Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Mengantar Pulang
...Selamat Membaca📖...
Gibran masih menatap punggung Caramel, hingga dia menghilang dibalik pintu. Revan memperhatikan wajah Gibran.
"Lo naksir ya sama tu cewek?" bisik Revan, tepat di telinga Gibran.
"Nggak tauk,"
"Hah? maksudnya lo bener-bener suka sama dia? gila, diapain lo sama dia bisa-bisanya dia meluluhkan hati seorang Gibran Digantara?!"
"Bacot lo,"
Asep yang duduk dibelakang mereka, menjadi kepo karna dua orang di depannya berbisik-bisik. Dia menepuk pundak Revan.
"Ngomongin apa si?" tanyanya kepo
"Kepo banget si lo," ketus Revan
"Pak," Gibran mengangkat tangannya, Pak Dayu yang sedang menulis di papan menoleh kebelakang.
"Ada apa, Gibran?"
"Saya izin ke toilet dulu, sebentar."
Sudah pak Dayu duga, pasti cowok ini bosan dengan mata pelajaran matematika. Dan dia mencari alasan untuk keluar dari kelas.
"Nggak," tolaknya dengan lincah. "Paling kamu mau bolos ya, jam pelajaran saya?!"
"Nggak pak, beneran ini."
Pak Dayu menghela nafas panjang. "Ya sudah, saya beri waktu lima menit."
"Yaelah pak-pak, kaya mau balapan lari aja. Dikasih waktu." ketus Asep
"Ya udah pak, makasih."
Gibran berlari menyusuri koridor sekolah, mencari Caramel. Dia berharap Caramel belum sampai di kelasnya.
Akhirnya cewek yang dicari ada di hadapannya, Gibran memanggilnya dengan suara yang tidak terlalu keras, takut ketahuan guru yang sedang mengajar di kelas.
Caramel menoleh, Gibran berlari menghampirinya. Badannya merunduk, agar tidak ketahuan. Caramel ingin melanjutkan perjalanannya, mengingat ucapan Sadrina waktu di gudang. Namun dia mengurungkan niatnya, karna dia juga harus berterima kasih, karnanya dirinya bisa cepat selamat di tempat menakutkan itu.
"Ada apa?"
Gibran menarik tangan Caramel, hingga samping di bawah tangga. Agar tidak ketahua guru, jika dia mengobrol diluar dan ditengah jam pelajaran.
"Lo mau ngomong apa si?"
"Gue...gue mau bilang-" Gibran harus mulai dari mana, masa dia mau bilang kalo sekarang cewek dihadapannya sedang menjadi taruhan teng Vogas.
"Bilang apa? ah, nanti aja ya istirahat. Gue buru-buru, takut di tungguin bu Hera."
Baru satu langkah Caramel berjalan, dia memutarkan lagi badannya. Sedangkan Gibran masih berdiri ditempatnya.
"Oh ya, gue mau bilang makasih. Karna lo udah nolongin gue kemarin."
"Sama-sama," Gibran tersenyum. Kemudian Caramel kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Gue tunggu lo listirahat ditaman belakang."
Caramel menghentikan langkahnya, namun dia tidak menoleh kebelakang. Dia hanya mengangguk, dia setuju.
"Permisi, maaf bu lama." Caramel memberikan buku yang ada ditangannya kepada bu Hera.
Bu Hera mengangguk. "Iya nggak pa-pa. Sekarang kamu duduk."
"Dari mana aja lo, lama banget?"
"Dari kelas dua belas MIPA lima lah, emang dari mana lagi."
"Iya juga si," Jihan mikir sebentar. "Bukannya itu kelasnya Gibran?" tanyanya dengan nada cukup tinggi. Membuat semua siswa menoleh kepadanya, termasuk bu Hera.
"Jihan,"
"Maaf bu,"
Caramel menutup mulut Jihan, memelototinya. "Birisik lo,"
"Maap,"
...🎨🎨🎨...
Bel istirahat berbunyi, seperti biasa keempat sahabat itu langsung pergi ke kantin.
"Ayo, Mel." ajak Putri. "Gue udah laper nih."
"Makan mulu yang ada di otak lo," ketus Naura
"Kalian duluan aja, gue ada urusan sebentar. Nanti gue nyusul."
"Okey, mau gue pesenin dulu nggak. Lo mau apa?" tawar Jihan
"Nggak usah,"
"Ya udah kita duluan ya."
Naura, Jihan dan Putri pergi meninggalkan Caramel sendirian di kelas, karna semua murid sudah keluar.
Setelah ketiga sahabatnya pergi menjauh, Caramel keluar. Dia berjalan menuju taman belakang, untuk menempati janjinya kepada Gibran.
Sesampainya di taman, Caramel melihat Gibran sudah duduk di salah satu kursi berwarna putih dibawah pohon. Caramel menghampirinya.
"Hay, lo udah lama?" sapanya
"Nggak kok, duduk!" perintah Gibran
Caramel mengangguk, kemudian duduk disamping Gibran. Jantungnya mulai memompa tidak normal lagi. Caramel mencoba menetralka detak jantungnya, dengan menghindari tatapan Gibran.
"Lo kenapa, takut?"
"Hah, takut sama apa?" Caramel bertanya dengan polos, menatap Gibran.
"Gue kira lo masih takut sama gue, gara-gara kejadian pertama kita masuk sekolah."
Ah, bukan karna itu. Bahkan Caramel nyaris sudah melupakan kejadian itu. Dia berharap Gibran tak lagi menatapnya seperti tadi, asal dia tau gara-gara tatapan itu membuat jantung Caramel memompa dengan cepat.
"Nggak kok. Oh ya, lo mau bilang apa?"
"Siapa yang sudah ngunciin lo di gudang, kemarin?"
"Oh itu, Sandrina. Kenapa?"
Gibran terdiam saat mendengar nama Sandrina. Tanpa harus bertanya kenpa Sandrina bisa menguncikan Caramel digudang, Gibran sudah tau. Pasti gara-gara dirinya, karna Sandrina tau semuanya melalu grub Inti Antraxs. Sandrina orangnya bisa dibilang cukup nekat, dia bisa melakukan segala hal yang membuatnya menghalangi jalan rencananya. Termasuk PDKT-an sama Gibran, walupun Gibran selalu menolaknya mentah-mentah. Sandrina tidak pernah menyerah.
Caramel baru sadar dengan ucapannya barusan, dia barusaja memulai perang lagi dengan Sandrina. Pasti Gibran akan menegur Sandrina dan Sandrina akan melakukan hal yang lebih sadis dari kemarin.
"Lo jangan, apa-apain Sandrina ya." ucapnya dengan lincah.
Gibran menyatukan kedua alisnya. "Apa yang membuat lo, mikir gue bakal nyakitin Sandrina?"
Caramel membulatkan matanya, lagi-lagi dia salah bicara. Seharusnya dia harus mikir lagi, kenapa juga Gibran akan menyakiti Sandrina, sedangkan Sandrina adalah salah satu anggotanya. Apa dia berfiki Gibran akan membelanya dihadapan Sandrina. Ah bodoh!
"Ng-nggak. Ya udah, gue kembali ke kelas ya." Caramel ingin buru-buru pergi dari sini.
"Mau kemana?"
"Ke kelas, lo cuma mau bilang itu doang kan?"
Gibran tersenyum geli.
"Nanti gue anter lo pulang!"
Caramel menghentika langkahnya, dia terpaku di tempat. Apa dirinya nggak salah dengar? ah mudah-mudahan dia benar-benar salah dengar, bisa bisa jantungnya jopot jika harus berada di dekat Gibran terus-terusan.
"Lo bilang apa?" Caramel memastikan ucapan Gibran itu salah.
"Lo nggak budek kan?"
Caramel menggelengkan kepalanya.
...🎨🎨🎨...
Caramel merampas minuman yang ada di meja, sekarang dia sudah berada di kanting bersama ketiga sahabatnya. Dia meneguk minuman jeruk, yang tinggal setengah. Entah milik siapa.
"Lah, Mel. Itu kan punya gue." ucap Jihan, memandang Caramel sinis.
"Maaf, entar gue ganti deh."
"Elo kenapa si?" tanya Naura
Caramel duduk disebelah Jihan, berhadapan dengan Putri yang dari tadi asik dengan makanannya.
"Kalian tau nggak-"
"Nggak," potong Putri
"Ih, lo diem dulu napa si. Caramel belum selesai bicara juga." Naura menatap Putri tajam.
"Sok lanjutkan."
"Gibran ngajak gue pulang bareng."
Byur!
Putri menyemburkan minumannya yang ada di mulut. Kaget dengan ucapan Caramel barusan.
"APA?"
"Lo sante dong, muncratan lo kena baju gue nih." Naura makin kesal dengan tingkah Putri.
Jihan menghela nafas. "Beneran lo?"
"Bener, emang muka gue bercanda apa?"
"Nggak juga si." Jihan mengamati wajah Caramel.
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍