Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: DI BALIK MEJA BUNDAR, SEBUAH ALIANSI DINGIN
Bab 28: Di Balik Meja Bundar, Sebuah Aliansi Dingin
Langit Jakarta di atas kawasan SCBD malam itu tampak seperti kanvas hitam yang ditaburi berlian buatan manusia—cahaya lampu gedung pencakar langit yang menjulang angkuh, mencerminkan ambisi-ambisi kotor yang sedang dimasak di bawahnya. Di lantai 50, sebuah kafe rooftop eksklusif yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki nama di daftar orang terkaya versi Forbes menjadi saksi bisu pertemuan dua predator.
Di sebuah meja bundar yang sedikit tersembunyi oleh tanaman dekoratif tinggi, Bramasta—pewaris tunggal Arwana Group—sedang meneguk wiski single malt-nya dengan gerakan yang agak kasar. Wajahnya yang biasanya terlihat dingin dan penuh wibawa kini menunjukkan guratan ketidaksabaran. Ia merasa waktunya yang berharga terbuang sia-sia oleh gadis yang semalam masih dianggap sebagai "anak pungut" keluarga Elrod.
Di depannya, Valerie Vespera duduk dengan ketenangan yang menakutkan. Dia tidak mengenakan gaun mewah, hanya setelan blazer tailored yang sederhana namun memeluk tubuhnya dengan presisi yang sempurna. Dia menyesap teh melati miliknya, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
"Kamu punya waktu lima menit, Valerie," desis Bramasta, suaranya berat dan penuh ancaman. Dia meletakkan gelasnya dengan denting yang sengaja dikeraskan di atas meja marmer. "Ayahmu berhutang budi besar padaku. Dan sekarang, di hari kelulusanmu, kau justru datang membawa berita pembatalan pertunangan? Kamu pikir Arwana Group adalah tempat penampungan untuk permainan anak-anak seperti kalian? Jika kamu tidak bisa memberikan alasan yang membuatku terkesan, pertimbangkan sendiri apa yang akan terjadi pada perusahaan keluarga Elrod besok pagi."
Valerie tidak terburu-buru. Dia menatap Bramasta tepat di matanya—sebuah tatapan yang tidak mengandung rasa takut, keraguan, ataupun kekaguman yang biasa didapatkan pria seperti Bramasta dari wanita-wanita di sekitarnya. Tatapannya datar, seolah-olah dia sedang menatap seseorang yang sudah dia ketahui akhir hidupnya.
"Tuan Bramasta," ucap Valerie tenang, suaranya lembut namun memiliki bobot yang tidak bisa diabaikan. "Anda bukan pria yang membuang waktu untuk sesuatu yang tidak menguntungkan. Jadi, mari kita berhenti berpura-pura bahwa pertunangan ini didasari oleh cinta atau janji orang tua yang sudah lapuk. Kita semua tahu ini adalah transaksi bisnis."
Bramasta mendengus sinis. "Jika itu transaksi, maka pembatalan ini adalah pelanggaran kontrak. Dan aku benci pelanggaran kontrak."
"Bukan pelanggaran kontrak jika nilai aset yang Anda beli sudah membusuk dari dalam," potong Valerie cepat.
Tanpa perlu diminta, Valerie menggeser sebuah tablet tipis ke tengah meja. Layarnya menyala dengan satu ketukan jari. Di sana, data yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Gilbert Elrod muncul dalam bentuk grafik yang jujur dan tak terbantahkan. Saham Elrod Corp yang selama ini tampak stabil di mata publik, ternyata sedang mengalami pendarahan hebat.
"Ini..." mata Bramasta memicing. Dia seorang pebisnis kawakan; dalam hitungan detik, dia bisa membaca bahwa angka-angka itu bukan sekadar data biasa. Itu adalah bukti penggelapan dana, laporan audit fiktif yang disembunyikan di balik anak perusahaan, hingga surat perjanjian suap dengan pejabat daerah yang dilakukan Gilbert selama dua tahun terakhir.
"Bagaimana mungkin..." Bramasta menatap Valerie dengan keterkejutan yang perlahan berubah menjadi ketertarikan dingin. "Bagaimana bisa seorang gadis panti yang baru lulus SMA memegang data setingkat ini? Data ini bukan sesuatu yang bisa didapat dari internet."
"Data ini ada karena saya yang memastikannya ada," jawab Valerie santai. Dia membiarkan kalimat itu menggantung, membiarkan Bramasta menarik kesimpulannya sendiri. "Keluarga Elrod sedang berada di ambang kebangkrutan total. Mereka tidak membutuhkan istri untuk anak mereka, Bramasta. Mereka membutuhkan dana segar untuk menutupi defisit triliunan rupiah yang mereka ciptakan sendiri. Jika Anda tetap bersikeras melakukan pertunangan ini, Anda bukan mendapatkan mahar, melainkan Anda sedang mengikatkan leher Anda sendiri ke jangkar kapal yang sedang tenggelam."
Bramasta terdiam. Dia menyalakan cerutu, asapnya mengepul perlahan, menyelimuti wajahnya yang kini tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan kalkulasi yang sangat tajam. Dia menyadari bahwa gadis di depannya ini bukanlah bidak yang dimainkan oleh keluarga Elrod. Gadis ini adalah pengatur jalannya permainan.
"Jika mereka memang sudah sebusuk itu," ujar Bramasta setelah mengembuskan asap cerutunya, "kenapa aku harus repot-repot membatalkan pertunangan? Aku bisa saja mengambil alih perusahaan itu lewat jalur hukum setelah pertunangan terjadi. Aku bisa memenangkan aset properti mereka dengan harga murah."
Valerie tersenyum tipis. "Anda bisa mencoba. Tapi saat proses hukum selesai, yang Anda dapatkan hanyalah cangkang perusahaan yang sudah digerogoti tikus. Hutang mereka akan menelan aset-aset yang Anda incar. Kreditur bank akan menjadi antrean pertama sebelum Anda bisa menyentuh properti mereka. Anda akan membuang waktu dan reputasi Anda untuk sesuatu yang tidak bernilai."
Valerie mencondongkan tubuh, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang mematikan. "Elrod Corp memiliki aset properti di tiga titik strategis yang sangat Anda incar, bukan? Jika Anda bekerja sama dengan saya, kita bisa membuat aset-aset itu jatuh ke tangan Anda dengan harga seperempat dari harga pasar."
Bramasta tertegun. Dia merasa harga dirinya sebagai predator bisnis sedang diuji. "Bagaimana caranya?"
"Saya memegang kendali atas arus kas mereka melalui sistem yang saya bangun selama enam bulan ini. Saya bisa memastikan mereka gagal membayar bunga obligasi bulan depan. Saat kreditur mulai menyita aset mereka, Anda maju sebagai pembeli tunggal. Saya akan memastikan tidak ada kompetitor lain yang berani menyentuh lelang itu. Saya memiliki akses ke setiap celah hukum yang mereka buat sendiri."
Keheningan menyelimuti meja bundar itu. Hanya suara musik jazz halus dari kejauhan yang terdengar. Bramasta menatap Valerie dengan pandangan yang benar-benar berbeda. Pria itu menyadari bahwa dia sedang berhadapan bukan dengan seorang gadis berusia 18 tahun, melainkan dengan seorang mastermind yang jauh lebih berbahaya daripada Gilbert Elrod. Pria itu merasa tersinggung, namun di saat yang sama, dia merasa sangat bersemangat.
"Kenapa?" tanya Bramasta akhirnya. "Kenapa kamu melakukan ini pada keluargamu sendiri? Kamu bisa saja meminta bagian dari warisan mereka."
Valerie tertawa, sebuah tawa kering yang hambar. "Warisan? Saya tidak menginginkan sisa-sisa dari meja makan orang-orang yang bahkan tidak pernah memberiku makan. Mereka adalah parasit yang mencoba memakan masa depanku. Dan saya tidak suka berbagi makanan dengan parasit."
Ruangan itu mendadak terasa dingin. Bramasta menyadari bahwa wanita di depannya ini tidak sedang bercanda. Dia benar-benar ingin menghapus eksistensi keluarga Elrod dari peta bisnis Jakarta.
"Jika aku setuju," Bramasta mulai bermain, "apa untungnya buat kamu?"
"Saya tidak menginginkan uang Anda. Saya menginginkan satu hal: Anda harus menjadi orang yang mengumumkan di depan publik bahwa pertunangan ini dibatalkan karena reputasi Elrod Corp yang tidak lagi layak. Anda harus menjatuhkan mereka di depan semua kolega bisnisnya. Buat Gilbert Elrod merasa seperti orang paling hina di Jakarta."
Bramasta tertegun. Itu adalah pukulan telak yang akan mempermalukan Gilbert di depan seluruh elit Jakarta. Tapi, itu juga akan memberikan akses properti yang selama ini ia impikan.
"Kesepakatan yang menarik," Bramasta tersenyum miring, kali ini dengan rasa hormat yang aneh. Dia mengulurkan tangannya di atas meja bundar itu. "Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa menghancurkan mereka, Valerie Vespera."
Valerie menyambut uluran tangan itu dengan cengkeraman yang mantap dan dingin. "Anda akan melihat lebih dari itu, Tuan Bramasta. Anda akan melihat dinasti itu runtuh, dan saya yang akan berdiri di atas puing-puingnya."
Saat Valerie melangkah keluar dari kafe rooftop itu, angin malam berhembus kencang, menerbangkan ujung rambutnya. Dia tahu tidak ada jalan kembali. Serangan telah dimulai, dan keluarga Elrod bahkan belum menyadari siapa yang sebenarnya menarik pelatuk ke arah kepala mereka. Permainan ini baru saja mencapai level yang sangat berbahaya, dan bagi Valerie, setiap langkah yang dia ambil adalah melodi menuju kehancuran musuh-musuhnya.
Malam itu, di antara kilau lampu kota, Valerie merasa bahwa dia akhirnya benar-benar pulang. Bukan ke mansion yang busuk itu, tapi ke tempat yang seharusnya dia tempati sejak dulu: puncak rantai makanan.
Bersambung.....
,
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pas val ke dapur ketemu mbok darmi🤔
gk pd saat di panti🤔
aaaah.... mgkin kendala dr ponsel pintar ya💪