Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa itu rumah?
Juna baru saja selesai menyisir rambutnya yang setengah basah di kamar mandi umum ketika ponsel di dalam saku celana pendeknya bergetar panjang. Ia melangkah keluar ke koridor sambil mengalungkan handuk kecil di leher, lalu merogoh benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang mengganggunya sepagi ini.
Satu pesan baru muncul di layar kunci. Begitu membaca nama pengirimnya, senyum miring yang biasanya menghiasi wajah tengil Juna langsung luntur seketika.
Papa: Pulang malam ini. Ada hal penting yang harus Papa bicarakan dengan kamu
Juna mendengus sinis, menatap layar ponselnya dengan tatapan malas. Tanpa berniat sedikit pun untuk membalas, ia langsung menggeser gelembung pesan itu hingga hilang dari layar. Namun, baru saja ia hendak memasukkan kembali ponselnya ke saku, benda itu kembali bergetar dan memunculkan nada dering. Kali ini, sebuah panggilan masuk menampilkan nama yang membuat sorot mata Juna melunak dalam sekejap.
Mama Calling...
Juna menarik napas pendek sebelum menggeser tombol hijau ke kanan. "Halo, Ma?" sapanya.
Nadanya berubah jauh lebih hangat dan santai, sangat kontras dengan ekspresi dinginnya beberapa detik lalu.
"Halo, Juna sayang," suara lembut di seberang telepon terdengar, seketika membuat ketegangan di bahu Juna mengendur. "Kamu lagi apa, Nak? Sudah sarapan belum?"
"Ini baru selesai mandi, Ma. Belum sarapan, paling nanti nyari bubur di depan gang," jawab Juna sambil berjalan pelan menyusuri koridor kosan menuju kamarnya. "Mama sendiri udah sarapan?"
"Mama sudah tadi sama Papa kamu. Juna... kamu apa kabar? Mama kangen banget sama anak tunggal Mama yang paling ganteng ini. Di kosan makanan kamu aman, kan? Kamu nggak kurusan, kan?" rentetan pertanyaan penuh perhatian itu mengalir begitu saja, membuat Juna tidak bisa menahan senyum tipisnya.
"Aman, Ma. Juna malah nambah makannya di sini, soalnya banyak jajanan," dusta Juna biar ibunya tidak cemas. "Mama jangan khawatir, Juna baik-baik aja kok di sini."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi Mama tetap kangen, Juna. Malam ini kamu pulang ke rumah, ya? Kita makan malam bersama. Mama sengaja masak kepiting saus padang kesukaan kamu, lho. Mama pengen banget lihat muka kamu, semenjak kamu pindah ke kosan kan kita belum ketemu lagi."
Juna menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya. Ia terdiam beberapa saat, menatap lantai koridor dengan batin yang mendadak terasa berat. Ia tahu persis, jika ada ibunya, maka pria paruh baya yang paling ia hindari itu juga pasti akan duduk di meja yang sama nanti malam. Rasa malas langsung bergelayut di benaknya.
Namun, mendengar nada suara ibunya yang begitu penuh harap dan sarat akan rasa rindu, Juna tidak pernah punya kekuatan untuk menolak.
"Yaudah, Ma," putus Juna akhirnya sambil menghela napas pasrah. "Nanti malam Juna pulang agak mepet jam makan malam, ya."
"Beneran, Nak? Ah, Mama senang sekali! Ya sudah, dandan yang rapi ya, anak ganteng Mama. Sampai ketemu nanti malam, Juna. Hati-hati di jalan nanti."
"Iya, Ma. Sampai ketemu nanti malam." setelah memastikan ibunya memutuskan sambungan terlebih dahulu, Juna menurunkan ponselnya dan menatap layar yang kini sudah menggelap. Ia mendesah panjang, meratapi hari Sabtunya yang dipastikan tidak akan berjalan dengan tenang.
Malam harinya, langit kota tampak pekat tanpa bintang. Juna membelah jalanan raya dengan motor sport hitam besarnya yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Raungan mesin motor yang berat itu memecah keheningan malam, menjadi pelampiasan dari rasa enggan yang sejak sore berkecamuk di dalam dadanya. Jaket denim andalannya berkibar tertiup angin malam yang menusuk tulang, namun Juna seolah tidak peduli.
Motor hitam itu perlahan menurunkan kecepatannya saat memasuki sebuah gerbang besar yang dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan. Kompleks perumahan elite di kawasan perbukitan kota itu tampak begitu sunyi dan eksklusif. Di sepanjang kiri dan kanan jalan, berdiri megah rumah-rumah berarsitektur modern dengan halaman luas yang diterangi lampu-lampu taman yang temaram.
Juna membelokkan motornya ke salah satu halaman rumah yang paling luas di ujung jalan. Sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan dominasi kaca dan dinding batu alam yang kokoh. Tempat yang bagi orang lain mungkin adalah sebuah impian, namun bagi Juna, tempat ini tidak lebih dari sebuah bangunan megah yang sedingin es.
Setelah memarkirkan motornya di garasi yang berjajar mobil-mobil mewah, Juna melepas helmnya, merapikan rambutnya sebentar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu samping dengan langkah yang terasa begitu berat.
Suasana di ruang makan yang sangat luas itu berlangsung dengan keheningan yang mencekam. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal di atas meja panjang bermaterial marmer. Di sisi kiri meja, sang ibu duduk dengan senyum lembut yang tak pernah pudar, sesekali merayunya untuk menambah lauk dan meletakkan potongan daging kepiting terbaik ke piring Juna. Juna menerima perlakuan itu dengan senyuman tulus.
Namun, suasana hangat itu langsung menguap ketika pandangan Juna beralih ke ujung meja. Di sana, sang ayah duduk dengan posisi tubuh tegak yang kaku. Pria paruh baya itu memancarkan aura wibawa yang begitu mengintimidasi, seolah-olah ia sedang memimpin rapat perusahaan besar, bukannya sedang makan malam keluarga.
Setelah beberapa menit hanya diisi oleh keheningan yang canggung, sang ayah akhirnya meletakkan garpunya ke atas piring dengan ketukan yang sengaja diperkeras, menimbulkan bunyi berdenting yang memotong suasana. Pria itu menyeka bibirnya dengan kain serbet mahal sebelum mengarahkan tatapan matanya yang tajam dan sedingin es langsung ke arah Juna.
"Sampai kapan kamu mau tinggal di kos-kosan sempit itu dan berlagak mandiri?" tanya ayahnya dingin. "Semua fasilitas di rumah ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kamu, tapi kamu malah memilih pergi dan hidup menyusahkan diri sendiri di luar sana."
Juna menghentikan gerakan tangannya yang baru saja hendak menyuap nasi. Ia meletakkan sendoknya kembali ke piring tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi jati yang tinggi. Tatapan matanya yang tajam lurus membalas sorot mata sang ayah, sama sekali tidak ada riak ketakutan atau tunduk di sana.
"Sampai Juna merasa rumah ini nggak mirip penjara lagi, Pa," jawab Juna asal. Kalimatnya meluncur dengan santai, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu tajam dan dingin menembus keheningan ruangan.
"Juna! Jaga ucapan kamu!" suara sang ayah langsung meninggi satu oktav. Rahangnya mengeras dengan urat leher yang menegang karena tidak suka ditentang dengan begitu berani. "Papa membiarkan kamu tinggal di luar bukan untuk membuat kamu tumbuh menjadi anak pembangkang yang tidak tahu sopan santun seperti ini!"
"Papa yang membuat Juna memilih untuk pergi dari rumah ini," balas Juna tenang, namun sorot matanya mengunci sang ayah dengan kilatan emosi yang tertahan. "Jadi, tolong jangan bertingkah seolah-olah Papa peduli sama kenyamanan atau pilihan hidup Juna sekarang."
Atmosfer di meja makan mewah itu mendadak memanas dalam sekejap, mirip dengan dua ekor pejantan yang siap saling serang demi mempertahankan ego masing-masing. Gengsi yang sama-sama setinggi langit membuat setiap obrolan antara ayah dan anak ini selalu berakhir seperti anjing dan kucing yang tidak pernah bisa akur.
"Sudah, sudah... Kenapa jadi bertengkar di depan makanan begini, sih?" lerai sang ibu dengan wajah yang seketika berubah cemas. Perempuan itu buru-buru mengusap lengan suaminya untuk meredakan amarah pria itu, lalu menatap Juna dengan pandangan mata yang penuh permohonan agar sang anak tidak melanjutkan perdebatan.
Juna menghela napas pelan. Demi menghargai perasaan ibunya yang sudah bersusah payah memasak dan menahannya di sini, Juna memilih untuk menyudahi konflik yang tidak akan pernah ada ujungnya ini. Ia tahu, berdebat dengan ayahnya hanya akan membuang-buang energi.
Juna bangkit dari duduknya, merapikan jaket denimnya yang sempat ia taruh di sandaran kursi, lalu menatap ibunya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Ma, Juna udah kenyang. Juna pamit pulang ke kosan sekarang ya," pamit Juna dengan nada suara yang sudah kembali melembut, khusus untuk ibunya.
"Juna, tunggu dulu, Nak... Kamu kan baru makan sedikit," panggil ibunya dengan raut wajah sedih sambil ikut bangkit berdiri.
"Juna! Papa belum selesai bicara dengan kamu! Berhenti di situ!" seru ayahnya dengan suara tajam yang menggema keras di seluruh penjuru ruang makan, menginterupsi langkah kaki sang anak.
Juna sama sekali tidak peduli. Tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, ia tetap melangkah lebar meninggalkan area ruang makan, keluar melewati pintu besar rumah mewah yang selalu berhasil membuatnya merasa tercekik itu.
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan