⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Up to You
Sepulang dari makan malam bersama para karyawan butik, Hanum pun benar dijemput oleh Devan. Kini di dalam mobil, ia duduk bersebelahan pria itu yang tengah fokus menyetir mobil.
"Kamu ngantuk ya?" Devan melihat Hanum sesekali menundukkan kepalanya.
Hanum tiba-tiba membuka matanya. "Eh, apa? Udah sampe?" ucapnya tak tahu apa-apa.
Devan tersenyum kecil, "Bentar lagi nyampe."
"Aduh, maaf aku ngantuk banget ini. Kayaknya kebanyakan makan tadi," Hanum mengingat Nunung yang memberikan banyak tambahan nasi padang kepadanya. Enak sih, tapi ya ujung-ujungnya kekenyangan.
"Kamu udah makan?" tanya Hanum pada Devan.
"Udah kok."
Mereka berdua pun diam, hingga tiba di rumah Hanum segera turun dan melihat Bunda tidak ada di rumah.
"Bunda kemana, Bi?" tanya Hanum pada Bi Inah yang tengah duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton sinetron SCTV kesukaannya. Waktu menunjukkan pukul sembilan, biasanya Bunda dan Bi Inah duduk di sini sambil menonton sekalian berceloteh.
"Nyonya lagi pergi ke pengajian, Neng. Oh iya, kata Nyonya gak usah dijemput dia mau nginep di rumah temannya. Mau syukuran," terang Bi Inah pada Hanum.
Devan juga sudah tahu akan hal itu sebab Bunda nya tadi menelponnya.
"Ya udah kalo gitu aku ke kamar dulu ya, Bi," ucap Hanum.
Bi Inah pun mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah kue kering dan matanya fokus pada layar televisi.
Hanum masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil handuknya dan segera mandi. Rumah ini tampak cukup sederhana, tetapi fasilitasnya benar-benar memadai. Dia memutar shower dengan air yang hangat, membiarkan air menyirami tubuhnya. Sekalian dia memejamkan matanya. Setelah membersihkan dirinya, dia pun mengeringkan rambutnya. Sudah lama sejak dia tidak pernah berhubungan dengan Bramasta, dia merasa menjadi dirinya sendiri.
Tak terbayang dulu setiap kali Bramasta pulang dari kantor, Hanum yang menunggu nya selalu diabaikan begitu saja. Terkadang pria itu hanya diam saja dan tidak menggubrisnya.
"Mas, kamu darimana aja kok pulang jam segini?" tanya Hanum sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas lewat dua puluh menit malam. Akan tetapi, pria itu tidak menanggapinya. Hendak masuk ke dalam kamar mandi, Hanum segera menahan tangannya.
"Lepasin! Terserah saya mau kemana. Bukan urusan kamu!" katanya sambil melempar tangan yang barusan memegangnya.
"Mas, aku cuma nanya doang! Aku juga istri kamu!" Hanum tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
"Terus? Aku harus kasih tau lebih jelas?" Bramasta masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat. Meninggalkan Hanum yang terpaku menatap tingkah suaminya.
Setelah selesai mandi, pria itu mengambil kasur tambahan dan tidur di bawah Hanum. Seolah dia menghindari nya.
Kali itu, Hanum benar-benar merasa tak dianggap sebagai istri. Dia hanya menitikan air matanya dalam diam.
"Mas.., aku mau tanya boleh?" Hanum yang merebahkan dirinya menatap langit-langit kamar mencoba untuk mengetahui alasan mengapa Bramasta bersikap demikian.
"Mas?" Mencoba memastikan barangkali Bramasta tertidur. Dia menatap ke bawah, ternyata pria itu belum memejamkan matanya. Bramasta menaikkan alisnya.
"Kenapa mas mau nikahin aku?" tanyanya kemudian.
Lama pria itu tak menjawab. "Aku terpaksa," ucapnya kemudian.
Sejujurnya, Hanum merasa sakit hati mendengar jawaban jujur dari suaminya. Tetapi dia mencoba menguatkan dirinya.
"Lalu.., kenapa Mas tetap menikahi aku?" tanyanya lagi.
"Aku cuma mau ngabulin permintaan ibumu."
Jadi, hanya karena permintaan ibu nya lah pria ini menikahinya?
"Aku gak tahu kamu punya alasan seperti itu, Mas. Kalau kamu gak berniat mau menikahi ku, mengapa kamu tetap bersikeras, Mas? Aku gak mau pernikahan kita terpaksa begini..," ujar Hanum memelankan suaranya.
"Aku.., aku gak kuat Mas kalau terus-terusan begini..," katanya lagi. Tetapi tidak ada komentar dari Bramasta. Hingga akhirnya dia menatap kembali ke bawah, pria itu sudah memejamkan matanya. Entah benar-benar tertidur atau hanya pura-pura saja.
Merasa dirinya tak dianggap, Hanum keluar dari kamar dan memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Meninggalkan Bramasta sendirian di kamarnya. Sedih rasanya diabaikan oleh suami sendiri. Hendak ke siapa lagi dia mengadu? Ibu bapak telah tiada, saudara tak tahu siapa dan dimana, mertua juga bertindak semena-mena kepadanya.
Hanum menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya meneteskan air mata hingga mengalir di pipinya.
"Tenang.., sekarang kamu udah bebas kok. Up to yo, terserah kamu mau ngapain. Meskipun jalannya cukup tajam, sejauh ini kamu masih bertahan," ucapnya pada dirinya sendiri.
Tring!
Pesan dari Devan masuk.
Kamu udah tidur? Kalau belum mau temenin aku di taman belakang?
Hanum cukup kaget dengan pesan itu. Sekarang pukul sepuluh. Rumah ini memiliki taman belakang dengan kolam ikan, bench (bangku taman) dan aneka bunga dan buah dengan penerangan yang cukup indah.
Di sisi lain, Devan tampak menyumpahi dirinya sendiri sebab dia merasa kurang ajar karena telah mengirim pesan tadi pada Hanum.
"Lo ngirim apaan sih?" desisnya pada dirinya sendiri.
Bagaimana jika Hanum merasa risih? Bagaimana jika dia menolaknya langsung? Dalam pikirannya pertanyaan what if itu menghantui dirinya sendiri.
Oke boleh
Jawaban itu membuat Devan senang. Buru-buru dia ke belakang dan duduk di bangku taman sembari menungguinya.
"Ada apa, Van? Tumben kamu ngajak aku kesini malem-malem?" tanya Hanum yang baru saja sampai. Devan cukup tercekat dengan penampilan perempuan di hadapannya ini. Meskipun usia mereka dua puluh tujuh, tetapi Hanum terlihat seperti perempuan usia sembilan belasan. Wajahnya yang kini dalam mode bare face atau natural itu tampak indah. Dengan memakai hijab cokelat dan gamis krem membuatnya tampak seperti bidadari dari surga — isi pikiran Devan.
"Aku cuman mau ngajak kamu ngobrol. Barangkali kamu bosan, gak papa kan?" tanya Devan memastikan.
Hanum tertawa kecil. "Oh.. itu. Gapapa kok lagian aku juga bosen," ucapnya.
"Tapi tadi katanya ngantuk..," Devan menekankan jika tadi perempuan itu hampir tertidur.
"Udah nggak lagi," Hanum hanya bisa tersenyum saja.
"Bunda sama aku ada rencana mau ke Sumbar. Mau silaturahmi sama beberapa saudara Bunda yang ada di Bukittinggi. Kamu mau ikut gak?" tawar Devan kepadanya.
Hanum terdiam memikirkan nya sejenak. "Apa nggak merepotkan? Lagipula aku hanya menumpang di rumah kamu, Van. Apa kata orang kalau nanti aku tiba-tiba ikut?" tanya Hanum lagi.
"Gapapa, Hanum. Lagian itu baru rencana dan masih lama kok, kisaran lima sampai enam bulan lagi. Itu pun kalau kita semua ada waktu dan kalau kamu mau," ucap Devan lagi.
"Aku pikir-pikir lagi ya..," kata Hanum, dalam hatinya dia tidak berhak untuk ikut serta sebab ia bukanlah siapa-siapa di keluarga Devan.
Berbeda dengan Devan, di dalam benaknya, dia sangat berharap suatu saat dia berhasil membuat Hanum menjadi miliknya.
Akhirnya, mereka menghabiskan waktu di sana sambil bercerita tentang masa SMA, jalan-jalan, curhatan Hanum hingga pukul sebelas lewat sepuluh menit.
*Bukittinggi? Koto Jam Gadang