Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Bertemu
Gina saat ini berdiri di hadapan Egar yang sedang menandatangani berkas yang telah diberikan.
"Jadi kamu sudah menemukan model yang akan untuk produk terbaru kita?" tanya Egar memastikan sekali lagi sembari menandatangani dokumen tersebut.
"Benar. Pak, dan saya yakin beliau akan bekerja sama dengan baik dan profesional," jawab Gina.
"Ya, semoga saja apa yang kamu katakan benar," jawab Egar kemudian memberikan dokumen tersebut kembali kepada Gina.
"Kamu atur jadwal untuk melakukan pemotretan secepatnya dan ingat saya tidak suka bertele-tele," tegas Dikta.
Gina menganggukkan kepala, "kalau begitu saya permisi dulu!" Gina kembali menundukkan kepala berpamitan kepada pimpinan nya itu.
"Silahkan!" sahut Egar.
Gina kemudian langsung pergi dan tidak lupa menutup pintu ruangan Egar dengan mengatur nafasnya.
"Syukurlah jika pak Egar tidak mempermasalahkan kontrak yang diinginkan Amanda dan dengan begitu proyek ini akan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan ataupun dan aku juga bisa menyelesaikan semuanya," ucap Amanda menghela nafas.
Saat menyiapkan kontrak tersebut sebenarnya dia ragu jika akan ditandatangani oleh pimpinannya, karena permintaan Amanda cukup ribet, ternyata kontrak itu tidak terlalu diperiksa Egar dan menandatangani begitu saja.
Ditengah lamunannya tiba-tiba saja Maudy sudah muncul di hadapannya.
"Nona!" Gina menundukkan kepala menyapa Maudy.
"Kamu terlihat gugup? Ada apa? Apa kamu baru saja dimarahi oleh Egar?" tanya Maudy
"Tidak Nona, saya baru saja dari ruangan pak Egar, hanya saja saya tadi mengantarkan dokumen kepada beliau," jawab Gina.
"Begitu, baguslah. Jika Egar ada di dalam sana," ucap Maudy yang langsung berlalu dari hadapan Gina yang juga memberikan jalan kepada kekasih dari pimpinannya itu.
Egar kembali melihat ke arah pintu ketika pintu itu dibuka.
"Sayang," sapa Maudy.
"Kamu sudah menemukan model untuk produk terbaru kamu?" tanya Maudy.
"Ya, semua sudah diurus oleh sekretaris ku," jawab Egar.
"Model mana yang kamu pakai dan dari agensi mana?" tanyanya juga penasaran.
"Gina yang mengurus semuanya," jawab Egar.
"Semoga saja, dia bisa bekerja secara profesional dan tidak membuat kamu kecewa," ucap Maudy membuat Egar mengganggukan kepala.
Maudy kemudian menghampiri kekasihnya itu yang saat ini sudah yang berdiri di belakang Egar dengan sedikit membungkuk memegang kedua bahu Egar yang mendekatkan wajahnya.
"Sayang, aku minta maaf ya untuk kali ini tidak bisa menjadi model dari produk kamu, aku masih terikat kontrak dan tidak bisa dibatalkan begitu saja," ucap Maudy.
"Tidak apa-apa, tidak semua urusan pekerjaan di perusahaan ini harus terikat dengan kamu," sahut Egar dengan santai.
"Aku sangat berharap sayang, nanti jika kamu membutuhkan model lagi, aku akan mengusahakan sebisaku untuk ikut berpartisipasi dan bagaimanapun perusahaan yang mendalami keluargaku yang saat ini dikelola oleh kamu dan apapun itu aku harus ikut membantu kamu," ucap Maudy.
"Maudy, untuk urusan perusahaan ini biar menjadi urusanku hal yang penting kamu urus adalah mengurus kakak iparku untuk tidak mencampuri urusan pekerjaanku dan tidak datang ke ruanganku hanya membuat konsentrasiku buruk," ucap Egar.
Maudy mengerutkan dahi dan kemudian menegakkan posisi berdirinya melihat serius ke arah Egar.
"Maksud kamu bagaimana? Kakak iparku, apa itu Reno?" tanyanya memastikan.
"Lalu siapa lagi jika bukan dia, aku tidak tahu apa yang membuatnya terus saja datang menggangguku dan mungkin saja karena dia kesal akan posisinya yang telah aku ambil," ucap Egar.
"Jadi Reno datang menemui kamu?" tanyanya lagi memastikan membuat Egar menganggukkan kepala.
"Apa-apaan sih dia? Apa coba yang membuatnya harus datang menemui kamu," Maudy benar-benar kesal dengan saudara iparnya.
"Nanti aku akan bicara dengannya dan aku pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi," sahut Maudy.
"Ya semoga saja," sahut Egar.
"Selalu saja mencari masalah," batin Maudy benar-benar kesal.
****
Amanda saat ini berada di salah satu Mall terbesar di Jakarta dengan memilih-milih pakaian.
"Aku harus menjadi pakaian yang cocok untuk memulai pekerjaanku, ini adalah jalan menuju untuk pembalasan dan siap-siap saja kalian semua akan mendapatkan masalah dariku," batin Amanda tersenyum penuh rencana.
"Mbak?" panggilnya pada salah satu pelayan membuat pelayan itu menghampiri Amanda.
"Apakah ini ada warna lain?" tanya Maudy.
"Ada Nona, saya ambilkan sebentar," ucap nelayan tersebut membuat Amanda menganggukkan kepala.
Brukk
Tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang yang cukup keras Amanda membalikkan tubuh dan ternyata seorang anak kecil sudah terduduk di lantai.
"Ya ampun!" Amanda begitu panik dan langsung berjongkok untuk membantu anak kecil tersebut yang memegang lengannya sepertinya sangat sakit.
Ketika anak itu mengangkat kepalanya membuat Amanda mengerutkan dahi.
"Sakit!" keluhnya.
"Bukankah anak ini....." Amanda mengingat-ingat anak kecil yang menahan kesakitan itu tak Zena.
"Tante maaf, Zena tadi tidak sengaja, Zena mengejar kucing yang masuk ke tempat ini," ucapnya merasa bersalah.
"Benar, dia adalah anak yang aku lihat kemarin," batin Amanda mengingat bahwa anak kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa itu tak lain adalah putri dari Sisil.
"Ya ampun Zena," lamunan Amanda terhenti ketika mendengar suara yang tidak asing dan suara itu tak lain adalah Sisil yang melihat putrinya terjatuh membuatnya langsung berlari.
"Kamu tidak apa-apa. Nak?" tanyanya.
"Tidak. Ma, Zena tadi kurang hati-hati dan menabrak Tante ini," jawab Zena.
Sisil melihat ke arah Amanda dengan pandangan mata mereka bertemu. Sisil mengerutkan dahi merasa mengenali Amanda sementara Amanda terlihat santai dan juga menunggu apakah Sisil bisa mengenali dirinya.
"Tidak apa-apa. Namanya juga anak kecil jadi wajar-wajah sedikit ceroboh," ucap Amanda tersenyum santai sembari berdiri dan sementara Sisil juga membantu putrinya berdiri tetapi masih saja merasa seperti Amanda sangat tidak asing.
"Zena, lain kali kamu hati-hati ya," ucap Amanda.
"Baik Tante," sahut Zena dengan menganggukkan kepala.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sisil masih penasaran menatap Amanda dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
"Pasti kita pernah bertemu karena dunia ini tidak begitu lebar," jawabnya dengan tersenyum penuh arti.
Sisil masih mencoba untuk mengingat siapa sebenarnya wanita di hadapannya itu, sungguh menurutnya wanita itu sangat dikenali
"Mama ayo cepat kita pulang. Zena harus les balet," ucapnya memegang tangan Sisil mendesak ibunya tersebut.
"Iya. Ayo!" sahut Sisil mau tidak mau harus menuruti Zena dan padahal dia masih penasaran dengan wanita yang baru saja dia temui dan bahkan saat meninggalkan tempat itu Sisil masih menoleh ke belakang dan sementara reaksi Amanda hanya memberikan senyuman.
"Jadi aku benar-benar tidak dikenali setelah fisikku berubah dan padahal wajah aku tetap sama," batin Amanda tidak menyangka bahwa dirinya tidak dikenali oleh saudara tirinya itu Dan mungkin saja karena sudah kurus jadi wajah Amana lebih tirus dan sulit Untuk dikenali.
Bersambung.....