Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oke...
"Aahh... lebih kuat sayang... jangan berhenti..." jerit Bella memekak panjang, kepalanya terlempar ke belakang menikmati setiap tumpukan yang diberikan Jerry di atasnya.
Keduanya saling berbagi peluh, napas memburu, menghabiskan malam yang panas itu seolah tak ada hari esok.
Setelah gairah mereda, Bella merebahkan tubuh lemasnya di dada bidang Jerry, mendengarkan detak jantung pria itu sambil memainkan jari di dada bidangnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Langit?" tanya Jerry tiba-tiba, suaranya terdengar serak namun penuh kepentingan.
Bella mendongak sedikit, lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya menyembunyikan ekspresinya.
"Masih sama seperti awal... dia dingin, susah sekali didekati. Aura nya terlalu kuat sampai aku pun takut kalau harus bicara terlalu banyak," jawab Bella jujur.
Jerry langsung memencet keningnya, terlihat kesal.
"Kamu harus bisa mendekatinya! Cari cara! Kalau nggak, bagaimana aku nanti bisa hidup bergelimang harta seperti yang kita impikan?!" hardik Jerry dengan nada menuntut.
Alis Bella menyatu penuh tanda tanya, ia merasa heran dan sedikit tersinggung.
"Sayang... apa maksudmu?" tanyanya pelan. "Selama ini kan kamu sudah hidup mewah, semua kebutuhanmu, pakaianmu, bahkan uang jajanmu... semuanya dari hasil kerjaku kan? Lalu kenapa kamu masih menginginkan harta milik Langit juga?"
Jerry menatap wajah Bella dengan pandangan penuh rasa muak, seolah wanita di hadapannya itu bukan kekasihnya, melainkan beban yang mengganggu ambisinya.
"Aku ingin menjadi orang terkaya, Bella! ORANG TERKAYA!" bentaknya dengan nada rendah namun penuh amarah, membuat ruangan itu terasa mencekam.
"Kalau cuma mengandalkan uang receh dari keluargamu atau gajimu itu nilainya cuma seujung kuku dibandingkan harta Langit! Bahkan perbandingannya nggak ada apa-apanya! Kamu paham itu?!"
Tanpa ampun, tangan besar Jerry mencengkeram dagu Bella dengan kuat, memaksanya menatap mata tajamnya yang penuh keserakahan, lalu melepaskannya dengan dorongan kasar hingga kepala Bella tersentak ke samping.
Ia mendorong tubuh Bella menjauh dengan kasar, membuat wanita itu terjatuh mundur di atas kasur. Tanpa menoleh lagi, Jerry bangkit dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai, dan memakainya dengan terburu-buru seolah ingin segera lari dari tempat itu.
Langkah kakinya berat dan penuh emosi saat berjalan menuju pintu.
BRAKK!!
Pintu apartemen itu dibanting dengan sangat keras hingga dinding-dinding ruangan terasa bergetar dan benda-benda kecil di atas meja rias berdentang. Suara itu membuat Bella terlonjak kaget hebat, jantungnya berdegup kencang bukan karena gairah, tapi karena rasa takut dan kecewa yang bercampur aduk.
Kini ia duduk sendirian di kamar yang sunyi, memegangi dagunya yang masih terasa perih, menyadari bahwa selama ini ia hanyalah alat bagi pria yang ia cintai.
Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan mata Bella tajam menusuk, penuh dengan dendam dan rasa tidak terima yang meledak-ledak.
"Gadis .... Kalau aku tidak bisa mendapatkan Langit, kamu juga tidak akan pernah bisa mendapatkannya! Selamanya!" gertaknya dengan nada tinggi, suaranya bergetar menahan amarah cemburu yang membara.
Siapa sangka, di balik seragam yang sama, status mereka di kampus sangatlah berbeda.
Gadis masuk lewat Jalur Beasiswa. Ia berjuang keras dengan nilai akademik yang cemerlang, membuktikan bahwa ia pantas berada di sana tanpa mengeluarkan sepeser pun uang kuliah. Ia adalah representasi kecerdasan dan kerja keras.
Berbeda dengan Bella. Wanita itu masuk lewat Jalur Mandiri, di mana segalanya bisa dibeli dengan uang. Ia tidak perlu bersaing ketat lewat nilai atau tes, cukup keluarkan dana besar, maka kursi kuliah sudah tersedia baginya.
Memang jika dibandingkan dengan kekuasaan Keluarga Mahesa atau Wiguna yang setara raksasa, Keluarga Wijaya hanyalah sebutir pasir. Mereka tidak ada apa-apanya dalam skala bisnis dan kekuasaan nasional.
Namun...
Di lingkungan kampus dan pergaulan anak muda, nama besar Keluarga Wijaya masih cukup terdengar dan cukup disegani. Mereka tergolong keluarga terpandang yang mampu membiayai gaya hidup mewah anak-anaknya.
Dan itulah yang sering dimanfaatkan Bella semena-mena.
Ia seringkali menggunakan nama besar orang tuanya, mengandalkan koneksi dan uang untuk menekan pihak kampus, meminta perlakuan khusus, atau bahkan membuat dosen dan staf akademik tak berani menentang keinginannya.
Baginya, uang dan gengsi adalah senjata paling ampuh untuk menindas orang-orang yang dianggapnya di bawahnya, seperti Gadis.
***
Mobil hitam mewah itu meluncur cepat memasuki halaman rumah utama dan berhenti tepat di depan teras. Pintu terbuka dan Langit turun dengan langkah lebar dan wajah yang sangat serius. Aura dingin dan menakutkan langsung terpancar dari tubuhnya.
Charlie langsung menyusul di belakangnya.
Ia harus memastikan wanita itu baik-baik saja dan aman di dalam pelukannya sekarang juga. Bayangan tentang ancaman yang mungkin mengintai membuat jantung sang Raja berdegup kencang, sesuatu yang jarang terjadi padanya.
"Gadis..." panggilnya pelan namun penuh kekhawatiran saat melangkah masuk ke ruang tamu.
Nadia, kepala pelayan yang sudah menunggu di sana, langsung menyambut dengan hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan."
Langit bahkan tak sempat membalas sapaan, ia langsung bertanya dengan nada cepat.
"Di mana Gadis?!"
"Nyonya ada di atas, Tuan," jawab Nadia sigap. "Dia ada di kamar. Mungkin sekarang sedang di balkon, tadi saya lihat dia membawa buku dan headset."
Tanpa menunggu lama, Langit langsung berlari menaiki tangga, meninggalkan Nadia dan Charlie di bawah. Jantungnya berdegup kencang membayangkan bahaya yang mungkin mengintai.
BRAKK!!
Pintu kamar utama didorong terbuka dengan sangat keras hingga bunyinya menggema dan membuat dinding seakan bergetar. Langit masuk dengan napas memburu, siap menghadapi apa saja demi melindungi wanita nya.
Namun...
Apa yang dilihatnya justru sangat kontras dengan kepanikan yang ia rasakan.
Di sana, di balkon yang terbuka, Gadis duduk bersantai dengan sangat nyaman. Kakinya diayun-ayun santai, wajahnya tenang sambil membolak-balik halaman buku di tangannya.
Telinganya tertutup rapat oleh headset besar, musik diputar dengan volume sangat keras hingga gadis itu sama sekali tidak mendengar suara pintu yang dibanting atau langkah kaki.
Langit menghela napas panjang, campuran antara lega dan sekaligus merasa gemas.
Dasar wanita... bikin jantung copot tau nggak sih! batin Langit kesal tapi rasa khawatirnya langsung lenyap seketika melihat gadis itu baik-baik saja.
Langit melangkah perlahan mendekat, matanya tak lepas menatap wanita di hadapannya dengan tatapan intens yang dalam. Sudut bibirnya perlahan terangkat, berkedut tertarik membentuk senyum tipis yang sangat hangat.
Rasa cemas dan panik yang tadi meledak-ledak seketika lenyap begitu saja, berganti dengan rasa lega dan bahagia yang luar biasa melihat Gadis duduk tenang, cantik, dan tak terluka sedikitpun.
Merasakan ada pandangan yang mengamati, Gadis pun menoleh. Saat melihat siapa yang datang, wajahnya langsung berseri-seri. Ia melepaskan headset dari telinganya, menutup buku di tangannya, lalu berdiri dengan langkah ceria.
"Hai, Sayang... sudah pulang?" sapa Gadis manis dengan nada sedikit merajuk. "Lho kok nggak ngabarin aku dulu?"
Tanpa menunggu jawaban, Gadis langsung melingkarkan kedua tangannya yang mungil ke belakang leher pria itu, mendekatkan tubuh mereka hingga jarak di antara mereka hilang.
Langit pun menyambutnya dengan tangan kokoh yang langsung mencengkeram pinggang ramping itu erat-erat. Ia menatap manik mata hitam itu dalam-dalam, seolah ingin menghirup keberadaan gadis itu sepenuhnya.
"Maaf... tadi ada urusan mendadak jadi aku buru-buru," bisik Langit lembut, lalu mengecup kening gadis itu lama.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Langit langsung mengangkat tubuh mungil Gadis dengan mudah. Kakinya melayang, membuat Gadis terkikik geli sambil memeluk erat leher pria itu.
Langit membawanya masuk ke dalam kamar, menjauhkan mereka dari angin luar, lalu dengan hati-hati menurunkan tubuh gadis itu di atas kasur empuk dan luas.
Setelah meletakkan Gadis, Langit tidak langsung naik ke atas atau duduk di samping.
Ia justru berjongkok di lantai, tepat di hadapan kaki ranjang, berhadapan langsung dengan Gadis. Posisi itu membuat wajah mereka sejajar, seolah pria itu ingin benar-benar dekat, ingin menatap mata wanita itu tanpa ada sekat sedikitpun.
Tangan besarnya terulur, menggenggam kedua tangan mungil Gadis yang tergeletak di atas selimut.
"Sayang..." panggil Langit pelan, suaranya terdengar sangat lembut dan serius. Tatapannya begitu dalam, seolah sedang memandang sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
"Aku cuma mau pastiin... kamu benar-benar ada di sini, kan? Baik-baik saja?" bisiknya lagi, jari-jarinya mengusap punggung tangan gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Gadis menatap wajah tampan di hadapannya dengan bingung. Alisnya sedikit berkerut, tidak mengerti mengapa pria itu terlihat begitu cemas dan protektif hari ini.
"Emangnya aku kenapa sih?" tanyanya polos sambil memiringkan kepala sedikit. "Aku kan di rumah aja seharian, nggak kemana-mana. Baik-baik aja kok."
Langit tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan itu. Ia mengulurkan tangannya, memijat lembut pipi mulus gadis itu dengan ibu jarinya, seolah sedang memastikan bahwa wanita itu benar-benar nyata dan utuh.
"Iya aku tahu kamu di rumah," bisik Langit lembut, namun nadanya terdengar sangat tegas dan serius. "Tapi tolong janji sama aku... mulai sekarang jangan pernah keluar kemana pun, bahkan sekadar keluar gerbang rumah, kalau nggak ada aku atau Charlie yang nemenin. Janji ya?"
Gadis masih tidak mengerti sepenuhnya. Ia tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai, atau mengapa tiba-tiba aturan jadi seketat ini. Tapi melihat wajah Langit yang begitu memohon dan khawatir, ia tidak tega menolak.
"Oke..." jawab Gadis pelan sambil menganggukkan kepalanya cepat.
Ia tersenyum manis, sama sekali tidak menyangka bahwa perintah itu adalah bentuk perlindungan terbesar dari seorang pria.