Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Masa Lalu
Pintu ruang kerja tertutup rapat, tetapi Elvara masih bisa mendengar gema suara Zayden di kepalanya. Kalimat itu berulang tanpa henti, datang dengan nada tenang yang justru lebih mengganggu daripada bentakan.
Kita pernah bertemu?
Ia duduk diam di kursi dengan kedua tangan saling menggenggam di atas meja. Laptop di hadapannya menyala, layar menampilkan puluhan file strategi pemasaran yang seharusnya mulai dipelajari hari ini. Namun huruf-huruf itu terlihat kabur dan tak mau masuk ke kepala.
Zayden belum mengingatnya.
Atau mungkin baru samar-samar.
Seharusnya itu melegakan. Namun justru membuat napasnya semakin sesak. Karena jika pria itu terus mencari, hanya soal waktu sampai semua potongan ingatan bertemu pada satu malam yang mengubah hidupnya.
Elvara memejamkan mata sambil menekan pelipis. Ia ingin memaksa diri kembali fokus pada pekerjaan, tetapi masa lalu datang terlalu jelas dan terlalu cepat.
Tanpa izin, kenangan itu membuka pintu sendiri.
Lima tahun lalu, hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda berhenti. Kota basah oleh air yang memantulkan lampu kendaraan seperti serpihan emas di aspal hitam. Jalanan padat, trotoar penuh orang berlari kecil mencari tempat berteduh.
Elvara yang saat itu masih dua puluh tiga tahun berlari sambil menutupi kepala dengan tas. Payung lipat murah miliknya patah di satu sisi dan kini lebih berguna sebagai beban daripada pelindung. Sepatu hak rendah yang dipakainya mulai terasa licin karena air.
Ia baru keluar dari acara perayaan keberhasilan proyek besar tempatnya bekerja sebagai staf junior di sebuah agensi kreatif. Rekan-rekannya masih melanjutkan pesta di dalam lounge hotel mewah, tetapi ia memilih pulang cepat karena besok pagi masih ada presentasi lanjutan.
"Elva, yakin mau pulang sendiri?" teriak temannya dari dekat pintu putar hotel.
"Yakin. Kalau aku ikut kalian, besok yang presentasi cuma jasadku."
Tawa pecah dari dalam lobi. Seseorang bahkan sempat menawarkan tumpangan, tetapi arah rumah mereka berlawanan dan Elvara terlalu malas berbasa-basi.
Ia berdiri di tepi jalan sambil mencoba memesan kendaraan online. Sinyal buruk karena hujan deras membuat aplikasi berkali-kali gagal. Ia menatap layar ponsel dengan kesal, lalu mengetuknya seolah itu bisa membantu.
"Kenapa sekarang semua teknologi pintar kalau tidak dibutuhkan?" gumamnya.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Lampu depannya menyinari genangan air, membuat bayangan hujan tampak berkilau.
Jendela belakang turun perlahan.
Pria di kursi belakang menatap keluar dengan wajah tenang dan sedikit bosan, seolah dunia luar hanya gangguan kecil dalam jadwalnya.
"Masuk kalau tidak mau demam."
Elvara mengernyit.
"Maaf?"
"Kamu berdiri di bawah hujan sambil memaki ponsel selama tiga menit."
Nada bicaranya datar, tetapi ada sindiran halus di sana. Elvara butuh beberapa detik untuk mengenali wajah itu.
Zayden Alvero.
Nama besar yang belakangan sering muncul di berita bisnis. Putra keluarga Alvero, muda, tajam, dan terlalu sering dibicarakan media. Ia juga tamu penting di acara hotel malam itu.
"Terima kasih, tapi saya bisa pesan kendaraan sendiri."
"Sudah lima kali gagal."
Ia melirik layar ponselnya.
Enam kali, tepatnya.
Supir di depan menatap lurus seolah tak mendengar apa pun. Hujan semakin deras dan gaun kerja Elvara mulai basah di bagian bahu.
Akhirnya ia membuka pintu.
"Hanya sampai lobi apartemen saya."
"Terserah."
Ia masuk sambil menjaga jarak sebisa mungkin. Interior mobil hangat dan beraroma kayu lembut. Jas Zayden sedikit basah di bahu, mungkin baru saja berjalan dari lobi hotel.
Pria itu melepas jam tangannya lalu meletakkannya di samping.
"Kamu kerja di tim acara?"
"Agensi pendukung."
"Masih sangat muda."
Elvara menoleh.
"Kalimat itu terdengar seperti penghinaan."
Zayden menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya bergerak tipis.
"Itu observasi."
Elvara menghela napas.
"Dan Anda terdengar menyebalkan."
Supir di depan batuk kecil menahan reaksi. Anehnya, Zayden justru tertawa pelan. Suara tawanya rendah dan singkat, seperti hal langka yang keluar tanpa sengaja.
Perjalanan yang seharusnya canggung justru berubah ringan. Mereka berdebat soal desain iklan buruk di pinggir jalan, soal kopi hotel yang terlalu pahit, dan soal kebiasaan orang kaya bicara singkat-singkat.
"Karena waktu mahal," jawab Zayden saat ia mengeluh.
"Atau karena kehabisan topik."
Ia menoleh.
"Kamu berani."
"Anda terlalu terbiasa ditakuti."
Zayden memandang ke depan sesaat, lalu kembali menatapnya.
"Mungkin."
Jawaban itu terlalu jujur untuk seseorang sepertinya.
Saat mobil sampai di apartemennya, hujan masih deras. Kawasan tempat tinggal Elvara mendadak gelap karena listrik padam. Hanya lampu darurat di lobi yang menyala redup.
"Hebat," gumam Elvara. "Hari saya lengkap."
"Naik ke atas dalam gelap sendirian?" tanya Zayden.
"Saya bisa."
Namun lift mati dan area parkir remang-remang. Ia menatap pintu gedung dengan ragu yang tak berhasil disembunyikan.
Zayden membuka pintu mobil.
"Saya antar sampai lobi."
"Itu berlebihan."
"Saya juga kebetulan ingin melihat bagaimana orang sekeras kepala kamu tinggal."
Ia mendengus, tetapi membiarkan pria itu ikut. Mereka naik tangga darurat karena lift tak berfungsi.
Sampai lantai tiga, Elvara masih sok kuat. Sampai lantai lima, napasnya mulai berat. Saat tiba di lantai enam, ia berhenti sambil memegang pinggang.
Zayden masih tampak tenang dan itu menyebalkan.
"Anda robot?" tanyanya.
"Saya olahraga."
"Jawaban khas orang kaya."
Begitu pintu unit terbuka, listrik masih belum menyala. Elvara menyalakan lilin aromaterapi cadangan yang biasa ia simpan di dapur. Cahaya kecil memantulkan bayangan di dinding dan membuat ruangan sederhana itu terasa berbeda.
Lebih tenang. Lebih dekat.
"Terima kasih sudah mengantar," katanya sambil berbalik. "Sekarang Anda bisa pulang."
"Hujan begini?" Zayden melihat keluar jendela. "Saya tunggu reda."
"Ini rumah saya."
"Dan saya tamu yang menyelamatkanmu dari pneumonia."
Elvara ingin membantah, tetapi akhirnya menyerah. Ia menuju dapur kecil dan membuat dua cangkir kopi sachet seadanya.
Zayden menerima cangkir itu dengan ekspresi curiga.
"Ini kopi?"
"Minum atau diam."
Ia minum.
Lalu meringis halus.
Elvara tertawa keras sampai bahunya bergetar. Di situlah suasana berubah. Dari dua orang asing yang saling menyindir menjadi dua orang yang mulai nyaman dalam hujan dan cahaya lilin.
Mereka bicara lama malam itu. Tentang hidup, pekerjaan, tekanan keluarga, ambisi, dan hal-hal yang biasanya tak dibagikan pada orang yang baru dikenal beberapa jam.
Zayden jauh lebih manusiawi dari citra media. Ia cerdas, sinis, lelah, dan kesepian dengan caranya sendiri. Ada beban yang tak ia ceritakan penuh, tetapi cukup terlihat di sela candanya.
Elvara sendiri tanpa sadar bercerita lebih banyak dari biasanya. Tentang ingin punya karier besar, takut gagal, dan bosan diremehkan karena masih muda.
Zayden mendengarkan sungguh-sungguh. Bukan mendengar sambil menunggu giliran bicara, tetapi benar-benar mendengarkan.
Saat hujan reda, tak ada satu pun dari mereka yang bergerak menuju pintu.
Tatapan datang lebih dulu. Keheningan menyusul setelahnya. Dunia terasa mengecil menjadi ruang sempit, lilin kecil, dan dua orang yang sama-sama menahan terlalu banyak hal.
Ciuman itu dimulai hati-hati, lalu berubah seperti sesuatu yang sudah menunggu terlalu lama untuk terjadi. Tidak ada janji besar, tidak ada kata-kata manis berlebihan.
Hanya dua orang yang sedang lelah pada hidup masing-masing dan menemukan jeda pada orang asing.
Malam itu hanya satu malam.
Namun bagi Elvara, itu tak pernah sekadar satu malam.
Ia membuka mata mendadak. Ruang kerja kembali hadir dengan lampu putih kantor, suara keyboard dari luar ruangan, dan aroma kopi dari pantry. Bukan lilin, bukan hujan, bukan masa lalu.
Elvara menekan pelipisnya.
Zayden mungkin benar-benar tak mengingat detail malam itu. Bagi pria dengan hidup sibuk dan pergaulan luas, satu malam bisa tenggelam di antara ribuan agenda lain.
Sedangkan baginya, malam itu adalah garis pemisah antara hidup lama dan hidup baru.
Karena beberapa minggu setelahnya, ia tahu dirinya hamil. Dan sehari setelah itu, berita pertunangan bisnis Zayden Alvero memenuhi media.
Ia tak pernah mencari klarifikasi. Harga dirinya terlalu tinggi, lukanya terlalu segar, dan keberaniannya habis mendadak. Ia memilih pergi, menerima beasiswa di luar negeri, lalu membangun dunia baru bersama Rheon.
Sekarang takdir justru melemparnya kembali ke pusat lingkaran.
Ponselnya bergetar di atas meja. Pesan dari daycare masuk dengan foto sederhana berisi gambar robot berwarna-warni.
Bu Elvara, Rheon sudah makan siang dan menggambar robot besar hari ini.
Ia menatap layar lama sekali lalu tersenyum lemah. Anak itu alasan satu-satunya ia harus tetap waras.
Justru karena Rheon, ia tidak boleh bertahan di sini.
Jika Zayden mulai mengingat, jika wajah Rheon suatu hari terlihat olehnya, semua rahasia akan runtuh. Pria itu berhak tahu, tetapi Elvara belum siap menghadapi konsekuensinya.
Perebutan hak asuh, tekanan keluarga besar Alvero, sorotan media, dan pertanyaan yang tak sanggup ia jawab.
Tidak.
Ia tak akan mengambil risiko.
Elvara membuka laptop dan mengetik surat pengunduran diri. Jari-jarinya sempat berhenti di baris pertama.
Kepada Divisi Human Resources.
Ia menghela napas lalu melanjutkan. Alasan pribadi. Efektif sesegera mungkin. Permohonan maaf atas ketidaknyamanan.
Singkat, sopan, final.
Setelah selesai, ia membaca ulang beberapa kali. Rasanya pahit. Kesempatan sebesar ini sulit datang dua kali. Gaji tinggi, posisi bagus, dan jalan karier yang terbuka lebar.
Namun apa artinya semua itu jika hidup Rheon terguncang.
Ia menyimpan file tersebut lalu berdiri menuju pantry demi menenangkan diri. Saat kembali ke koridor, langkahnya terhenti.
Di ujung lorong, Zayden sedang berbicara dengan dua direktur. Tangannya memegang tablet, wajahnya serius, dan nada bicaranya rendah. Begitu pembicaraan selesai, pria itu menoleh ke arah Elvara seolah sudah tahu ia ada di sana.
Tatapan mereka bertemu.
Sekali lagi dada Elvara menegang.
Zayden berjalan mendekat dengan langkah tenang. Setiap langkah membuat keputusan resign terasa semakin benar.
"Bu Elvara," sapanya.
"Pak."
"Saya baru menerima evaluasi singkat tim Anda."
"Bagus."
"Katanya Anda cepat beradaptasi."
"Terima kasih."
Ia hendak menyingkir, tetapi Zayden berhenti tepat di depannya.
"Ada yang ingin saya tanyakan."
Elvara menahan napas.
"Apa?"
Pria itu menatap wajahnya lebih teliti dari sebelumnya.
"Kenapa saya merasa setiap melihat Anda, saya sedang mengejar sesuatu yang pernah hilang?"
Dunia seolah mengecil menjadi lorong sempit dan dua orang yang membawa masa lalu masing-masing.
Elvara memaksa senyum profesional.
"Mungkin karena Bapak terlalu banyak bekerja."
Ia melangkah pergi sebelum suara jantungnya terdengar keluar.
Di dalam ruang kerja, ia kembali duduk, membuka email, lalu melampirkan surat pengunduran diri. Kursor berada di tombol kirim.
Tangannya bergetar.
Dan kali ini, ia tahu satu hal pasti.
Ia harus resign secepatnya, sebelum Zayden mengingat segalanya.