Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Malam di Surabaya dan Kehancuran Cendana Tua
Langit Surabaya malam itu bagaikan runtuh di atas permukaan bumi.
Hujan badai mengguyur tanpa ampun, menciptakan tirai air yang pekat di setiap sudut kota.
Petir menyambar-nyambar beringas, membelah kegelapan malam dengan kilatan cahaya kebiruan yang menyilaukan.
Di tengah amukan cuaca ekstrem tersebut, sebuah konvoi mobil SUV hitam berlapis baja melaju tanpa lampu penerangan.
Kendaraan-kendaraan itu bergerak senyap bagaikan kawanan bayangan maut yang mengincar mangsa.
Tujuan mereka adalah sebuah kawasan pergudangan tua di sektor timur kota pelabuhan itu.
Di dalam mobil utama, Andra duduk dengan postur tegap yang memancarkan wibawa mutlak.
Wajahnya tertutup bayangan temaram dari lampu dasbor mobil yang redup.
Jas hitam panjang yang ia kenakan tampak sangat kontras dengan aura dingin di sekitarnya.
Pikirannya tidak sedikit pun goyah meski ia baru saja meninggalkan istana Menteng dan istrinya beberapa jam lalu.
Bagi seorang penguasa bayangan, gangguan sekecil apa pun terhadap kekaisaran bisnisnya harus segera dipangkas hingga ke akar.
"Tuan, kita sudah memasuki radius lima ratus meter dari target," suara Handoko memecah keheningan kabin.
Asisten kepercayaan itu duduk di kursi depan, jemarinya lincah mengendalikan layar tablet miliknya.
"Bagaimana situasi di dalam gedung?" tanya Andra dengan suara berat yang bernada mengintimidasi.
"Sinyal pemantau menunjukkan pintu brankas bawah tanah hampir sepenuhnya jebol, Tuan," lapor Handoko cepat.
"Pihak penyerang menggunakan alat potong plasma berkekuatan tinggi."
"Mereka bekerja dengan sangat sistematis, menandakan mereka adalah unit tempur profesional."
Andra menyeringai tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk garis yang sinis.
"Profesional?" gumam Andra pelan.
"Di mata mereka yang haus harta dan kekuasaan, profesionalisme hanyalah topeng untuk menutupi keserakahan."
"Biarkan mereka merusak pintu itu."
"Kita akan menyambut mereka tepat saat mereka mengira kemenangan sudah berada di tangan."
Mobil-mobil konvoi itu akhirnya memperlambat laju mereka secara serentak.
Mereka berbelok tajam memasuki halaman belakang kompleks pergudangan yang sepi.
Suara deru mesin mobil melebur bersama deru air hujan yang menghantam atap seng.
Pintu-pintu mobil terbuka lebar secara bersamaan.
Dua puluh orang pengawal bayangan berpakaian serba hitam melangkah turun dengan disiplin militer yang ketat.
Mereka mengenakan rompi anti peluru dan membawa persenjataan modern berperedam suara.
Andra ikut melangkah keluar, membiarkan butiran air hujan langsung membasahi tubuhnya.
Ia sama sekali tidak bergeming, menikmati sensasi dingin malam yang membakar adrenalin di dalam darahnya.
"Bergerak sesuai rencana," titah Andra singkat.
"Jangan biarkan satu pun mangsa melarikan diri hidup-hidup dari tempat ini."
"Laksanakan, Tuan!" jawab para pengawal serempak dengan suara berbisik namun penuh ketegasan.
Pintu darurat gudang terbuka tanpa menimbulkan suara berdecit sedikit pun.
Pasukan bayangan menyusup masuk ke dalam bangunan yang gelap gulita.
Hanya ada kelap-kelip lampu darurat merah yang memantulkan bayangan panjang di dinding beton.
Bau amis mesiu dan aroma karat besi mulai tercium pekat begitu mereka menuruni tangga utama.
Di lantai bawah tanah, suasana jauh lebih gaduh dan sibuk.
Belasan orang bersenjata lengkap berdiri membentuk formasi melingkar di sekitar pintu brankas raksasa.
Percikan api menyembur beringas dari alat las plasma yang diarahkan ke bagian engsel pintu baja.
Suara logam yang bergesekan dan berteriak nyaring memekakkan telinga.
Di atas sebuah peti kayu tua, Ki Darmo duduk dengan angkuh sambil mengisap cerutu mahalnya.
Pria tua berjas marun itu menyandarkan dagunya pada tongkat berkepala naga emas.
Matanya berbinar penuh ambisi, menatap lekat ke arah pintu brankas yang perlahan mulai melunak.
"Sedikit lagi..." bisik Ki Darmo pada dirinya sendiri.
"Begitu Buku Hitam itu ada di tangan kita, rahasia Cendana Tua akan aman untuk selamanya."
"Dan anak muda bernama Andra itu akan kita singkirkan perlahan dari ibu kota."
Namun, di saat keyakinan itu mencapai puncaknya, sebuah kejanggalan mendadak terjadi di sudut ruangan.
Salah satu penjaga di dekat tangga tiba-tiba terhuyung ke depan tanpa suara.
Sebuah lubang kecil menganga di tengah dahinya, mengalirkan darah segar ke lantai.
Pria itu ambruk seketika sebelum sempat menarik pelatuk senapannya.
"Ada penyusup!" teriak salah seorang komandan lapangan dengan suara melengking.
Sontak, seluruh penjaga bersenjata langsung mengalihkan pandangan dan mengarahkan senjata mereka ke segala arah.
Belasan lampu senter dari ujung laras senapan menyapu kegelapan sudut ruangan secara membabi buta.
Namun terlambat.
Pusss! Pusss! Pusss!
Rentetan tembakan peredam suara meletus bagaikan badai kematian dalam keheningan.
Satu per satu penjaga elit Cendana Tua tersungkur ke lantai dengan luka tembak fatal di dada dan kepala.
Darah segar menyembur liar, membasahi dinding semen dan mengalir ke dalam genangan air.
Kepanikan luar biasa seketika meledak di dalam ruang bawah tanah yang sempit itu.
"Balas tembakan! Cari posisi berlindung!" bentak sang komandan panik.
Suara baku tembak pecah, namun itu adalah pembantaian satu arah yang sangat mengerikan.
Pasukan pengawal bayangan Andra bergerak laksana hantu tak kasat mata.
Mereka melompat dari pipa ventilasi, merayap di balik pilar, dan menembak dengan tingkat akurasi yang sempurna.
Dalam waktu kurang dari seratus detik, seluruh anak buah Ki Darmo telah tewas bersimbah darah.
Langkah kaki tenang mulai terdengar menuruni anak tangga terakhir.
Tap. Tap. Tap.
Suara sepatu itu berirama sangat konstan, memecah sisa-sisa kepulan asap mesiu di udara.
Andra berjalan maju dengan kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku mantel hitamnya.
Wajahnya datar, memancarkan kengerian yang membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.
Ia melangkah melewati belasan mayat yang bergeletakan di sekelilingnya tanpa rasa jijik sedikit pun.
Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Ki Darmo yang kini berdiri terpaku di samping peti kayu.
Tongkat naga emas di tangan pria tua itu bergetar hebat, hampir terjatuh ke lantai.
Wajah Ki Darmo yang tadinya angkuh kini sepucat kertas putih.
Keringat dingin bercampur air hujan mengalir deras di dahi keriputnya.
"Ka... kau...?!" ucap Ki Darmo terbata-bata, menatap Andra bagaikan melihat sesosok iblis dari neraka.
"Bagaimana bisa... bagaimana kau bisa tahu tempat persembunyian ini?!"
Andra berhenti tepat pada jarak beberapa langkah di hadapan sang petinggi sindikat.
Ia menatap rendah pria tua itu seolah-olah Ki Darmo hanyalah debu di bawah telapak kakinya.
"Tempat persembunyian?" Andra tersenyum sinis.
"Di negeri ini, tidak ada satu jengkal tanah pun yang bisa disembunyikan dari penglihatanku, Darmo."
"Kalian mengira pergerakan kalian malam ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi."
"Padahal, sejak kalian menginjakkan kaki di kota ini, aku sudah memegang leher kalian di telapak tanganku."
Ki Darmo menggertakkan giginya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan pengaruh yang dimilikinya.
"Andra! Jangan bertindak sembrono!" teriak Ki Darmo dengan suara serak.
"Aku adalah perwakilan sah dari dewan tertinggi Cendana Tua!"
"Jika kau membunuhku, seluruh jaringan bawah tanah di nusantara akan mendeklarasikan perang total terhadapmu!"
"Keluarga besarmu, perusahaanmu, bahkan istrimu... tidak akan ada yang bisa selamat!"
Mendengar ancaman yang membawa-bawa nama sang istri tercinta, suasana di sekitar Andra mendadak membeku.
Aura membunuh yang pekat meledak dari tubuh pria itu, menekan kuat udara di ruang bawah tanah.
Suhu ruangan seolah merosot drastis hingga titik yang paling mencekam.
"Kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Darmo," bisik Andra dengan suara yang sangat dingin.
"Menyeret istriku ke dalam urusan busuk kalian adalah tiket ekspres menuju kehancuran total."
Ki Darmo merasa tertekan oleh gelombang intimidasi yang begitu kuat.
Panik menguasai akal sehatnya.
Dengan gerakan kilat, tangan tua itu merogoh jaket marun miliknya dan menarik keluar sebuah pistol emas berukir.
Ia mengarahkan moncong senjata itu tepat di antara kedua mata Andra!
"Mati saja kau, anak sombong!" teriak Ki Darmo histeris sambil menarik pelatuknya.
Dor!
Peluru melesat membelah udara dalam jarak yang sangat dekat.
Namun, Andra tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Sebelum peluru itu sempat mendekat, Handoko yang bergerak secepat kilat dari samping sudah melepaskan tembakan balasan.
Blar!
Timah panas bersarang tepat di pergelangan tangan kanan Ki Darmo.
"Arghhh!" teriak Ki Darmo histeris.
Pistol emas di tangannya terpental jauh, berputar-putar di atas lantai semen yang berdarah.
Pria tua itu terjungkal ke belakang, jatuh tersungkur dengan tangan bersimbah darah segar.
Andra melangkah maju perlahan.
Ia menapakkan sepatu pantofelnya tepat di atas dada Ki Darmo yang megap-megap menahan sakit.
Ia menekan sepatu itu kuat-kuat hingga Ki Darmo menjerit kesakitan dan kesulitan bernapas.
"Permainan sudah berakhir, Darmo," ucap Andra tanpa belas kasihan.
"Kalian mengira masa kejayaan Cendana Tua akan bertahan selamanya."
"Tapi dunia ini berputar. Dan sekarang, giliranku yang memegang kendali atas roda itu."
Ki Darmo batuk darah, matanya melotot tajam menatap Andra dengan sisa-sisa kebencian yang mendalam.
"Cendana... Cendana Tua tidak akan pernah... membiarkanmu menang..." rintih Ki Darmo terbata-bata.
"Akan ada... orang lain yang datang... untuk memenggal kepalamu..."
Andra menunduk, mencengkeram kerah jas marun pria tua itu dengan satu tangan yang kokoh.
Ia mengangkat tubuh renta itu dengan mudah, lalu membisikkan kalimat terakhir tepat di telinga Ki Darmo.
"Kirim salamku pada para tetua di neraka."
Setelah itu, Andra menghempaskan tubuh Ki Darmo kembali ke lantai dengan keras.
Pria tua itu kejang-kejang beberapa detik, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dengan mata terbuka lebar.
Keheningan mutlak kembali merajai ruang bawah tanah yang kini dipenuhi genangan darah.
Andra menegakkan tubuhnya, merapikan sedikit kerah jas hitamnya yang terkena cipratan air hujan.
"Handoko," panggil Andra tenang.
"Ya, Tuan?" jawab asistennya sigap.
"Ambil Buku Hitam itu dari dalam brankas."
"Dan kirimkan kepala Ki Darmo sebagai hadiah selamat pagi untuk para dewan Cendana Tua di markas pusat mereka."
"Baik, Tuan Muda! Segera saya laksanakan," perintah Handoko patuh.
Andra berbalik badan dan melangkah keluar meninggalkan ruang pembantaian tersebut.
Di luar gudang, badai hujan mulai mereda, menyisakan tetesan gerimis yang menyejukkan udara dini hari.
Andra masuk ke dalam mobil SUV miliknya, menyandarkan punggung dengan mata terpejam rapat.
Meskipun malam ini dipenuhi darah dan pertempuran, pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal.
Mentari pagi besok akan menyambut kepulangannya ke istana Menteng.
Dan kali ini, tidak ada lagi bayangan musuh yang berani mengganggu kebahagiaannya bersama sang istri tercinta.