Vania Maharani terpaksa memutuskan jalinan cintanya dengan Leon Mahardika,kekasih masa SMA nya karena desakan dari Nyonya Laras, mamanya Leon. Keadaan lah yang membuat Vania terpaksa menyetujui kemauan Nyonya Laras dan menjalankan rencana yang membuat Leon sangat membenci Vania.
Hingga 7 tahun berlalu, mereka kembali bertemu namun dengan status yang berbeda. Leon sudah menikah dengan Ziva yang tak lain sahabatnya sejak kecil sekaligus dialah orang yang memberikan ide gila pada Nyonya Laras.
Perusahaan tempat Vania bekerja bangkrut, dan di ambil alih oleh perusahaan Leon. Dan di sanalah penderitaan Vania di mulai.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Vania hingga membuatnya mau menjadi istri siri Leon?
Simak dan ikuti ceritanya.
Jangan lupa dukung Author dengan cara
Like, Coment, Vote, Favorite dan kasih hadiah buat author ya.
Kamsyahamida 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cintya Devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Kedua
Sejenak kedua insan ini melepaskan kerinduan diantara mereka. Sadar jika semua ini salah, Vania langsung merenggangkan pelukannya dengan sedikit dorongan kecil ke tubuh Leon.
"Leon, please jangan bersikap begini. Ingat Leon, kamu sudah punya istri," ucap Vania sembari mengusap air matanya dan segera membuang wajahnya dari hadapan Leon.
"Vania.., lihat aku," Leon kembali menarik dagu gadis yang dia cintai dan menatap sendu netra indah di hadapannya sekarang.
Vania dan Leon saling melempar tatap. Jika saja Leon belum beristri, mungkin Vania tidak akan pernah lagi melepaskan pelukan tadi.
"Vania.., aku tahu dan sadar dengan statusku sekarang, tapi apa kamu lupa dengan apa yang sudah terjadi diantara kita semalam? Apa kamu lupa, jika.."
"STOP LEON!! Berhenti membicarakan tentang kejadian kemarin. Aku sudah berkali-kali berkata kepadamu, lupakan dan anggap semua ini tidak pernah terjadi. Jika kamu terus membahas ini, aku akan keluar dari pekerjaanku! Dan aku pastikan, kamu tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi," cetus Vania.
Deg...
Leon mencengkram erat kedua bahu Vania. Tatapan yang tajam ia berikan kepada Vania. Marah, kecewa dan sedih, hati Leon seolah sedang di aduk seperti adonan yang siap di masak.
"JANGAN PERNAH BERPIKIR SEPERTI ITU, KARENA AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ITU SEMUA TERJADI," gertak Leon dengan nafas naik turun, seperti habis mengelilingi lapangan 10 kali.
Terurai seringai getir di sudut bibir Vania. "Apa hak kamu Leon? Apa urusan kamu mengatur kehidupan pribadiku. Kita ini hanya mantan, bukan lagi pasangan kekasih. Jika kamu terus bersikap seperti ini, aku bukan hanya keluar dari perusahaan tapi aku juga akan...," belum selesai Vania menyelesaikan kalimatnya, Leon segera membungkam bibir ranumnya.
Cup...
Leon menarik kepala Vania, mengecup bibir merah jambu di depannya dengan rakus. Meski Vania berusaha memberontak, namun tenaganya tak sebanding dengan tenang Leon. Dan sekarang, hatinya mulai goyah. Kenapa sekarang ia malah larut dalam permainan lidah Leon.
Entah setan apa yang merasuki Vania hingga mau menanggapi permainan bibir Leon, namun ia hanya ingin mengikuti apa kata hatinya sekarang. Jika kemarin Leon menciumnya karena pengaruh alkohol, tidak untuk sekarang. Keduanya sadar dan melakukannya atas dasar cinta.
"Salahkah aku melakukan semua ini Tuhan? Tapi aku tidak memungkiri, jika aku masih mencintainya. Lagipula, aku dan Leon berpisah bukan karena kehendakku, tapi semua juga karena ulah Ziva dan Nyonya Laras?" batin Vania tengah berperang, ada bisikan tidak namun seakan ada yang berbisik biarkan.
Tok..Tok..Tok...
Terdengar suara ketukan dari jendela luar mobil Leon. Baik Leon dan Vania sama-sama terkejut. Keduanya segera membetulkan posisi duduk mereka, saat melihat Bu Santi sudah berdiri di depan pintu mobil.
"Eh Ibu, ada apa Bu?" tanya Leon dengan santainya. Berbeda dengan Vania, yang warna wajahnya sudah memerah karena malu.
"Gak papa Nak Leon, cuma dari tadi kok kalian belum berangkat. Apa mesin mobilnya ada masalah? Soalnya bentar lagi para tamu pasti akan mulai berdatangan," ucap Bu Santi.
"Oh itu Bu, tadi agak sulit di starter. Tapi kayaknya sekarang udah bisa kok Bu."
"Syukur deh kalau gitu. Tapi perginya jangan lama-lama ya Nak Leon, soalnya Vania kan belum mandi. Ibu masuk dulu ya. Ingat Vania, cepat pulang."
"Iya Bu," jawab Leon dan Vania bersamaan.
Setelah kepergian Bu Santi, Leon pun bersiap menyalakan mesin mobilnya. Namun, tiba tiba Vania bersuara.
"Leon.., kalau kamu beli sendiri gimana? Aku mau mandi aja," ucap Vania tanpa menatap Leon sedikit pun.
"Tapi kenapa Vania? Maaf jika sikapku tadi.."
"Lupakan saja. Aku minta ini yang terakhir kalinya kamu merendahkanku seperti ini. Aku memang orang miskin Leon, tapi tolong berhenti untuk mendekatiku. Kisah kita sudah berakhir. Lebih baik fokuslah dengan rumah tanggamu sendiri!" kata Vania dengan mata yang berkaca-kaca. Dirinya sudah bersiap untuk keluar, namun Leon lebih cepat menarik pergelangan tangannya.
"Maafin aku jika sikapku tadi salah. Tapi aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu, tapi aku hanya ingin kamu tahu, jika aku masih..."
"Ia aku tahu dan aku pun juga memiliki perasaan yang sama dengan kamu. Tapi ingat Leon jika kamu terus bersikap seperti ini dan Mamamu dan Ziva tahu, aku akan di anggap menjadi orang ketiga di rumah tanggamu. Dan aku akan mendapat cap pelakor. Apa memang itu mau kamu? Membuat hidupku semakin menderita!" cetus Vania dengan tangisnya. Dengan cepat Vania menghempaskan tangan Leon dan berlari masuk ke dalam rumah.
Leon cuma bisa menatap kepergian wanita yang selama ini tidak pernah hilang dari hatinya.
"Maafkan aku Vania, tapi memang itu mauku. Aku ingin menjadikanmu istri keduaku, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyebut kamu dengan sebutan tadi," gumam Leon. Setelah itu ia segera menyalakan mesin mobilnya, dan berlalu pergi.
kayak perhatian Morgan pada istri orang yang author anggap hal benar
mudah mudahan author merasakan diposisi leon didunia nyata, amin
ternyata sudah ada yang ngantri lagi untuk nyakiti vania🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️