Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Lastri
Sejak percakapannya dengan Sulis dua malam lalu, Irwan berusaha menunjukkan bahwa ia akan berubah dan menjadi suami yang bertanggungjawab terhadap keluarganya, terlebih ia ingin meyakinkan Sulis dan anak-anaknya,Ia pulang lebih cepat dan sering bermain dengan Dito dan Rara,bahkan beberapa kali membantu Sulis membereskan rumah,namun semua itu hanyalah pencitraan belaka, yang sengaja Ia bangun demi mendapatkan kepercayaan istrinya lagi, padahal jauh dai lubuk hatinya ia masih memikirkan Lastri, wanita yang kini menguasai pikirannya.
Pagi itu setelah selesai mengurus pekerjaan di ruko, Irwan tidak langsung pulang,mobil pikapnya justru berbelok menuju kawasan kost tempat Lastri tinggal,di bak belakang mobil terdapat beberapa barang baru yang baru saja dibelinya,sofa bed,meja kecil,rak plastik,karpet,dan beberapa perlengkapan rumah lainnya.
Sepanjang perjalanan, Irwan bahkan merasa bersemangat,perasaan yang dulu hanya ia rasakan ketika hendak membahagiakan keluarganya,kini perasaan yang sama itu muncul saat akan menemui perempuan lain.
Lastri tampak terkejut ketika melihat mobil Irwan berhenti di depan kost.
"Mas?"
Irwan tersenyum sambil membuka bak mobil.
"Ayo bantuin."
Lastri membelalak.
"Ya Allah..."
Sebuah sofa bed baru masih terbungkus plastik rapi,belum lagi beberapa kardus berisi perlengkapan rumah.
"Mas beli semua ini?"
Irwan mengangguk santai.
"Kasihan kamu."
Lastri menatap barang-barang itu dengan mata berbinar,seumur hidupnya jarang ada laki-laki yang memperlakukannya seperti ini,bahkan almarhum suaminya dulu tidak pernah memberikan perhatian sebesar itu.
"Mas nggak usah ngeluarin uang sebanyak ini."
"Nggak apa-apa."
"Tapi ini mahal."
Irwan tersenyum kecil.
"Rezeki masih ada."
Mereka lalu mulai mengangkat barang-barang itu ke dalam kamar,kamar kost yang sebelumnya terasa sempit kini perlahan berubah lebih nyaman,sofa bed dipasang di dekat jendela,karpet dibentangkan,rak plastik diletakkan di sudut ruangan,bahkan Irwan memanggil teknisi untuk memasang pendingin ruangan,Lastri benar-benar tidak menyangka,saat unit AC mulai terpasang di dinding, wanita itu hampir tidak percaya.
"Mas serius pasang AC?"
"Panas kalau siang."
Lastri tertawa kecil.
"Kosan begini dipasang AC."
"Emang kenapa?"
Lastri hanya menggeleng sambil tersenyum,dalam hatinya muncul rasa bangga,tak peduli bagaimana dan apa status hubungan mereka,yang jelas sekarang Irwan memperlakukannya jauh lebih istimewa daripada yang seharusnya.
Menjelang sore, anak Lastri tertidur setelah bermain sejak siang,ruangan menjadi tenang,hanya suara AC baru yang terdengar pelan,Lastri duduk di sofa bed sambil memperhatikan kamar yang kini terlihat jauh berbeda.
"Rasanya kayak rumah sendiri," ucapnya pelan.
Irwan ikut duduk di ujung sofa.
"Bagus kalau kamu nyaman."
Lastri menatap pria itu.
Tatapan yang semakin hari semakin sulit disembunyikan.
"Aku nggak tahu harus balas semua kebaikan Mas gimana."
"Kamu nggak perlu balas apa-apa."
Lastri tersenyum,senyum tersebut membuat suasana berubah menjadi canggung,karena keduanya tahu hubungan mereka sudah tak memiliki batas lagi,Irwan memandangi ruangan yang baru saja ia lengkapi,lalu matanya berhenti pada sofa bed.
"Aku sengaja beli yang bisa jadi tempat tidur."
Lastri menoleh.
"Buat apa?"
"Kalau aku kemalaman ke sini."
Lastri terdiam.
Irwan melanjutkan,
"Daripada tidur di lantai."
Jantung Lastri berdetak sedikit lebih cepat.
Kalimat yang di ucapkan Irwan tadi memiliki arti yang membuat jantungnya berdetak lebih keras, ada makna yang tersirat di balik ucapan Irwan, dan lastri tau apa maksud Irwan.Seolah kamar kost kecil tersebut bukan lagi sekadar tempat tinggal sementara bagi Lastri,melainkan tempat yang akan sering ia datangi,tempat yang diam-diam mulai menjadi kehidupan keduanya.
Lastri menundukkan kepala,sementara Irwan justru merasa keputusan itu masuk akal.bahkan membuat pembenaran atas tindakan, dan keputusan yang ia ambil tanpa memikirkan konsekuensinya.Sebab jika hanya karena kasihan, tidak mungkin seseorang rela mengeluarkan begitu banyak uang, waktu, dan perhatian.
...****************...
Di rumah, Sulis masih percaya bahwa suaminya sedang berusaha memperbaiki hubungan mereka,sementara di tempat lain, Irwan justru sedang membangun kenyamanan baru bersama perempuan yang menjadi sumber keretakan rumah tangganya,tanpa disadari, langkahnya semakin jauh meninggalkan keluarga yang selama ini selalu menunggunya pulang.
Menjelang malam, suasana di kamar kost kecil itu terasa hangat,Lastri terlihat sibuk di dapur bersama yang berada di ujung bangunan. Ia membeli beberapa bahan makanan sederhana dari warung dekat gang lalu memasaknya sendiri,tak lama kemudian aroma tumisan bawang dan ayam kecap memenuhi ruangan.
Irwan yang sejak tadi duduk di sofa bed baru memperhatikan Lastri dari kejauhan,entah sejak kapan pemandangan seperti itu terasa menenangkan baginya,dulu ia selalu merindukan pulang karena Sulis,kini ia justru merasa nyaman berada di tempat lain.
"Mas, makan dulu," panggil Lastri sambil membawa dua piring ke meja kecil.
Irwan menghampiri.
"Kelihatannya enak."
Lastri tersenyum malu.
"Masak seadanya."
Lalu mereka makan bersama, tangan Lastri yang cekatan melayani Irwan, begitu pula sebaliknya.
"Udah lama nggak makan setenang ini," ucap Irwan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Lastri menatapnya pelan.
"Mbak Sulis masaknya lebih enak."
Kalimat itu membuat Irwan terdiam sesaat.
Namun kemudian ia hanya tersenyum hambar.
"Jangan bahas dia dulu."
Lastri mengangguk pelan.
Meski begitu, jauh di dalam hati, ia merasa senang karena sudah memenangkan hati Irwan,sebab malam itu Irwan memilih duduk bersamanya, bukan bersama keluarganya.
Setelah makan malam selesai, anak Lastri sudah tertidur lebih dulu di kasur kecil dalam kamar.
Suasana di luar semakin sepi,penghuni kost lain mematikan lampu satu per satu.Irwan melirik jam di ponselnya,hampir pukul sembilan malam,seharusnya sekarang ia sudah ada dirumah, tapi keinginan untuk pulang tak ada sedikitpun di hati Irwan, ia justru membuka ponselnya lalu mengetik pesan untuk Sulis.
Lis, malam ini aku nggak pulang.
Tak lama balasan masuk.
Kenapa?
Irwan menatap layar beberapa detik sebelum mulai mengetik lagi.
Ada pesanan besar dari klien. Besok pagi harus dipasang. Aku ikut ngantar keluar kota.
Beberapa saat kemudian Sulis membalas.
Hati-hati di jalan.
Hanya itu,tidak ada pertanyaan lain,ponselnya ia dimasukkan ke saku,lalu ia kembali duduk di sofa bed.
...****************...
Malam semakin larut.
Lastri membereskan meja makan lalu duduk di ujung sofa,keduanya berbincang tentang hal-hal ringan,tentang pekerjaan,masa lalu,bahkan kesulitan-kesulitan yang pernah dialami,malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lastri tertawa lepas,sementara Irwan menikmati perasaan dibutuhkan dan dihargai,perasaan yang menurutnya mulai hilang di rumah.
Menjelang tengah malam, pembicaraan mereka mulai berkurang,rasa lelah datang perlahan.
"Mas tidur aja," ucap Lastri pelan.
Irwan mengangguk.
Ia merebahkan tubuh di sofa bed yang baru dibelinya siang tadi,Lastri mengambil selimut tipis lalu meletakkannya di dekat Irwan.
"Kalau dingin dipakai."
"Terima kasih."
Ketika Lastri ingin kembali kekamarnya, tiba-tiba Irwan meraih tangan Lastri, dan membuatnya terduduk di paha Irwan,mata mereka saling beradu, tangan Irwan mendarat di punggung Lastri, wajah mereka yang saling berhadapan sehingga bisa mendengar nafas satu sama lain, Irwan menelan ludah seketika, Ia tak rela Lastri beralih dari pandangannya, tangan lastri tanpa ragu meraih leher Irwan, membuat irwan menyen-tuh bibirnya, dengan sigap jemari Irwan melepas satu persatu kan-cing daster Lastri yang tipis,Irwan melepas daster tipis itu dengan kasar dan membuangnya kelantai,menyisakan kemolekan lastri,dengan satu kali dorongan Irwan menjatuhkan Lastri ke sofa bed seolah Ia tak sabar,lalu menindihnya,Irwan memasukan dengan sekali sen-takan kuat, membuat mata Lastri terbelalak menikmati hal itu...
“Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmatinya mas...” bisik Lastri pelan ditelinga Irwan
“Akhhh...desah Lastri perlahan, ia takut anaknya di kamar terbangun oleh suaranya.Nafas mereka beradu sangat cepat seperti ritme yang selaras, begitu pula Irwan.Lastri tak mau kalah, ia ingin membuktikan pada Irwan betapa piawainya ia, seketika Lastri merubah posisi,meraih lengan Irwan dan mendorong dadanya,tak ada perlawanan dari Irwan, ia pasrah diperlakukan oleh Lastri, kini ia yang menguasi Irwan, mata irwan terpejam seketika, menikmati naik turunnya Lastri, baru kali ini ia merasa terpuaskan oleh wanita, selain cantik Lastri sangat handal dan membuatnya merasa puas.
“Jangan berhenti... ucap Irwan yang tak mau ini segera berakhir.
“Tenang saja, aku siap meladenimu malam ini.” Balas Lastri
Seketika tubuh Irwan membatu,darah berdesir menuju satu titik, Lastri yang sedari tadi menindihnya tersenyum licik.
Malam itu mereka bak pasangan baru,Irwan tak mau melewatkan sedetik pun tanpa Lastri disampingnya ia menyuruh Lastri menemaninya,disampingnya sepanjang malam.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .