Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergerak dalam diam 2
Suasana ruang tamu yang tadinya hangat seketika berubah tegang. Hanya terdengar bunyi clack-clack-clack dari jemari Dai yang menari liar di atas keyboard laptop milik Kilau. Sorot mata lelaki itu yang biasanya jenaka, kini berubah menjadi tajam dan dingin. Seolah-olah rasa sakit di kakinya telah menguap, digantikan oleh adrenalin yang membakar dada.
Kilau hanya bisa duduk terpaku di sampingnya. Dia memperhatikan barisan karakter asing yang memenuhi layar. Huruf-huruf kanji yang rumit berjajar rapi dalam sebuah draf surel yang tampak sangat formal.
"Dai... lo lagi apa sih? Lo nulis apa?" tanya Kilau sangsi. Matanya menyipit, dia makin mendekatkan wajahnya pada layar laptop mencoba mengenali alfabet yang sangat asing baginya itu. "Itu... huruf Jepang ya?"
Dai tidak menjawab. Fokusnya terkunci pada layar. Empat tahun lalu, saat identitas aslinya sebagai putra mahkota Ananta Corporation diungkapkan oleh pria di Jepang sana, Dai bersumpah tidak akan pernah meminta bantuan pada sosok yang telah menelantarkan dirinya, ibu dan juga adiknya selama ini. Namun hari ini, melihat Kilau terpojok, Dai terpaksa menjilat ludahnya sendiri. Ya masa menjilat ludah dua kali, yang kemarin itu nggak dihitung sebagai permintaan tolong kah, Dai?
Dia mengetikkan baris terakhir dengan penekanan kuat pada tombol Enter. Di layar itu, sebuah pesan terkirim menuju alamat surel pribadi yang hanya bisa ditembus oleh garis darah Hiro Daichi, beberapa kode rumit dan membingungkan muncul sebelum Dai berhasil mengirimkan pesan pada sang ayah. Isinya singkat, padat, dan penuh ancaman.
Kepada: Hiro Daichi
Saya tahu anda yang menggerakkan semua ini di balik layar. Berhenti bermain-main dengan cara lambat. Tidak usah pamer kekuasaan, apa anda tidak bisa langsung bergerak cepat?
Sekarang, tuntaskan apa yang anda mulai. Ratakan Adiwijaya Grup sampai ke akarnya. Saya tidak ingin melihat nama perusahaan mereka ada di bursa saham minggu depan. Dan jangan biarkan mereka menyentuh satu persen pun saham di MahaTech. Ambil alih semua kepemilikan saham yang tersisa di perusahaan itu atas namaku, Ananta Dewa.
Hanya permintaan kecil, masa iya anda tidak bisa memenuhinya? Jangan lama-lama mengerjakannya, saya tidak suka menunggu, asal anda tahu. Dan jika tidak bisa mengabulkan permintaan kecil saya, jangan kepedean bisa rujuk sama ibu saya.
__Dai
"Dai, iiih! Jawab gue, lo ngetik apaan?" Kilau mengguncang bahu Dai, cemas melihat ekspresi cowok itu yang seperti algojo siap mengeksekusi mati lawannya.
Dai menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sofa sembari menutup tab peramban dengan gerakan kilat. Dia menoleh ke arah Kilau, ketajaman di matanya perlahan melunak. Senyum jahilnya muncul kembali.
"Cuma kirim komplain ke 'layanan pelanggan' internasional, Ki," jawab Dai santai, meski napasnya masih sedikit memburu.
"Layanan pelanggan mata lo soak! Gue Direktur MahaTech, Dai. Gue tahu itu tulisan Jepang," Kilau menuding telunjuknya ke arah laptop yang sudah tertutup. "Sejak kapan lo bisa bahasa Jepang? Dan lo kirim pesan itu ke siapa? Lo punya kenalan orang Jepang?"
Dai terkekeh, suara tawanya terdengar sedikit parau. Dia harus memutar otak agar identitas Hiro tetap tersimpan rapat. "Gini-gini gue sering nonton film tanpa subtitle, Ki."
"Film Jepang tanpa subtitle?" mimik wajah Kilau berubah seperti meminta banyak penjelasan dari lelaki di sampingnya.
"Heh, lo mikir apa? Kan banyak animasi yang nggak pake subtitle, Ki? Lo mah ngeres aja mikirnya."
"Apa sih Dai, makin nggak ngerti sumpah gue sama omongan lo. Mikir ngeres apa coba?" Kilau mendengus, meski rasa penasarannya belum tuntas.
"Udah udah.. Lo kebanyakan mikir gini malah bisa bikin lo cepet tua ntar, Ki." Cengiran itu tak membuat rasa kepo nya Kilau mereda.
"Ya gue cepet tua gara-gara lo, nyebelin tau nggak lo!"
"Gue tanggung jawab sepenuhnya sama diri lo mau? Kita menua bersama."
"Mulut lo, Dai.. Asli pengen gue parut sekarang juga."
"Kalau marutnya pakai bibir lo sih gue terima terima aja, Ki."
Kilau diam tak lagi menjawab, Dai ini bahaya sih menurutnya. Jantungnya saja sampai berdegup lebih kencang hanya karena obrolan biasa seperti ini. Jika keadaan Dai tidak sedang sakit dan bukan berada dalam rumah Badai, sudah barang tentu Kilau bakal mencubit atau menghadiahi lelaki itu dengan tabokan pada bahu yang sering Kilau lakukan.
"Dai, kalau mereka bener-bener minta uang triliunan.. Dan mau ambil MahaTech. Gue nggak tahu gimana cara ngelawan mereka tanpa bikin orang tua gue makin tertekan," bisik Kilau lirih, berlari jauh dari obrolan sebelumnya. Ya itu juga salah satu cara buat mengalihkan irama jantungnya yang di sentek dangak-dangak oleh mas Badai.
Dai meraih tangan Kilau, menggenggamnya erat. "Lo nggak perlu mikirin itu lagi, Ki. Mulai besok, biarin mereka yang pusing cari tempat sembunyi. Percaya sama gue."
"Maksud lo apa? Lo kok jadi serem gini sih, Dai?" kembali keningnya berkerut tanda tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Dai.
"Gue itu multitasking, Ki. Gue bisa semanja ini hanya sama lo, tapi juga bisa sedikit savage sama orang-orang yang ganggu kesayangan gue, salah satunya lo. Pacar gue!" Dai mengerlingkan matanya, kembali ke mode narsisnya yang menyebalkan sambil mencolek hidung bangir Kilau.
"Astaga, Dai. Lo ya.. Lagian siapa juga yang bilang kita masih pacaran?" gugup banget deh jadi dek Kilau, otomatis dia menarik tangannya dari genggaman Badai.
'Ki, kalau lo bisa berdiri sendiri buat lawan mereka demi gue. Gue juga bisa memerangi seluruh dunia demi lo.'
"Sayangnya, status lo sebagai pacar gue itu udah terkunci di hati dan sistem birokrasi yang tadi gue kirim, Ki. Jadi kalau lo nolak, lo harus urusan sama kamus bahasa Jepang gue yang ribet itu. Mau lo?" canda Dai langsung dihadiahi dorongan pelan di lengannya.
"Dih, maksa!" Kilau tertawa kecil, rasa lelah yang menggelayuti matanya seolah sedikit terangkat.
Sambil mereka bercanda, tangan Dai bergerak secara otomatis, membuka kembali laptop di pangkuannya. Tanpa melepaskan perhatian dari wajah Kilau, jemarinya masuk ke history browser, menghapus jejak pencarian, dan memastikan trash di surel benar-benar bersih. Tidak boleh ada bukti. Dia tidak ingin Kilau tahu bahwa dia adalah putra dari Hiro Daichi, pemilik Ananta Corporation yang selama ini hanya dianggap mitos oleh para pebisnis. Setidaknya jangan sekarang.
"Udah, jangan dipikirin lagi. Sekarang mending lo minum tuh teh yang dibuatin Senja. Muka lo pucat banget, Ki. Kalau lo sakit, siapa yang mau gue repotin nanti?" ujar Dai sambil mendorong cangkir teh ke arah Kilau.
"Makasih, Dai.." Kilau menyesap teh di cangkir tersebut pelan.
"Tenang aja. Everything is under control," ucap Dai mantap.
Di dalam kepalanya, Dai tahu ayahnya akan bergerak dalam hitungan jam. Hiro Daichi adalah predator di dunia bisnis, dan jika predator itu diminta untuk menghancurkan mangsa yang sudah dia incar sejak lama, maka Adiwijaya Grup tidak akan punya hari esok.
"Eh, tapi beneran lo bisa bahasa Jepang?" Kilau tiba-tiba teringat lagi. "Coba ngomong sesuatu yang keren."
Dai berdehem, memperbaiki posisi duduknya hingga terlihat gagah meski kaki kanannya masih ditopang kruk. Dia menatap mata Kilau dengan intensitas yang membuat perempuan itu menahan napas.
"Kimi wa boku no mono da. Dare ni mo watasanai," ucap Dai dengan suara berat yang menggetarkan. Matanya menatap Kilau dengan serius.
"Artinya?" tanya Kilau polos.
"Artinya... 'Kilau itu kalau marah mirip kucing garong'," jawab Dai sambil tertawa terbahak-bahak sebelum Kilau sempat memukul lengannya.
"DAI! SIALAN LO!"
"Aaarrrh.. Sakit, Ki. Astaga."
'Kamu milikku. Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun.'
Suasana di ruang tamu itu meledak dengan tawa dan gerutu kesal Kilau. Tak lama kemudian, ponsel Kilau yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah notifikasi berita ekonomi mendesak muncul di layar kunci: 'BREAKING NEWS: Adiwijaya Group Dihantam Aksi Jual Masif, Investor Asing Misterius Borong Saham MahaTech!'
Kilau terbelalak, menatap ponselnya lalu beralih menatap Dai yang hanya asyik mengunyah biskuit pemberian ibunya dengan wajah tanpa dosa.
"Layanan pelanggannya emang gercep banget, Ki," bisik Dai santai dengan kerlingan nakal.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚