Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehidupan baru dan latihan keras
Sesampainya di rumah, Tsunade segera menyambut Raiden dengan dekapan hangat yang erat. Raiden merasa sesak dan terpaksa melepaskan pelukan itu dengan sedikit tenaga.
"Hah... hah... hah... Apa kau berniat membunuh suamimu sendiri?!" keluh Raiden terengah.
Tsunade hanya memainkan jemarinya dan tersenyum malu sembari meminta maaf. Meski sedikit kesal, Raiden tetap memaklumi tingkah laku istrinya itu.
"Jadi, Sayang, kenapa kau sampai pulang terlambat begini?" tanya Tsunade lembut.
Raiden berjalan menuju kursi dan duduk bersandar. "Oh, tadi aku menghabiskan waktu untuk melatih bocah konyol berambut kuning itu."
"Ara-ara... Jadi suamiku sudah mau melatih orang lain sekarang? Tidak biasanya kau begitu. Padahal kata Kakek, dulu kau sama sekali tidak mau melatih siapa pun sebelum bertemu Madara, fufufu," goda Tsunade.
"Aku hanya sedikit kasihan padanya," jawab Raiden singkat, padat, dan jelas. Ia memang tidak suka bicara terlalu panjang jika tidak diperlukan.
Setelah perbincangan singkat itu, Raiden beranjak menuju kamar mandi. Namun, Tsunade tiba-tiba mengikuti dari belakang.
"Mau mandi bersama, Sa-ya-ng?" tanya Tsunade manja.
"Oya-oya, ternyata kau sudah berani sekarang, ya? Padahal kemarin-kemarin kau sangat pemalu, bahkan wajahmu merah seperti telur rebus, hahaha!" goda Raiden balik.
Mengingat masa-masa awal pertemuan mereka, wajah Tsunade kembali memerah. "Hahaha, lihat kan? Kau memerah lagi!"
Tanpa banyak bicara, Raiden segera menggendong Tsunade dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Kehidupan Raiden setelah menikah dengan Tsunade berjalan sangat damai. Ia tidak perlu menjalankan misi berat seperti ninja lainnya karena Hiruzen tidak berani memerintahnya sembarangan.
Keesokan siangnya, terlihat seorang bocah berambut kuning sedang duduk bersila di depan Raiden yang memegang sebatang rotan.
"Kapan aku akan berlatih jutsu, dattebayo! Dari tadi hanya begini saja!" keluh Naruto.
Plaakkkk!
Ujung rotan mendarat tepat di kepala Naruto. "Ite-te-teeee! Itu sakit, dattebayo!"
"Fokuslah! Kau harus menstabilkan dan memperluas kapasitas cakramu terlebih dahulu sebelum kita beralih ke jutsu!" tegas Raiden.
Beberapa saat kemudian, Raiden menyuruh Naruto membuka mata dan mengambil sehelai daun. "Kau lihat daun ini? Aku akan meletakkannya di dahimu. Berkonsentrasilah agar daun ini tidak jatuh! Lakukan selama satu jam. Jika jatuh, kau harus mengulanginya dari awal!"
Latihan kontrol cakra pun dimulai. Daun itu terus jatuh dari dahi Naruto, dan setiap kali jatuh, rotan Raiden selalu menyapa kepalanya. Butuh waktu tiga jam bagi Naruto hingga ia benar-benar bisa menguasainya. Kini, raut wajahnya terlihat lebih tenang dan terkendali.
"Bagus! Lumayan untukmu, Bocah. Sekarang cobalah berdiri di atas air dan lakukan hal yang sama, namun fokuskan cakra pada telapak kakimu."
Naruto menuruti perintah itu, namun ia langsung gagal pada percobaan pertama. ‘Ternyata sangat susah. Tadi objeknya diam, tapi sekarang airnya terus bergerak,’ batin Naruto frustrasi.
"Hei, Bocah! Aku akan pulang dulu. Jika besok kau berhasil menguasainya, aku akan memberikanmu sebuah jutsu."
Mendengar kata jutsu, semangat Naruto kembali terbakar. "Yatttaaaa! Tunggu saja besok! Aku pasti akan menguasainya, dattebayo!"
Raiden tersenyum tipis secara tersembunyi. ‘Hanya ini yang bisa kubantu untukmu, Naruto. Sisanya tergantung usahamu sendiri.’
Raiden kemudian melangkah menuju kantor Hokage. Tanpa mengetuk, ia langsung masuk. "Jadi, bagaimana Hiruzen? Apakah kau sudah membereskannya?"
Hiruzen tampak ragu dan kebingungan. Melihat reaksi itu, Raiden langsung berbalik menuju pintu. "Begitu ya... Baiklah, aku sendiri yang akan mengurusnya. Kau terlalu lambat! Jika kau ingin melihat hasilnya, datanglah ke pinggiran desa nanti malam!"
Raiden meninggalkan kantor itu, membuat Hiruzen tersentak sadar. "Sial! Aku terlalu lama menimbang. Danzo, maafkan aku, tapi kali ini aku tidak bisa melindungimu sepenuhnya," gumam Hiruzen. Ia segera memerintahkan Anbu untuk mengumpulkan tim elit nanti malam.
Malam harinya, setelah makan ramen bersama Tsunade dan Shizune, Raiden meminta Shizune untuk mengantar istrinya pulang lebih dulu.
"Berhati-hatilah, Sayang!" teriak Tsunade saat Raiden berpamitan.
Raiden tersenyum kecil, lalu melesat cepat ke atas patung Hokage. Dari sana, indra persepsinya menyisir seluruh desa. Matanya menajam saat mendeteksi fluktuasi cakra di bawah tanah.
"Hmmm, di sana rupanya..."
Dengan teknik elemen kayu miliknya, Raiden menyusup ke dalam tanah dengan mudah, hingga ia tiba tepat di depan pintu masuk markas rahasia Root.