NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Alam kian menabur duka, saat masa penggerus harapan telah meranggaskan kehidupan. Tanahku yang mati menyisakan kehancuran bagi para penghuni semesta,

simfoni riang telah menjadi isakan kelu,

untaian bernada syahdu telah menjelma kehampaan, tiada lagi gema tawa hutan dengan gemerisik rimbun hijau.

Tanahku yang mati telah menjadi racun hitam bagi para pencari hari, hingga tandas seluruh makna yang berarti. Menyingkap seluruh tabir kesedihan dengan rahasia terpendam, mengalirkan luka berujung derita dalam kelamnya malam. Betapa bangkai-bangkai penari hutan bergelimpangan dibalik

fatamorgana, menjadi saksi bisu akan masa yang merenggut raga, menyatu bersama dahaga tanah yang telah lekang.

Tanahku yang mati tersimpan ribuan hikayat yang telah dilupakan oleh para pengobar ambisi, yang mengambil celah nikmat namun lupa dengan amanah.

Tanahku yang mati membuncahkan sungai dan melapukkan dahan, menjadi cermin kesedihan dan mengundang angkara langit. Hingga menorehkan hikmah bagi kaki-kaki yang menginjaknya.

" Sungguh syair yang menyayat hati tentang tanah yang di renggut oleh para penguasa." Gumam Prediansyah, hal itu membuat seorang gadis berusia 20 tahunan dengan pakaian daster menoleh ke belakang.

" Bapak, kok balik lagi, itu siapa.?" Tanya gadis itu memanggil Mang Kodir dengan panggilan bapak.

" Hehehehe. Itu anak gadis ku, cita citanya ingin menjadi penulis, ingin kuliah mengambil jurusan sastra namun ekonomi tak berpihak pada keluarga Amang." Kodir memperkenalkan anak perawan nya pada Prediansyah.

" Santi bawakan minum, dan beritahu ibu mu, untuk bikin nasi liwet, ada tamu yang berkunjung ke rumah kita." Titah Kadir pada gadis yang tadi bertanya tentang pemuda yang berjalan di belakang bapak nya.

" Uhk Ari si bapak, kan Eneng teh bertanya itu di belakang siapa, malah ngomongin Eneng yang tidak tidak." Rutuk anak gadis nya seraya bangkit berjalan ke dalam rumah panggung, sang bapaknya hanya garuk garuk kepalanya saja.

Kadir membawa Prediansyah duduk di Sahung yang tak jauh dari rumahnya, lalu beberapa menit kemudian dari dalam rumah panggung seorang wanita setengah baya keluar membawa boboko bersama anak gadis dan dua lelaki yang di perkirakan usia belasan tahun.

" Bapak kok pulang lagi, lalu itu siapa, alah meni tampan dan wajahnya juga bule.?" Tanya wanita setengah baya itu memuji pemuda yang di bawa oleh suaminya.

" Alah eta wajah sudah keriput, tau yah mana yang bening mana yang kusut." Timpal gadis di sebelahnya, Prediansyah tersenyum kecil ada kehangatan yang di rasakan oleh hatinya melihat keluarga bapak Kadir.

" Ihk...... Ari maneh Eneng, gini gini juga ibumu pernah menjadi idola kampung yang di perebutkan oleh para lelaki." Tepuk dada wanita setengah tua membanggakan dirinya ketika masih menjadi gadis.

" Hehehehe..... Itu dulu ibu, sekarang ibu sudah tua dan mempunyai anak lima, dah kendor kali kepunyaan nya." Ejek anak gadisnya tak mau mengalah membuat pusing Kadir melihat tingkah mereka berdua.

" Sudah........ Sudah....... Apakah kalian berdua tak malu, dan kamu Eneng mana etika mu ketika berbicara dengan wanita yang telah melahirkan mu." Kesal Kadir.

" Hehehehe... Maaf pak, maaf Bu." Nyengir Santi di marahi oleh bapaknya.

Kadir menoleh ke arah Prediansyah yang sedari tadi hanya senyum senyum saja melihat tingkah unik keluarganya seraya berkata."

" Aden Predi maaf ya, tingkah ibu dan anak ini kalau sedang bercanda suka tak tahu batas di mana dan ada siapa."

" Ahk gak pa-pa santai aja kok." Jawab nya Prediansyah tersenyum canggung.

" Keluarga yang harmonis penuh canda ria tak seperti keluarga ku yang sibuk dengan aktivitas masing masing, mungkinkah ini jawaban dari Abah Peot untuk menghindar dari keluarga dan menetap sementara waktu di sini." Ucap hati Prediansyah.

Kadir maupun istri dan anaknya, melihat pemuda itu hanya mematung, berpikir sedang melamun namun lamunan apa yang sedang di lamunkanya, mereka pun berinisiatif untuk bertanya lebih dalam pada pemuda itu.

" Aden Predi, mohon maaf sebelumnya, bila keluarga mamang menyinggung Aden, namun dari tadi mamang perhatikan Aden sering kali melamun, kalau boleh tahu sedang melamunkan apa?" Kadir berkata hati hati, sementara istri dan anaknya melihat dengan tatapan yang penuh arti.

Kedua matanya memandang ke arah pasangan suami istri itu dengan senyuman semanis mungkin, lalu beralih ke arah dua pemuda berusia belasan tahun yang itu juga anak dari pak Kadir dan Bu Iroh, lalu menarik nafas dalam-dalam, apakah harus memberi tahukan jati dirinya atau kah menyembunyikan statusnya dan menjadi rakyat jelata berbaur dengan mereka yang berada di kasta terendah, Prediansyah menimbang nimbang dalam pikiran nya saat ini.

" Mang Kadir, saya pribadi jujur tidak tersinggung dengan apa yang di dengar oleh telinga saya sendiri, dan untuk tadi saya diam dan melamun, sebenarnya ingin meminta tolong pada Mamang dan bibi serta keluarga di sini, bolehkah untuk sementara waktu tinggal di sini terlebih dahulu sebelum ingatan saya benar benar pulih." Terang Prediansyah memberikan alasan bahwa dirinya sedang amnesia dan mudah mudahan Mang Kadir tak keberatan.

" Untuk sementara ini saya hanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu dari hiruk pikuk kehidupan di kota, mungkin jawaban dengan bermukim di perkampungan yang jauh dari peradaban moderen di kota bisa menenangkan hati sebelum kembali kepada keluarga saya." Lanjut kemudian Prediansyah.

Kadir mencerna setiap kosa kata yang keluar dari bibir pemuda yang baru beberapa jam saja mengenal nya, tanpa di sengaja bertemu di dalam hutan dengan kondisi baju yang tampak kotor namun Kadir mengetahui bahwa pemuda itu bukan orang biasa melainkan sosok pemuda yang mempunyai kasta tertinggi di segi perekonomian.

" Apakah sedang di landa masalah dalam keluarga?" Kadir bertanya membuat istri dan anak anaknya tersentak kaget, Prediansyah hanya mengangguk pelan.

" Lari atau pun sembunyi itu bukan jawaban yang tepat, setiap masalah itu harus di selesaikan dengan sendirinya, Mamang tak melarang Aden mau tinggal di sini berapa lama juga, tapi bila sudah waktunya, Mamang harap permasalahan Aden segera di selesaikan." Bijak Kadir dalam menasehati pemuda itu.

Prediansyah langsung bangkit dari duduknya, ia membungkuk pada Kadir tanda berterima kasih karna mengijinkan untuk tinggal sementara waktu.

" Sudah...... Tak usah membungkuk segala, anggap ini Mamang adalah Kakak mu, setiap ada permasalahan Mamang bisa menjadi tempat berbagi untuk Aden. Sebaik Aden saat ini mandi dan ada pakaian Mamang untuk sementara waktu bisa di pakai."

Prediansyah berkaca kaca, lelaki di hadapannya tanpa ada ikatan darah mau menerima nya dan memberikan pakaian untuk sementara waktu ia tinggal di pinggiran hutan belantara.

" Didin, Deden, anterin Abang kamu untuk mandi ke sungai untuk membersihkan badannya, bapak dan ibu mau ke sawah untuk memetik daun singkong dan daun pepaya kali ini kita bikin nasi liwet." Titah Kadir pada anak lembarnya yang berusia 14 tahunan itu.

" Siap." Mereka berdua serempak menjawab." Abang Aden ayo kita berenang di sungai." Deden mengajak Prediansyah yang tersenyum dan mengangguk.

Setelah kepergian Prediansyah yang di bawa oleh kedua anak kembarnya, Kadir dan istri nya langsung menuju sawah untuk memetik bahan bahan yang menjadi lalab nasi liwet, sementara Neng Santi sendiri menyiapkan tungku untuk menanak nasi.

############

Di tempat lain masih daerah yang tak jauh Prediansyah tersesat di hutan belantara dan di selamatkan oleh Mang Kadir. Tampak di dalam ruangan yang sangat megah seorang pemuda bertelanjang dada sedang memeluk gadis yang usia nya di atas pemuda itu.

" Ceu apakah harus begini.?" Pemuda itu bener bener risih dengan apa yang sedang di lakukan nya saat ini.

Bersambung.

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!