuh aja tahan."
"Kok gitu, Ra ... tapi kan aku udah izin sama kamu," ujar Bima menahan tangan Azzura.
"Yang seizin aku, yang enggak seizin aku?"
Tatapan itu begitu dalam mengarah pada netra Bima. Bima hanya bisa menghela nafasnya, lalu melangkah terpisah menuju kamarnya.
****
"Sudah siap?" tanya Raka saat Azzura berjalan mengarah pada mereka yang sudah menunggu di lobby hotel.
"Sudah, ayo," ajak Azzura bersemangat.
Berpakaian lengkap dengan sweater dibalut lagi dengan jaket army dan syal yang melingkar di lehernya, Azzura duduk di kursi penumpang dengan Bima yang berada di sebelahnya.
Perjalanan sekitar dua jam menggunakan Jeep di pagi buta itu begitu sunyi hanya terdengar suara Raka yang berbincang dengan pemandu yang mereka sewa.
"Ra ... bangun," ujar Raka menggoyangkan pundak Azzura. "Bim ... bangun, kita sudah sampai."
"Nanti dari sini kita jalan kaki mendaki ke atas, semoga menikmati perjalanan kita menapak di kaki gunung Bromo, Mas," ujar pemandu mereka.
"Hati-hati, Sayang," ujar Bima menggenggam tangan Azzura erat saat mereka sudah mulai menyusuri kawasan itu.
Disajikan pemandangan indah dengan cahaya yang masih belum begitu terang. Mereka di sambut dengan kawah pasir yang terbentang sepanjang perjalanan pagi buta itu.
Sejauh mata memandang terdapat bangunan bangunan kokoh berdiri di tengah lautan pasir yang merupakan tempat beribadah. Raka berjalan di belakang Azzura, matanya menikmati setiap pemandangan pagi itu.
Sinar sang Surya mulai nampak, warna-warna indah terpantul dari hamparan pasir yang mereka lalui. Pasir itu seakan berbisik kala angin pagi berhembus, ketenangan itu begitu terasa. Azzura mendadak menghentikan langkahnya, melepaskan kamera yang melingkar di lehernya.
Satu bidikan kamera dia dapatkan ketika matahari mulai muncul seutuhnya dari ufuk timur. Decak kagum gadis itu serta senyum simpul terukir di wajahnya. Azzura mengarahkan kameranya beberapa kali.
"Aku pinjam," ujar Raka meraih kamera itu.
Raka membidikkan kamera dari sisi yang lain, keindahan Bromo sebuah keajaiban yang luar biasa, kesempatan yang tidak akan pernah dilewatkan untuk mendapatkan momen seperti ini.
"Ra, berdiri di sana," titah Raka. "Pandangan kamu lurus ke depan ya," ujarnya lagi, Azzura mengikuti titah Raka.
"Keren," ujar Azzura saat melihat hasil jepretan Raka.
Pantulan sinar matahari yang mengenai wajahnya dengan latar belakang gunung Bromo, membuat matanya berbinar-binar saat melihat spot foto yang mengagumkan itu.
"Jalan lagi, yuk," seru Bima yang sudah berjalan lebih dulu dari mereka berdua.
"Di sini ada masyarakat yang di sebut suku apa, Ka ... aku lupa."
"Suku Tengger," jawab Raka. "Bangunan yang kita lewati tadi tempat mereka beribadah, nanti pulang dari atas kita bisa mampir ke sana, ayo kita harus bergegas kamu jangan sampai melewatkan keindahan dari atas," ujar Raka meraih tangan Azzura, dan lagi-lagi gadis itu tersenyum tipis saat tangan mereka kembali bertaut.
Menyaksikan keindahan alam di sekitar Bromo merupakan pengalaman yang tak akan Azzura lupakan. Melihat matahari terbit perlahan menampakkan diri dengan sinar yang begitu indah, awan putih sebagai penghiasnya, serta hamparan pasir eksotis berkilauan layaknya berlian yang bertaburan.
Mereka sudah berada di puncak, Azzura berdiri dengan tangan yang berada di saku jaketnya menikmati udara sejuk dan bersih. Diam-diam Raka membidikkan kembali kamera ke arah gadis itu. Namun sayangnya, Bima datang dan melingkarkan tangannya dari balik tubuh Azzura. Raka tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran itu dari benaknya.
Satu cangkir teh hangat mereka nikmati pagi itu, Azzura asyik dengan kameranya dan dengan sengaja dia membidikkan kamera itu ke arah Raka yang sedang berdiri menyesap teh hangat dari cangkir enamel berwarna putih. Sebersit senyum terukir kembali di sudut bibir gadis itu lalu dia melangkah mendekati Raka.
"Ka ...."
"Ya," ucap Raka menoleh pada Azzura.
"Makasih ya ... makasih sudah membawa aku menikmati ini semua," ujar Azzura melepaskan pandangannya ke hamparan kawah di bawah sana.
Raka diam tak menjawab, hanya sudut bibir yang mengembang dengan tatapan mata yang sama mengarah menikmati pemandangan Bromo pagi itu.
**enjoy reading 😘
Gunung Kidul 08.56 wib pagi ini masih hujan deras gaeess, gimana tempat kalian**??
ini udh 2024 lloh hampir 2025, udh lama ga apdate novel baru, semoga KA chida baik2 Ajja ya
konfliknya ringan tapi sweet 🥰