"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tahu Kamu Bohong!
*
*
*
Keesokan paginya, langit Serang masih berwarna abu-abu pucat ketika Andreas memasukkan koper terakhir ke bagasi mobil.
Udara pagi yang biasanya menenangkan justru terasa menyesakkan.
Sejak semalam ia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul adalah wajah Risa. Lalu wajah Isana. Lalu Ghazi. Tiga orang yang kini seperti menariknya ke arah yang berbeda.
Andreas kembali melangkah masuk rumah, fokusnya kini hanya pada Isana dan Ghazi saja.
"Ummi, Isa pulang dulu ya ..."
Suara Isana terdengar dari ruang tengah, menyalami Ummi Iffa.
"Iya ... Sebenarnya Ummi masih kangen sama kamu. Tapi, mau bagaimana lagi. Kamu sudah jadi istrinya Andreas, harus taat sama suami. Karna, menuruti suami adalah jalan surga nya istri."
Nasehat Ummi Iffa membuat Isana ingin tertawa sumbang. Suami yang mana yang harus di taati perintahnya? Apa suami yang abai dan menutup-nutupi kebohongan pada istri, pantas di taati?
Isana beralih menyalami Abah Rohidin,
"Isa ... lain kali, kalau ada apa-apa kamu jangan kesini sendiri. Tapi bilang sama Abah, biar nanti Abah sendiri yang jemput kamu."
Isana tertegun, dari kalimat yang Abah lontarkan entah kenapa itu seperti isyarat bahwa Abah punya firasat tentang hubungannya dengan Andreas. Berbeda sekali dengan Ummi Iffa yang masih berpositif thinking. Bahkan menasehati Isana, dengan nasehat yang membuat Isana menertawakannya dalam hati.
"Mas juga mendapat pemindahan tugas. Kantor pusat menugaskan untuk memimpin cabang baru di Surabaya tapi, harus ke cabang Kuningan dulu selama enam bulan."
Kahfi, yang selama ini berprofesi sebagai general manajer hotel berbintang, memang kerap dipindah tugaskan kecabang yang lain.
"Jadi, Mas bakal tugas di Kuningan?"
Isana antusias bertanya.
"Iya, jadi makin deket sama rumah kamu, Patra Kuningan. Bisa sering-sering main sama Ghazi kalo pas senggang." Sahut Kahfi dengan senyum lebar.
"Ghazi pasti senang sekali, Pakde nya bisa jengukin terus." Andreas ikut menimpali. Sejak kehadirannya di rumah itu, baru kali ini ia ikut masuk dalam perbincangan keluarga.
"Ah ... Jangan Pakde lah manggilnya, Panggil Ayah Kahfi aja ... Ya Ghazi ..." seru Kahfi, sembari mencubit pelan pipi mungil keponakannya itu.
"Halah, belum jadi Bapak kok dipanggil Ayah ... Jadi Bapak dulu makanya." Ummi Iffa memukul pelan lengan Kahfi.
Kahfi menggaruk tengkuknya, sedikit meringis "Orang calon Ibunya aja belum ada. Gimana mau jadi Bapak beneran."
"Makanya, jangan mikirin kerjaan terus. Sekali-sekali mikirin jodoh." Timpal Ummi Iffa. Dan disambut tawa oleh Isana dan Andreas. Tapi tidak dengan Abah. Pria paruh baya itu justru hanya diam, menatap permukaan meja.
Andreas mengusap pundak Isana, "Sudah siap? Nggak ada yang ketinggalan?"
Isana menoleh, usapan tangan Andreas yang dulu menggetarkan hatinya, kini berubah jadi sesuatu yang membuat Isana risih. "Nggak ada, nggak ada yang ketinggalan."
Andreas menyalami Abah dan Ummi Iffa juga Kahfi bergantian. Lantas melangkah lebih dulu, membiarkan Isana larut dalam pelukan orang tuanya sebelum berpisah.
Pria itu masuk ke dalam mobil, dan duduk di belakang kemudi. Ia mengeluarkan ponselnya saat Isana masih sibuk berpamitan di teras rumah.
Jempolnya berhenti di satu nama.
Risa.
Dadanya berdebar. Melirik Isana, kemudian beralih pada ponsel lagi.
Percakapan mereka masih memenuhi layar. Puluhan pesan. Ratusan panggilan. Foto-foto yang seharusnya tidak pernah ada.
Andreas menelan ludah.
Lalu ia menghapus semuanya, sebelum akhirnya ia memblokir kontak Risa.
Layar ponselnya kembali kosong. Namun anehnya, dadanya tidak ikut lega. Justru semakin berat. Seolah ia sedang berusaha menyapu jejak kaki di pasir, sementara ombak dosa yang pernah ia buat sudah terlanjur meninggalkan bekas jauh di dalam dirinya.
Andreas memejamkan mata. "Semuanya harus di akhiri. Aku ingin memperbaiki semuanya. Sebelum semuanya terlambat."
Isana berjalan menuju mobil, gegas Andreas memasukkan ponselnya ke dalam saku. Membukakan pintu untuk Istri dan anaknya itu.
***
Perjalanan menuju Jakarta berlangsung sunyi. Hujan sempat turun tipis di tengah jalan, meninggalkan jejak-jejak air di kaca depan mobil yang bergerak perlahan mengikuti sapuan wiper.
Andreas berkali-kali melirik kaca spion tengah, memperhatikan dua orang yang duduk di kursi belakang.
Isana memejamkan mata dalam posisi menyandar ke jendela. Wajahnya terlihat pucat dan jauh lebih tirus dibanding beberapa bulan lalu. Sementara Ghazi terlelap dalam gendongannya, sesekali menggerakkan bibir kecilnya seperti sedang mencari sesuatu dalam mimpi.
Pemandangan sederhana itu membuat dada Andreas terasa semakin sesak. Baru sekarang ia benar-benar memperhatikan istrinya. Melihat jelas kelelahan yang selama ini luput dari matanya. Melihat perempuan yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anaknya. Melihat perempuan yang berkali-kali ia kecewakan tanpa pernah menyadarinya.
Andreas mengalihkan pandangan ke jalan raya. Rahangnya mengeras. Tangannya semakin kuat mencengkeram kemudi. Penyesalan yang sejak kemarin menghantuinya kembali menyerang tanpa ampun.
Ia teringat bagaimana dirinya mencari alasan untuk menjauh dari rumah sakit. Bagaimana ia menganggap keluhan Isana sebagai sesuatu yang merepotkan. Bagaimana ia memilih menghabiskan waktu dengan perempuan lain saat istrinya berjuang sendirian menghadapi rasa sakit saat melahirkan.
Rasa muak pada diri sendiri membuat Andreas ingin meninju sesuatu.
Jika waktu bisa diputar kembali, ia ingin menarik kerah dirinya di masa lalu dan memaksa pria itu melihat apa yang sekarang ada di kursi belakang mobilnya.
Sesuatu yang nyaris ia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Isana membuka mata, melepas sandal. Ingin meluruskan kaki yang sejak tadi tertekuk. Namun, kaki yang tel4njang itu menginjak sesuatu.
Isana mengernyit. Kakinya meraba, merasakan sesuatu yang bergerigi di bawah sana.
Ia menunduk, memperhatikan benda itu. Benda yang tidak asing untuknya, sebagai perempuan yang mempunyai rambut panjang.
Di raihnya benda itu, ia angkat agar semakin jelas. Tangannya bergetar, tatapannya nanar.
"Jepit rambut siapa ini Mas?!" tanyanya, dengan suara datar. Namun cukup untuk membuat Andreas menoleh seketika.
"Ha? Apa?!" Andreas balik bertanya.
"Aku tidak pernah punya jepit rambut seperti ini. Jadi ini punya perempuan mana?"
Andreas terdiam seribu bahasa. Ia ingat kalau jepit rambut itu milik Risa. Dan ia tidak pernah menyangka kalau Isana menemukannya.
"Jawab, Mas?!"
"Itu ... itu ...milik Risa tadi, ketinggalan mungkin." Andreas gugup menjawab.
Lantas Isana menarik lengan kemeja Andreas, ada bercak merah, persis dengan warna lipstik yang dikenakan Risa.
"Ini juga punya Risa?"
Andreas, reflek menoleh pada lengan baju yang ditarik. Ia baru sadar, saat Risa menempelkan kepala dipundaknya, gerakan reflek menolak justru membuat bibir Risa menyenggol lengan kemejanya.
"Itu ... nggak sengaja, kesenggol ..." jawabnya, mencari aman.
"Kesenggol? Kesenggol yang seperti apa?! Jawab jujur Mas, aku tidak mau kamu bohongi!" Isana histeris, hingga membuat Ghazi yang terlelap menangis.
Andreas menepikan mobil, serta merta menoleh pada istrinya. "Nggak ada yang bohong Isa, Mas nggak bohong. Kamu dengar sendiri kan, kemarin Risa bilang apa? Kami hanya membahas berkas tender. Karna didalam mobil jadi tidak sengaja kesenggol." terang Andreas, begitu panik.
Isana menghentikan teriakan, demi menenangkan bayi laki-lakinya itu. Namun tatapannya masih tajam, saat melihat wajah Andreas yang justru terlalu kentara menyembunyikan sesuatu.
'Aku tahu, kamu bohong Mas. Tunggu saatnya aku bongkar semua kebohonganmu. Jangan harap aku mau memaafkanmu!' ucap batin Isana.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍