NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Sensasi dingin dari tangannya yang mendekapku terasa sangat nyata, kontras dengan panasnya napas yang menghembus tepat di telingaku. Tubuhku terasa seperti milik orang lain mati rasa, terkunci dalam kelumpuhan yang dipaksakan oleh teh sialan itu.

​Saat ia menggendongku keluar dari villa, aku bisa merasakan setiap langkah kakinya yang berat dan penuh keyakinan. Tidak ada ketergesaan dalam gerakannya ia begitu tenang, seolah ia sedang menjemput sesuatu yang memang miliknya sejak awal.

​Lalu, tepat sebelum pintu mobil tertutup dan memisahkan kami dari dunia luar, ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Suaranya bukan lagi gertakan, melainkan bisikan yang pelan namun sarat akan ancaman yang mematikan.

​Abhi " Didn't I tell you? You'll never get away. No matter where you go, no matter how far you try to hide... I'll always find you." (Bukankah sudah aku bilang? Kamu tidak akan pernah bisa pergi. Ke mana pun kamu melangkah, berapa jauh pun kamu mencoba bersembunyi... aku akan selalu menemukanmu.)

​Ada nada posesif yang mengerikan dalam kalimat itu, sebuah kenyataan pahit yang perlahan menghancurkan sisa-sisa keberanianku. Mobil itu mulai melaju, membawa kami membelah malam menuju kembali ke tempat yang paling aku hindari.

​Aku masih tidak bisa bergerak, tidak bisa memberontak. Aku hanya bisa menangis dalam diam, merasakan air mata yang membasahi pelipis, sementara pria itu dengan segala kekuasaannya kembali merengkuh kendali atas hidupku yang baru saja kutemukan kembali.

Cahaya matahari yang menusuk mata terasa seperti penghinaan bagi jiwaku yang hancur. Aku mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan ruangan yang asing namun terasa menyesakkan, Ini bukan apartemen. Langit-langitnya jauh lebih tinggi, perabotannya lebih gelap, dan auranya jauh lebih menekan. Aku berada di rumah pribadinya benteng yang tak tertembus itu.

​Saat kesadaranku kembali sepenuhnya, aku mencoba bangkit, namun seluruh ototku menegang seketika. Di sudut ruangan, tepat di atas kursi leather hitam yang menghadap langsung ke arahku, ia duduk di sana.

​Dia tidak bersuara, tidak bergerak, hanya menatapku. Tatapan itu... tatapan yang selalu membuatku merasa seperti mangsa yang sudah tidak punya jalan keluar. Matanya dingin, datar, dan benar-benar tak terjamah oleh emosi manusia.

Abhi ​" Sudah bermainnya? " suaranya rendah, bergema di kesunyian kamar yang luas itu.

​Aku menahan napas, mencoba memaksakan keberanian untuk membalas tatapannya, meski tangan di bawah selimut gemetar hebat. Ia berdiri perlahan, melangkah mendekat dengan ritme yang sengaja diperlambat seolah-olah dia adalah predator yang sedang menikmati sisa-sisa ketakutan mangsanya.

​Tepat di samping tempat tidur, ia berhenti. Ia membungkuk sedikit, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Tekanan yang ia berikan begitu kuat hingga aku merasa oksigen di ruangan itu menipis.

Abhi ​" Jika sudah..." ia menjeda kalimatnya, tangannya terulur, jemarinya yang dingin menyentuh daguku dengan kasar, memaksa wajahku untuk tetap menatap matanya, " sekarang giliranku."

​Senyum tipis yang tak sampai ke matanya muncul di wajahnya. Senyum itu bukan tanda keramahan, melainkan awal dari hukuman yang baru saja ia rancang untukku.

Tunggu aku kembali setelah membereskan tikus sialan itu. Kalimat itu meluncur dari bibirnya dengan nada yang begitu tenang, justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih mematikan daripada teriakan amarah. " Tikus sialan." Dia menyebut orang yang berkhianat di perusahaannya sebagai tikus.

​Darahku seolah membeku seketika. Ancaman itu begitu nyata, menyiratkan bahwa dia tidak hanya berniat mengurungku, tetapi juga menghancurkan siapa pun yang berani mengulurkan tangan padaku.

Pikiranku berputar cepat teringat kejadian terakhir kali aku mencoba membangkang ingatan tentang bagaimana dia menghukumku dengan cara yang membuatku kehilangan jati diri dan kebebasanku. Ketakutan itu bukan lagi sekadar rasa takut, melainkan trauma yang nyata.

​Seluruh tubuhku menegang hebat. Otot-ototku kaku, seolah jiwaku secara otomatis menciut untuk melindungi diri dari ancaman yang akan datang. Aku mencoba mengatur napas, namun paru-paruku terasa seperti tersumbat oleh debu.

​Dia menarik tangannya dari daguku, namun tatapannya masih mengunci gerak-gerikku, seolah dia menikmati setiap detik ketakutanku. Dia memutar tubuhnya, melangkah perlahan menuju pintu kayu yang besar itu. Setiap detak langkahnya terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan yang baru saja aku bangun.

Abhi ​" Jangan berpikir untuk mencoba lari lagi," ucapnya tanpa menoleh, tangannya sudah memegang gagang pintu. " Karena setelah ini, aku tidak akan lagi memberikanmu kesempatan untuk melihat dunia luar."

​Pintu terbuka, lalu tertutup dengan dentuman keras yang menggetarkan isi ruangan. Aku masih mematung, terjebak dalam kebekuanku sendiri.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!