Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Ruangan itu kembali tenang.
Liora masih berada di pangkuannya saga.
Tambah dekat. sangat dekat.
DEG!
Tubuhnya langsung kaku. Tangannya refleks menahan dada Saga, menjaga jarak.
“Ja-jangan…” bisiknya pelan.
Namun suaranya terlalu lemah.
Saga tidak menjawab. Tangannya menahan pinggang Liora.
Tidak memberi ruang untuk menjauh.
Hening.
Dan di tengah keheningan itu.
Tiba-tiba
krrkk…
Suara kecil terdengar.
Perut Liora. Ia langsung menegang. Wajahnya memerah.
Malunya bercampur dengan rasa takut.
Saga melirik.
Tatapannya turun ke arah perut Liora. Lalu kembali ke wajahnya.
“Lapar?” tanyanya datar.
Liora menunduk cepat. Tidak berani menjawab. Namun tubuhnya sudah mengkhianati.
Saga tidak menunggu.
“Ben.”
Panggilannya singkat. Pintu langsung terbuka.
Ben masuk dengan cepat.
“Tuan.”
“Bawakan makanan.”
“Baik, Tuan.”
Tanpa banyak tanya, Ben langsung pergi.
***
Tidak butuh waktu lama.
Makanan datang. Beragam hidangan disusun di meja kecil di depan mereka.
Aromanya langsung memenuhi ruangan. Perut Liora kembali berbunyi pelan.
Ia melirik.
Ragu. Pelan-pelan, ia mencoba turun dari pangkuan Saga.
Berharap diizinkan.
Namun—
tangan di pinggangnya menahan.
“Di sini,” ucap Saga singkat.
DEG.
Liora membeku. Ia menatap meja.
Lalu menatap Saga.
Takut.
“I-ini…?” suaranya pelan.
“Duduk,” ulang Saga.
Tidak memberi pilihan.
Liora menelan ludah. Tubuhnya kembali kaku. Ben yang disana juga menelan ludah melihat sikap lain tuannya.
" Memang sedikit berubah"
Lalu beranjak pergi tak ingin mengganggu.
Liora perlahan, mengangguk.
“Iya…”
Tangannya gemetar saat mengambil sendok.
Masih di pangkuan Saga. Masih dalam posisi yang membuatnya tidak nyaman.
Namun kali ini—
lapar lebih kuat. Ia mulai makan.
Pelan.
Awalnya ragu.
Namun satu suapan.
dua suapan.
tiga suapan.
Liora mulai makan lebih cepat.
Lebih lahap. Seolah benar-benar kelaparan.
Ia bahkan lupa di mana ia berada. Lupa siapa yang menahannya. Lupa tatapan yang terus mengawasinya.
Saga tidak bergerak.
Ia hanya menatap. Tanpa berkedip. Memperhatikan setiap gerakan kecil Liora.
Cara ia makan. Cara ia menunduk. Cara ia tanpa sadar mulai santai sedikit saat lapar terisi.
Dan itu…
membuat sesuatu di matanya berubah.
Sedikit. Namun cukup terlihat bagi seseorang yang jeli.
Liora masih makan.
Sampai akhirnya—
ia berhenti. Napasnya sedikit teratur. Perutnya mulai terasa penuh.
Dan saat itulah—
ia tersadar. Ia tidak sendiri.
Perlahan…
matanya terangkat. Dan langsung bertemu dengan tatapan Saga.
DEG!
Sendok di tangannya hampir jatuh. Ia langsung menunduk lagi.
Wajahnya memanas. Malunya datang terlambat.
“A-aku…” ia tidak tahu harus berkata apa.
Saga tetap diam.
Beberapa detik.
Lalu.
“Sudah?”
Suaranya datar. Namun tidak setajam biasanya.
Liora mengangguk cepat. “Iya…”
Tangannya kembali gemetar.
Dan ia kembali sadar—
bahwa bahkan saat ia makan… ia tetap berada di bawah kendali pria itu.
Di pangkuannya.
Di tatapannya.
Di dunianya. Dan tidak ada satu pun yang benar-benar miliknya lagi.
***
Ruangan itu kembali sunyi setelah Liora selesai makan. Sendok di tangannya perlahan ia turunkan.
Namun tubuhnya masih kaku. Masih berada di pangkuan Saga.
Masih dalam kendali pria itu.
Ia menunduk. Tidak berani bergerak lebih jauh.
Dan untuk beberapa saat—
tidak ada suara. Hanya napas mereka. Yang terasa… terlalu dekat.
Lalu—
“Tidak perlu takut.”
Suara Saga memecah keheningan.
Datar.
Namun cukup membuat Liora terdiam. Perlahan… ia mengangkat wajahnya.
Ragu.
Matanya bertemu dengan tatapan Saga.
Masih dingin. Namun… tidak sekeras sebelumnya.
“Selama kamu menurut,” lanjutnya pelan, “dan tidak pergi dariku…”
Tangannya sedikit menahan pinggang Liora.
“…aku tidak akan menyakitimu.”
Deg.
Kalimat itu membuat jantung Liora berdegup aneh.
Bukan tenang. Bukan juga lega.
Lebih ke… bingung.
Karena pria ini—
yang dengan mudah menghilangkan nyawa orang—
sekarang mengatakan itu padanya.
“Kenapa…?” tanya Liora lirih.
Matanya menatap Saga.
Ada ketakutan. Tapi juga… keberanian kecil.
“Kenapa kamu ngelakuin semua ini…?”
Hening. Pertanyaan itu menggantung di udara.
Saga tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah sedikit.
Lebih dalam. Lebih sulit ditebak.
Namun—
tidak ada kata yang keluar. Ia hanya menatap.
Lama.
Lalu memalingkan wajah. Seolah tidak ingin menjawab.
Dan itu—
sudah menjadi jawaban. Liora menunduk lagi.
Menggigit bibirnya pelan.
Ia mengerti.
Pria seperti Saga… tidak akan menjelaskan.
Tidak akan membuka diri.
Beberapa detik berlalu.
Dan di dalam diam itu—
sesuatu berubah dalam diri Liora.
Perlahan.
Pelan.
Namun nyata. Ia menarik napas dalam.
Lalu—
tangannya yang semula kaku…
perlahan tidak lagi gemetar. Matanya terangkat lagi.
Kali ini…
lebih tenang.
Lebih… sadar.
Jika ia tidak bisa kabur—jika hidupnya akan tetap berada di dunia ini,
maka satu-satunya cara dengan bertahan…
bukan hanya takut. Tapi… menghadapi.
“Aku… akan menurut,” ucapnya pelan.
Saga menoleh.
Menatapnya lagi. Namun Liora tidak menunduk kali ini.
Meski masih ada rasa takut—
ia tetap menatap.
“Selama kamu gak nyakitin aku…” lanjutnya.
Suaranya masih lembut. Namun ada ketegasan kecil di dalamnya.
“Aku… gak akan lari lagi.”
Hening.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya—
Liora tidak sepenuhnya terlihat seperti gadis yang hancur.
Ada sesuatu yang lain.
Keinginan.
Untuk bertahan. Untuk… mengubah sesuatu.
Saga memperhatikannya.
Dalam.
Lama.
Dan tanpa disadari—
sesuatu di dalam dirinya juga mulai berubah.
Bukan jadi lembut. Bukan jadi baik.
Namun—
lebih terikat. Lebih… menginginkan.
Obsesi itu..
Secara mulai perlahan tumbuh.
Diam.
Dalam.
Dan berbahaya. Tangannya terangkat.
Menyentuh dagu Liora.
Tidak kasar. Namun tetap penuh kendali.
“Jangan buat aku menyesal,” ucapnya pelan.
Liora langsung menjawab. Namun ia tidak menghindar.
" Apa jika aku menurut, Aku tetap bisa kuliah?"
" Ya. dalam pengawasan aku"
Dan jawaban itu setudaknya cukup. Ia masih bisa melanjutkan pendidikan nya.
***
Di ruangan itu—
dua orang duduk dalam satu garis yang tidak seimbang.
Satu menguasai. Satu bertahan.
Namun perlahan..
aturan mulai berubah. Bukan karena kekuatan.
Tapi karena…
tekad.
Saga menatap wajah liora lama.
Lalu..
Liora langsung terdiam saat saga menempelkan keningnya , Hidung mancung mereka bertemu.
"...."
Detak jantung liora semakin tak karuan, Apa ini? Biasanya tak seperti ini. Takut. Dadanya bergejolak hampir meledak.
" A-aku..."
CUP.
Sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibir ranum liora. Matanya langsung membulat saat bibir keduanya bertemu. liora meremas kemeja saga.
Saga menatap mata liora... awalnya sebuah kecupan, kini saga perlahan melumatnya dengan lembut. Liora terhenyak, hangat dan lembut tidak kasar seperti sebelumnya. Saga menyesap setiap inci bibir manis gadis itu., menghisapnya dengan dalam. Telinga saga tampak merah ia sudah tak bisa berpikir jernih lagi.
" Saga, lepa–"
"Mmph!..."
Tak bisa lepas. Saga tak memberikannya celah.
Liora membuka sedikit bibirnya setelah digigit saga .lidah keduanya bertemu, Hangat dan basah. Nafas saga memburu , ciumannya semakin teratur dan semakin dalam . Saga menyesap dengan liar . liora mampu membuatnya kehilangan akal sehat.
Liora mendorong bahu saga sekuat tenaga. Hingga ciuman mereka terlepas.
Napas liora tersegal-segal.
" Ini milikku. Tidak ada yang boleh menyentuh selain diriku. semua tubuh mu milikku." Ucap saga tegas sambil mengusap bibir liora yang basah akibat ciumannya.
liora tak menjawab. Ia masih mengatur napasnya.
Kemudian hening kembali. menurunkan liora dari pangkuannya.
" Tunggu di sini sebentar. jangan kemana-mana!"
Liora mengangguk. Melihat saga yang berjalan keluar meninggalkan ruangan.
Ia masih terdiam mengingat ciuman tadi.
" Argh...aku benar-benar terjebak.." gumannya
Diantara mereka tanpa sadar ada sesuatu yang mulai tumbuh.
di antara rasa takut dan kendali. Yang entah akan berakhir menjadi apa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....................