'Salah kamar bukan salah jodoh'
Kisah 2 insan yang memiliki kisah tersendiri. Di mana Kinan yang sangat menjunjung tinggi kriteria untuk pasangannya dan Bram yang bergelut dengan lukanya di masa lalu. Siapa sangka? Keduanya dipertemukan dalam keadaan tak terduga yang justru membuat mereka harus terpaksa menikah.
Up : Jum'at & Minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salwaa RJ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15 Awas Aja!
Menjadi seorang istri dari Bram Ari Pratama, bukan berarti Kinan mau menjadi istri seutuhnya untuk pria yang kini sudah jadi suaminya. Ia bahkan dengan tegas menolak soal kontak fisik yang Bram tambahkan dalan kontrak mereka.
Kinan masih berada dalam kamar mandi meski sejak tadi ia sudah selesai mandi. Ia sungguh malas karena Bram terus mengatakan jika kontak fisik 'itu' diperbolehkan. Namun, Kinan sebagai pihak yang terlibat dalam kontrak itu merasa dirugikan.
Kinan membuka sedikit pintu kamar mandi untuk mengintip. Ia segera mendesah kesal karena pria itu masih sibuk dengan laptop. Ia tak mungkin diam di sana sampai pagi. "Ck, tuh orang kelelawar bukan sih?"
Kinan melirik jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya. Sudah menunjukan pukul 12 malam. Namun, pria itu masih bergelut dengan pekerjaannya.
Kalau gini caranya gue bakalan tidur di kamar mandi, batin Kinan. Seharusnya ya sudah pergi tidur di jam-jam seperti ini. Namun, situasi saat ini benar-benar membuatnya tak merasakan kantuk. Mungkin jika harus terbangun sampai pagi pun, ia takkan keberatan.
Sebuah ketukan membuat Kinan terperanjat. Bahkan ia dengan refleks mengunci pintu. Ia mengembuskan napas panik. Masalahnya, saat ini otaknya benar-benar buntu. Ia tak bisa memikirkan alasan apa yang bisa ia katakan pada Bram.
"Kamu masih di sana?" tanya Bram sambil sesekali mengetuk. "Kamu gak mati di sana 'kan?"
"Gila aja! Mulutnya tuh sembarangan banget," gerutu Kinan yang saat ini masih berdiri di balik pintu. Mendengar suara Kinan yang sangat dekat, tentu membuat Bram berpikir jika Kinan memang sengaja menghindarinya.
Bram menyeringai kemudian bergumam, "Dasar kegeeran."
Bram yakin pikiran Kinan sudah sangat terlalu jauh. Ia jadi ingin menjahili wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Ia berjalan menuju ranjangnya, kembali fokus pada laptopnya dan menunggu sampai kapan Kinan akan diam dalam kamar mandi.
Sialan! Kenapa gak tidur aja coba? batin Kinan setelah ia mengintip dari lubang kunci. Ia sungguh kesal karena pria itu tak kunjung tidur.
Dengan ragu, Kinan membuka pintu kamar mandi. Dengan piyama merah hati dan handuk di kepala, ia melangkah perlahan. Namun, Bram tiba-tiba menoleh dan membuat gadis itu menghentikan langkah.
"Airnya mati." Kinan berusaha keras untuk bersikap biasa saja. Ia tak mau terlihat takut ataupun gugup. Seharusnya ini merupakan malam pertamanya. Namun, ia takkan pernah berharap malam itu ada meski mereka berdua sudah menikah.
Kinan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia malas jika harus membongkar kopernya hanya untuk mencari pengering rambut. Namun, detik berikutnya ia segera berubah pikiran dan memilih mencari benda itu. Ia harus mengulur waktu setidaknya sampai Bram tertidur. Ia tak masalah jika harus terjaga sampai matahari terbit. Apalagi tak ada ranjang lain di kamar itu.
"Tidur aja. Saya bisa tidur di sofa," ujar Bram sambil meletakan bantal juga membawa selimut ke sofa. "Gak usah geer. Saya gak bakal ngapa-ngapain kamu, gak minat."
Bram memejamkan mata setelah berbaring. Ia sungguh tak lagi peduli pada keadaan sekitar karena terlalu lelah. Ia juga tak tidur selama 2 hari karena kesibukannya.
......***......
Saat ini sudah menunjukan pukul 8 pagi. Namun, Kinan masih sibuk memejamkan mata. Padahal Bram sudah bangun sejak tadi. Bahkan pria itu sudah siap dengan pakaian rapinya, lain halnya dengan Kinan yang masih tertidur.
Bram memutuskan untuk tak peduli. Ia melangkah keluar alih-alih membangunkan istrinya.
Langkahnya dipercepat menuruni anak tangga. Tangan kanannya tak berhenti memasang jam hingga pijakan tangga terakhir. Seperti biasanya, Bram pasti disambut oleh beberapa pembantu yang sedang melakukan tugas mereka masing-masing.
"Kinan belum bangun. Kalo dia bangun, bilangin saya pergi ke kantor," ujar Bram kemudian berlalu. Ia tak punya waktu untuk menunggu wanita itu membuka mata. Yang ada, ia akan sangat terlambat menemui kliennya.
Langkah Bram terhenti saat seorang wanita berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.
"Bisa minggir? Saya buru-buru."
"Mas tega nikah sama orang lain saat aku hamil?" tanya Lia kemudian mendorong Bram sekuat tenaganya. "Tega kamu, Mas!"
"Tolong berhenti bikin drama karena saya udah gak minat sama drama kamu."
"Mas masih perlu bukti? Aku udah liatin surat itu 'kan?"
Bram memutar malas kedua bola matanya kemudian menghela napas. "Itu gak ngejamin bayi itu bayi saya 'kan? Dari pada bikin keributan, mending pergi temui cowok yang udah jelas-jelas ayah dari bayi kamu. Permisi."
Bram melangkah menuju mobil saat Raka membukakan pintu untuknya. Ia memang memutuskan untuk tak peduli pada Lia. Namun, melihat Lia yang bersikeras, ia merasa jika wanita itu mengatakan kejujuran.
"Raka, saya gak pernah ngelakuin apa pun 'kan?"
"Saya yakin Bapak gak ngelakuin apa pun."
"Apa bisa ngelakuin tes DNA?" tanya Bram, membuat Raka berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Saya pernah denger soal itu. Mungkin bisa dilakuin. Apa Bapak mau saya--"
"Tolong cari tau soal itu. Saya bakal atur semuanya," ujar Bram. Sebagai putra satu-satunya keluarga Pratama, tentu membuat Bram harus sangat hati-hati. Ia tak mungkin memasukkan orang luar yang tak punya hubungan darah dengannya.
......***......
Kinan meregangkan ototnya lalu menguap tanpa membuka mata. Ia mencari keberadaan benda pipihnya kemudian meraihnya. Ia segera membulatkan mata saat mendapati Jan yang muncul di ponselnya menunjukan pukul 10 pagi.
"Ah, kenapa kesiangan coba? Ini gara-gara kulkas tujuh pintu cap kelelawar itu," gerutu Kinan kemudian menuruni ranjang. Ia bergegas menuju kamar mandi. Namun, ia menghentikan langkah saat menyadari sesuatu melalui ekor matanya. Ia membulatkan mata saat mendapati bercak merah di lehernya.
"Ck, itu orang bener-bener ya," geram Kinan kemudian menghubungi Bram.
"Heh! Kamu ngelanggar kontrak!" bentak Kinan yang sepertinya sama sekali tak mempengaruhi Bram. Bahkan pria itu dengan santai menyelipkan ponselnya di bahu sambil membaca berkas yang ada di meja.
"Nelepon orang tuh awali dengan salam. Bukannya ngegas."
"Bapak udah ngelanggar kontrak soal kontak fisik," kesal Kinan sambil mengenakan handuk kimono putih itu.
"Emangnya poin itu ada?" tanya Bram yang tentu saja membuat Kinan semakin kesal.
"Pokoknya gak mau tau! Bapak harus tanggung jawab!"
"Saya udah nikahin kamu. Apa masalahnya?"
"Awas aja kalo saya hamil."
"Kenapa sepanik itu sih? Kamu punya suami."
"Maaf ya, Anda cuman suami kontrak. Anda harus ganti rugi!" Kinan benar-benar kesal. Ia sampai menopang tubuh dengan tangan yang bersandar pada dinding.
"Itu salah kamu, tidur kok--"
"Jaga ya mulutnya, sumpel nih pake sendal jepit. Mau?!"
"Saya lagi sibuk. Jangan nelepon lagi." Bram mengakhiri panggilan itu secara sepihak. Tentu hal ini membuat Kinan langsung mengumpat.
"Ini cowok bener-bener minta dihajar."
Sementara itu, Bram tertawa saat tahu jika Kinan tertipu. Tidak, semalam tak terjadi apa pun. Namun, Bram memanfaatkan kesempatan saat Kinan tertidur pulas dengan menggambar di leher Kinan persis seperti kissm*rk. Ia menggunakan alat make-up Kinan dan bahagia sebab Kinan bisa tertipu dengan hal itu. Ia pikir Kinan sangat cerdas. Ternyata wanita itu sangat mudah dibodohi.
"Ah, saya beneran sakit perut." Bram kembali meraih berkas yang ada di meja kemudian membacanya. Ia perlu menanda tangani berkas-berkas itu sebelum melakukan meeting siang ini. Ia juga harus menjenguk sang Nenek sebelum pulang ke rumah nanti.
*****
Bandung, 15 April 2021
SalwaaRJ