NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang Terlupakan

Angin dari Pegunungan Utara bertiup lebih tajam dari sembilan lapisan neraka manapun yang pernah dikunjungi He Xueyi. Namun, kali ini ada yang berbeda. Jika biasanya ia melewati badai salju seperti bayangan yang tak tersentuh, kini setiap kepingan es yang menerpa wajahnya terasa seperti sayatan silet yang nyata.

He Xueyi menghentikan langkah kudanya di pinggir sebuah sungai yang airnya belum membeku sepenuhnya. Ia turun dengan gerakan yang sedikit goyah, membuat Bian Zhi segera melompat dari kudanya dan berada di sampingnya dalam sekejap.

"Tuan, wajah Anda sangat pucat," ucap Bian Zhi, suaranya mengandung kecemasan yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Secara logika, tubuh Anda sedang mengalami penolakan terhadap suhu ekstrem karena detak jantung itu membawa aliran darah yang masih terlalu muda."

He Xueyi menyentuh lehernya. Ia merasakan denyut nadi di sana, namun ia juga merasakan sesuatu yang sangat mengganggu di perutnya. Sebuah sensasi perih, melilit, dan kosong yang membuatnya merasa mual.

"Bian Zhi... ada apa dengan perutku?" bisik He Xueyi, ia bersandar pada batang pohon pinus yang tua. "Rasanya seolah-olah ada lubang hitam yang menghisap tenagaku dari dalam."

Bian Zhi terdiam sejenak, lalu ia menundukkan kepalanya sedikit untuk menyembunyikan senyum tipis yang jarang muncul. "Itu disebut 'lapar', Tuan. Manusia fana harus mengisi tubuh mereka dengan sari pati tumbuhan atau hewan untuk tetap bisa bergerak."

He Xueyi mengerutkan kening, mencoba memproses informasi itu dengan logikanya. "Lapar? Benar-benar tidak efisien. Bagaimana bisa makhluk hidup menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk urusan mengunyah dan menelan?"

"Iya, Tuan Besar! Perut itu kalau tidak diisi bisa bunyi krucuk-krucuk seperti kodok!" Xiao Bo muncul dari balik tumpukan salju, membawa beberapa buah beri liar yang warnanya merah terang. "Ini, coba makan ini. Rasanya manis dan sedikit asam, lebih enak daripada asap dupa yang biasa Tuan hirup."

He Xueyi menerima buah beri itu dengan ragu. Ia memasukkannya ke dalam mulut. Seketika, matanya melebar. Rasa manis yang meledak di lidahnya memberikan kejutan elektrik ke otaknya. "Logika rasa ini... sangat kompleks. Ada rasa manis, namun di akhirnya ada rasa sepat yang membersihkan lidah."

Namun, di tengah "eksperimen rasa" itu, He Xueyi tiba-tiba mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bian Zhi diam. Matanya yang kini lebih tajam karena pengaruh indra manusia menangkap sesuatu di balik kabut salju.

"Ada yang mengikuti kita," desis He Xueyi. "Bukan arwah. Tapi manusia dengan aura yang sangat kotor."

Bian Zhi langsung menghunus pedang hitamnya. Benar saja, dari balik pepohonan, muncul tujuh orang pria dengan pakaian kulit binatang yang tebal. Mereka membawa busur panah dan golok besar yang berlumuran darah segar. Di leher mereka, tergantung kalung dari taring serigala yang sudah dimantrai.

"Lihat ini, saudara-saudara!" seru salah satu pria itu, matanya menatap rakus ke arah kuda bayangan dan Lentera Abadi He Xueyi. "Wanita cantik dengan barang-barang antik yang mahal. Pasti dia bangsawan yang melarikan diri dari perang."

"Secara logika," He Xueyi berdiri tegak, meskipun kakinya masih sedikit lemas, "kalian sedang melakukan kesalahan besar. Menyerang seorang penjaga paviliun saat dia sedang lapar adalah cara tercepat untuk menemui ajalnya sendiri."

"Hah! Kau bicara apa, Nona?" si pemimpin preman gunung itu tertawa. "Kau bahkan gemetar menahan dingin. Serahkan lenteramu dan ikutlah dengan kami!"

Bian Zhi melangkah maju, aura Yin-nya meledak seketika, membuat salju di sekitarnya menghitam. "Sentuh satu helai rambut majikanku, dan aku akan memastikan kalian tidak akan memiliki tubuh untuk dikubur."

Pertempuran pecah dalam sekejap. Bian Zhi melesat seperti bayangan maut, menebas busur-busur panah itu sebelum anak panahnya sempat melesat. Namun, para preman ini bukan perampok biasa. Mereka adalah Pemburu Roh yang menyamar—mereka menggunakan bubuk mesiu yang dicampur dengan garam suci untuk menetralkan energi Yin.

DUAARR!

Ledakan garam suci itu mengenai Bian Zhi, membuatnya terpental beberapa langkah. Para pemburu itu melihat celah dan langsung menyerbu ke arah He Xueyi.

He Xueyi mencoba mengangkat tangannya untuk merapalkan mantra penghancur sukma, namun jantungnya berdenyut nyeri. Tubuh manusianya belum siap mengeluarkan energi Yin sebesar itu dalam kondisi lapar dan kedinginan.

"Tuan! Awas!" teriak Xiao Bo.

Seorang pemburu mengayunkan goloknya ke arah pundak He Xueyi. Dalam hitungan detik, He Xueyi tidak menggunakan sihir. Ia menggunakan gerakan refleks yang tersisa dari masa lalunya sebagai putri bangsawan yang pernah berlatih bela diri dasar. Ia menghindar dengan gerakan memutar yang anggun, lalu menggunakan tangkainya lenteranya yang keras untuk menghantam titik saraf di leher pria itu.

PRAAKK!

Pria itu pingsan seketika. He Xueyi terengah-engah. Napasnya membentuk uap putih di udara dingin. "Logika bertarung dengan tubuh fisik... jauh lebih melelahkan daripada menggunakan sihir."

Bian Zhi yang sudah bangkit kembali, langsung menghabisi sisa pemburu lainnya dengan kemarahan yang meluap. Ia tidak menyisakan satu pun dari mereka. Setelah semuanya beres, ia segera menghampiri He Xueyi dan menyelimutinya dengan jubah bulu miliknya sendiri.

"Tuan, kita harus mencari tempat berteduh dan api unggun. Tubuh Anda tidak akan kuat jika kita terus berkuda dalam kondisi ini," ucap Bian Zhi, suaranya sangat lembut namun tegas.

He Xueyi mengangguk lemah. Ia melihat ke arah tangannya yang kini sedikit memerah karena memukul tadi. "Bian Zhi... apakah ini yang dirasakan manusia setiap hari? Rasa takut akan dingin, rasa lapar yang menyiksa, dan rasa sakit setelah bertarung?"

"Iya, Tuan. Dan itulah yang membuat setiap keputusan manusia menjadi sangat berharga. Karena mereka tahu mereka bisa mati kapan saja," jawab Bian Zhi sambil menaikkan He Xueyi kembali ke atas kuda.

Malam itu, di dalam sebuah gua kecil di lereng gunung, He Xueyi duduk di depan api unggun yang dibuat oleh Bian Zhi. Ia menatap nyala api itu dengan perasaan heran. Untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, api itu tidak terlihat sebagai ancaman bagi energinya, melainkan sebagai teman yang memberikan kehangatan.

Misteri di Puncak Langit Terlarang masih jauh, tapi malam itu, He Xueyi mempelajari misteri terbesar dari semuanya: Misteri menjadi seorang manusia yang hidup.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!