NovelToon NovelToon
Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Meyrna Pratiwi

Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.

Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.

Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.

Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Cahaya matahari senja yang keemasan tampak memapar tubuh indahnya dengan bayang-bayang yang menggoda, sementara embusan angin yang lembut membuat ujung dadanya yang kecokelatan perlahan mengeras.

Tapi Mark Barrington segera tersadar bahwa ia hampir tidak mungkin memajang lukisan seberani itu di ruang tamu, pikirnya. Mungkin di dalam ruang kerja pribadinya? Tidak, kalau ditaruh di sana, dia tidak akan pernah bisa menyelesaikan pekerjaan apa pun.

Mungkin dia bisa memasangnya di dalam kamar tidur. Namun, tempat itu justru kemungkinan besar akan mengganggu tidur nyenyaknya. Tidak perlu diragukan lagi, Katie Wilson adalah wanita yang sangat mengganggu ketenangannya, bahkan ketika wanita itu sendiri tidak melakukannya secara sadar.

"Meskipun minimnya barang pajangan kecil seperti itu mungkin membuat rumah ini jadi jauh lebih mudah dibersihkan," ujar Katie menimpali dengan nada menenangkan ketika melihat Mark terus menatapnya tanpa kedip.

Katie mendadak cemas. Apakah dia sudah membuat pria itu jengkel karena mengkritik rumahnya? Padahal kan Mark sendiri yang tadi meminta pendapatnya. Dan itu pun dilakukan setelah Mark menasihatinya bahwa dia harus menjawab setiap pertanyaan yang diajukan secara langsung.

Katie menelan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi. Menjalin hubungan dengan seorang laki-laki ternyata sama sekali bukan urusan yang mudah. Bahkan dengan pria yang sangat ia sukai seperti Mark saja serumit ini, apalagi jika harus berhadapan dengan orang asing yang sama sekali tidak dikenal?

Untunglah bagi Katie, sebuah dering telepon tiba-tiba berbunyi nyaring, memberikan pengalihan yang sangat ia butuhkan saat ini.

Mark mengangkat gagang telepon, menyebutkan identitas dirinya singkat, lalu mendengarkan si penelepon di seberang sana untuk waktu yang cukup lama.

"Tidak!" Penolakan datar Mark terhadap apa pun yang diusulkan oleh orang di ujung telepon terdengar sangat mutlak dan tanpa kompromi. "Dia sudah memegang penawaran saya," potong Mark dengan kalimat yang tajam dan dingin. "Dia bisa mengambil penawaran itu atau menolaknya sekalian."

Katie seketika bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Mark yang begitu kaku dan tidak kenal ampun. Kalau aku yang berada di posisi orang itu, aku pasti akan langsung memilih untuk mundur saja, pikir Katie dalam hati.

"Saya rasa tidak ada gunanya lagi melakukan diskusi lebih lanjut. Dia bisa memberi tahu asisten administrasi saya besok tentang apa pun keputusan yang dia ambil." Mark membanting gagang telepon itu ke tempatnya dengan keras.

"Kabar buruk?" tanya Katie hati-hati.

"Bajingan itu pergi menemui pengacara tepat setelah menemui saya, dan menyuruh pengacaranya menelepon untuk mencoba mendapatkan persyaratan kesepakatan yang lebih menguntungkan," gerutu Mark kesal.

"Bajingan yang mana yang sedang kita bicarakan saat ini?"

"Edwards," sembur Mark, meludahkan nama itu seolah-olah kata tersebut meninggalkan rasa yang sangat hambar dan buruk di lidahnya.

Katie mengernyitkan dahi menatap pria itu dengan bingung. "Tunggu sebentar. Bukankah kamu tadi memberi tahu saya bahwa saya harus meminta seorang pengacara memeriksa kontrak yang kamu berikan kepada saya? Tapi sekarang kamu malah mengutuk David Edwards hanya karena dia melakukan hal yang persis sama?"

"Itu jelas berbeda," Mark Barrington bersikeras.

"Bedanya di mana? Saya tidak melihat ada perbedaannya."

Mark menatap Katie Wilson dengan tatapan sarat rasa frustrasi. Mengapa wanita ini terus-menerus membela Edwards? Padahal Mark sudah menceritakan padanya apa yang telah dilakukan keluarga pria itu kepada ibunya. Mungkinkah Katie diam-diam merasa tertarik pada Edwards? Membayangkan Katie berada di dalam pelukan Edwards seketika membuat Mark merasa ingin membunuh orang.

"Apakah Edwards membuatmu bergairah?" tanya Mark ketus dan kasar.

"Membuatku bergairah?" Katie mengulang pertanyaan itu dengan nada tidak percaya.

"Tentu saja kamu sudah pernah mendengar konsep tentang ketertarikan seperti itu sebelumnya, kan?"

"Bagaimana saya bisa tahu kalau dia membuat saya bergairah atau tidak?" tanya Katie balik dengan raut bingung. "Saya baru bertemu dengan pria itu selama beberapa menit tadi pagi."

"Artinya dia tidak membuatmu tertarik." Mark seketika merasakan gelombang kelegaan yang luar biasa besar menyapu bersih dadanya.

"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?" tanya Katie, mendadak penasaran tentang bagaimana cara kerja sudut pandang pikiran laki-laki dalam melihat sebuah ketertarikan seksual.

"Karena pilihannya cuma dua: kamu merasa tertarik pada seseorang sejak awal, atau kamu memang tidak tertarik sama sekali. Kamu harusnya tahu hal dasar seperti itu."

"Hanya karena seorang pria tidak langsung membuatku bergairah saat pertama kali bertemu, bukan berarti ketertarikan itu tidak akan bisa tumbuh di kemudian hari," sanggah Katie, sambil berharap dalam hati agar ucapannya itu benar. Sebab jika tidak begitu, daftar pria potensial yang memenuhi syarat di hidupnya akan menjadi sangat pendek dan terbatas.

Bunyi bel pintu yang bernada merdu tiba-tiba berdentang, memotong percakapan yang sebenarnya mulai dirasa semakin tidak nyaman dan menggelisahkan oleh Katie. Entah bagaimana, ia selalu gagal bersikap objektif dan netral setiap kali berbicara tentang seks secara abstrak dengan Mark.

Reaksi fisiknya selalu ikut terlibat, dan yang mungkin jauh lebih buruk, pikirannya juga ikut melantur. Kenyataan pahitnya adalah, ia mendapati Mark begitu memesona, baik secara intelektual maupun secara fisik. Satu-satunya hal yang bisa Katie harapkan saat ini adalah agar perasaan sialan itu tidak bertahan lama.

"Makanan kita sudah datang," ujar Mark yang kembali dari pintu depan dengan membawa sebuah kotak pizza berukuran besar dan satu boks minuman soda, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kopi.

Katie seketika bergidik ngeri saat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh dasar kotak kardus yang berminyak itu terhadap permukaan halus meja antik milik Mark.

Ia melakukan usaha keras untuk menahan diri agar tidak langsung menjerit histeris. Dengan gerakan cepat yang digerakkan oleh naluri pencinta barang antik, Katie menyambar beberapa selebaran brosur yang tergeletak di sudut ruangan, lalu menyisipkannya tepat di bawah kardus pizza sebelum minyaknya sempat merembes dan merusak lapisan politur kayu meja tersebut.

Mark Barrington memperhatikan kegesitan wanita itu dengan sebelah alis yang terangkat tinggi, merasa geli sekaligus heran.

"Kamu tahu," ujar Mark sambil membuka penutup kotak pizza, membiarkan aroma keju panggang dan pepperoni yang gurih seketika memenuhi ruang tamu mereka yang steril, "meja itu sudah dilapisi pelindung khusus. Kardus berminyak tidak akan bisa merusaknya dalam waktu lima menit."

"Tetap saja, mencegah itu jauh lebih baik daripada harus merestorasinya nanti," balas Katie ketus, sambil mengatur napasnya yang sempat tertahan. Ia mengambil posisi duduk di ujung sofa, sengaja menjaga jarak aman dari jangkauan fisik Mark yang terlalu mengintimidasi kesadarannya. "Jadi, di mana kita akan menonton filmnya? Di ruangan ini?"

Mark menggeleng, lalu mengambil sepotong pizza yang masih mengepulkan uap panas. "Tidak di sini. Ruang santai di sebelah dalam jauh lebih nyaman. Ayo bawa minumanmu, Katie."

Bersambung ....

1
afri yani
pasti masih ori. segel tertutup rapat.🤭
MyR: ntar lagi segel terbuka...ups🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!