Bukan sebuah keberuntungan bagi Linnie di kejar seorang pria tampan yang bergelar seorang Casanova. Meski pria itu terkenal kaya raya dan memiliki kuasa namun Linnie sungguh tidak tertarik dengan pria itu.
Linnie sendiri bekerja di salah satu bar milik Gavin Marva Liam. Seorang pria berusia dua puluh sembilan tahun namun sudah banyak meniduri banyak wanita di negara nya.
Tidak mudah bagi Gavin untuk menaklukkan hati Linnie. Gadis itu terlalu dingin membuat Gavin geram sendiri. Meski pun begitu, Gavin sangat sabar untuk membuat istri nya jatuh cinta pada nya.
Penasaran?? yuk....baca langsung😁
Jangan lupa Rate, Like, Vote and Comment 👍👍
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
Fb:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Ada Apa?
Pagi ini, rasa nya tubuh Gavin sangat sakit sekali. Tidur di sofa semalaman membuat seluruh tubuh nya menjadi pegal. Linnie merasa tidak enak hati, biar bagaimana pun Gavin adalah bos sekaligus calon suami nya.
Linnie membuat Sarapan, nasi goreng dengan telur goreng setengah matang juga segelas susu.
Gavin tersenyum memandang hidangan sederhana di atas meja makan, "Beginilah rasa memiliki istri?" tanya pria itu dalam hati.
"Maaf, hanya ini yang bisa aku suguhkan pada mu." kata Linnie merasa tidak enak hati.
"Tidak apa, aku suka." ujar Gavin lalu menyendok nasi goreng tersebut ke dalam mulut nya. Sungguh, rasa enak sekali dan pas di lidah Gavin. "Wuaah,...kau pandai memasak. Nasi goreng ini enak...!" puji Gavin.
"Benarkah begitu?" tanya Linnie malu.
"Ya,...nanti, jika sudah menikah seringlah memasak untuk ku." ucap Gavin tanpa sadar.
Linnie mendongak, menatap wajah pria itu. "Apa itu di gaji?" canda gadis itu.
"Segala nya akan ku berikan untuk mu." kata Gavin membuat gadis itu terdiam. "Terimakasih sudah memasak untuk ku." ucap pria itu hanya di tanggapi senyuman hangat dari Linnie.
Selesai sarapan, Gavin pamit pulang karena hari ini dia akan mengurus semua persiapan pernikahan yang akan di laksanakan besok hari. Pria itu, benar-benar mengatur semua nya. Menyiapkan dekorasi terindah untuk pemberkatan di gereja besok. Meskipun tidak ada resepsi, namun Gavin merasa bahagia bisa menikah dengan Linnie.
Malam ini, Gavin mengajak Linnie pergi ke hotel untuk persiapan pernikahan besok. Pernikahan yang hanya di hadiri oleh pihak keluarga dan beberapa orang dari gereja. Linnie sangat senang ketika melihat Cleo yang ternyata sudah berada di hotel. Gavin benar-benar memenuhi janji nya untuk mengundang Cleo.
"Kenapa kau mau menikah dengan dia?" tanya Cleo berbisik.
"Hanya membantu nya. Lagian aku dan Gavin sudah membuat perjanjian." sahut Linnie.
"Hati-hati, aku tidak ingin kau jadi bahan permainan untuk Gavin." ujar Cleo merasa khawatir.
Untung saja Gavin dan Jeff tidak mendengar apa yang mereka bisikan. Sebisa mungkin Cleo bersikap biasa saja di delan Gavin terutama Jeff yang sejak tadi selalu melirik ke arah nya. Malam ini, di waktu di habiskan Linnie bersama Cleo hingga membuat Gavin merasa cemburu dengan keakraban mereka.
"Bisakah kau menyingkirkan gadis itu? dia membuat ku kehilangan waktu bersama Linnie." kata Gavin kesal.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Jeff bingung.
"Terserah kau, ajak dia belanja atau apa pun yang berkaitan dengan pernikahan. Dia akan menuruti mu jika berkaitan dengan pernikahan sahabat nya itu " ujar Gavin memberi ide.
Mau tidak mau, Jeff melaksanakan perintah Gavin. Pria itu menghampiri Linnie dan Cleo. "Emmm...Cleo, bisa kita bicara sebentar?" ujar Jeff kemudian mereka pergi sedikit jauh dari Linnie.
"Ada apa?" tanya Cleo.
"Gavin ingin memberikan Linnie hadiah. Tapi, Gavin bingung ingin memberikan apa. Bisakah kau ikut pergi bersama ku untuk mencarikan hadiah untuk sahabat mu itu?" tanya Jeff langsung di iyakan oleh Cleo yang tak merasa curiga sedikit pun.
"Aku pamit dulu pada Linnie." ujar Cleo kemudian kembali menghampiri Linnie. "Linnie, aku harus pergi dengan Jeff." kata Cleo memberitahu.
"Mau kemana?" tanya Linnie penasaran.
"Rahasia dong...!" seru Jeff.
"Ya sudah. Tapi ingat Jeff, kau harus menjaga sahabat ku ini." pesan Linnie.
"Akan ku jaga sepenuh hati ku." ujar Jeff membuat Cleo mengerucutkan bibir nya.
Jeff dan Cleo kemudian pergi, baru lah Gavin menghampiri Linnie. "Bagaimana perasaan mu?" tanya Gavin.
"Apa nya bagaimana?" tanya Linnie balik.
"Ya perasaan mu bagaimana? besok kan kita akan menikah." kata Gavin mulai menahan kesal nya.
"Biasa saja!" seru Linnie membuat Gavin kecewa.
"Apa kau benar-benar menganggap pernikahan kita ini hanya sebuah perjanjian di atas kertas?" tanya Gavin dengan suara dingin nya.
"Entahlah, aku belum pernah menikah, jadi aku tidak tahu perasaan itu bagaimana." ujar Linnie.
Gavin melangkah muju pinggir balkon kamar hotel, pria itu menatap pemandangan malam kota. Sudah benarkah keputusan nya untuk menikah dengan Linnie meski gadis itu tidak mencintai nya? tidak, Gavin tidak boleh menyerah untuk mendapatkan hati Linnie.
Wajah pria itu tiba-tiba menampakkan ekspresi kesedihan membuat Linnie penasaran akan perasaan pria itu. "Kenapa kau sedih?" tanya Linnie.
"Tidak, aku tidak sedih." bohong Gavin.
"Jangan bohong, aku bisa melihat nya." kata Linnie.
"Aku sedih, ternyata begini rasa nya ingin menikah tanpa di dampingi orang yang sudah melahirkan kita." ujar Gavin membuat hati Linnie langsung ngilu.
"Ku mohon jangan mengingatkan ku pada kesedihan seperti ini." ucap Linnie dengan suara bergetar. Gavin yang sadar akan ucapan nya langsung meminta maaf pada Linnie. Dia lupa, jika calon istri nya ini adalah seorang yatim piatu.
"Maafkan aku Linnie, aku tidak bermaksud membuat mu sedih." ucap Gavin menyesal.
Linnie baru menyadari semua nya, menikah tanpa orang tua juga sanak saudara. Hanya ada Cleo, sahabat baik nya. Tanpa terasa, air mata gadis itu mengalir di pipi membuat Gavin semakin merasa bersalah. Tanpa berpikir panjang, Gavin menarik gadis itu kedalam pelukan nya. Linnie semakin terisak, sebuah rindu tiba-tiba datang menyerang tanpa permisi.
"Jika kau mau, aku bisa mengantar mu ke makam orang tua mu besok pagi." tawar Gavin membuat Linnie sadar jika dia sedang dalam pelukan pria itu.Linnie langsung menatap tajam ke arah Gavin, "Maafkan aku, aku hanya mencoba menenangkan mu." kata Gavin.
Linnie mengusap air mata nya, "Tidak apa-apa. Tapi, bukan kah pernikahan kita doli laksanakan besok pagi?"
"Jam sebelas siang, aku akan mengundur nya satu jam." kata Gavin membuat Linnie senang. Gadis itu lupa jika dia akan menikah, nama nya juga pernikahan mendadak, sudah pasti Linnie lupa jika diri nya harus pergi berziarah ke makam orang tua nya. "Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak ingin sahabat mu berpikiran yang tidak-tidak tentang ku." ujar Gavin.
"Dari mana kau tahu jika dia akan seperti itu? dari awal Cleo sudah tahu siapa kau sebenarnya." kata Linnie tidak membuat Gavin terkejut.
"Terserah dia, setiap orang berhak menilai diri ku termasuk kamu calon istri ku sendiri." ujar Gavin cuek. Membuat Linnie merasa tidak enak hati pada Gavin.
Gavin menyuruh Linnie pergi tidur, sedangkan Cleo yang baru saja datang langsung pergi ke kamar nya untuk beristirahat.
Malam berganti pagi, Gavin dan Linnie pergi ke makam pagi buta sekali. Bahkan Cleo dan Jeff saja tidak tahu kepergian mereka. Di sini lah gadis itu, bersimpuh di makam ke dua orang tua nya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut gadis itu karena Linnie merasa bersalah atas pernikahan nya yang tidak meminta restu kepada orang tua nya.