Liliana Dupont adalah cewek polos dan introvert. Dia juga tak pandai bergaul dengan teman sebayanya karena dia adalah anak konglomerat. Anak terpandang di sekolah tetapi dia tidak sombong. Hingga akhirnya Roy Alvaro datang di kehidupannya dan langsung mengklaim dirinya bahwa milik Roy seorang.
Roy Alvaro adalah cowok dingin dan tak banyak bicara. Tanpa mereka duga, Roy juga bisa menjadi monster tampan jika itu sudah menyangkut dengan apa yang di miliki nya di sentuh orang lain apalagi Liliana Dupont.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain-sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiss
Pelukan Roy belum juga terlepas. Lily yang terlalu banyak berpikir sesuatu pada dirinya dan Roy sekarang hanya diam. Mungkin saja pelukan ini hanya mimpi atau khayalannya saja yang terlalu tinggi.
Ini bukan Roy. Lily meyakini itu. Namun jika bukan, mengapa berada di pelukan ini terasa nyaman? Apa mungkin Roy berubah pikiran dan mengajaknya balikan lagi?
“Lepas!”
Lily mendorong tubuh Roy untuk melepas pelukan itu namun kenyataannya, pelukan itu semakin mengerat.
“Biarkan seperti ini dulu.”
Lily terdiam. Suara ini benar-benar suara milik Roy. Mungkinkah ini pertanda baik bagi hubungannya?
Roy menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lily. Menghirup wangi yang menguar di tubuh Lily. Aroma ini yang sangat Roy rindukan. Meskipun baru satu hari mereka tidak berkomunikasi, rasanya terasa hampa.
“Aku kangen kamu,” ucap Roy lirih.
Bullshit.
Mana ada orang kangen tapi selalu menyakiti orang yang dirindukan?
“Kamu bohong!”
“Benaran, Ly, aku kangen kamu. Tapi kita gak bisa kayak dulu lagi.”
Lily melepaskan pelukan itu secara paksa.
“Kenapa? Karena masa lalu kamu? Jelasin ke aku!”
“Belum saatnya kamu tahu. Yang pasti, aku sayang kamu.”
“Kalau kamu cuma mau bikin aku terbang dan dijatuhkan lagi, mending gak usah ketemu sama aku lagi. Aku gak mau deketan sama orang yang bisanya cuma ngasih harapan habis itu ninggalin,” ucap Lily sarkas.
Giliran Roy yang terdiam. Lily benar. Sudah seharusnya dia melepaskan Lily seutuhnya. Tapi dia juga belum sanggup untuk itu.
Dia tidak rela melepaskan Lily begitu saja untuk orang lain apalagi laki-laki bernama Farrel itu.
"Oke kalau itu mau kamu," ucap Roy menundukkan kepalanya. pelukan mereka telah terlepas.
Ada rasa tidak rela pada diri Lily ketika pelukan mereka terlepas. Semacam kehilangan. Namun kenyatannya memang dia telah kehilangan Roy bukan?
"Roy—"
Lily berusaha menggapai tangan Roy namun cowok itu menepisnya.
Lily terperanjat. Roy memang berubah. Sejak kedatangan seseorang di hidupnya.
Memang benar. dia tidak tahu siapa bahkan tidak sempat mengetahui orang yang berada di hidup cowok di depannya ini.
"Jangan sentuh aku."
Lily menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kamu benar. aku tidak berhak atas kamu lagi. Jadi, buat apa kamu berharap akan kehadiran aku?"
"Enggak gitu. Aku sayang kamu kok, Roy. Percaya sama aku. Aku mohon, jangan pergi—"
"Aku orang jahat, Ly."
"Kamu gak jahat. Ini emang takdir yang buat kita terpisah dan kita gak bisa nyalahin siapapun atas hal ini."
Roy mendongak, menatap manik mata Lily dengan lembut. Sisi positif Lily ternyata makin tinggi. Tidak ada lagi Lily yang manja ataupun tidak menurut pada Roy. Perubahannya begitu drastis.
"Aku janji aku akan jelasin semuanya. Tapi enggak sekarang ya? Aku mohon. ngertiin aku dikit aja."
Roy terlihat menghela napasnya. "Semua terasa begitu berat buat aku. Aku sedang berusaha memperjuangkan hubungan kita tanpa kamu memikirkan apa yang sudah terjadi. Ini masalah aku, aku harap kamu ngerti kali ini, ya."
Lily mengangguk mantap. "Aku yakin kamu cinta aku. jadi aku yakin kalau kamu akan tetap memperjuangkan aku sampai kapanpun."
Akhirnya, senyum merekah terbit di bibir Roy.
"Tapi—" Lily menggantungkan ucapannya. "Boleh aku ke pesta Farrel, kan?"
Kumat.
"Bisa gak, gak usah ikut acara dia apalagi jalan sama dia," rengek Roy.
Lily terkekeh. Cewek itu suka sekali menggoda Roy dengan ini. Farrel adalah senjata terampuh yang membuat Roy ngamuk, merengek bahkan marah-marah gak jelas seperti sekarang ini.
"Kan undangan, Roy."
"Tinggal sobek aja kali. Bilang kek lagi banyak tugas atau apa."
Lily tertawa lepas. "Mana bisa. Udah terlanjur janji sama Asley juga."
"Batalin!"
Ucapan Roy barusan membuat Lily bungkam berhenti menggoda cowok itu. sepertinya mood Roy sudah tidak baik. Bisa-bisa dia kena amukan lagi sama Roy.
"Gak bisa batalin gitu aja—"
"Batalin bisa ga sih nurut dikit aja," sentak Roy dengan nada suara meninggi.
"Tapi—"
Sebelum ucapan Lily berlanjut, Roy sudah hendak beranjak dari duduknya membuat Lily berhenti berkata.
"Roy?!"
"Apa lagi? Kamu katanya mau ke acara itu kan? Ya udah sana, gak usah ke aku lagi. Aku gak penting kan bagi kamu?" cerca Roy tanpa henti.
Lily yang sudah mau menangis akhirnya pecah dan air matanya mengalir. Ini bukan maunya. Lily kira jika Lily bercanda maka Roy akan mengerti dan menjawab dengan candaan juga. ternyata memang benar, Roy sedang tidak bisa di ganggu.
"Ya udah aku gak akan pergi ke acara itu. Asal—"
Lily menggantungkan ucapannya. "Asal apa? jangan aneh-aneh deh. Gak ada waktu!"
"Perjelas lagi hubungan kita!"
Roy menghela napasnya. "Kamu bisa ngertiin aku gak sih? aku sekarang lagi berjuang buat hubungan kita. jadi tolong jangan jadi anak kecil lagi."
"Roy—" Lily menggenggam tangan Roy. Mencium tangan kekar itu dan menghirup wangi tangan itu dalam-dalam. "Aku janji gak akan ganggu kamu. Tapi aku mohon, jangan tinggalin aku buat masa lalu kamu, ya."
"Janji. Tapi soal hubungan ini, kita masing-masing dulu aja. Biar aku bisa fokus sama masalah aku dulu."
°°°
Lilyana Dupont
Gue gak bisa dateng ke pesta lo. Tiba-tiba perut gue sakit.
Farrel
Yah, padahal Mama berharap banget lo dateng.
Lilyana Dupont
Sorry. sampaikan maaf gue buat Tante.
Farrel
Iya. lo istirahat aja besok sekolah.
---
Ada kelegaan tersendiri bagi Lily menolak Farrel. Itu tandanya Roy tak akan menjauhinya lagi. Dia tidak masalah jika harus mengorbankan kebebasannya demi ingin melihat Roy tertawa, tersenyum dan bahagia karenanya.
Katakan saja Lily terlalu bucin pada Roy. Tapi itu memang kenyataannya.
Roy adalah alasan Lily bertahan dalam hubungan Backstreet ini. Dia bukannya tidak ingin protes dengan persetujuan itu tapi jika dipikir-pikir ini dapat menjauhkan Lily dari gosip dan bully-an anak-anak di sana.
Lily tahu sendiri. Roy adalah wakil kapten basket sekolah yang digilai oleh semua wanita di sekolahnya. Roy juga anak motor terkeren se SMA-nya. Roy juga anak konglomerat meskipun tanpa dipublikasikan juga, mereka tahu Roy bukan orang sembarangan.
Lily menatap pantulan wajahnya di cermin.
pucat. Belakangan ini semenjak Roy berkata masa lalunya hadir lagi, Lily terus-terusan memikirkan itu hingga asupan makannya terganggu.
Sebegitu besarkah tekanan masa lalu bagi Roy dan hidupnya? Seakan masa lalu Roy adalah ancaman besar baginya untuk mempertahankan hubungan ini. Roy mencintainya. Ya, Lily selalu yakin itu. Roy pasti kembali padanya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti—suatu saat nanti. Setelah waktunya tiba.
---
"Ngapain ke sini?"
Roy yang baru saja membukakan pintu untuk seseorang itu terlonjak kaget.
"Ke pesta Farrel, yuk."
Roy diam. Dasar gadis gila. Dia mengajaknya ke pesta itu sedangkan Farrel sendiri adalah masa lalunya. Lelucon macam apa lagi ini?
"Farrel pacar lo. Lo ke sana aja sendiri. Gue mau belajar banyak tugas."
"OH IYA! Besok gue masuk sekolah lagi loh di sana. see you tomorrow, baby."
Gadis itu mencium pipi Roy lalu berbalik ke arah mobilnya dan berlalu.
Roy memegang pipinya. gadis itu benar-benar gila. Siapa dia bisa-bisanya mencium pipinya tanpa seizinnya?
Sepertinya dia mau cari masalah.
°°°
TBC.
Yuk tebak-tebakan
lagi. Itu cewek yang cium pipi Roy kalau Lily tahu bakal ngamuk apa enggak yah:v
Duh gak sabar mau bikin mereka bertemu.
Kira-kira Roy milih siapa nanti? wkwk
Jangan lupa like ya. komentar juga jangan lupa.
follow instagram aku:
aisyaah.a
rainsya.a
SEE YOU GUYS*!!!
balik mampir kk
up ajalah