Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Penghianatan Saudara
Matahari sudah sepenuhnya terbenam saat Luna dan Nando akhirnya duduk di sebuah bangku taman yang agak sepi di kompleks luar rumah sakit. Lampu taman berwarna kuning temaram menyinari mereka, dikelilingi oleh hiruk-pikuk suara kendaraan dari jalan raya.
Luna terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Ia memeluk tas selempangnya erat-erat, seolah tas itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Di sebelahnya, Nando duduk dalam diam. Pendar birunya sudah sedikit pulih, namun pria itu tampak berbeda. Postur tubuhnya yang selalu tegak dan menantang kini terlihat melengkung. Ia menatap kosong ke arah aspal jalanan, tatapannya dipenuhi oleh kehampaan.
"Bara..." Nando akhirnya memecah keheningan, suaranya parau. "Dia bahkan tersenyum. Saat dia meletakkan benda busuk itu di bawah kepalaku, dia tersenyum, Luna. Dia mengambil alih perusahaanku. Perusahaan yang kubangun dengan darah dan keringatku sendiri. Dan dia menggunakan sihir hitam murah untuk menyingkirkanku. Ini sungguh... menyedihkan."
Luna menoleh, menatap wajah tampan Nando dari samping. Selama ini, ia hanya melihat sisi narsis dan menyebalkan dari pria ini. Namun sekarang, ia melihat seorang pria yang benar-benar sendirian. Dikhianati oleh sahabatnya, terjebak di dunia roh, dan harus bergantung pada orang asing untuk bertahan hidup.
Dengan gerakan pelan, Luna mengeluarkan sebuah botol minuman isotonik dari tasnya—ia membelinya di mesin penjual otomatis di lantai dasar tadi. Ia membuka tutupnya dan meminumnya perlahan. Ia tidak menawarkan pada Nando, karena ia tahu percuma, tetapi kehadirannya yang tenang memberikan ruang bagi Nando untuk mencerna kenyataan.
"Nando," panggil Luna lembut, sebuah nada yang sangat jarang ia gunakan. "Kau tidak sendirian."
Nando menoleh perlahan. Matanya bertemu dengan mata bulat Luna yang menyimpan banyak luka, namun malam ini, mata itu memancarkan tekad yang luar biasa kuat.
"Aku tahu rasanya kehilangan segalanya dalam satu malam," lanjut Luna, pandangannya menerawang ke depan, menatap bayangan pohon beringin di ujung taman. "Aku tahu rasanya dihantui oleh kenyataan bahwa orang yang seharunya melindungimu justru dihancurkan oleh kekuatan yang tidak bisa kau lawan. Tapi kau punya satu keuntungan yang tidak kumiliki dulu."
"Apa itu?" tanya Nando pelan.
"Kau punya aku," jawab Luna tanpa ragu. "Aku bisa melihat mereka. Aku tahu cara kerja buhul ini. Dan... energimu entah bagaimana bisa menangkal kekuatan gelap itu. Kita bisa menghentikan Bara. Kita bisa mengembalikanmu ke tubuhmu."
Nando terdiam cukup lama. Tatapannya pada Luna berubah. Ada kehangatan aneh yang menjalar di dada astralnya, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan dalam dunia bisnisnya yang dingin dan penuh perhitungan. Keberanian gadis bermasker hitam ini, yang hidup dalam ketakutan namun memilih untuk menantang bahaya demi dirinya, membuat Nando merasa kerdil sekaligus kagum.
Senyum tipis, kali ini jauh dari kata arogan, terukir di wajah Nando. "Kau tahu, untuk seorang pegawai minimarket bergaji UMR... kau memiliki mentalitas seorang CEO sejati. Berani mengambil risiko tinggi."
Luna mendengus pelan, senyum kecil ikut menghiasi bibirnya. "Berhentilah menyamakan segalanya dengan dunia korporatmu, Tuan Nando. Ini soal hidup dan mati, bukan margin keuntungan."
Luna kemudian merogoh tasnya, memastikan buhul yang terbungkus tisu itu masih aman. Raut wajahnya kembali serius. "Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui, Nando. Makhluk yang muncul dari buhul tadi... energi dan matanya..." Luna menelan ludah, berusaha menekan kembali trauma yang mengintip di benaknya. "...itu adalah jenis energi yang sama persis dengan entitas yang membunuh kedua orang tuaku lima belas tahun yang lalu."
Mata Nando melebar. "Tunggu. Maksudmu, dukun yang digunakan Bara untuk mencelakaiku... adalah dukun yang sama dengan yang membunuh orang tuamu?"
"Mungkin bukan dukun yang sama, mengingat rentang waktunya," jawab Luna, keningnya berkerut memikirkan teka-teki ini. "Tapi ilmu sihirnya sama. Alirannya sama. Atau mungkin, ini adalah kutukan keluarga yang saling bersilangan. Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, Bara tidak mungkin melakukan ini sendirian. Dia pasti menggunakan jasa seseorang yang sangat kuat."
Nando mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Maka kita harus mencari tahu. Siapa pun dukunnya, dari mana pun asalnya, kita akan membongkarnya. Aku akan merebut kembali perusahaanku, tubuhku, dan memastikan Bara membusuk di penjara. Dan kau, Luna..." Nando menatap lurus ke dalam mata Luna, "Kau akan mendapatkan keadilan untuk orang tuamu. Itu janjiku."
Angin malam Jakarta berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun kering di sekitar bangku taman. Di tengah kota yang tak pernah tidur ini, sebuah aliansi yang tidak masuk akal telah terbentuk sepenuhnya. Seorang gadis yang bisa melihat hantu dan seorang roh CEO yang terjebak dalam koma.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Nando, jiwa kepemimpinannya kembali menyala. "Kita sudah mengamankan benda santet itu. Apakah tubuhku akan langsung bangun besok pagi?"
Luna menggeleng pelan. "Tidak semudah itu. Buhul ini hanya pemancar dari kutukan utamanya. Selama perjanjian darah antara pemesan—yaitu Bara—dan sang dukun belum diputuskan, kutukannya akan terus berlanjut. Dan selagi buhul ini ada padaku..." Luna menatap tasnya dengan cemas, "...dunia astral pasti sudah tahu. Mereka akan datang memburu benda ini. Dan memburuku."
Nando terdiam, menyadari seberapa besar bahaya yang telah ia tarik ke dalam hidup Luna. Pria itu menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Luna. Auranya yang berwarna biru kembali memancar lebih terang, seolah insting pelindungnya secara otomatis aktif.
"Mereka harus melewati aku dulu," ucap Nando dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat. "Mulai malam ini, aku tidak akan berjarak lebih dari satu meter darimu. Di mana pun kau berada."
Luna menatap Nando. Ada semburat merah tipis yang tiba-tiba menjalar di pipinya, menyadari implikasi dari perkataan pria itu. "Tunggu, apa maksudmu tidak berjarak lebih dari satu meter? Termasuk saat aku mandi dan tidur?!"
Nando menyeringai congkak, sikap menjengkelkannya kembali dalam sekejap. "Tentu saja. Sebagai bodyguard gaibmu, aku harus siaga 24 jam. Jangan khawatir, aku akan memunggungi pintu kamar mandimu. Aku tidak tertarik melihat koleksi sabun murahanmu."
"Nando, kau benar-benar hantu paling menyebalkan yang pernah ada!" gerutu Luna kesal, memukul lengan Nando, yang tentu saja hanya menembus angin.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan ibu kota, tawa kecil Luna kembali mengudara. Di balik selubung horor dan ancaman kematian yang mengintai di setiap sudut bayangan, ada setitik cahaya baru yang membuat dunia Luna tidak lagi terasa terlalu gelap. Kehadiran Nando, teman sekamar sementaranya, perlahan mulai menggeser rasa sepinya.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣