NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Suasana halaman belakang masih ramai.

Tawa dan obrolan terus mengalir tanpa jeda, seperti arus yang tidak pernah benar-benar berhenti. Gelas-gelas masih berpindah tangan, beberapa orang berdiri, sebagian lain duduk santai sambil bersandar. Musik pelan mengalun di latar, hampir tenggelam oleh suara percakapan yang saling bertabrakan.

Dari luar tidak ada yang berubah dan tidak ada yang terasa janggal. Namun bagi Fania, semuanya justru terasa semakin bising, terlalu ramai, terlalu penuh. Dan entah kenapa semakin membuat dadanya sesak.

Ia kembali ke luar dengan langkah pelan. Wajahnya sudah kembali tenang, rapi, terkontrol, seperti biasa. Seperti topeng yang selalu ia pakai ketika ia tidak ingin orang lain membaca apa yang sebenarnya ia rasakan.

Namun begitu pandangannya menangkap sosok itu, Ronald bersama wanita tadi berbicara. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu intens, dan tidak ada yang berlebihan. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya kembali bergejolak.

Tampaknya Ronald kembali bergabung bersama rombongan itu, setelah sempat menghampirinya.

Wanita itu tertawa kecil, ringan seolah tidak ada beban. Ronald menanggapi, singkat seperti biasa. Namun tetap menanggapi, tidak mengabaikan. Dan justru itu yang terasa berbeda.

Fania berhenti beberapa langkah dari mereka, diam. Tanpa sadar, matanya memperhatikan. Mencatat dan mengamati hal-hal kecil yang seharusnya tidak berarti.

Cara wanita itu menatap, cara Ronald merespons, cara percakapan itu mengalir.

Lalu Ia mengalihkan pandangan, cepat.

Seolah tertangkap basah oleh perasaannya sendiri. Seolah ia tidak seharusnya melihat itu terlalu lama.

“Fan!”

Salah satu sepupu memanggilnya dari arah lain. Fania menoleh, senyum langsung ia bentuk. Ringan dan terlatih.

“Ya?”

“Mau kembali bergabung di sana?” ajaknya sambil menunjuk kelompok lain yang terlihat lebih santai.

Fania menggeleng halus. “Nanti saja.” Jawabannya sopan, namun jelas ia tidak ingin berlama-lama. Tidak ingin berada di tengah keramaian yang justru membuatnya semakin tidak nyaman.

Tidak ingin melihat lebih banyak. Tidak ingin merasakan apa pun itu. Namun justru karena ia menahan, perasaan itu semakin jelas. Mengganggu dan menghimpit, seolah mencari jalan keluar.

Fania menarik napas pelan, menstabilkan dirinya. Lalu melangkah, langsung menuju Ronald. Langkahnya tenang dan terukur. Namun ada ketegasan yang berbeda dari biasanya.

Bukan langkah ragu. Bukan langkah yang menghindar. Ronald menyadari kehadirannya.

Ia menoleh, tatapan mereka bertemu. Beberapa detik, tanpa kata. Namun cukup untuk menyampaikan bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan.

“Ronald,” panggil Fania. Suaranya lembut. Namun jelas, tidak goyah.

Wanita di samping Ronald melirik, tatapannya sekilas. Sedikit penasaran.

Ronald berdiri tegak. “Ya?”

Fania menatapnya, dalam. Seolah menahan sesuatu yang hampir keluar. Namun ia tetap menahannya.

“Aku mau pulang,” ucapnya akhirnya. Singkat, langsung dan tanpa basa-basi.

Kalimat itu jatuh begitu saja namun dampaknya terasa. Ronald sedikit terdiam, bukan karena tidak mengerti. Namun karena ini tidak biasa.

Fania bukan tipe yang meminta. Bukan tipe yang menarik perhatian di tengah situasi seperti ini. Ia biasanya diam, menyesuaikan dan menunggu. Namun kali ini, tidak.

“Acaranya belum selesai,” ujarnya datar. Bukan menolak, lebih seperti mengingatkan.

Fania mengangguk kecil. “Aku tahu.” Nada suaranya tetap tenang, namun ia tidak berpaling. Tatapannya tetap.

“Aku tetap mau pulang.” Kalimat itu, lebih tegas, lebih jujur, tanpa lapisan.

Ronald menatapnya beberapa detik, lebih lama dari biasanya. Mencoba membaca dan untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Kegelisahan, halus dan tersembunyi. Namun nyata. Ronald menghela napas pelan dan pendek.

“Sebentar,” ujarnya. Ia menoleh pada wanita di sampingnya.

“Aku akan pulang bersama istriku.” Tidak ada basa-basi tambahan. Ia langsung melangkah menjauh. Menuju keluarga yang lain untuk berpamitan.

Fania tetap berdiri di tempatnya dalam keterdiaman.

Wanita itu masih di sana, tidak pergi. Tidak juga ikut bergerak, kemudian menatap Fania.

Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sulit diartikan.

“Cepat sekali kau membawanya pulang,” ujarnya santai. Nada suaranya ringan, namun menyimpan sesuatu di baliknya.

Seperti pengamatan atau mungkin penilaian. Fania menatapnya dalam ketenangan dan tidak tersulut.

“Dia suamiku,” jawabnya singkat. Tidak ada emosi berlebihan, dan tidak meninggi. Namun cukup jelas, garisnya ada dan batasnya tegas.

Wanita itu tersenyum kecil, sedikit mengangkat alis. “Dulu dia tak pernah meninggalkan acara yang belum selesai." Kalimat itu dilontarkan santai. Namun mengandung masa lalu yang tidak sepenuhnya hilang.

Fania terdiam sejenak. Bukan karena tidak punya jawaban. Namun karena memilih jawaban. Lalu ia mengangguk tipis. “Mungkin sekarang dia banyak berubah tak seperti dulu.” Jawabannya halus, namun tegas. Tidak menyerang dan tidak defensif. Namun juga tidak memberi ruang.

Beberapa detik hening, udara terasa sedikit lebih padat. Lalu wanita itu tertawa kecil.

“Menarik.” Satu kata, namun cukup. Ia tidak melanjutkan dan Fania juga diam.

Tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu diperdebatkan. Hingga Fania menoleh ke arah lain. Mengakhiri percakapan tanpa benar-benar menutupnya. Ia hanya menunggu.

Tidak lama, Ronald kembali. Langkahnya cepat terlihat efisien.

“Sudah,” ujarnya singkat.

Fania mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berjalan bersama menuju mobil.

Langkah mereka sejajar. Dekat, namun tetap sunyi. Tidak ada percakapan dan tidak ada pertanyaan. Seolah masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Sepanjang perjalanan, hanya suara mesin mobil dan gesekan halus roda di jalan yang terdengar.

Lampu-lampu kota berlalu di luar jendela, berderet dan samar. Seperti potongan-potongan momen yang tidak sempat dipahami.

Fania menatap ke luar dalam diam. Namun pikirannya masih tertinggal di halaman belakang dan percakapan tadi. Di tatapan-tatapan yang ia tangkap. Dan perasaan yang belum bisa ia beri nama.

Ronald sesekali melirik ke arahnya. Singkat. dan tidak mencolok. Namun cukup sering. Ia tahu ada sesuatu yang berubah. Namun ia juga tahu Fania bukan tipe yang akan langsung mengatakannya. Seperti biasa, ia akan menyimpannya. Sampai tidak bisa lagi.

Mobil berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan, hening langsung terasa. Berbeda dari sebelumnya. Lebih nyata, lebih terasa, hingga beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang membuka pintu.

“Ada apa?” tanya Ronald akhirnya.

Suaranya rendah dan penuh ketenangan. Namun lebih dalam dari biasanya. Tidak sekadar bertanya, lebih seperti mencoba memahami.

Fania tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke depan, kosong. Lalu menghela napas pelan.

“Hanya lelah,” ujarnya singkat. Alasan yang sama, alasan yang mudah diterima. Namun kali ini tidak sepenuhnya benar.

Ronald menatapnya lama, mencari celah dibalik jawaban itu. Namun ia tidak memaksa dan tidak pula mendesak.

“Masuk,” ujarnya akhirnya. Nada suaranya kembali datar. Namun tak sedingin biasanya.

Fania mengangguk, mereka turun dari mobil.

Masuk ke dalam rumah. Tempat yang sama, ruang yang sama, dan rutinitas yang sama. Namun malam itu, ada sesuatu yang berubah.

Sangat kecil, hampir tidak terlihat. Namun nyata. Fania melangkah lebih dulu. Sepatunya beradu pelan dengan lantai. Namun sebelum benar-benar menjauh ia berhenti sebentar tanpa menolak.

“Ronald.”

Pria itu menatapnya. “Hm?”

Fania terdiam beberapa detik, seolah ada sesuatu yang ingin keluar. Sesuatu yang hampir terucap namun tertahan. Akhirnya Ia menggeleng pelan.

“Tak ada.” Jawaban itu kembali, namun kali ini lebih berat. Bukan karena kosong, tapi karena terlalu penuh. Dan lagi, ia memilih diam.

Namun kali ini Ronald tidak sepenuhnya percaya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya berubah,lebih tajam dan lebih sadar.

Karena untuk pertama kalinya diamnya Fania terasa berbeda. Bukan sekadar tenang. Tapi menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang perlahan mulai muncul ke permukaan. Dan tidak akan bisa disembunyikan selamanya.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!