Frida yang seorang wakil direktur perusahaan lebih memilih hidup sederhana di desa dengan seorang pemuda desa yang telah memikat hatinya sejak dipersatukan dalam pernikahan terpaksa di masa lalunya ketika usianya masih 18 tahun. Herdi, nama lelaki itu, telah menerima dirinya apa adanya dan mau menikahinya walau dirinya pernah depresi dan hamil karena menjadi korban perkosaan. Ketulusan Herdi dan kebaikannya tidak dapat dilupakan oleh Frida walau Papanya telah memaksa mereka berpisah setelah bayi itu lahir. Bahkan Herdi memohon agar bayi itu dirawat olehnya sebagai kenang-kenangan Frida. Pak Danu, papa Frida tentu saja senang dan tak perlu repot menyembunyikan bayi yang tak diharapkan itu. Setelah beberapa tahun kemudian, cinta Frida dan Herdi tak tergoyahkan. Cinta mereka penuh perjuangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. ROSA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 CHEF ALA KAMPUNG
Frida makin bersemangat memasak dengan menggunakan kompor gas, karena lebih memudahkannya memasak tanpa harus sering mengecek api. Kalau memasak menggunakan tungku, kalau apinya nyala terus memang cepat matang, tapi kalau ada kendala apinya padam, ia harus merubah posisi kayu bakar dan harus meniup - niup bara api sampai nyala dengan menggunakan tabung bambu.. Belum lagi kalau kayunya agak basah, akan agak sulit untuk menyalakannya, asapnya juga tebal, bikin sesak nafas. Tapi ia menikmati proses itu. itu semua dijadikan pengalaman masaknya yang berharga. Ia jadi tahu perbedaan memasak dengan tungku dan kompor gas. Kalau memasak di tungku ya anggap saja sedang kemping he he he..., makanya ia tidak pernah mengeluh. Ia jadi tahu trik supaya api cepat nyala dengan menggunakan kayu bakar. Juga cara menyalakan bara api yang padam.
Frida juga sudah menguasai beberapa masakan kampung. Masakan rumahan yang dulu Mama kandungnya sering masak. Seperti sayur asam, pepes tahu, sambal terasi, dan lain-lain. Juga yang agak susah dalam proses memasaknya seperti membuat gudeg, sayur jantung pisang, sayur rebung, dan sayur umbut. Barangkali ada yang belum tahu umbut, itu lho berasal dari batang pohon kelapa muda. Biasanya kalau ada yang menebang pohon kelapa, pasti ada umbutnya di bagian batangnya yang muda yaitu batang yang berada diéwkat puncak pohon kelapa. Biasanya kalau sedang ada acara di kampung, seperti membuat rumah yang dilakukan secara gotong royong, pasti ada hidangan sayur umbut untuk para pekerja selain daging ayam.
Untuk memasak ikan, Frida agak kesulitan membersihkan ikan karena ia belum pernah melakukan sebelumnya di rumahnya. Tapi Frida ingin mencobanya setelah dicontohkan Herdi. Hari ini Herdi membawa enam ekor ikan mas yang agak besar dari kolam ikan di kebunnya. Kalau bumbu ikan goreng, Frida sudah tahu karena bumbunya simpel. Hanya kunyit, bawang putih dan garam. Cuma untuk proses membersihkan ikannya, Frida agak kesulitan. Berkali- kali pisaunya meleset sewaktu akan membersihkan sisik ikan mas.
"Hati-hati, nanti kena tanganmu. Sudah Mas saja yang membersihkannya," kata Herdi.
"Aku mau nyobain, Mas. Biar bisa," kata Frida tetap bersikeras.
"Kalau kata orang-orang desa sini sih, wanita hamil dilarang memproses makanan dari binatang. Seperti memotong-motong ayam, membersihkan ikan, karena takut berpengaruh pada bayi yang dikandungnya," kata Herdi.
"Memang apa hubungannya?" tanya Frida.
"Ya ... mungkin takut ibu hamilnya terbersit ingat bayi. Jadi takut bayinya cacat," jawab Herdi.
"Ah itu sih sugesti aja. Kita berdo'a aja supaya bayinya sehat dan sempurna, tidak kurang suatu apapun," timpal Frida.
"Makanya ibu-ibu desa sini suka mengatakan 'amit-amit jabang bayi' kalau melihat sesuatu yang aneh, yang gak diharapkan," kata Herdi.
"Berarti ibu-ibu hamil kalau masak daging atau ikan, selalu bilang amit-amit jabang bayi ya. Pegal dong sampai dagingnya ataui ikannya bersih," kata Frida.
"Tapi berlaku untuk suaminya juga sih," ujar Herdi.
"Ya udah, mari sama-sama mengucapkan: 'amit-amit jabang bayi," Frida menahan senyumnya. Karena lengah pisau menggores sedikit kulit tangannya.
"Aw, sakit! Mas Herdi ngajak ngobrol terus sih!" Frida berteriak.
"Hati-hati kan Mas juga bilang. Cuci tangan dulu, sini Mas obatin," Herdi tampak khawatir, setelah mencucikan tangan Frida, kemudian Frida di suruh duduk di kursi yang ada di dapur. Herdi segera mengambil kotak obat. Dikeluarkannya botol Betadine. Di teteskannya pada kapas. Lalu kapas itu diolekan pada luka di tangan Frida.
"Aduh perih, Mas! aduh, aduh shh.... sakit ....," rengek Frida.
Herdi tersenyum. Baru kali ini ia mendengar Frida merengek. Herdi melanjutkan menempelkan kapas itu pada luka Frida. Frida masih meringis kesakitan.
"Sabar ya anak baik. Lukanya sekarang ditutup plester ya biar gak kena air," Herdi berbicara seolah-olah pada anak kecil. Herdi meniup-niup tangan Frida, kemudian memplester luka Frida.
"Apaan sih, kayak anak kecil aja," Frida cemberut.
"Tadi habisnya kayak anak kecil. Masa gini aja nangis," ledek Herdi.
"Siapa yang nangis. Aku gak nangis. Cuma sakit aja," Frida tambah manyun bibirnya.
"Senyum dong, jangan cemberut. Nanti cantiknya hilang," Herdi tambah menggoda Frida.
"Apaan sih, lagi sakit disuruh senyum," gerutu Frida sambil menarik tangannya setelah diplester.
"Udah. Sekarang diam, istirahat, Mas yang ngelanjutin ngebersihin ikan," kata Herdi sambil beranjak.
Frida hanya diam sambil memperhatikan Herdi membersihkan ikan. Setelah ikan-ikan itu bersih, Herdi membaluri ikan dengan bumbu Kunyit. Setelah didiamkan, ikan-ikan itu digorengnya.
Sambil menunggu ikan matang, Herdi mengulek cabe dan lain-lain yang sudah dikukus, untuk membuat sambal. Nasi, Sayur lodeh dan petay kukus sudah matang dari tadi.
"Biar aku saja yang ngulek sambal," kata Frida sambil bersiap mengambil alih ulekan.
"Udah, hari ini kamu duduk manis aja. Tanganmu masih sakit kan? Hari ini aku yang jadi chefnya," ujar Herdi sambil tersenyum.
"Masakannya enak gak?" tanya Frida sambil memicingkan matanya.
"Enak dong! Awas nanti kamu ketagihan masakanku," kata Herdi bangga.
"Oke, nanti aku nilai deh," kata Frida sambil mencibir.
Sambalpun telah jadi dan dimasukkan ke mangkuk. Frida tampak membalikkan ikan supaya ikan tidak gosong. Tapi tak disangka, minyak panas memercik dengan suara keras. Frida yang kaget, reflek menghindari minyak yang memercik dan memeluk Herdi yang ada di dekatnya.
"Ehem! Masih siang kali bro, udah main peluk-pelukan aja" tiba-tiba Lastri muncul dipintu dapur bersama ibu.
Herdi dan Frida berpandangan. Setelah menyadari apa yang terjadi, merekapun melepaskan pelukan dengan salah tingkah.
Suami Lastripun muncul dibelakang Ibu dan Lastri sambil memikul pisang 2 tangkai. Mereka semua duduk di ruang makan. Lastri menyuguhkan minum untuk suaminya dan ibu.
"Masakan semua sudah matang..., Yuk kita makan bersama," kata Herdi.
"Masak apa Frida hari ini?" tanya ibu.
"Hari ini aku yang masak. Hari ini aku yang jadi Chef, Frida tangannya lagi sakit," kata Herdi.
"Kenapa tanganmu, nduk?" ibu bertanya pada Frida.
"Tadi kena pisau bu, sewaktu membersihkan ikan," jawab Frida malu-malu.
"Hati-hati. Membersihkan ikan memang sedikit susah. Kenapa kamu biarin Frida membersihkan ikan sih Her? Kan kasihan tangannya jadi terluka," kata ibu
"Gak bukan salah Mas Herdi. Aku yang memaksa ingin nyoba membersihkan ikan bu," jawab Frida.
"Hmmm...., udah mulai ngebelain nih buat orang tersayang," Lastri tersenyum meledek.
Ibu Herdi memukul pelan bahu Lastri sambil menggelengkan kepala. Lastri jadi tergelak. Suami Lastri juga menggelang-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
"Mas Herdi masak sayur lodeh, ikan mas goreng, sambal, dan petai kukus," kata Frida.
"Wow, benar-benar rezeki! Datang-datang, masakan matang! Masakannya kelihatannya lezat lagi!" Lastri langsung membantu Herdi dan Frida mengangkut masakan yang telah matang ke meja makan.
Mereka semua makan dengan lahap masakan Herdi sore itu. Masakan Herdi benar-benar top. Semua sampai nambah makannya.
"Benar kan masakanku enak? Dek Frida juga sampai nambah tuh. Harus nyobain dong petainya, enak kok," tawar Herdi sambil menyodorkan petai.
"Gak suka. Belum pernah makan. kayanya bau gak enak," Frida menggeleng.
"Gimana akan suka kalau gak mencoba. Kalau makan sih gak bau. Baunya sesudah makan bagi orang lain. Lagipula dikukus sih gak bau banget. Enak cobain," Lastri membujuk Frida.
Fridapun mengambil petai setengah papan yang disodorkan Herdi. Ia membuka kulit petai satu persatu. Kemudian ia mencocol petai ke sambal, bersama nasi, satu buah petai itu dimakannya, Frida membulatkan matanya.
"Enak! Gak terlalu buruk seperti perkiraanku," ujar Frida.
"Selamat! Kamu lulus menjadi warga desa ini, ha ha ha...!" Lastri tertawa. Semua pun jadi tertawa mendengarnya.
"Ck Lastri ada-ada aja," suami Lastri menggelengkan kepalanya.
Hari itu semua tampak gembira. Bahagia itu sederhana. Makan bersama saja dengan menu sederhana bersama seluruh anggota keluarga merupakan momen yang berharga dan tak terlupakan bagi Frida.
****
HAPPY READING
Berikan like dan komenmu dong reader
Biar aku semangat up setiap hari
Lemod
kalau gak suka yah jangan mau dibpaksa dong.