Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Alina POV
Aku sudah menduga ini semua tidak akan mudah, melewati hari bersama laki-laki itu tentu saja aku harus menyiapkan mental. Tapi ini tidak akan lama, hanya perlu menunggu sampai anakku lahir. Aku pasti bisa melaluinya! Semalam bahkan dia tidak pulang, aku sudah menunggunya untuk makan malam sampai larut malam pun dia tidak juga pulang. Sudah satu Minggu kita menikah tapi kita sangat jarang bertemu, dia selalu pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi bahkan tanpa menyentuh sarapannya. Baiklah! Aku tidak akan pernah menunggunya lagi, biarkan saja dia dengan kehidupannya dan aku dengan kehidupanku.
Aku sangat malas, ini hari libur dan aku hanya dirumah sendiri berdiam diri. Rumah yang asing, apa yang harus aku lakukan selain rebahan. Ya, kelihatannya aku akan menjadi tim rebahan untuk beberapa bulan kedepan.
ceklek!
Aku mendengar suara pintu terbuka, aku menoleh ke arah pintu dan kulihat laki-laki itu sudah pulang. Dia ternyata masih ingat untuk pulang, aku pikir dia sudah menghibahkan apartemennya untukku.
"Hei apa kau sudah masak?" tanyanya padaku.
"aku tidak masak, tadi aku hanya membeli bubur, Apa kau lapar?"
"Tentu saja aku bahkan belum sarapan dan sekarang sudah jam delapan," jawabnya sinis.
"Mana aku tau kau akan pulang, aku tidak mau lagi repot-repot masak dan membuangnya," jawabku tak kalah sinis.
"Aku semalam ketiduran di kantor ada beberapa proposal yang harus aku selesaikan segera."
Hah? Apa dia baru saja menjelaskan padaku? kenapa? apa dia takut aku salah paham?
Tidak mungkin, aku pasti hanya berlebihan.
"Tunggulah sebentar aku akan membuatkan mu sarapan."
Aku memutuskan membuatkannya nasi goreng saja, itu makanan paling cepat dan gampang menurutku. Aku memanggilnya untuk sarapan, dia langsung memakan nasi goreng itu dengan lahap. Sepertinya dia memang benar-benar kelaparan.
"Ibu meminta kita makan malam dirumah nanti malam."
"hmm ... baiklah."
Seharian ini Reyhan berada di ruang kerjanya, dia hanya keluar saat jam makan siang dan kembali lagi ke tempatnya. Aku benar-benar jenuh disini tidak ada siapapun yang bisa aku ajak bicara.
"Pak Reyhan, kau harus segera bersiap! aku sudah selesai."
"Kenapa kau brisik sekali ini bahkan masih sore," jawabannya kesal sambil membuka pintu.
"Aku bosan seharian dirumah bersamamu, aku ingin segera kerumah Tante Rani,"
"Cepatlah bersiap! jika tidak aku juga tidak akan diam," ancamku padanya.
Akhirnya dia mau menurutiku meskipun dengan wajah ditekuknya, setelah beberapa saat diapun turun dan kami segera berangkat menuju rumah Tante Rani.
"Loh kalian sudah datang?" seru Tante Rani kaget saat melihat kita berdua masuk ke rumah.
Ya ini masih jam 5 sore sedangkan makan malam jam 7, tentu saja ini sangat awal. Tapi aku benar-benar bosan dirumah itu, rasanya aku seperti terisolasi.
"Alina bosan dirumah Tante," jawabku dengan wajah melas.
"Pasti anak nakal itu mengabaikanmu, atau dia berbuat buruk padamu katakan saja nak, akan ku hajar dia," sahut om Raka yang baru turun dari tangga.
"Alina, panggil kami mama dan papa, kamu anak kami sekarang jadi mulai sekarang ganti panggilanmu itu," perintah Tante Rani padaku.
"Baik, Ma." Meskipun agak canggung tapi aku harus mulai membiasakannya sekarang.
Kamipun akhirnya menghabiskan waktu dengan bercanda dan bercerita banyak hal, aku sangat senang menjadi bagian keluarga ini sekarang. Meskipun ini tidak akan lama tapi setidaknya aku sekarang bisa merasakan memiliki seorang ayah, aku merasa terlindungi perasaan yang sudah tidak pernah aku rasakan sejak lama. Perasaan yang dipaksa untuk hilang saat ada wanita lain masuk dalam kehidupan kami, aku bisa merasakannya lagi sekarang.
"Alina berapa usia kehamilanmu sekarang, Nak?" tanya mama Rani.
"Sembilan minggu, Ma."
"Kapan kamu akan melakukan pemeriksaan kandungan?"
"Masih lama, Ma. Sekitar dua mingguan lagi, Alina baru saja periksa minggu kemarin."
"Baiklah kabari Mama jika kamu ingin periksa, Mama juga ingin melihat cucu Mama." Mama Rani terlihat begitu antusias. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman termanis yang kubisa. Sedangkan manusia di sampingku ini sama sekali tidak perduli dengan pembicaraan kita, dia bahkan sedikitpun tidak ingin tau dengan anaknya.
Aku sebenarnya mengerti tentang keraguannya, bagaimana mungkin seorang wanita baik-baik bisa kehilangan hal yang seharusnya dia jaga dengan baik untuk suaminya. Tapi bukankah setiap orang punya masa lalu, seperti apapun masa lalunya dia juga berhak punya masa depan yang lebih baik.
Dia bahkan orang yang sudah membuat hidupku berantakan tapi dia juga yang meragukanku. Aku memutuskan untuk tidak perduli padanya, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia mau.
++++++++++++
Maaf ya reader kalo feel-nya kurang dapet, aku masih berusaha mendalami karakter ini.
cieleehhh mendalami karakter 😆😆, pokoknya aku sedang berusaha sebaik mungkin untuk lebih enak dibaca, dihayati dan dimengerti kalian gaes.
Terus dukung novel ini dengan cara
Like 👍👍👍
Komen 🆙🆙🆙
bintang 5 juga gaes ⭐⭐⭐⭐⭐
Terimakasih gaes😉👍
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍