Diana, seorang gadis bisa yang di anggap seorang Wanita malam oleh seorang pria. Gadis yang bahkan belum lama ini ia kenal. Pria bernama Andra Atmaja Wiguna berfikir jika Diana adalah wanita malam yang bahkan tidak memikirkan perasaan orang tuanya.
Tetapi saat Andra tau yang sebenarnya, pria itu malah menyatakan perasaannya dan melamar Diana untuk menjadi istrinya.
Apa yang akan terjadi?
Apakah Seorang CEO dari perusahaan terkenal bisa setia dan mencintai Diana sepenuh hati. Atau ada sesuatu yang membuatnya ingin menikahi Diana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laksmi 93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ungkapan Hati
Diana baru saja menyelesaikan memasaknya di dapur. Gadis itu cukup pandai dalam bidang ini karena memang sejak kecil Diana sudah terbiasa dengan alat dapur.
Diana yang baru keluar dari dapur melihat Rafa tengah duduk bersandar di pinggiran sofa dengan mata terpejam. Pakaian yang Rafa kenakan masih yang tadi karena memang pria itu tidak membawa baju ganti sama sekali.
Diana memalingkan wajahnya lalu naik ke atas. Di kamarnya Diana segera membersihkan tubuhnya yang bau dan kotor sejak dari kebun. Tak lama berselang Diana sudah rapi dan juga wangi.
Diana keluar dari kamarnya, berjalan ke arah pintu sebelah kanan tidak jauh dari kamarnya. Diana membuka kamar itu, didalamnya terpampang jelas foto pernikahan sang Ayah dengan Ibu Diana. Diana tersenyum mendekati foto itu.
Kenangan masa lalu yang indah meski hanya sebentar ia rasakan, tidak akan pernah hilang dalam ingatan Diana.
Tetapi tujuan Diana datang ke kamar itu bukan untuk bersedih. Diana berjalan menuju lemari ayahnya. Disana masih ada beberapa pakaian Ayahnya yang belum sempat terpakai. Masih baru yang jelas.
Diana mengambil satu setel dan di bawa nya turun.
"Ini." ujar Diana sambil mengulurkan pakaian Ayahnya pada Rafa.
Rafa yang sejak tadi memejamkan mata karena lelah kini membuka mata karena suara Diana. Pria itu melihat Diana berdiri di hadapannya dengan tangan berisi sesuatu mengulur ke arahnya.
"Apa Ini?" tanya Rafa mengambil pemberian Diana.
"Itu dulu pakaian Ayah yang belum sempat di pakai." jawab Diana
Rafa menatap Diana Aneh. Diana yang paham maksudnya memperjelas ucapannya.
"Anda tidak mungkin tidur dengan pakaian yang sudah sejak pagi anda kenakan. Apalagi itu sudah kotor dan bau." Rafa meneliti pakaiannya lalu menciumnya.
"Anda boleh memakai pakaian Ayah saya. Itu masih baru kok, jadi anda tidak usah khawatir. saya yakin ukurannya pas dengan anda." Diana ingin berajak pergi, tetapi ia lupa satu hal lalu ia berbalik lagi.
"Oh ya, kamar mandinya ada di atas di sebelah kiri paling ujung, dan di depan kamar mandi ada lemari kaca yang berisi beberapa handuk baru. Anda bisa memakainya. disana juga ada sikat dan sabun baru." ujar Diana lalu pergi lagi ke Dapur.
Rafa menatap punggung Diana yang berlalu meninggalkan nya. Samar Rafa tersenyum memikirkan sesuatu, ia lalu bangkit dan pergi ke atas.
Di atas Rafa melihat tiga pintu berjejer.ia yakin jika pintu pertama itulah kamar mandi. Saat Rafa membukanya, ia melihat itu ternyata sebuah kamar. Rafa menatap foto seorang anak kecil dengan senyum manis sedang di pangku oleh seorang laki-laki yang pastinya itu adalah ayahnya.
Rafa berjalan mendekati foto itu. Tangannya mulai terulur untuk melihat wajah lucu itu lebih dekat. Senyum Rafa mulai mengembang saat melihat betapa cantik dan imut gadis yang ia pandang saat ini.
Rafa memandangi foto Diana kecil. dahinya berkerut saat pandangannya jatuh pada wajah ayah Diana.
"Aku seperti pernah melihat pria ini, tapi dimana ya?" ucap Rafa.
Untuk memastikan sesuatu,Rafa mengambil ponselnya lalu mengambil gambar foto tersebut. Setelah cukup, Rafa bergegas pergi ke kamar mandi agar tidak di curigai Diana.
Setelah selesai mandi Rafa kembali turun. Di bawah Rafa melihat Diana sedang sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Senyum kagum terpancar di wajahnya. Tatapan matanya tidak henti-henti menatap wajah cantik Diana.
"Anda sudah selesai, duduklah kita makan dulu." ucap Diana saat melihat Rafa berdiri di ujung anak tangga.
Rafa berjalan menuju meja makan, sementara Diana tengah mengambil piring untuk mereka. Diana melayani Rafa seperti melayani ayahnya. Mengambilkan Nasi, lauk dan lainnya.
"Kau sudah sangat cocok menjadi seorang istri. " ucap Rafa tiba-tiba.
uhukkk....
Diana tersedak air liurnya karena ucapan Rafa.
"Kau tidak apa-apa? " tanya Rafa sambil menyodorkan air.
Diana menerima air itu lalu segera meminumnya. Setelah selesai Diana meletakan gelas itu dengan kasar lalu menatap Rafa dengan tajam.
"Jangan bicara sembarangan. Aku belum mau menikah. " ucap Diana dengan nada kesal.
"Kenapa? " Tanya Rafa serius.
Diana menarik kursi lalu duduk. "tidak ingin saja. Soalnya jadi istri itu repot, ya kalau dapat suami yang baik dan bertanggung jawab. Kalau dapetnya yang suka main tangan terus gak ngasi nafkah gimana. Definisi salah pilih suami dong. " jawab Diana.
setelah menjawab pertanyaan Rafa, Diana lantas mengambil nasi juga lauk untuk dirinya.
"Kalau sebaliknya? " tanya Rafa
"Apanya yang sebaliknya? "
"Kalau kau mendapatkan pria yang baik dan bertanggung jawab. Apa kau mau menikah? "
Diana menggelengkan kepalanya lagi. "Tetap tidak. Soalnya aku belum ingin menjadi istri. " jawabnya dengan yakin.
Rafa menghela nafas, ia tidak bertanya lagi dan langsung melahap makanan yang sudah tersaji untuknya. Beberpa menit kemudian makanan yang awalnya di meja kini telah berpindah ke perut mereka.
"masakanmu Enak, saya sangat kenyang." ucap Rafa.
Diana hanya tersenyum mendengar ucapan Rafa. gadis itu lantas membereskan piring kotor Yanga da di meja makan.
"Ana." panggil Rafa. Ini pertama kalinya Rafa memanggil Diana dengan nama belakangnya. membuat Diana menoleh.
"Anda memanggil saya? " tanya Diana yang merasa itu namanya
"Iya. bolehkan saya meminta kopi?" tanya Rafa.
"Hmm. Tunggu saja di ruang tengah, saya akan buatkan." jawab Diana.
Rafa mengangguk.sebelum pria itu pergi,ia membantu Diana membersihkan sisa piring yang ada di meja. Diana tidak melarang, ia membiarkan saja karena itu hal positif bagi Diana.
Setengah jam kemudian Diana membawa secangkir kopi untuk Rafa. Diana meletakan kopi itu di atas meja.
"Terimakasaih." ucap Rafa
" tidak masalah. Hanya secangkir kopi." ucap Diana.
Rafa meminum kopi yang di buatkan Diana. Tidak ada perbincangan setelah itu, mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Sampai Rafa berdeham kecil untuk mencair kan suasana yang ada.
"Ana, Maaf jika kehadiran saya disini membuat kamu tidak nyaman." ucap Rafa memulai percakapan.
Diana mengalihkan pandangannya ke arah Rafa.. "Ya, tidak masalah. Tapi saya tidak bisa membiarkan anda terlalu lama disini. Karena ini di desa. Kebiasaan disini jauh berbeda dengan apa yang ada di kota. saya juga tidak enak dengan tetangga yang ada di desa ini." ucap Diana
"Ya, saya tau jika saya salah karena sudah memaksa untuk tinggal disini. Tetapi saya hanya ingin membicarakan sesuatu."
Diana mengangguk, ia mengerti itu.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas apa yang saya katakan beberapa hari lalu. Saya tahu saya keterlaluan saat itu. Seharusnya saya tidak meragukan karakter kamu sebagai seorang wanita." ucap Rafa
"Saya sudah memaafkan Kakak. Saya tahu sebagai seorang kakak, kak Rafa pasti ingin melindungi Kanaya dari keburukan.Yah anggap saja ini sebuah pelayan untuk kakak agar tidak terlalu memandang rendah orang lain. " ucap Diana.
"Untuk itu saya benar-benar minta maaf. Tapi Boelan saya jujur kepamu Diana. "
"Jujur? tentang apa? " tanya Diana.
"sejak awal kita bertemu, sebenarnya saya mempunyai perasaan kepada kamu. tetapi saya menyangkal perasaan saya karena merasa kamu dan saya berbeda. Saat saya mendengar kamu menghilang, saya sangat merasa bersalah. saya merasa kehilangan sesuatu dalam diri saya. Dan hari ini saat saya bersama kamu, saya sadar. Saya mencintai kamu Diana. "
Diana diam, dia tidak percaya jika kakak sahabatnya tengah mengutarakan isi hatinya. Diana tidak tahu harus merespon seperti apa. sampai saat dimana Rafa meraih tangan Diana hingga membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Ka_kak Ma_u apa?" tanya Diana gugup
"Diana, saya ingin melamar kamu menjadi istri saya." ucap Rafa dengan yakin
Kali ini Diana benar-benar syok, ia tidak tau harus berkata apa. Diana ingin menjawab, tapi rasanya lidahnya kelu.
"Astaga, kenapa jadi seperti ini." batin Diana.
"Diana, kamu dengar kakak?" tanya Rafa saat melihat Diana hanya Diam.
"Diana." panggil Rafa lagi saat Diana tidak kunjung merespon
"Ya, saya dengar. tapi_" Diana menggantung kalimatnya hingga membuat Rafa penasaran.
"Tapi apa Diana? " tanya Andra
"Saya tidak bisa kak. Saya merasa tidak pantas." ucap Diana
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan Diana. Kau boleh memikirkan nya. Kakak akn menunggu sampai kau tahu jawabannya." ucap Rafa.
Diana diam. Dia tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Hanya saja Diana takut jika Kan ya mengira dirinya sengaja memanfaatkan persahabatan mereka untuk memikat kakaknya. Diana tidak ingin kehilangan persahabatan mereka hanya karena cinta.
"Kakak sungguh akan menginap disini? " tanya Diana
"Kalau kamu tidak keberatan. besok kakak akan meminta Divo menjemput kakak "
Diana mengangguk, ia lantas permisi untuk membersihkan kamar yang ada di bawah. Setelah semua beres ia mempersilahkan Rafa untuk beristirahat.
__
Malam pun tiba.di dalam kamar Diana merebahkan tubuhnya, mencoba untuk memejamkan mata yang sudah sangat lelah. Tetapi entah kenapa matanya tidak mau terpejam. pernyataan Cinta mendadak Rafa membuat Diana tidak bisa tidur.
Diana menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Diana tidak ingin memikirkan ini dulu. dia akan memutuskannya setelah tau apa maksud Andra sebenarnya. Diana yang memang sudah mengantuk kembali mencoba memejamkan matanya. Dan Diana pun terlelap.
Di dalam gelapnya malam terlihat sebuah sinar putih yang begitu terang. Diana berjalan ke arah sinar itu, seperti nyata Diana mencoba masuk kesan.
"Diana melihat keindahan nyata yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya. Sebuah hamparan taman yang begitu luas terdapat berbagai macam bunga yang indah. Ayahnya pernah bercerita jika Ibunya sangat ingin memiliki taman bunga yang luas. berbagai macan bunga ingin ibunya miliki.
Diana tersenyum mengingat semua itu, matanya menelusuri setiap sudut taman. Saat embusan angin terasa, Diana merentangkan tangan menikmati sejuknya surga Dunia yang entah itu nyata atau hanya sebuah hayalan.
Diana berputar bahagia memanggil nama Ayah dan Ibunya yang sudah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi cinta dan kasih sayang, tetapi Diana tetap bisa merasakan kehadiran mereka meski tak bisa di dekap.
Saat Diana mulai lelah ia menjatuhkan tubuhnya di atas rumput. Deru nafas Diana terdengar memburu.meski Diana terlihat kuat, sebenarnya gadis itu sangat rapuh. Hatinya menjerit sakit dalam kesendirian. Air mata yang selalu berusaha Diana tahan tidak bisa lagi ia bendung.
Pertahanan Diana runtuh, bahunya bergetar, air matanya mengalir deras. Jika saat ini di depan ada Ayahnya mungkin Diana sudah berlari ke dalam pelukannya.
"Diana."
Diana mendengar Suara yang sudah lama tidak ia dengar. Diana menajamkan pendengaran nya saat suara itu kembali terdengar di telinganya.
"Diana."
Diana mendongak, ia yakin jika suara itu milik Ayahnya.Diana bangkit, melihat Kesekeliling nya.
"Ayah." teriak Diana sambil melihat Kesana- kesini. tapi nihil, Diana tidak melihat siapapun.
"Ayah, hiks." ucap Diana kembali terjatuh.
Tanpa Diana sadari seseorang mendekat ke arahnya. Orang itu berjongkok dan memegang bahu Diana.
Diana yang begitu sedih menoleh dengan lemah, saat ia melihat orang yang memegang bahunya Diana seperti tersihir, Dadanya bergemuruh.Tanpa pikir panjang Diana langsung berhambur kepelukan pria itu.
"Ayah." ucap Diana penuh kerinduan.
"Ayah, hiks Diana rindu ayah." ucap Diana sambil terus menangis
"Diana, dengarkan ayah." Diana mendongak. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis, Anggara benar-benar merasa kasihan lalu mengusap air mata putrinya
"Berhentilah menangis nak. Ayah tidak suka melihat kamu seperti ini." ucap Anggara
"Di- hiks, Diana rindu Ayah." ucap Diana terbata.
Anggara menangkup wajah putrinya dan berkata." Ayah juga merindukanmu nak, tetapi kamu tau sendiri Diana, jika tuhan begitu menyayangi Ayah hingga beliau memanggil Ayah terlebih dulu. Ayah juga sudah bertemu Ibumu, dia sangat bangga memiliki putri yang cantik, tangguh dan baik hati seperti mu. Maaf Diana, Ayah tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Ayah hanya ingin berpesan, bahagialah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Terima apa yang sudah ditakdirkan untukmu, dan Ayah merestui pria itu menjadi pendamping hidupmu."
Setelah mengatakan itu Anggara menghilang begitu saja. Diana bahkan belum sempat mengatakan apa pun.
.
.
Lanjut thor